26 Oktober 2026

Bulan: Juli 2026

BOLADONESIA – Perseteruan Kylian Mbappe dengan senator Paraguay, Celeste Amarilla, sepertinya tidak akan berakhir cepat. Pasalnya, perseteruan itu malah menajam. Terbaru, Amarilla kembali melancarkan serangan kepada kapten timnas Prancis tersebut lewat pernyataan tegas dalam pernyataan tertulis di media sosial dan pernyataan lisan pada sebuah konferensi pers.

Amarilla tak terima dilabeli sebagai wanita keji dan rasis. Dia tak merasa seperti itu walaupun unggahan di media sosialnya dinilai banyak pihak bernada rasialisme. Dia meminta penyerang Real Madrid itu menarik kata-katanya dan meminta maaf kepada dirinya atas tuduhan miring tersebut. Bahkan, dia siap menyeret Mbappe ke meja hijau.

“Saya tak menoleransi penghinaanmu. Kamu tak kenal saya. Kamu tak tahu siapa saya dan kamu tak punya hak untuk mengatakan saya wanita keji, tak pantas berada di posisi yang saya tempati,” kata Celeste Amarilla seperti dikutip IDNEWS.TOP dari unggahan di media sosialnya. “Saya tak akan menarik kata-kata saya dan mungkin akan mengambil langkah hukum atas kekerasan berbasis gender.”

Dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip Le Figaro, dia bahkan mengancam Kylian Mbappe. “Biarkan dia membaca pesan saya. Saya menulis dalam bahasa Prancis dan Spanyol. Itu pun jika dia dapat membaca. Saya ingin mengatakan kepada dia, hati-hati dengan orang Paraguay! Jangan macam-macam, Mbappe! Kami sudah pernah menjebloskan Ronaldinho ke penjara. Jangan remehkan kami!” ucap dia.

Pembelaan untuk Kylian Mbappe

Menariknya, Celeste Amarilla dalam unggahan yang menanggapi cuitan Kylian Mbappe mengaku telah menghapus unggahan awalnya. Dia mengaku menyesal telah menulis kalimat-kalimat yang bernada menghina dengan menyebut luapan emosi dari darah campuran dalam dirinya sebagai apologi. Dia menilai tindakannya itu patut dibalas dengan permintaan maaf dari sang kapten Prancis.

Pada pernyataan tertulis yang diunggah lewat akun media sosialnya, Amarilla juga menegaskan, ini adalah persoalan dirinya dengan Mbappe semata, bukan dengan Prancis secara umum. Hal itu secara tidak langsung adalah respons terhadap langkah pemerintah Prancis dan Asosiasi Sepak Bola Prancis yang tegas-tegas membela Mbappe.

“Gol lain dari Kylian Mbappe. Kali ini melawan rasialisme,” ujar Presiden Emmanuel Macron menanggapi cuitan Mbappe yang menyerang balik Amarilla. “Saya mendukung penuh. Ketika ada kata-kata yang mencemarkan nama baik, nilai-nilai kami bereaksi: martabat, respek, dan persauadaran.”

Sementara itu, jaksa Paris dikabarkan telah membuka penyeledikan terhadap kasus tersebut. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut pernyataan Amarillabisa dijatuhi hukuman 1 tahun penjaran dan denda 45.000 euro. Mengenai hal itu, Amarilla balik menantang. Dia menyebut baik FFF maupun pemerintan Prancis tak bisa menuntut karena ini masalah pribadinya dengan Mbappe.

Bintang Argentina, Lionel Messi, tak berhenti menambah panjang koleksi rekornya di kancah sepak bola dunia. Sejarah baru kembali ditorehkan La Pulga saat Argentina melibas Mesir secara dramatis dengan skor 3-2 pada 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa (7/7/2026).

Messi mencetak menyumbang satu gol pada laga tersebut, tepatnya di menit ke-83. Gol tersebut bukan hanya menjadi penanda kebangkitan Tim Tango yang sempat tertinggal, tetapi juga memastikan rekor baru bagi pemain Inter Miami tersebut.

Menurut Squawka, Messi kini resmi menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang berhasil mencetak gol dalam enam pertandingan beruntun di fase gugur. Tak ada pemain lain yang pernah melakukannya.

