KLIKBEST – Piala Dunia 2026 memasuki fase perempat final. Delapan tim terbaik telah memastikan tempat setelah melewati babak 16 besar yang penuh drama, kejutan, hingga momen emosional.
Tim-tim yang lolos ke delapan besar adalah Prancis, Maroko, Spanyol, Belgia, Norwegia, Inggris, Argentina, dan Swiss. Menariknya, tiga tuan rumah Piala Dunia 2026, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, seluruhnya sudah tersingkir.
Argentina menjadi satu di antara tim yang lolos dengan cara dramatis. Lionel Messi dan kawan-kawan harus bekerja keras sebelum menyingkirkan Mesir dengan skor 3-2.
Sementara itu, Swiss memastikan tiket perempat final setelah menang adu penalti atas Kolombia. Laga tersebut berjalan ketat sebelum Swiss akhirnya unggul 4-3 dalam drama tos-tosan.
Akhir Pahit untuk Ronaldo dan Neymar
Babak 16 besar juga menjadi panggung perpisahan bagi dua bintang besar sepak bola dunia, Cristiano Ronaldo dan Neymar.
Portugal harus tersingkir setelah kalah tipis 0-1 dari Spanyol. Hasil itu membuat mimpi Ronaldo untuk menutup karier internasionalnya dengan trofi Piala Dunia kandas.
Nasib serupa dialami Neymar. Brasil tersingkir setelah kalah 1-2 dari Norwegia. Seusai laga, Neymar disebut mengumumkan pensiun dari Timnas Brasil.
Jadwal Pertandingan
Berikut jadwal lengkap perempat final Piala Dunia 2026:
Prancis Vs Maroko Jumat, 10 Juli 2026 Boston Stadium Pukul 03.00 WIB
Spanyol Vs Belgia Sabtu, 11 Juli 2026 Los Angeles Stadium Pukul 02.00 WIB
Norwegia Vs Inggris Minggu, 12 Juli 2026 Miami Stadium Pukul 04.00 WIB
Argentina Vs Swiss Minggu, 12 Juli 2026 Kansas City Stadium Pukul 08.00 WIB
Legenda Timnas Prancis, Patrice Evra, memberikan pujian kepada performa Timnas Inggris di Piala Dunia 2026.
Namun, ia mengingatkan para pendukung The Three Lions agar tidak terlalu cepat percaya diri dengan menyanyikan slogan legendaris “It’s Coming Home”.
Inggris tampil impresif sepanjang fase gugur. Setelah menyingkirkan Republik Demokratik Kongo, pasukan Thomas Tuchel membuat kejutan besar dengan mengalahkan tuan rumah Meksiko untuk melaju ke perempat final.
Kini, Harry Kane dan kolega akan menghadapi Norwegia di Miami pada Sabtu (11/7/2026) demi memperebutkan tiket ke semifinal Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam tiga edisi terakhir.
Evra: Inggris Punya Kualitas Juara
Dalam wawancaranya bersama Stake, Evra menilai Inggris memiliki kualitas untuk menjadi juara dunia. Namun, menurutnya, perjalanan menuju trofi masih panjang sehingga para suporter sebaiknya tidak terlalu cepat larut dalam euforia.
“Inggris bermain sangat baik, tetapi tolong jangan mulai menyanyikan ‘It’s Coming Home’ terlalu cepat. Mungkin jika kali ini kalian tetap tenang, trofi itu benar-benar bisa pulang,” ujar Evra.
Mantan bek Manchester United itu juga memuji peran kapten Inggris, Harry Kane. Menurut Evra, kontribusi Kane tidak hanya diukur dari jumlah gol yang dicetaknya.
“Harry Kane tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Orang-orang hanya membicarakan golnya, padahal saya menyukai kecerdasannya. Dia mampu menghubungkan permainan, melibatkan rekan-rekannya, dan benar-benar memahami sepak bola.”
Tantangan Sesungguhnya Ada di Momen Krusial
Evra menegaskan Inggris memiliki materi pemain yang cukup untuk melangkah hingga final. Namun, ia menilai keberhasilan di Piala Dunia lebih ditentukan oleh kemampuan menghadapi tekanan pada laga-laga besar.
“Inggris punya kualitas untuk melangkah sampai akhir. Tidak diragukan lagi. Pertanyaannya bukan soal bakat, melainkan apakah mereka mampu menghadapi momen-momen besar ketika pertandingan menjadi sangat berat. Itulah yang menentukan juara Piala Dunia, bukan hanya permainan indah.”
