26 Oktober 2026

Bulan: Juli 2026

BOLADONESIA – Thomas Tuchel, manajer timnas Inggris, mengaku tertantang menghadapi timnas Meksiko pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Dia percaya diri meskipun tahu laga nanti tak akan mudah. Dia juga tak gentar dengan segala hal negatif yang akan dialami The Three Lions jelang laga itu.

Setelah menang 2-1 atas Republik Demokratik Kongo pada babak 32 besar, Inggris memang akan bersua Meksiko yang terlebih dahulu mengeliminasi Ekuador dengan skor 2-0. Itu jadi tantangan tersendiri karena El Tri adalah tuan rumah dan laga nanti akan berlangsung di Stadion Ezteca, Mexico City.

“Saya tak yakin kami siap karena jelas kami mengalami kerugian mengingat Meksiko bermain di sana sejak awal turnamen dan telah beradaptasi dengan ketinggian. Kami tak punya cukup waktu untuk menyesuaikan diri. Ini kerugian besar dan saya tidak yakin apakah kami akan mendapatkan kerugian lain,” ujar Thomas Tuchel seperti dikutip Football5Star.net dari BBC.

Dia lebih lanjut mengungkapkan, “Saya tak yakin perjalanan kami akan mulus, tidur kami akan nyenyak, apakah akan ada kegaduhan di luar hotel. Baiklah, ayo kita hadapi. Ini partai yang sangat menarik dan indah. Akan ada begitu banyak rintangan, tapi tim ini akan siap menghadapi apa pun.”

Tantangan Thomas Tuchel

Menghadapi timnas Meksiko akan jadi tantangan berat bagi Thomas Tuchel. Apalagi, banyak pihak menilai performa timnas Inggris belum terlalu meyakinkan. The Three Lions tidak tampil seperti tim-tim favorit lain. Sudah begitu, melawan El Tri di Mexico City bukan perkara mudah.

Inggris memang selalu menang dalam 4 pertemuan terakhir dengan Meksiko. Namun, mereka punya catatan buruk saat melawat ke Mexico City. Dalam 3 lawatan, mereka menelan 2 kekalahan dan hanya 1 kali imbang. Satu laga berlangsung di Stadion Olimpico Universitario dan dua laga di Stadion Azteca.

Khusus di Azteca, lawatan pertama Inggris dilakoni pada 1 Juni 1969. Kala itu, mereka hanya imbang tanpa gol. Adapun lawatan kedua berlangsung pada 9 Juni 1985. Hasilnya, The Three Lions takluk 0-1. Satu-satunya gol pada laga itu dicetak oleh Luis Flores pada menit ke-20.

Stadion Azteca juga punya tuan tersendiri bagi El Tri saat berlaga di Piala Dunia. Mereka unbeaten dalam 10 pertandingan dengan rincian 8 kali menang dan 2 kali seri. Pada 1970, Meksiko disisihkan Italia pada perempat final dalam laga di Stadion La Bombonera, Toluca. Lalu, pada 1986, mereka disingkirkan Jerman Barat lewat adu penalti dalam laga di Stadion Universitario, Mexico City.

Timnas Spanyol dan Timnas Austria akan saling berhadapan dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium, Los Angeles, pada Jumat (3/6/2026) dini hari WIB.

Timnas Spanyol dan Timnas Austria akan saling berhadapan dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium, Los Angeles, pada Jumat (3/6/2026) dini hari WIB.

Partai ini juga menentukan siapa yang akan berjumpa Timnas Portugal atau Timnas Kroasia dalam babak 16 besar dalam pada satu di antara jalur paling kompetitif di Piala Dunia 2026.

Spanyol datang sebagai sebagai pemuncak Grup H. Austria melangkah ke babak gugur setelah finis di posisi kedua Grup J di bawah Timnas Argentina.

Spanyol mengawali penyisihan grup dengan hasil imbang melawan Timnas Cape Verde sebelum lalu meraih tujuh poin dari tiga laga tanpa sekalipun kebobolan.

Rekor Tak Terkalahkan Spanyol

Kemenangan 1-0 atas Timnas Uruguay pada laga terakhir Grup H memastikan langkah tim berjuluk La Roja ke babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Rekor tidak terkalahkan Spanyol kini sudah mencapai 34 pertandingan di berbagai kejuaraan tanpa menghitung adu penalti dan hanya terpaut satu laga dari rekor terbaik dalam sejarah.