Selain itu, La Pulga juga membukukan rekor lain yang mentereng. Lionel Messi menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam sembilan pertandingan Piala Dunia secara beruntun.

Gol-gol Messi tersebut dimulai saat melawan Australia di Piala Dunia 2022. Dia juga kemudian membobol gawang Belanda, Kroasia, dan Prancis di Piala Dunia 2022 yang berujung tropi juara.

Di Piala Dunia 2026, Messi beruntun membobol gawang Aljazair, Austria, Yordania, Tanjung Verde, dan Mesir.

Remontada Argentina

Argentina mengamankan tiket perempat final Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Mesir 3-2 di Atlanta Stadium, Rabu (8/7/2026) dini hari WIB. Kemenangan ini lahir lewat remontada setelah Tim Tango tertinggal dua gol lebih dulu.

Mesir sempat memimpin melalui Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan kembali mendapatkan momentum di babak kedua lewat Mostafa Ziko pada menit ke-67. Argentina membalas dan menutup laga dengan keunggulan berkat respons di fase akhir pertandingan.

Babak pertama diwarnai kegagalan penalti Lionel Messi, yang dimentahkan Mostafa Shobeir. Kiper Mesir itu juga menepis peluang Alexis Mac Allister dan Julian Alvarez sebelum jeda.

Selepas turun minum, VAR membatalkan gol Ziko pada menit ke-59 karena pelanggaran terhadap Lisandro Martinez sebelumnya. Meski demikian, Ziko akhirnya mencatatkan gol kedua Mesir yang disahkan pada menit ke-67, sebelum Argentina berbalik menguasai laga hingga menutupnya 3-2.

Bintang Argentina, Lionel Messi, tak berhenti menambah panjang koleksi rekornya di kancah sepak bola dunia. Sejarah baru kembali ditorehkan La Pulga saat Argentina melibas Mesir secara dramatis dengan skor 3-2 pada 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa (7/7/2026).

Messi mencetak menyumbang satu gol pada laga tersebut, tepatnya di menit ke-83. Gol tersebut bukan hanya menjadi penanda kebangkitan Tim Tango yang sempat tertinggal, tetapi juga memastikan rekor baru bagi pemain Inter Miami tersebut.

Menurut Squawka, Messi kini resmi menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang berhasil mencetak gol dalam enam pertandingan beruntun di fase gugur. Tak ada pemain lain yang pernah melakukannya.

Selain itu, La Pulga juga membukukan rekor lain yang mentereng. Lionel Messi menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam sembilan pertandingan Piala Dunia secara beruntun.

Gol-gol Messi tersebut dimulai saat melawan Australia di Piala Dunia 2022. Dia juga kemudian membobol gawang Belanda, Kroasia, dan Prancis di Piala Dunia 2022 yang berujung tropi juara.

Di Piala Dunia 2026, Messi beruntun membobol gawang Aljazair, Austria, Yordania, Tanjung Verde, dan Mesir.

Remontada Argentina

Argentina mengamankan tiket perempat final Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Mesir 3-2 di Atlanta Stadium, Rabu (8/7/2026) dini hari WIB. Kemenangan ini lahir lewat remontada setelah Tim Tango tertinggal dua gol lebih dulu.

Mesir sempat memimpin melalui Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan kembali mendapatkan momentum di babak kedua lewat Mostafa Ziko pada menit ke-67. Argentina membalas dan menutup laga dengan keunggulan berkat respons di fase akhir pertandingan.

Babak pertama diwarnai kegagalan penalti Lionel Messi, yang dimentahkan Mostafa Shobeir. Kiper Mesir itu juga menepis peluang Alexis Mac Allister dan Julian Alvarez sebelum jeda.

Selepas turun minum, VAR membatalkan gol Ziko pada menit ke-59 karena pelanggaran terhadap Lisandro Martinez sebelumnya. Meski demikian, Ziko akhirnya mencatatkan gol kedua Mesir yang disahkan pada menit ke-67, sebelum Argentina berbalik menguasai laga hingga menutupnya 3-2.