Inggris Kehilangan Dua Pemain
Menjelang duel melawan Norwegia, Inggris dipastikan tidak tampil dengan kekuatan penuh.
Bek muda Jarell Quansah harus menjalani hukuman larangan bermain setelah menerima kartu merah saat menghadapi Meksiko. Sementara itu, gelandang senior Jordan Henderson juga absen karena mengalami patah tulang lengan setelah pertandingan tersebut.
Meski kehilangan dua pemain, Inggris tetap difavoritkan untuk melangkah ke semifinal dan berpotensi menghadapi Argentina apabila mampu melewati hadangan Norwegia.
BOLADONESIA – Kegagalan timnas Brasil di Piala Dunia 2026 masih menyisakan kekecewaan dan kekesalan di publik sepak bola negeri itu. Carlo Ancelotti, sang pelatih, jadi sasaran utamanya. Romario Faria, striker andalan saat juara Piala Dunia 1994, bahkan menyebut pelatih Italia itu seharusnya dipecat oleh Asosiasi Sepak Bola Brasil (CBF).
Romario mengakui materi pemain Brasil saat ini tidak seperti pada masanya. Ada penurunan kualitas yang begitu nyata. Namun, Ancelotti sebagai pelatih tetaplah sosok yang paling bertanggung jawab atas kegagalan di Piala Dunia kali ini. Terutama kekalahan 1-2 dari Norwegia pada babak 16 besar.
“Kami pernah punya Dunga. Dia kalah dan pergi. Felipao yang menang dan bertahan. Kami pernah dilatih Tite yang kalah, bertahan, dan pergi. Sekarang, kami punya Ancelotti ini yang kalah dan akan bertahan lagi. Sumpah, itu salah besar!” ujar Romario Faria soal Carlo Ancelotti seperti dikutip IDNEWS.TOP dari No Ataque. “Saya akan bilang kepada dia untuk mengambil tiket dan pulang ke Italia.”
Pemain terbaik Piala Dunia 1994 itu menambahkan, “Saya tak mengatakan Ancelotti sebagai biang kegagalan, tapi dia sangat bertanggung jawab pada kekalahan ini. Dia menarik Bruno Guimaraes dan memasukkan Ederson. Mengapa dan untuk alasan apa? Saya ingin tahu apa yang ingin dia coba dengan melakukan hal itu.”
Kontrak Carlo Ancelotti
Hal yang juga dikritik Romario Faria adalah putusan CBF memperpanjang kontrak Carlo Ancelotti jelang Piala Dunia 2026. Durasinya pun tak main-main, hingga Piala Dunia 2030! Padahal, saat didapuk sebagai pelatih baru pada Mei 2025, dia hanya diikat kontrak hingga Piala Dunia 2026. Logikanya, hasil di ajang itu jadi pertimbangan utama untuk memperpanjang atau memutus kontraknya.
“Tidak mungkin Ancelotti bisa terus jadi pelatih timnas Brasil setelah kekalahan ini, setelah aib yang ditimbulkannya (melawan Norwegia). Saya akan merobek surat kontraknya dan menyuruh dia untuk mengambil langkah hukum!” ucap eks striker yang menjulang di PSV Eindhoven dan Barcelona tersebut.
Akan tetapi, harapan Romario dipastikan tak terwujud. CBF tetap bergeming untuk memberikan waktu kepada Ancelotti. “Dia hanya punya waktu kurang dari setahun dan bekerja sekitar 4 bulan,” ujar Ridrigo Caetano, Direktur Tim Nasional. “Saya yakin tim ini berada di jalur meningkat. Penilaiannya pun positif. Jika tidak, dia tak mungkin mau bertahan. Dia sendiri tentu tak akan memutuskan bertahan.”
Caetano pun yakin Ancelotti dan tim kepelatihannya akan mampu membentuk tim baru dengan mengandalkan para pemain muda seiring berakhirnya era para pemain senior. Dia juga menegaskan, putusan tetap mempertahankan Ancelotti adalah upaya untuk mencari stabilitas. Dia mengingatkan, tren memecat pelatih setelah gagal di turnamen bersar terbukti tak berdampak positif bagi Selecao.
LARISBOLA – Prancis terus memperkuat statusnya sebagai favorit juara Piala Dunia 2026. Penampilan konsisten Les Bleus sepanjang turnamen membuat banyak pengamat menilai mereka sebagai tim yang paling siap mengangkat trofi.