Timnas Italia masih memegang rekor dunia dengan 37 laga tak terkalahkan di level internasional sehingga Spanyol masih memiliki peluang untuk mendekatinya lebih jauh.

Sementara di sisi lain, Austria memastikan tiket ke babak gugur melalui cara dramatis setelah menahan imbang Timnas Aljazair 3-3 pada partai terakhir Grup J.

Penantian Panjang Austria

Sempat berada dalam situasi tersingkir, Austria selamat berkat gol menit ke-96 dari Sasa Kalajdzic yang membuat finis sebagai satu di antara tim peringkat ketiga terbaik.

Hasil tersebut mencatat sejarah karena Austria menjadi negara pertama yang tidak kalah dalam Piala Dunia meski sempat tertinggal hingga masa injury time babak kedua.

Austria juga mengakhiri penantian panjang selama 72 tahun untuk kembali bermain di babak gugur Piala Dunia sejak terakhir kali melakukannya pada edisi 1954.

Dalam pertemuan terakhir, Spanyol masih unggul secara historis dengan kemenangan telak 5-1 atas Austria pada 2009.

Kabar Terbaru Kedua Tim

Spanyol kini menghadapi persoalan di lini serang setelah beberapa pemain seperti Yeremy Pino, Nico Williams, dan Victor Munoz masih diragukan berlaga akibat cedera.

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, bakal berfokus terhadap keseimbangan lini tengah dengan beberapa opsi seperti Mikel Merino, Fabian Ruiz, Dani Olmo, dan Gavi yang bersaing untuk satu tempat.

Di kubu Austria, kondisi Marko Arnautovic dan David Alaba masih dipantau setelah laga ketat melawan Aljazair, namun keduanya diperkirakan tidak mengalami cedera serius.

Pelatih Austria, Ralf Rangnick, tetap memiliki opsi lain seperti Kevin Danso dan Michael Gregoritsch yang siap menggantikan jika dibutuhkan dalam pertandingan nanti.

Prakiraan Susunan Pemain

Spanyol (4-2-3-1): Unai Simon; Marcos Llorente, Pau Cubarsi, Aymeric Laporte, Marc Cucurella; Mikel Merino, Rodri, Pedri; Lamine Yamal, Mikel Oyarzabal, Alex Baena

Pelatih: Luis de la Fuente

Austria (4-2-3-1): Alexander Schlager; Stefan Posch, Kevin Danso, David Alaba, Phillipp Mwene; Nicolas Seiwald, Xaver Schlager; Konrad Laimer, Christoph Baumgartner, Marcel Sabitzer; Marko Arnautovic

Pelatih: Ralf Rangnick

Idnews.top – Prancis vs Swedia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 berakhir dengan kemenangan telak Les Bleus. Bermain di MetLife Stadium, East Rutherford, Rabu (1/7/2026) dini hari WIB, Prancis menang 3-0 atas Swedia.

Kylian Mbappe menjadi bintang kemenangan Prancis setelah mencetak dua gol pada menit ke-45 dan 74. Satu gol lainnya lahir melalui Bradley Barcola pada menit ke-53.

Keunggulan pertama Prancis hadir tepat sebelum turun minum melalui aksi Mbappe. Setelah itu, Barcola memperlebar jarak pada awal babak kedua sebelum Mbappe memastikan kemenangan lewat gol keduanya.

Hasil ini mengantarkan Prancis melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Sementara itu, Swedia harus mengakhiri perjalanan mereka di turnamen tersebut.

Pada fase berikutnya, Prancis akan menghadapi Paraguay. Paraguay sebelumnya membuat kejutan dengan menyingkirkan Jerman melalui adu penalti.

Mbappe Pecah Kebuntuan Jelang Turun Minum

Prancis tampil dominan sejak awal pertandingan dan terus menekan pertahanan Swedia. Mbappe bahkan sempat menjebol gawang lawan pada menit ke-20, tetapi gol tersebut dianulir karena offside.

Peluang demi peluang terus diciptakan Les Bleus sepanjang babak pertama. Mbappe sempat membentur tiang gawang pada menit ke-32, sedangkan tendangan akrobatik Michael Olise pada menit ke-36 juga mengenai tiang.

Tekanan Prancis berlanjut hingga penghujung babak pertama. Olise kembali mengancam pada menit ke-42, tetapi sepakannya masih melebar tipis dari sasaran.