Kontroversi Piala Dunia 2026! Pelatih Timnas Mesir Sebut FIFA Selamatkan Argentina demi Messi

BolaIndonesia – Kontroversi besar mewarnai babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan, melontarkan tudingan keras kepada FIFA usai timnya disingkirkan Argentina. Menurut Hassan, sejumlah keputusan yang terjadi selama pertandingan menguntungkan sang juara bertahan demi memastikan Lionel Messi tetap tampil selama mungkin di turnamen.

Mesir harus mengubur mimpi melangkah ke perempat final setelah kalah dramatis 2-3 dari Argentina. Padahal, wakil Afrika tersebut sempat unggul dua gol dan berada di atas angin hingga memasuki menit-menit akhir pertandingan sebelum Albiceleste membalikkan keadaan secara luar biasa.

Hossam Hassan Pertanyakan Keputusan Wasit

Selepas pertandingan, Hossam Hassan tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai beberapa keputusan wasit dan VAR sangat merugikan timnya, mulai dari gol yang dianulir hingga insiden yang menurutnya layak menghasilkan penalti bagi Mesir.

Pelatih berusia 59 tahun itu bahkan menilai rangkaian keputusan tersebut bukan sekadar kebetulan. Ia menuding ada kepentingan yang lebih besar di balik keberhasilan Argentina lolos ke babak berikutnya.

Menurut Hassan, FIFA memiliki alasan komersial untuk mempertahankan Argentina dan Lionel Messi tetap berada di Piala Dunia 2026 selama mungkin. Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan media internasional karena merupakan salah satu kritik paling keras terhadap penyelenggara turnamen sepanjang kompetisi berlangsung.

Singgung Faktor Komersial Lionel Messi

Dalam pernyataannya, Hassan menyebut kehadiran Lionel Messi memiliki nilai yang sangat besar bagi Piala Dunia. Ia menilai FIFA tentu menginginkan salah satu ikon terbesar sepak bola dunia itu terus tampil agar perhatian publik global terhadap turnamen tetap tinggi.

Meski demikian, hingga kini FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan tersebut. Tidak ada bukti yang menunjukkan adanya pengaturan hasil pertandingan maupun intervensi terhadap perangkat pertandingan.

Karena itu, tuduhan Hassan masih sebatas opini dan kekecewaan dari kubu Mesir setelah tersingkir secara dramatis.

Mesir Pulang dengan Kepala Tegak

Di balik kekalahan tersebut, penampilan Mesir tetap mendapat banyak pujian. Wakil Afrika itu mampu membuat Argentina berada di ujung kekalahan dan hanya terpaut beberapa menit dari tiket menuju perempat final.

Hossam Hassan menegaskan anak asuhnya telah memberikan segalanya di lapangan. Ia mengaku bangga terhadap perjuangan para pemain, meski hasil akhirnya sangat menyakitkan.

Kontroversi yang muncul seusai pertandingan diperkirakan masih akan menjadi bahan perdebatan dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, Argentina kini bersiap menghadapi Swiss pada babak perempat final dengan harapan terus menjaga asa mempertahankan trofi Piala Dunia 2026.

BOLADONESIA – Rencana Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) merekrut Juergen Klopp mendapat dukungan dari berbagai pihak. Tak terkecuali Lothar Matthaeus. Dia menilai Klopp memang pantas menanjadi penerus Julian Nagelsmann di timnas Jerman. Namun, dia mengingatkan, Klopp bukanlah panasea utama dan DFB harus menghindari kesalahan yang sama.

Dalam pandangan Matthaeus, kegagalan Jerman dalam 3 edisi terakhir Piala Dunia tak terlepas dari kurangnya dinamika di dalam tim. Cenderung hanya ada satu suara. Menurut dia, hal tersebut harus dihindari saat Klopp didapuk sebagai pelatih baru. Dinamika, kata dia, sangat penting bagi kemajuan tim.

“Kami tak cuma butuh rencana Klopp. Kami juga butuh orang yang mewakili pendapat berbeda, orang yang berpikir di luar kotak,” urai Lothar Matthaeus dalam kolomnya seperti dikutip IDNNEWS.TOP dari Sky. “Friksi itu penting. Sangat penting untuk memastikan semua orang uang dipekerjakan DFB mampu membantu kemajuan sepak bola Jerman.”