Tim asuhan Didier Deschamps melangkah ke babak perempat final dengan performa yang meyakinkan. Mereka hanya kebobolan dua gol dalam lima pertandingan dan tetap mengandalkan ketajaman Kylian Mbappe sebagai senjata utama.
Di tengah laju impresif tersebut, muncul pandangan menarik dari Arsene Wenger. Mantan pelatih Arsenal itu justru tidak melihat Argentina sebagai ancaman terbesar bagi Prancis.
Menurut Wenger, hanya Spanyol yang memiliki karakter permainan untuk meredam kekuatan Les Bleus. Ia menilai kualitas kolektif La Furia Roja menjadi modal utama untuk menghentikan langkah Prancis menuju gelar dunia.
Wenger Jagokan Prancis, tetapi Waspadai Spanyol Wenger mengaku menjagokan Prancis menjadi juara Piala Dunia 2026. Ia menilai Les Bleus tampil paling konsisten dibandingkan negara peserta lainnya.
Bagi Wenger, sepak bola modern menuntut setiap tim mampu bermain dengan intensitas tinggi sepanjang pertandingan. Prancis dinilai memiliki perpaduan kualitas teknik, fisik, dan kedalaman skuad yang membuat mereka unggul.
“Prancis akan memenangkan Piala Dunia. Saya tahu Anda akan berkata, ‘Tentu saja Anda mengatakan itu, Anda orang Prancis,” kata Wenger kepada Sky Sports.
“Tetapi ketika Anda menganalisis Piala Dunia, kereta berjalan dengan kecepatan tertentu, dan Anda harus mampu menaiki kereta itu. Misalnya, tim-tim Asia tersingkir karena mereka tidak mampu mengatasi intensitas dan kecepatan pertandingan,” sambungnya.
Pertandingan Selanjutnya
Meski menjagokan negaranya sendiri, Wenger melihat Spanyol sebagai satu-satunya tim yang berpotensi menghentikan Prancis. Kedua tim bahkan berpeluang bertemu di semifinal apabila sama-sama lolos dari babak perempat final.
Menurut Wenger, keunggulan utama Spanyol terletak pada permainan kolektif mereka. Aspek tersebut dinilai belum bisa ditandingi negara lain di Piala Dunia 2026.
“Pertanyaan sebenarnya bagi saya adalah Spanyol. Jika ada satu tim yang mampu mengalahkan Prancis saat ini, saya akan mengatakan itu adalah Spanyol karena level teknis mereka lebih baik daripada Prancis,” tambah pria berusia 76 tahun itu.
“Mereka memiliki kualitas dan budaya sepak bola kolektif yang tidak dimiliki tim lain di dunia pada level itu. Itu bisa menjadi penentu antara kedua tim ini, tetapi tentu saja Prancis lebih kuat secara fisik,” ucap Wenger
Timnas Prancis akan menghadapi Timnas Maroko dalam babak perempat final Piala Dunia 2026 di Boston Stadium, Boston, Jumat (10/7/2026) dini hari WIB, dalam laga yang sekaligus menjadi ulangan semifinal edisi 2022
Pemenang pertandingan ini dipastikan melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 untuk menghadapi pemenang duel Timnas Spanyol kontra Timnas Belgia.
Prancis datang dengan modal lima kemenangan beruntun sejak penyisihan grup hingga babak 16 besar. Tim berjuluk Les Bleus lebih dulu menjadi juara Grup I sebelum menyingkirkan Timnas Swedia dan Timnas Paraguay untuk mengamankan tiket ke delapan besar.
Perjalanan terakhir Prancis tidak berjalan mudah karena harus menunggu gol penalti Kylian Mbappe untuk mengalahkan Paraguay. Armada Didier Deschamps telah mengoleksi 13 gol sepanjang Piala Dunia 2026.
Dominasi Prancis
Produktivitas Prancis tidak lepas dari kontribusi lini depan yang dihuni Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, dan Bradley Barcola. Desire Doue juga menjadi pemain penting setelah aksinya menghasilkan penalti yang menentukan kemenangan atas Paraguay.
Deschamps berpeluang mencatat sejarah pada pertandingan ini. Pelatih yang akan mengakhiri masa baktinya setelah Piala Dunia 2026 itu dijadwalkan menjalani laga ke-25 di putaran final sehingga menyamai rekor milik Helmut Schon.
Selain membidik rekor tersebut, Deschamps juga berpotensi membukukan kemenangan ke-20 sebagai pelatih di Piala Dunia. Sebelumnya, Prancis sempat bermain di Boston dan meraih kemenangan 4-1 atas Timnas Norwegia.