Gol yang ditunggu akhirnya lahir pada menit ke-45. Kombinasi Olise, Ousmane Dembele, dan Mbappe dari situasi sepak pojok pendek dituntaskan sang kapten dengan penyelesaian akurat ke pojok gawang untuk membawa Prancis unggul 1-0.

Skor 1-0 bertahan hingga jeda pertandingan. Swedia kesulitan keluar dari tekanan dan minim peluang berbahaya sepanjang 45 menit pertama.

Barcola dan Mbappe Pastikan Tiket 16 Besar

Prancis langsung menambah keunggulan delapan menit setelah babak kedua dimulai. Kesalahan umpan pemain Swedia dimanfaatkan Aurelien Tchouameni sebelum Olise mengirim umpan matang kepada Barcola yang mengubah skor menjadi 2-0.

Gol tersebut membuat Prancis semakin percaya diri dalam mengendalikan permainan. Swedia berupaya bangkit, tetapi lini belakang Les Bleus tampil disiplin dan jarang memberikan ruang.

Pada menit ke-74, Mbappe kembali menunjukkan kualitasnya. Menerima umpan terobosan presisi dari Olise, penyerang Prancis itu berlari tepat waktu sebelum melepaskan tembakan melengkung yang bersarang di sudut gawang untuk mengubah skor menjadi 3-0.

Tambahan dua gol membuat Mbappe kini mengoleksi enam gol di Piala Dunia 2026. Jumlah itu membuatnya sejajar dengan Lionel Messi dalam perburuan Sepatu Emas turnamen.

Olise juga melanjutkan performa impresifnya. Gelandang serang tersebut kini memimpin daftar assist Piala Dunia 2026 dengan lima assist.

Swedia memperoleh peluang terbaiknya pada menit ke-89 melalui Viktor Gyokeres. Namun, kiper Mike Maignan mampu menggagalkan tembakan keras sang penyerang sehingga gawang Prancis tetap aman.

Hingga peluit panjang berbunyi, tidak ada gol tambahan yang tercipta. Prancis menutup laga dengan kemenangan meyakinkan 3-0 dan melangkah ke babak 16 besar untuk menghadapi Paraguay.

BOLADONESIA – Usai sudah petualangan Alejandro Grimaldo bersama Bayer Leverkusen. Pada Selasa (30/6) malam WIB, Grimaldo diumumkan sebagai rekrutan terbaru Atletico Madrid.

Atletico tidak menjelaskan biaya yang dikeluarkan untuk mendaratkan Grimaldo ke ibu kota Spanyol. Namun, laman Transfermarkt menyebut Grimaldo diangkut ke Estadio Riyadh Air Metropolitano dengan mahar 22 juta euro.

Kedatangan Grimaldo tentunya menjadi angin segar buat Atletico. Pasalnya, Los Rojiblancos cuma punya satu bek kiri murni dalam sosok Matteo Ruggeri.

Pada musim 2025-26 lalu, Ruggeri dipercaya tampil 47 kali di semua kompetisi dengan kontribusi tujuh assist. Ketika Ruggeri tidak bisa bermain, posisi bek kiri Atletico ditempati oleh David Hancko atau Robin Le Normand.

Alejandro Grimaldo Punya Insting Menyerang Luar Biasa

Meski bermain di posisi bek kiri, Grimaldo memiliki insting menyerang layaknya seorang winger. Selama tiga tahun bermain untuk Bayer Leverkusen, Grimaldo berhasil menasbihkan diri sebagai salah satu pemain belakang paling produktif di Eropa.

Musim pertama Grimaldo bersama Bayer Leverkusen berlangsung dengan sukses. Ia merupakan sosok penting di balik keberhasilan Die Werkself menyabet gelar Bundesliga dan memiliki kontribusi 10 gol serta 15 assist dalam 33 penampilan di liga.

Grimaldo mengemas banyak assist karena memiliki kemampuan umpan silang yang sangat baik. Selain itu, ia juga cukup piawai dalam mengeksekusi bola-bola mati.

Saat ini, Grimaldo sedang berjuang bersama timnas Spanyol di Piala Dunia 2026. Pemain berusia 30 tahun itu baru akan bergabung ke skuad Los Rojiblancos pada akhir Juli atau awal Agustus 2026.

BolaIndonesia – Timnas Prancis kembali menunjukkan kelasnya saat menghadapi Swedia dalam pertandingan yang berlangsung sengit. Les Bleus tampil dominan sejak peluit awal dibunyikan dengan penguasaan bola yang jauh lebih baik serta serangan yang terus mengalir ke pertahanan lawan.