Matthaeus juga meminta DFB tak mengulangi langkah sembrono saat memperpanjang kontrak Nagelsmann sebelum Piala Dunia 2026. “Anda harus hati-hati untuk tak membuat kontrak sembrono lagi seperti yang dilakukan kepada Julian Nagelsmann dan membuat Anda kehilangan banyak uang,” ucap dia.

Dukungan Lothar Matthaeus

Dalam kolomnya, Lothar Matthaeus secara khusus memberikan dukungan kepada Rudi Voeller untuk tetap berada di DFB dan berkontribusi bagi timnas Jerman ke depan. Dia menilai Voeller perlu dipertahankan meskipun, sebagai direktur olahraga, jadi bagian dari kegagalan Die Mannschaft di Amerika Utara.

“Kami punya begitu banyak pemain bagus, dan pelatih bagus selalu dapat menyusun pemain-pemain bagus menjadi tim bagus. Nagelsmann gagal karena kurang pengalaman dan banyak hal yang salah,” ujar Matthaeus lagi. “Saya tak mau berspekulasi soal sosok yang akan menjadi Direktur Olahraga DFB ke depan. Namun, saya yakin Rudi Voeller harus tetap dilibatkan dalam kapasitas tertentu.”

Adapun soal pemain-pemain yang patut dipertahankan, dia pertama-tama menyebut Joshua Kimmich yang diminta beberapa pihak untuk pensiun saja. Kapten Jerman saat juara Piala Dunia 1990 itu juga menyebut Jonathan Tah dan Nico Schlotterbeck sebagai sosok yang masih penting di timnas Jerman. Lalu, Kai Havertz dengan posisi yang lebih jelas di lapangan.

Hal mengejutkan disampaikan Matthaeus soal sosok kiper utama. Dia mengungkapkan, “Situasi di gawang agak rumit. Akankah mereka lanjut dengan Oliver Baumann? Dengan Jonas Urbig, mereka punya kiper yang dapat diandalkan, meskipun seandainya dia akan tetap jadi serep Manuel Neuer di Munich. Semuanya bergantung pada keinginan pelatih baru nanti.”

BOLADONESIA – Kylian Mbappe tak tinggal diam setelah menerima serangan bernada rasial dari Senator Paraguay, Celeste Amarilla. Kapten timnas Prancis itu memberikan jawaban menohok atas pelecehan rasial yang dilontarkan sang politikus kepadanya saat mengomentari insiden pada laga Paraguay vs Prancis.

Mbappe jadi sosok paling menyedot perhatian pada laga Paraguay vs Prancis. Bukan hanya jadi penentu kemenangan Les Bleus lewat gol penaltinya, dia juga jadi pemain yang terus diganggu para pemain timnas Paraguay sejak awal. Pada akhir laga, diduga sudah muak, dia pun, mengabaikan uluran tangan kiper Orlando Gill.

Hal itu menuai kontroversi. Selepas laga, Gill menuding Kylian Mbappe tak menunjukkan sportivitas. Padahal, dia juga melakukan hal tak sportif dengan melemparkan bola ke badan Mbappe setelah uluran tangannya tak mendapat sambutan. Celeste Amarilla menambah panjang perseteruan mengenai hal itu.

“Kamu idiot. Kamu bahkan tak pernah belajar menulis. Ketimbang minum susu ibumu, kamu mengiaap kelapa dan orang paling pintar yang kamu dengar adalah simpanse. Kamu seharusnya memberi Orlando Gill jari tengah. Saya melakukan itu di senat dan tak terjadi apa-apa,” urai Amarilla dalam unggahan di X seperti dikutip IDNNEWS.TOP dari Le 10 Sport.

Serangan Balik Kylian Mbappe

Serangan bernada pelecehan rasial dari politikus Paraguay itu tak dibiarkan begitu saja oleh Kylian Mbappe. Di sela-sela persiapan timnas Prancis untuk laga peremlat final, dia menyempatkan diri untuk membalas cuitan tersebut dengan sebuah serangan balik yang tak kalah menohok.

“Nyonya Celeste Amarilla, Anda adalah wanita keji dan tak pantas berada di posisi Anda saat ini. Anda tidak mewakili Paraguay, negeri yang memancarkan gairah dan kehormatan sepanjang kompetisi,” tulis Mbappe membuka tanggapan terhadap pernyataan sang politikus di akun X-nya.