Di sisi lain, Maroko bertekad memutus catatan buruk saat menghadapi Prancis. Tim berjuluk Atlas Lions itu belum pernah mengalahkan Les Bleus dalam waktu normal dari enam pertemuan sebelumnya dengan rincian empat kekalahan dan dua hasil imbang.
Konsistensi Maroko
Satu-satunya pertemuan kedua kesebelasan di kejuaraan kompetitif terjadi pada semifinal Piala Dunia 2022. Saat itu, Maroko harus mengakui keunggulan Prancis 0-2 sehingga gagal melangkah ke partai final.
Pada Piala Dunia 2026, Maroko kembali menunjukkan konsistensi dengan melewati lima pertandingan pertama tanpa kekalahan. Pasukan Mohamed Ouahbi itu lolos sebagai runner-up Grup C sebelum menyingkirkan Timnas Belanda melalui adu penalti dan mengalahkan tuan rumah bersama, Timnas Kanada, pada 16 besar.
Azzedine Ounahi menjadi bintang kemenangan Maroko atas Kanada setelah mencetak dua gol pada babak kedua. Sementara itu, Soufiane Rahimi yang masuk dari bangku cadangan turut menyumbang satu gol pada masa injury time.
Hasil tersebut membuat Maroko memperpanjang catatan tidak terkalahkan menjadi sepuluh pertandingan di berbagai kejuaraan sejak final Piala Afrika awal tahun ini. Namun, menghadapi Prancis diprediksi menjadi ujian terberat untuk menjaga tren positif tersebut.
Prakiraan Susunan Pemain
Prancis (4-2-3-1): Mike Maignan; Jules Kounde, Dayot Upamecano, William Saliba, Lucas Digne; Manu Kone, Adrien Rabiot; Ousmane Dembele, Michael Olise, Bradley Barcola; Kylian Mbappe
Pelatih: Didier Deschamps
Maroko (4-2-3-1): Yassine Bounou; Achraf Hakimi, Mouhamadou Diarra Diop, Chadi Riad, Noussair Mazraoui; Neil El Aynaoui, Ayyoub Bouaddi; Brahim Diaz, Azzedine Ounahi, Bilal El Khannouss; Soufiane Rahimi
Idnews.top – Jadwal dan link streaming Swiss vs Kolombia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 akan tersaji di BC Place, Vancouver, Rabu (8/7/2026) pukul 03.00 WIB. Duel Swiss vs Kolombia disiarkan langsung di TVRI, TVRI Sport, serta dapat disaksikan melalui layanan streaming FolaPlay dan MaxStream.
Pertandingan ini menjadi kesempatan berharga bagi kedua tim untuk kembali menembus babak perempat final Piala Dunia. Swiss terakhir kali mencapai fase delapan besar pada edisi 1954, sedangkan pencapaian terbaik Kolombia terjadi di Piala Dunia 2014.
Swiss melaju ke babak 16 besar dengan performa yang meyakinkan setelah mengalahkan Aljazair 2-0. Sementara itu, Kolombia memastikan tiket ke fase gugur berikutnya usai menundukkan Ghana dengan skor tipis 1-0.
Sepanjang turnamen, Swiss tampil konsisten. Tim asuhan Murat Yakin belum tersentuh kekalahan dan memperlihatkan keseimbangan antara pertahanan yang solid serta penyelesaian akhir yang efektif.
Pengalaman Granit Xhaka dan Ricardo Rodriguez menjadi salah satu kekuatan utama Swiss. Di lini depan, Johan Manzambi juga tampil tajam dengan koleksi tiga gol yang membuatnya menjadi ancaman serius bagi pertahanan Kolombia.
Jadwal, Siaran Langsung, dan Link Streaming
Kompetisi: 16 Besar Piala Dunia 2026 Pertandingan: Swiss vs Kolombia Tempat: BC Place Vancouver Hari, tanggal: Rabu, 8 Juli 2026 Jam kick-off: 03.00 WIB Siaran langsung: TVRI dan TVRI Sport Live streaming: FolaPlay dan MaxStream Link streaming: https://maxstream.tv/live/0_fhyth65l/swiss_vs_kolombia DISCLAIMER: Semua informasi mengenai jadwal siaran TV yang disajikan disusun berdasarkan data yang tersedia untuk umum pada saat penulisan. Stasiun televisi terkait berhak melakukan perubahan jadwal, penundaan, atau pembatalan program siaran tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Prediksi Skor
Rekor pertemuan sedikit berpihak kepada Kolombia. Dari empat perjumpaan sebelumnya, Kolombia meraih dua kemenangan, termasuk kemenangan 2-0 pada fase grup Piala Dunia 1994. Swiss hanya sekali menang, sedangkan satu laga lainnya berakhir imbang.