Bermain dengan tempo tinggi, Prancis langsung mengambil inisiatif menyerang. Kombinasi umpan cepat dan pergerakan tanpa bola membuat lini belakang Swedia kesulitan mengembangkan permainan. Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil ketika Prancis berhasil membuka keunggulan melalui penyelesaian akhir yang tenang.

Gol pembuka tersebut semakin meningkatkan kepercayaan diri para pemain Prancis, sementara Swedia dipaksa lebih banyak bertahan untuk meredam agresivitas lawannya.

Les Bleus Mendominasi Jalannya Pertandingan

Memasuki pertengahan babak pertama, dominasi Prancis semakin terlihat. Mereka mampu mengontrol ritme pertandingan dengan penguasaan bola yang konsisten serta distribusi umpan yang akurat.

Swedia beberapa kali mencoba melakukan serangan balik cepat, namun rapatnya organisasi pertahanan Prancis membuat setiap peluang berhasil dipatahkan sebelum membahayakan gawang.

Keunggulan kualitas individu para pemain Prancis juga menjadi pembeda dalam pertandingan ini. Kreativitas lini tengah mampu menciptakan banyak peluang berbahaya yang memaksa kiper Swedia bekerja keras sepanjang laga.

Babak Kedua Berjalan Semakin Berat untuk Swedia

Selepas turun minum, Swedia mencoba bermain lebih agresif demi mengejar ketertinggalan. Namun strategi tersebut justru membuka banyak ruang di area pertahanan mereka.

Prancis memanfaatkan celah tersebut dengan sangat baik. Serangan cepat dari sisi sayap beberapa kali merepotkan barisan belakang Swedia hingga akhirnya Les Bleus berhasil menambah keunggulan.

Gol kedua membuat mental para pemain Swedia semakin menurun. Sebaliknya, Prancis tampil semakin percaya diri dan terus menekan demi memperbesar keunggulan.

Pergantian pemain yang dilakukan pelatih Prancis juga memberikan energi baru sehingga intensitas permainan tetap terjaga hingga menit-menit akhir pertandingan.

Efektivitas Serangan Menjadi Kunci Kemenangan

Salah satu faktor utama kemenangan Prancis adalah efektivitas dalam memanfaatkan peluang. Meski sama-sama menciptakan beberapa kesempatan, Les Bleus tampil jauh lebih klinis di depan gawang.

Lini tengah mampu menjadi penghubung yang solid antara pertahanan dan penyerangan. Sementara itu, para penyerang tampil tajam dengan penyelesaian akhir yang berkualitas.

Selain menyerang dengan baik, pertahanan Prancis juga tampil disiplin. Hampir tidak ada ruang bagi Swedia untuk membangun serangan berbahaya sepanjang pertandingan.

Swedia Berjuang Hingga Akhir

Meski tertinggal, Swedia tetap menunjukkan semangat juang tinggi. Mereka terus berusaha mencari gol balasan melalui bola mati maupun serangan balik cepat.

Beberapa peluang sempat tercipta, tetapi penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat usaha mereka belum membuahkan hasil. Penampilan solid lini belakang serta penjaga gawang Prancis menjadi tembok yang sulit ditembus.

Kekalahan ini menjadi bahan evaluasi penting bagi Swedia, terutama dalam meningkatkan efektivitas serangan dan menjaga konsentrasi saat menghadapi tim dengan kualitas tinggi seperti Prancis.

Kesimpulan Hasil Prancis vs Swedia

Hasil pertandingan ini kembali membuktikan kualitas Prancis sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa. Les Bleus tampil terlalu perkasa dengan permainan kolektif, penguasaan bola yang dominan, serta efektivitas tinggi di depan gawang.

Di sisi lain, Swedia sebenarnya telah memberikan perlawanan yang cukup baik, namun perbedaan kualitas dan pengalaman membuat mereka kesulitan mengimbangi permainan Prancis sepanjang laga.

Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Les Bleus untuk menghadapi pertandingan berikutnya, sekaligus memperpanjang tren positif mereka. Sementara bagi Swedia, hasil ini menjadi pelajaran penting untuk memperbaiki performa sebelum menjalani laga selanjutnya.

BOLADONESIA – Kylian Mbappe menjadi bintang timnas Prancis saat menang 3-0 atas timnas Swedia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Rabu (1/7/2026) pagi WIB. Pada partai itu, dia mencetak brace. Setelah mebuka skor pada pengujung babak pertama, dia berlari ke arah sang pelatih, Didier Deschamps.