Dia menambahkan, “Melalui kesembronoan dan rasialisme nyata Anda, seluruh dunia telah melupakan perjalanan para pemain Anda di Piala Dunia. Hal yang tertinggal hanyalah wanita tak kompeten yang memberikan citra paling negatif bagi negara Anda. Aku tak akan pernah membiarkan orang seperti Anda menyebarkan kebencian dan rasiialisme ke seluruh dunia.”

Serangan balik bukan hanya datang dari Mbappe. Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, juga tak tinggal diam. “Saya benar-benat marah oleh pernyataan senator Paraguay, Celeste Amarilla. Prancis sangat mengutuk keras serangan pelecehan rasial yan ditujukan kepada Kylian Mbappe,” ujar dia.

KLIKBETS – Kontroversi mengenai kelayakan Folarin Balogun memanas menjelang laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Timnas Amerika Serikat melawan Timnas Belgia, Selasa (7-7-2026) pagi WIB.

Sebelum duel di Stadion Seattle, Belgia mengancam akan menempuh seluruh jalur hukum yang tersedia apabila Amerika Serikat tetap memainkan Balogun.

Kurang dari dua jam sebelum kick-off, Balogun dipastikan berada dalam daftar susunan pemain Timnas Amerika Serikat yang dimainkan pelatih Mauricio Pochettino.

Sebelumnya, kubu Belgia dibuat geram setelah intervensi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut berujung pada keputusan FIFA yang mengizinkan mantan penyerang Arsenal itu tampil menghadapi Belgia di Seattle, meski sebelumnya menerima kartu merah saat melawan Bosnia dan Herzegovina.

Kemarahan Belgia makin bertambah setelah komite FIFA menyatakan protes yang mereka ajukan tidak dapat diterima karena Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) bukan pihak dalam keputusan awal terkait kasus tersebut.

Langkah Belgia

Petinggi RBFA kemudian memperingatkan Amerika Serikat bahwa mereka siap membawa perkara itu hingga ke Court of Arbitration for Sport (CAS) di Lausanne dan meminta Amerika Serikat didiskualifikasi dari Piala Dunia 2026.

RBFA juga mengonfirmasi bahwa banding atas keputusan yang mengizinkan Balogun bermain telah ditolak. Dalam pernyataannya, RBFA mengaku hingga kini belum menerima dasar keputusan tersebut maupun dokumen yang sejak awal mereka minta.

RBFA menyatakan FIFA belum memberikan salinan keputusan, alasan yang menyatakan Balogun memenuhi syarat tampil, maupun laporan wasit. Menurut RBFA, hal itu merupakan pelanggaran terhadap regulasi FIFA.

RBFA juga telah memberi tahu Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (USSF) bahwa mereka menolak status kelayakan Balogun apabila namanya tercantum dalam daftar pemain yang diserahkan kepada wasit.

Itulah mengapa, RBFA menyatakan seluruh langkah lanjutan masih terbuka untuk ditempuh.

Jalur Hukum

Belgia tidak memilih menolak bertanding karena tindakan tersebut akan berujung kekalahan walkover. Sebagai gantinya, Belgia mengisyaratkan akan mengambil jalur hukum setelah pertandingan.

CAS disebut dapat menggelar sidang dengan proses cepat dalam waktu 48 jam dan mengeluarkan putusan sebelum jadwal perempat final di Los Angeles pada Jumat.

Dalam proses tersebut, Belgia akan berargumen bahwa Amerika Serikat memainkan pemain yang tidak memenuhi syarat berdasarkan regulasi FIFA. Belgia menegaskan aturan FIFA mengharuskan pemain yang menerima kartu merah menjalani hukuman minimal larangan bermain satu pertandingan.

Jika argumen itu diterima, Belgia menyebut hasil pertandingan harus dibatalkan dan diubah menjadi kemenangan 3-0 untuk Belgia sesuai regulasi FIFA.

Ancaman tersebut muncul setelah UEFA mengkritik Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Penyataan UEFA

UEFA menyebut perubahan keputusan terkait sanksi kartu merah Balogun sebagai langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sulit dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.