Pertarungan di lini tengah diprediksi menjadi faktor penentu. Granit Xhaka akan berhadapan langsung dengan Jefferson Lerma dalam duel memperebutkan kendali permainan.
Apabila Xhaka mampu mengatur tempo dan distribusi bola seperti pada laga-laga sebelumnya, Swiss berpeluang lebih banyak menguasai pertandingan. Namun, jika Lerma sukses mematahkan aliran serangan lawan, Kolombia bisa mengandalkan kecepatan Luis Díaz untuk melancarkan serangan balik.
Melihat performa kedua tim sepanjang turnamen, pertandingan diperkirakan berlangsung ketat dan seimbang. Meski Swiss memiliki organisasi permainan yang lebih rapi, efektivitas serangan balik Kolombia membuat wakil Amerika Selatan itu sedikit lebih diunggulkan.
BolaIndonesia – Timnas Swiss memastikan satu tempat di babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah melewati duel dramatis kontra Kolombia pada babak 16 besar. Laga yang berlangsung sengit selama 120 menit itu berakhir tanpa gol sebelum Swiss akhirnya menang 4-3 melalui adu penalti. Kemenangan tersebut menjadi pencapaian bersejarah karena membawa Swiss melaju ke delapan besar Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1954.
Usai pertandingan, pelatih Swiss Murat Yakin mengungkap faktor utama yang membuat timnya mampu mengatasi tekanan Kolombia yang tampil agresif sejak awal pertandingan. Menurutnya, kemenangan bukan hanya ditentukan keberuntungan dalam adu penalti, melainkan hasil dari kesabaran, disiplin, serta keputusan taktis yang tepat sepanjang laga.
Kesabaran Jadi Senjata Utama Swiss
Yakin menilai Kolombia merupakan salah satu lawan paling sulit yang dihadapi timnya sepanjang turnamen. Skuad Amerika Selatan tersebut mampu menguasai bola dalam beberapa fase pertandingan dan beberapa kali mengancam gawang Gregor Kobel.
Meski demikian, Swiss tidak terpancing bermain terbuka. Mereka tetap mempertahankan organisasi pertahanan yang rapat sambil menunggu peluang melakukan serangan balik.
“Kami tahu pertandingan akan berlangsung sangat ketat. Kuncinya adalah tetap sabar dan tidak kehilangan struktur permainan,” ungkap Yakin setelah pertandingan.
Pendekatan tersebut terbukti efektif. Kolombia kesulitan menemukan ruang di area pertahanan Swiss meski beberapa kali menciptakan peluang melalui Luis Diaz dan Daniel Munoz.
Pergantian Pemain Jadi Pembeda
Selain disiplin bertahan, Yakin mengaku pergantian pemain menjadi salah satu keputusan terbaik yang diambil sepanjang pertandingan.
Masuknya tenaga baru membuat Swiss mampu menjaga intensitas permainan hingga babak tambahan waktu. Pergantian tersebut juga memberikan energi ketika para pemain mulai mengalami kelelahan.
Yakin menyebut dirinya sengaja menyiapkan beberapa pemain yang memiliki karakter berbeda agar mampu mengubah ritme permainan ketika diperlukan.
Menurutnya, momentum pertandingan berubah setelah para pemain pengganti mampu memberikan tekanan lebih besar terhadap lini belakang Kolombia. Keputusan tersebut akhirnya menjadi salah satu faktor penting sebelum pertandingan ditentukan lewat adu penalti.
Mental Baja di Adu Penalti
Setelah gagal mencetak gol selama dua jam pertandingan, Swiss harus menentukan nasib melalui adu penalti.
Yakin mengaku sudah mempersiapkan situasi tersebut sejak sesi latihan beberapa hari sebelum pertandingan. Para pemain diminta tetap tenang dan fokus meski tekanan sangat besar.
Swiss akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 4-3 setelah Ruben Vargas sukses mengeksekusi penalti penentu. Gregor Kobel juga tampil gemilang dengan melakukan penyelamatan penting yang menjaga harapan negaranya tetap hidup.
Pelatih berusia 51 tahun itu memuji mental seluruh pemainnya yang mampu menjaga konsentrasi hingga tendangan terakhir.
Pertahanan Solid Redam Ketajaman Kolombia
Sepanjang turnamen, Kolombia dikenal sebagai salah satu tim paling produktif dengan permainan menyerang yang cepat.