Soal selebrasinya itu, Mbappe mengatakan, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan persembahan bagi Deschamps yang tengah berduka. Sepekan lalu, Deschamps harus meninggalkan kamp Les Bleus karena ibundanya meninggal dunia. Dia sampai tak mendampingi tim saat laga melawan Norwegia pada matchday pamungkas di fase grup.

“Inilah DNA tim ini. Kami semua bersama-sama. Pelatih baru saja melewati masa sulit yang, sayangnya, akan dialami pula oleh semua orang. Ada hal-hal yang lebih penting dari sepak bola. Melalui isyarat ini, dia tahu bahwa dia tak akan peranh sendirian. Apa pun yang terjadi, kami akan mndukung dia,” kata Kylian Mbappe seperti dikutip IDNEWS.TOP dari Le Figaro.

Menariknya, Deschamps juga menunjukkan respek kepada sang penyerang. Saat keluar dari lapangan untuk digantikan Jean-Philippe Mateta, Mbappe mendapat sambutan tak terduga. Sang pelatih terlihat menjura dengan merentangkan tangannya ke depan. Berkat brace-nya, Mbappe memang mencapai milestone dengan melewati torehan 16 gol Miroslav Klose. Kini, dia hanya kalah dari Lionel Messi.

Kylian Mbappe Merendah

Mampu mencetak 2 dari 3 gol yang membawa timnas Prancis menang 3-0 atas timnas Swedia, Kylian Mbappe juga menyamai koleksi 6 gol Lionel Messi dalam perburuan top scorer Piala Dunia 2026. Meskipun demikian, pemain Real Madrid tersebut tetap merendah. Dia menyebut torehan gol memang tugasnya. Performa apik pun sudah menjadi ekspektasi publik dari dirinya.

“Aku tahu berada di mana dan apa yang perlu dilakukan. Namun, ini bukan hanya tentang aku, ini tentang tim juga. Hari ini adalah kompetisi baru. Kami bermain baik meskipun agak ragu-ragu pada awal pertandingan. Kami bisa saja punya start lebih baik, tapi kami cepat beradaptasi. Kami punya beberapa peluang yang gagal berbuah gol, tapi itu memang bagian dari sepak bola,” ucap dia.

Penyerang berumur 27 tahun itu pun tak lantas menatap ke depan, yakni laga melawan timnas Paraguay pada babak 16 besar. Dia memasang kewaspadaan tinggi karena kejutan yang dibuat La Albirroja pada 32 besar. Dia mengungkapkan, “Kami akan mengalihkan perhatian kepada Paraguay. Mereka tim yang harus diwaspadai. Mereka mengalahkan Jerman dan tak ada laga mudah di Piala Dunia.”

Berkat brace yang dibuat di gawang Swedia, Mbappe kini tercatat sebagai pemain dengan koleksi gol terbanyak pada fase gugur Piala Dunia. Total, dia mengemas 10 gol. Itu melebihi dua legenda Brasil, Leonidas da Silva dan Ronaldo Luis Nazario de Lima. Keduanya sama-sama hanya mencetak 8 gol.

Pertemuan Meksiko vs Ekuador di babak 32 besar Piala Dunia 2026 akan digelar di Mexico City Stadium, Rabu (1/7/2026) pukul 08.00 WIB. Laga ini menjadi ujian berikutnya bagi salah satu tuan rumah turnamen yang tengah berada di laju positif.

El Tri menembus fase gugur dengan catatan sempurna: tiga kemenangan dari tiga laga fase grup tanpa kebobolan, plus enam gol tercipta. Mereka memuncaki Grup A dengan poin maksimal dan menjaga momentum di hadapan publik sendiri.

Ekuador tiba di fase ini sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik dari Grup E. Kepercayaan diri pasukan Sebastian Beccacece meningkat setelah bangkit dan menaklukkan juara grup Jerman 2-1 pada partai terakhir.

Dengan dukungan lebih dari 80.000 penggemar, Meksiko menargetkan kelanjutan rekor tak terkalahkan mereka di turnamen, sementara Ekuador membawa semangat juang yang terbukti efektif saat membalikkan keadaan kontra Jerman.