Sikap UEFA mendapat dukungan Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF), Lisa Klaveness.

Ia menegaskan hukuman otomatis minimal satu pertandingan setelah kartu merah tidak seharusnya ditinjau kembali melalui kebijakan diskresi karena prinsip tersebut telah diatur secara jelas dalam regulasi FIFA.

Klaveness juga menyatakan terdapat alasan untuk mengkhawatirkan integritas kompetisi, campur tangan politik dalam urusan olahraga, serta kredibilitas sepak bola.

Idnews.Top – Presiden FIFA, Gianni Infantino buka suara terkait polemik pemutihan kartu merah penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun. Ia menyebut bahwa keputusan itu merupakan keputusan yang dibuat Komite Disipin FIFA dan bukan dirinya.

Perjalanan Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 diwarnai kontroversi besar setelah FIFA secara mengejutkan mengizinkan penyerang andalannya, Folarin Balogun, tampil pada laga babak 16 besar melawan Belgia, meski sebelumnya menerima kartu merah pada pertandingan babak 32 besar kontra Bosnia dan Herzegovina.

Sebelumnya, kartu merah yang diterima Balogun secara otomatis membuatnya harus menjalani larangan bermain satu pertandingan. Namun, FIFA kemudian mengumumkan bahwa hukuman tersebut ditangguhkan, sehingga striker AS Monaco itu tetap bisa memperkuat Amerika Serikat.

Keputusan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meninjau kembali kasus Balogun.

Langkah FIFA langsung menuai gelombang kritik dari berbagai pihak, mulai dari Federasi Sepak Bola Belgia, otoritas sepak bola Eropa, mantan petinggi FIFA, sejumlah mantan pemain ternama, hingga berbagai kalangan lainnya. Mereka menilai pencabutan sanksi kartu merah setelah adanya intervensi politik berpotensi merusak integritas turnamen sekaligus menciptakan preseden yang berbahaya bagi dunia sepak bola.

Menanggapi polemik tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan penjelasan mengenai posisinya terkait keputusan Komite Disiplin FIFA.

“Saya telah melihat berbagai komentar publik mengenai keputusan Komite Disiplin FIFA yang independen terkait penangguhan hukuman Folarin Balogun. Saya ingin kembali menegaskan salah satu prinsip dasar tata kelola FIFA.”

“Seluruh badan peradilan FIFA bersifat independen. Mereka bekerja secara otonom, menerapkan Kode Disiplin FIFA, serta memutuskan setiap perkara berdasarkan regulasi yang berlaku dan fakta-fakta yang ada. Independensi mereka merupakan fondasi penting bagi kredibilitas dan integritas sepak bola, dan prinsip itu harus selalu dihormati.”

Memang Dihubungi Trump

Infantino juga mengonfirmasi bahwa dirinya memang menerima panggilan telepon dari Presiden Donald Trump. Namun, ia menegaskan bahwa komunikasi tersebut tidak memengaruhi proses hukum yang sedang berjalan.

“Ya, saya memang secara rutin membahas berbagai hal terkait Piala Dunia FIFA dengan Presiden Amerika Serikat. Dalam kasus ini saya juga menerima telepon dari Presiden Donald Trump, sebagaimana saya sering menerima telepon dari kepala negara, pejabat pemerintahan, pelaku sepak bola, maupun pemimpin dunia usaha dari berbagai negara mengenai banyak persoalan.”

“Dalam percakapan itu saya menjelaskan bahwa terdapat proses hukum yang sedang berlangsung di badan peradilan independen FIFA dan kasus tersebut akan diputuskan sesuai prosedur oleh lembaga yang berwenang. Begitulah sistem FIFA bekerja dan prinsip itu akan selalu saya pertahankan.”

Tidak Sepenuhnya Setuju

Infantino menambahkan bahwa dirinya baru mengetahui isi keputusan Komite Disiplin setelah putusan resmi diterbitkan. Ia mengaku tidak selalu sependapat dengan setiap keputusan yang diambil badan tersebut.

“Saya membaca setiap keputusan Komite Disiplin FIFA setelah diterbitkan. Terkadang saya terkejut, terkadang saya setuju, dan terkadang saya juga tidak setuju.”