Namun, Swiss berhasil mematahkan kekuatan tersebut melalui koordinasi pertahanan yang disiplin.
Yakin menegaskan seluruh pemain menjalankan instruksi dengan sangat baik. Gelandang ikut membantu pertahanan, sementara lini belakang selalu menjaga jarak antarpemain sehingga Kolombia kesulitan menciptakan peluang bersih.
Strategi tersebut membuat Swiss mampu mencatat clean sheet hingga pertandingan selesai meski lawan beberapa kali mengancam melalui serangan cepat.
Fokus Hadapi Argentina di Perempat Final
Keberhasilan menyingkirkan Kolombia membawa Swiss menghadapi tantangan jauh lebih berat di babak perempat final, yakni melawan Argentina.
Yakin mengaku bangga dengan pencapaian anak asuhnya, tetapi meminta seluruh skuad segera mengalihkan fokus karena perjalanan masih panjang.
Ia menilai kemenangan atas Kolombia memberikan suntikan kepercayaan diri yang besar, namun menghadapi Argentina membutuhkan level permainan yang lebih tinggi lagi.
Swiss kini memiliki kesempatan menorehkan sejarah baru apabila mampu melanjutkan kejutan di babak delapan besar. Sementara itu, Argentina datang dengan modal kemenangan dramatis atas Mesir sehingga duel kedua tim diprediksi menjadi salah satu laga paling menarik pada fase perempat final Piala Dunia 2026.
BOLADONESIA – Gelandang timnas Portugal, Bruno Fernandes kecewa berat setelah timnya gugur di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Bruno merasa dengan skuad saat ini, Portugal bisa menjadi juara.
Portugal gugur setelah dikalahkan Spanyol 0-1 berkat gol telat Mikel Merino (7/7/26). Hanya sampai 16 besar merupakan sesuatu yang mengecewakan untuk Portugal mengingat susunan skuad yang mereka miliki, dan Bruno sendiri mengakui hal itu.
“Ini momen yang menyedihkan. Kami memiliki tujuan yang jelas untuk memenangkan Piala Dunia, tetapi kami tidak dalam performa terbaik,” kata Bruno seperti dilansir IDNEWS dari Metro.
“Di babak pertama, kami lebih unggul, tetapi di babak kedua kami kembali melakukan kesalahan dengan terlalu bertahan dan memberikan bola kepada lawan. Ketika itu terjadi, kami akhirnya menderita.
“Spanyol pantas mendapat pujian, tetapi saya percaya bahwa jika kami terus melakukan apa yang kami lakukan di babak pertama, kami akan meninggalkan tempat ini dengan hasil yang berbeda.
“Penilaiannya tidak bisa positif. Itu hanya akan positif jika kami mencapai akhir. Saya tahu kami belum pernah memenangkan Piala Dunia dan kami selalu menetapkan standar yang sangat tinggi, tetapi, dengan pasti, kelompok ini memiliki kualitas untuk memenangkan Piala Dunia.
“Tidak perlu kehilangan kepercayaan. Kami kalah melawan salah satu favorit dan kami harus melihat ke depan dengan cara yang berbeda. Kami harus lebih jujur pada diri sendiri, bermain dengan cara kami sendiri, dan menemukan cara untuk membuat tim lain lebih menghormati kami.”
Bruno Fernandes: Ini Kesempatan yang Terlewatkan
Ketika ditanya apakah ia benar-benar merasa skuad Portugal memiliki bakat untuk mengangkat trofi musim panas ini, Fernandes menjawab: “Sangat menyedihkan bagaimana kami tersingkir dari turnamen, kami memiliki kualitas untuk lebih dari itu.
“Kami goyah karena terlalu banyak memberi Spanyol kendali permainan, yang memang mereka inginkan. Kemudian kaki kami mulai terasa berat, ruang gerak mulai melebar.
“Seharusnya kami terus bermain agresif, mencoba mencegah Spanyol bermain terlalu banyak, seharusnya kami lebih banyak menguasai bola, kami memiliki kualitas untuk itu dan akhirnya kami sedikit kehilangan arah.
“Ini adalah kesempatan yang terlewatkan, kami memiliki kualitas untuk memenangkan Piala Dunia. Kami tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik dari setiap pemain dan kami tersingkir dari Piala Dunia terlalu cepat.”