Jadwal, Arena, dan Misi El Tri

Partai Meksiko vs Ekuador tersaji di Mexico City Stadium pada Rabu (1/7/2026) pukul 08.00 WIB. Atmosfer kandang yang masif menjadi modal tambahan bagi El Tri dalam misi menjaga kesempurnaan di babak 32 besar.

Meksiko datang dari fase grup dengan tiga clean sheet dan enam gol, performa yang memompa optimisme suporter bahwa kampanye mereka kali ini berpotensi menorehkan catatan spesial. Dominasi itu menempatkan mereka kukuh di puncak Grup A.

Di stadion sendiri, tim asuhan Javier Aguirre mengantongi rekor tak terkalahkan dalam sembilan pertandingan Piala Dunia. Sepanjang sejarah, Meksiko hanya dua kali kalah di kandang, dengan kekalahan terakhir terjadi pada kualifikasi melawan Honduras pada September 2013.

Performa Gemilang Meksiko di Fase Grup

Kampanye El Tri dibuka dengan kemenangan 2-0 atas Afrika Selatan, lewat gol Julian Quinones dan Raul Jimenez. Mereka melanjutkan laju lewat hasil 1-0 melawan Korea Selatan, sebelum menutup dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Republik Ceko untuk mengamankan posisi teratas.

Aguirre, yang kini memasuki periode ketiganya menukangi Meksiko, membawa pengalaman panjang di pentas ini. Ia pernah tampil di Piala Dunia 1986 sebagai gelandang dan melatih El Tri pada edisi 2002. Pada kedua kesempatan tersebut, Meksiko mengemas dua kemenangan dan satu hasil imbang di babak grup, rekor yang kini telah dilampaui skuad saat ini.

Stabilitas lini belakang menjadi fondasi utama, tercermin dari tiga partai tanpa kebobolan. Efektivitas serangan juga terjaga melalui kontribusi Quinones dan Jimenez, yang kembali diharapkan memberi dampak pada fase gugur.

Ekuador dan Kebangkitan di Partai Penentu

Perjalanan Ekuador di Grup E berliku. Mereka memulai dengan kekalahan 1-0 dari Pantai Gading akibat gol menit ke-90, lalu ditahan 0-0 oleh Curacao meski melepaskan 27 tembakan ke gawang. Posisi mereka pun bergantung pada laga pamungkas.

Momen krusial hadir saat menghadapi Jerman. Leroy Sane sempat membawa lawan unggul cepat, namun Nilson Angulo segera menyamakan skor, sebelum Gonzalo Plata mencetak gol kemenangan pada menit ke-77 untuk memastikan tiket 32 besar sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.

Capaian ini menandai kedua kalinya Ekuador menembus fase gugur Piala Dunia, menyamai torehan 2006. Saat itu, tim yang dipimpin Ivan Hurtado lolos bareng tuan rumah, tetapi tersingkir 0-1 di babak 16 besar lewat tendangan bebas David Beckham.

Rekor Pertemuan, Kabar Tim, dan Perkiraan XI

Meksiko dan Ekuador telah bersua 28 kali. El Tri memimpin dengan 17 kemenangan, Ekuador meraih empat kemenangan, sementara tujuh laga berakhir imbang. Pertemuan terakhir terjadi pada Oktober 2025 dalam uji coba internasional yang berakhir 1-1.

Di Piala Dunia, kedua tim baru sekali bertemu: fase grup 2002 yang dimenangi Meksiko 2-1. Catatan head-to-head itu menambah bumbu duel fase gugur kali ini di Mexico City.

Menjelang babak 16 besar, Meksiko tidak menghadapi masalah cedera. Javier Aguirre diperkirakan akan mengembalikan Raul Jimenez ke starting lineup setelah diistirahatkan kontra Republik Ceko. Raul Rangel akan tetap menjadi penjaga gawang utama, meskipun Guillermo Ochoa yang berusia 40 tahun sempat tampil melawan Republik Ceko, menjadikannya pemain ketiga dalam sejarah, bersama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, yang tampil di enam Piala Dunia.

Di kubu lawan, Ekuador juga dilaporkan tidak memiliki masalah kebugaran atau cedera. Sebastian Beccacece diperkirakan tidak mengubah banyak komposisi dari tim yang menundukkan Jerman.