“Namun, apa pun keputusan yang diambil, saya selalu menghormati keputusan tersebut serta otonomi lembaga yang membuatnya. Apakah kita secara pribadi menyukai suatu keputusan atau tidak bukanlah hal yang penting. Menghormati lembaga independen dan supremasi aturan hukum adalah hal yang menjaga integritas kompetisi serta kredibilitas FIFA setiap saat,” tutup Infantino.

LARISBOLA – Kapten Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo mengomentari kekalahan timnya melawan Spanyol pada dini hari tadi. Ia sedih karena Timnas Portugal harus terhenti di babak 16 besar.

Dini hari tadi, Timnas Portugal tampil di Dallas Stadium. Mereka menantang Timnas Spanyol untuk memperebutkan satu tiket ke babak perempat final Piala Dunia 2026.

Di laga ini, Portugal memberikan perlawanan sengit kepada Spanyol sepanjang laga. Namun nahas, di penghujung laga Spanyol berhasil mencetak gol satu-satunya di laga ini berkat aksi sang pemain pengganti, Mikel Merino.

Ronaldo tentu kecewa dengan kekalahan ini. Namun ia menilai timnya sudah berjuang sekuat tenaga dan bisa bangga dengan perjuangan mereka.

Sudah Berikan Segalnya

Diwawancarai seusai laga, Ronaldo tidak menampik bahwa kekalahan menit akhir melawan Spanyol itu benar-benar terasa sangat menyesakkan baginya.

Namun ia tidak punya penyesalan apapun, karena baginya ia sudah memberikan yang terbaik di pertandingan ini.

“Saya sedih setelah kami tereliminasi dengan cara seperti ini. Namun satu hal yang pasti, saya sudah memberikan segalanya, saya sudah memberikan yang terbaik di laga ini,” ujar Ronaldo.

Doakan Spanyol Masuk Final

Lebih lanjut, Ronaldo juga membuat sebuah pernyataan menarik. Ia mendoakan sang lawan, Spanyol untuk melaju jauh hingga babak final Piala Dunia 2026 nanti.

“Kami bermain dengan bagus hari ini. Performa kami di laga ini sudah sangat baik,” sambung Ronaldo.

“Kami bisa bermain dengan lebih baik lagi, tetapi lawan kami adalah Spanyol, salah satu tim terbaik di dunia saat ini. Saya yakin mereka akan masuk ke babak final,” pungkasnya.

Dengan kegagalan Portugal di Piala Dunia 2026 ini, maka dipastikan Ronaldo tidak akan pernah memenangkan trofi Piala Dunia.

Sebelum laga, ia sudah mengonfirmasi bahwa Piala Dunia 2026 adalah turnamen Piala Dunia terakhir yang ia ikuti bersama Timnas Portugal.

Saatnya Portugal Memulai Era Baru Tanpa Cristiano Ronaldo?

BolaIndonesia – Kekalahan Portugal dari Spanyol di babak 16 besar Piala Dunia 2026 kembali memunculkan perdebatan yang sebenarnya sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Pertanyaan yang terus bergema adalah: apakah Cristiano Ronaldo sudah waktunya mengakhiri perjalanan bersama Timnas Portugal?

Di usia yang telah menginjak 41 tahun, Ronaldo memang masih menjadi simbol sepak bola Portugal. Mentalitas, dedikasi, dan produktivitasnya sepanjang karier hampir mustahil ditandingi. Namun, sepak bola internasional terus berkembang dengan tempo permainan yang semakin cepat. Banyak pengamat mulai menilai bahwa Portugal perlu membuka lembaran baru tanpa terus bergantung kepada sang megabintang.

Meski demikian, jasa Ronaldo kepada negaranya tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia telah mengubah sejarah Portugal dari tim yang kerap menjadi kuda hitam menjadi salah satu kekuatan utama di dunia.


Penampilan yang Mulai Dipertanyakan

Dalam beberapa pertandingan terakhir di turnamen besar, kontribusi Ronaldo mulai menjadi bahan evaluasi. Ia memang masih mampu menciptakan peluang dan menjadi ancaman di kotak penalti, tetapi mobilitasnya tidak lagi seperti beberapa tahun silam.