Hasil Swiss vs Kolombia Hari Ini: Drama Adu Penalti Antar Nati Tantang Argentina
BolaIndonesia – Timnas Swiss memastikan diri menjadi tim terakhir yang melengkapi daftar peserta perempat final Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Kolombia melalui drama adu penalti. Duel babak 16 besar yang berlangsung di BC Place Stadium berakhir tanpa gol selama 120 menit sebelum Swiss menang 4-3 dalam adu penalti.
Kemenangan ini terasa sangat spesial bagi skuad berjulukan Nati. Selain mengakhiri perlawanan sengit Kolombia, Swiss juga mencatatkan pencapaian bersejarah dengan menembus perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak edisi 1954. Selanjutnya, mereka akan menghadapi juara bertahan Argentina dalam duel yang diprediksi menjadi salah satu laga terbesar di babak delapan besar.
Babak Pertama Berjalan Ketat
Sejak peluit awal dibunyikan, kedua tim langsung bermain disiplin. Kolombia tampil lebih agresif dengan mengandalkan kecepatan Luis Díaz serta kreativitas Juan Fernando Quintero dalam membangun serangan.
Swiss tidak tinggal diam. Pasukan Murat Yakin mencoba menguasai bola lebih lama dan mengandalkan kombinasi Ardon Jashari bersama Granit Xhaka untuk mengatur tempo permainan. Meski begitu, rapatnya lini pertahanan kedua kubu membuat peluang bersih sangat minim.
Peluang terbaik justru datang dari Kolombia. Gregor Kobel dipaksa melakukan penyelamatan penting untuk menjaga gawang Swiss tetap aman hingga turun minum. Skor 0-0 bertahan sampai jeda pertandingan.
Extra Time Penuh Ketegangan
Memasuki babak kedua, tempo pertandingan meningkat. Swiss mulai berani menekan pertahanan Kolombia melalui pergerakan Ruben Vargas dan Zeki Amdouni yang masuk sebagai pemain pengganti.
Di sisi lain, Kolombia hampir memecahkan kebuntuan ketika sundulan Jhon Lucumí mengenai mistar gawang. Beberapa menit sebelumnya, Gustavo Puerta juga sempat mengancam, namun Kobel kembali menunjukkan kualitasnya di bawah mistar.
Hingga 90 menit berakhir, papan skor masih menunjukkan angka kacamata sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu.
Pada extra time, kedua pelatih melakukan sejumlah pergantian pemain demi menjaga intensitas permainan. Swiss sempat memperoleh beberapa peluang melalui bola mati, sedangkan Kolombia lebih mengandalkan serangan balik cepat. Namun, tidak ada gol yang tercipta sehingga pemenang harus ditentukan lewat adu penalti.
Drama Adu Penalti Menentukan Nasib
Babak tos-tosan berlangsung penuh tekanan. Kedua tim sama-sama tampil percaya diri pada eksekutor awal.
Swiss sempat dibuat cemas ketika Manuel Akanji gagal menjalankan tugasnya. Namun situasi berubah setelah Davinson Sánchez melepaskan tendangan yang membentur mistar gawang.
Momen penentu datang ketika Gregor Kobel berhasil menggagalkan eksekusi Cucho Hernández. Kesempatan emas itu kemudian dimanfaatkan Ruben Vargas yang dengan tenang menaklukkan Camilo Vargas untuk memastikan kemenangan Swiss 4-3.
Para pemain Swiss langsung berhamburan ke lapangan merayakan keberhasilan yang mengantar mereka ke delapan besar Piala Dunia. Sementara itu, para pemain Kolombia tampak terpukul setelah perjuangan panjang mereka harus berakhir melalui adu penalti.
Murat Yakin Puji Mental Pemain Swiss
Pelatih Swiss, Murat Yakin, memberikan apresiasi tinggi terhadap mental anak asuhnya. Menurutnya, pertandingan seperti ini ditentukan oleh kesabaran, disiplin, dan keberanian mengambil keputusan di momen-momen krusial.
Yakin juga menilai pergantian pemain yang dilakukan pada penghujung laga memberi energi baru bagi tim. Ruben Vargas yang masuk dari bangku cadangan akhirnya menjadi pahlawan lewat gol penentu kemenangan dalam adu penalti.
Swiss Tantang Argentina di Perempat Final
Dengan hasil ini, Swiss resmi menjadi tim terakhir yang mengamankan tiket ke perempat final Piala Dunia 2026. Tantangan berikutnya tentu jauh lebih berat karena mereka akan menghadapi Argentina yang sebelumnya sukses melewati hadangan Mesir dalam pertandingan dramatis.