Perkiraan susunan pemain:

Meksiko: Rangel; Sanchez, Montes, Vasquez, Gallardo; Lira, Romo, Gutierrez; Alvarado, Jimenez, Quinones
Ekuador: Galindez; Franco, Ordonez, Pacho, Hincapie; Yeboah, Caicedo, Vite, Angulo; Plata, Valencia

Timnas Prancis melangkah mulus ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Swedia dengan skor meyakinkan 3-0 pada laga babak 32 besar di New York/New Jersey Stadium, Rabu (1-7-2026) dini hari WIB.

Kylian Mbappe menjadi bintang kemenangan Les Bleus dengan mencetak dua gol, sementara satu gol lainnya disumbangkan Bradley Barcola.

Berkat hasil tersebut, Prancis akan menghadapi Paraguay di 16 besar yang berlangsung di Philadelphia pada Minggu (5-7-2026) WIB.

Sejak peluit awal dibunyikan, tim arahan Didier Deschamps langsung menguasai jalannya pertandingan. Prancis terus menggempur pertahanan Swedia yang dipaksa bertahan hampir sepanjang babak pertama.

Kendati menciptakan sejumlah peluang, pertahanan disiplin Swedia membuat Prancis kesulitan mencetak gol.

Pada menit ke-45, Kylian Mbappe menunjukkan kualitas individunya. Sang kapten melakukan aksi olah bola di dalam kotak penalti sebelum melepaskan tembakan keras yang gagal dibendung kiper Jacob Zetterstrom.

Babak Kedua

Memasuki babak kedua, Prancis tidak mengendurkan tekanan. Baru delapan menit laga berjalan, Michael Olise mengirim umpan terobosan matang yang diselesaikan Bradley Barcola menjadi gol pada menit ke-53.

Unggul dua gol membuat Les Bleus makin percaya diri menguasai permainan. Swedia berusaha bangkit, tetapi lini belakang Prancis tampil solid dan tidak memberi banyak ruang bagi lawannya.

Mbappe kemudian memastikan kemenangan Prancis pada menit ke-74. Lagi-lagi Olise menjadi kreator lewat umpan terukur yang disambut penyelesaian klinis Mbappe untuk mengubah skor menjadi 3-0.

Gol tersebut membuat koleksi Mbappe di putaran final Piala Dunia bertambah menjadi 18 gol, hanya terpaut satu gol dari Lionel Messi.

Menjelang laga berakhir, Deschamps menarik keluar Mbappe dan Olise untuk memberi kesempatan kepada Jean-Philippe Mateta serta Rayan Cherki tampil.

Swedia sempat memiliki peluang memperkecil ketertinggalan, tapi gagal memanfaatkannya. Sebaliknya, Prancis hampir menambah gol melalui Barcola, tetapi penyelamatan gemilang Jacob Zetterstrom menggagalkan peluang tersebut.

Hingga peluit panjang berbunyi, skor 3-0 tetap bertahan untuk kemenangan Prancis.

Susunan Pemain

Prancis (4-2-3-1): Maignan; Digne, Upamecano, Kounde, Saliba; Tchoameni, Rabiot; Dembele, Mbappe, Olise; Barcola

Pelatih: Didier Deschamps

Swedia (4-4-2): Zetterstrom; Lagerbielke, Lindelof, Gudmundsson, Svensson; Stroud, Bergvall, Ayari, Isak; Elanga, Gyokeres

Pelatih: Graham Potter

Kylian Mbappe Memburu Lionel Messi, Bisakah Jadi Pemain Terbaik Sepanjang Masa?

BolaIndonesia – Kylian Mbappe kembali menjadi sorotan dunia sepak bola. Penyerang andalan timnas Prancis itu disebut masih terus memburu pencapaian Lionel Messi, baik dari sisi prestasi individu maupun koleksi trofi bersama klub dan tim nasional. Meski usianya masih jauh lebih muda dibanding sang legenda Argentina, Mbappe telah menegaskan bahwa dirinya ingin mengukir sejarah sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa.

Performa Mbappe dalam beberapa musim terakhir menunjukkan perkembangan luar biasa. Kecepatan, kemampuan mencetak gol, hingga kepemimpinannya di lapangan membuat namanya selalu masuk dalam daftar pemain elite dunia. Namun, di atas semua itu, Lionel Messi masih menjadi standar tertinggi yang ingin ia kejar.

Messi telah memenangkan hampir seluruh gelar bergengsi yang tersedia, mulai dari Liga Champions, gelar liga domestik, Copa America, hingga Piala Dunia. Catatan tersebut menjadi tantangan besar bagi Mbappe yang kini memasuki usia emas sebagai pesepak bola profesional.