Portugal kini dihuni generasi emas baru seperti Rafael Leao, Goncalo Ramos, Joao Neves, Vitinha, hingga Nuno Mendes. Mereka memiliki kecepatan, kreativitas, dan energi tinggi yang membuat gaya bermain Portugal semakin dinamis.

Ketika Ronaldo tetap menjadi titik utama serangan, sebagian pengamat menilai ritme permainan Portugal justru menjadi lebih mudah dibaca lawan. Serangan yang seharusnya mengalir cepat kerap berhenti demi mencari posisi terbaik sang kapten.

Bukan berarti Ronaldo bermain buruk. Namun, standar yang melekat pada namanya memang selalu luar biasa tinggi.


Legenda yang Sulit Digantikan

Jika berbicara soal warisan, hampir tidak ada pemain Portugal yang mampu menyamai Cristiano Ronaldo.

Ia adalah pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah sepak bola internasional, pemegang rekor penampilan terbanyak bersama Portugal, sekaligus sosok yang mempersembahkan trofi Euro 2016 dan UEFA Nations League.

Selama lebih dari dua dekade, Ronaldo menjadi wajah sepak bola Portugal. Generasi muda tumbuh dengan menjadikannya panutan.

Bahkan ketika performanya mulai menurun, kehadiran Ronaldo tetap memberi pengaruh besar di ruang ganti. Pengalaman, kepemimpinan, dan mental juaranya masih menjadi aset berharga yang tidak mudah digantikan pemain lain.

Karena itulah, keputusan mengenai masa depannya tidak bisa dinilai hanya dari statistik semata.


Portugal Harus Berani Melangkah

Sepak bola selalu mengalami regenerasi. Semua legenda pada akhirnya harus memberikan ruang bagi generasi berikutnya.

Portugal sebenarnya memiliki skuad yang cukup matang untuk memasuki era baru. Roberto Martinez memiliki banyak pilihan di hampir setiap lini. Kecepatan Rafael Leao, kreativitas Bruno Fernandes, visi Vitinha, hingga penyelesaian akhir Goncalo Ramos menjadi modal penting menuju masa depan.

Apabila Ronaldo terus menjadi pilihan utama, proses regenerasi dikhawatirkan berjalan lebih lambat.

Sebaliknya, apabila ia bersedia mengambil peran sebagai pemain pelapis atau mentor, transisi Portugal bisa berlangsung jauh lebih mulus tanpa kehilangan sosok pemimpin di dalam tim.


Pensiun Bukan Berarti Menghilang

Mengakhiri karier bersama tim nasional bukan berarti menghapus semua kontribusi yang telah diberikan.

Justru pensiun di momen yang tepat sering kali membuat seorang legenda dikenang dengan lebih indah. Ronaldo tetap bisa terus bermain di level klub apabila masih merasa mampu bersaing.

Selain itu, ia juga berpotensi mengambil peran baru bagi sepak bola Portugal, baik sebagai duta federasi, mentor pemain muda, maupun figur inspiratif bagi generasi berikutnya.

Warisan yang telah ia bangun tidak akan berkurang hanya karena memutuskan berhenti membela negaranya.


Masih Menunggu Keputusan Sang Kapten

Hingga kini Cristiano Ronaldo belum memberikan pernyataan resmi mengenai masa depannya bersama Timnas Portugal. Seperti biasa, ia memilih fokus pada turnamen sebelum membahas keputusan besar tersebut.

Banyak pendukung berharap sang kapten masih bertahan karena pengalaman dan kharismanya. Namun, tidak sedikit pula yang menilai inilah saat terbaik bagi Portugal untuk benar-benar memulai era baru.

Apapun keputusan yang nantinya diambil, satu hal tidak akan berubah. Cristiano Ronaldo telah menorehkan sejarah yang sulit disamai siapa pun. Ia bukan sekadar pencetak gol atau pemecah rekor, melainkan ikon yang mengangkat nama Portugal ke panggung sepak bola dunia.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Ronaldo adalah legenda terbesar Portugal. Jawabannya sudah jelas. Pertanyaan sesungguhnya adalah kapan waktu terbaik bagi sang legenda untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Timnas Portugal?