Laga tersebut dipastikan menjadi ujian sesungguhnya bagi Swiss. Di satu sisi, mereka memiliki kepercayaan diri tinggi usai menyingkirkan Kolombia. Di sisi lain, Argentina datang dengan pengalaman, kualitas individu, dan mental juara yang membuat duel ini layak dinantikan oleh pecinta sepak bola dunia.
Persebaya Surabaya kian agresif dalam menyusun komposisi tim jelang bergulirnya Super League 2026/27. Terkini, mereka secara resmi meresmikan perekrutan gelandang asal Portugal, Diogo Ramalho, untuk memperkuat sektor sentral pada, Selasa (7/7/2026) malam.
Ramalho tampak begitu bergairah menyambut babak baru dalam petualangannya bersama Persebaya. Baginya, mengenakan panji kebesaran Green Force adalah milestone krusial dalam karier profesionalnya.
“Saya sangat senang bisa bergabung dengan Persebaya. Ini adalah kesempatan besar untuk membela salah satu klub terbesar di Indonesia dengan dukungan suporter yang luar biasa. Saya sangat antusias menyambut musim baru,” kata Ramalho.
Kedatangan sosok yang karib disapa Ramalho ini diproyeksikan untuk meningkatkan level kualitas serta kedalaman materi pemain Bajol Ijo.
Memiliki gaya main yang eksplosif, Ramalho dikenal sebagai gelandang box-to-box dengan mobilitas tinggi, tangguh saat transisi permainan, serta mampu memerankan berbagai posisi di area tengah.
Multiposisi
Tak sebatas gelandang sentral, pemain berusia 27 tahun ini bisa pula dimaksimalkan sebagai jangkar pertahanan maupun menyisir sisi sayap sesuai instruksi taktik tim.
Sebelum memutuskan hijrah ke Kota Pahlawan, Ramalho merupakan bagian dari skuad FCV Farul Constanța yang berkompetisi di kasta tertinggi Liga Rumania.
Catatan statistik sepanjang musim kemarin menunjukkan ia tampil sebanyak 29 kali dengan sumbangsih satu gol. Pengalaman merumput di panggung Eropa tentu menjadi bekal berharga yang akan ia tularkan di Stadion Gelora Bung Tomo.
Lebih lanjut, Ramalho membeberkan bahwa ketertarikannya menerima pinangan Persebaya didasari oleh testimoni positif mengenai Indonesia dan klub kebanggaan warga Surabaya tersebut.
“Saya memiliki banyak teman yang pernah bermain atau tinggal di Indonesia. Mereka selalu berbicara hal-hal baik tentang negara ini, tentang masyarakatnya, dan terutama tentang Persebaya sebagai klub besar. Setelah berdiskusi dengan keluarga, saya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil langkah baru dalam karier saya,” ujarnya.
Kuasai 5 Bahasa
Pemain yang menguasai lima bahasa ini pun datang dengan tekad yang bulat. Ia menargetkan performa optimal guna mendongkrak posisi Persebaya agar konsisten bersaing di papan atas klasemen musim depan.
“Target utama saya adalah mewakili klub dan kota ini dengan sebaik mungkin. Saya ingin membantu tim meraih kemenangan sebanyak mungkin,” tegasnya.
“Secara pribadi tentu saya ingin mencetak gol dan membuat assist, tetapi yang paling penting adalah membawa tim meraih hasil terbaik,” imbuhnya.
Di luar daya tarik proyek ambisius yang dicanangkan manajemen Persebaya, Ramalho mengaku sangat terkesima dengan militansi pendukung setia mereka, Bonek. Melalui berbagai rekaman video yang ia amati, ia terpukau dengan besarnya fanatisme serta loyalitas suporter terhadap klub.
“Saya tahu Bonek dan Bonita adalah suporter yang luar biasa. Mereka selalu hadir memberikan dukungan untuk tim. Percayalah, kami akan memberikan segalanya di lapangan untuk membanggakan mereka,” jelasnya.
Ramalho bakal menjadi bagian dari skuad Persebaya dengan ikatan kontrak berdurasi multi-musim. Kehadirannya diharapkan menjadi suntikan tenaga baru yang memberikan keseimbangan serta kreativitas bagi lini tengah Green Force saat menantang kerasnya kompetisi Super League 2026/27.
Berbekal jam terbang mumpuni serta motivasi tinggi untuk menjawab tantangan baru, Diogo Ramalho diprediksi akan menjadi kepingan penting dalam upaya Persebaya mengukir prestasi gemilang di musim mendatang.