Piala Dunia Menjadi Target Utama

Persaingan Mbappe dengan Messi semakin menarik sejak final Piala Dunia 2022. Saat itu Mbappe tampil luar biasa dengan mencetak hattrick ke gawang Argentina. Sayangnya, Prancis harus mengakui keunggulan tim asuhan Lionel Scaloni melalui adu penalti.

Kekalahan tersebut menjadi luka yang sekaligus memotivasi Mbappe. Ia bertekad membawa Prancis kembali berjaya di panggung internasional sekaligus menambah koleksi gelar Piala Dunia miliknya.

Mbappe menyadari bahwa keberhasilan Messi mengangkat trofi Piala Dunia menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam karier sang legenda. Karena itu, mempertahankan dominasi bersama Prancis menjadi langkah penting apabila dirinya ingin benar-benar menyamai bahkan melampaui warisan Messi.

Konsistensi Menjadi Senjata Mbappe

Banyak pengamat menilai kemampuan individu Mbappe tidak perlu diragukan lagi. Ia memiliki naluri mencetak gol yang tajam, mampu bermain di berbagai posisi lini depan, dan selalu menjadi pembeda dalam pertandingan besar.

Yang kini menjadi tantangan adalah menjaga konsistensi selama lebih dari satu dekade, sebagaimana dilakukan Lionel Messi.

Messi mampu tampil di level tertinggi selama hampir dua puluh tahun. Ia terus mencatatkan rekor gol, assist, hingga penghargaan individu secara konsisten. Inilah aspek yang kini sedang dibangun oleh Mbappe.

Setiap musim, pemain asal Prancis tersebut terus memperlihatkan peningkatan produktivitas. Ia juga semakin matang dalam mengambil keputusan di lapangan dan berkembang menjadi pemimpin bagi rekan-rekannya.

Perburuan Ballon d’Or Semakin Sengit

Selain trofi bersama tim, Mbappe juga memiliki ambisi besar meraih Ballon d’Or secara konsisten. Penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola itu selama bertahun-tahun didominasi oleh Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Kini era baru mulai terbuka. Mbappe menjadi salah satu kandidat utama untuk menguasai penghargaan tersebut dalam beberapa tahun mendatang.

Meski begitu, jalan menuju Ballon d’Or tidak akan mudah. Persaingan dengan pemain-pemain muda berbakat lainnya membuat Mbappe harus terus tampil luar biasa di setiap kompetisi yang diikutinya.

Keberhasilan membawa klub meraih gelar bergengsi serta tampil impresif di turnamen internasional akan menjadi faktor penting dalam menentukan peluangnya meraih penghargaan tersebut.

Warisan Messi Masih Sangat Sulit Dikejar

Lionel Messi meninggalkan standar yang luar biasa tinggi dalam sejarah sepak bola modern. Selain koleksi trofi yang melimpah, ia juga memegang berbagai rekor individu yang hingga kini masih sulit disentuh pemain lain.

Mbappe memang telah mencatat banyak prestasi pada usia muda. Namun, perjalanan menuju level yang sama masih cukup panjang.

Legenda Argentina itu dikenal bukan hanya karena produktivitas golnya, tetapi juga visi bermain, kreativitas, kemampuan menciptakan peluang, hingga konsistensi selama bertahun-tahun.

Karena itu, setiap langkah Mbappe menuju puncak dunia selalu dibandingkan dengan perjalanan Messi.

Masa Depan Masih Terbuka Lebar

Usia menjadi keuntungan terbesar bagi Mbappe. Dengan karier yang masih panjang, peluang untuk terus menambah trofi dan rekor masih terbuka lebar.

Jika mampu mempertahankan performa terbaiknya, bukan tidak mungkin Mbappe akan menjadi pemain yang mendominasi sepak bola dunia dalam satu dekade ke depan.

Namun, mengejar Lionel Messi bukan sekadar soal jumlah gol atau trofi. Yang lebih penting adalah bagaimana Mbappe mampu meninggalkan warisan besar bagi dunia sepak bola melalui konsistensi, kepemimpinan, dan prestasi di level tertinggi.

Perjalanan tersebut masih berlangsung, dan para pencinta sepak bola di seluruh dunia tentu akan terus mengikuti apakah Kylian Mbappe benar-benar mampu menyamai, atau bahkan melampaui, jejak gemilang Lionel Messi. Hingga saat itu tiba, persaingan lintas generasi ini akan tetap menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah sepak bola modern.