BOLADONESIA – Yotsakon Burapha optimistis menatap gelaran Piala ASEAN 2026 yang akan digelar mulai 25 Juli mendatang. Striker timnas Thailand itu merasa dalam kondisi prima untuk tampil apik dalam gelaran rutin dua tahunan tersebut.
“Kondisi fisikku sekarang sangat bagus, siap membantu timnas Thailand di Piala ASEAN. Aku sudah berlatih dengan tim di Chonburi selama hampir tiga pekan ini,” urai Yotsakon Burapha seperti dikutip Football5Star.net dari Siam Sport.
Penyerang Chonburi FC itu menambahkan, “Pada kesempatan akhir, aku menyesal berada di timnas dalam kondisi fisik tidak bagus. Namun, aku sekarang sangat siap, baik fisik maupun mental.”
Bukan tanpa alasan striker berumur 21 tahun itu sangat bersemangat untuk berlaga di Piala ASEAN nanti. Bukan apa-apa, dia baru 5 kali dipanggil ke skuad Changsuek dan hanya turun pada 2 laga awal, yakni dalan lawatan ke Eropa pada Oktober 2023.
Target Yotsakon Burapha
Jadi salah satu dari hanya empat striker yang dibawa pelatih Anthony Hudson ke skuad timnas Thailand untuk Piala ASEAN 2026, Yotsakon Burapha punya target jelas. Dia ingin mencetak gol sebanyak mungkin bagi Changsuek.
“Targetku adalah mencetak gol dan mebantu tim meraih kemenangan. Namun, itu hanya target kedua. Target utama adalah berkontribusi kepada tim, membuktikan diri sebaik mungkin karena aku melihat kembali ke timnas lagi ini sebagai tantangan,” ujar dia.
Sebelum bisa mencetak gol di gawang lawan, Yotsakon memang harus terlebih dahulu berebut tempat di tim utama dengan Teerasak Poeiphimai, Patrik Gustavsson, dan Jehhanafee Mamah. Soal pengalaman, dia jelas kalah dari Teerasak dan Gustavsson.
Dari keempat striker yang dibawa Hudson, Teerasak dan Gustavsson termasuk pemain yang tampil pada Piala ASEAN 2024. Kala itu, Gustavsson menjaringkan 4 gol dan membuat 2 assist, sementara Teerasak mencetak 3 assist.
Menakar Peluang Spanyol Juara Piala Dunia 2026: 5 Kelebihan dan 3 Kekurangan La Furia Roja
BolaIndonesia – Timnas Spanyol tinggal selangkah lagi menuju partai puncak Piala Dunia 2026. La Furia Roja sukses melaju ke babak semifinal setelah menyingkirkan Belgia dengan skor 2-1 di perempat final. Kini, tantangan besar menanti pasukan Luis de la Fuente, yakni menghadapi Prancis dalam duel yang disebut banyak pihak sebagai “final sebelum final”.
Perjalanan impresif Spanyol sepanjang turnamen membuat mereka kembali disebut sebagai kandidat kuat juara dunia. Namun, apakah mereka benar-benar memiliki peluang terbesar untuk mengangkat trofi? Berikut ulasannya.
Spanyol Tampil Paling Konsisten
Jika melihat performa sejak fase grup hingga perempat final, Spanyol menjadi salah satu tim paling stabil di Piala Dunia 2026.
Mereka mampu mengalahkan Austria dengan skor telak 3-0 di babak 16 besar sebelum menundukkan Belgia pada laga yang berlangsung ketat. Gaya bermain berbasis penguasaan bola khas Spanyol kini dipadukan dengan transisi menyerang yang jauh lebih cepat dibanding era sebelumnya.
Luis de la Fuente berhasil menciptakan keseimbangan antara pemain muda dan senior. Para pemain tidak hanya menguasai bola, tetapi juga mampu menciptakan peluang dengan tempo tinggi.
Statistik tersebut membuat Spanyol layak diperhitungkan sebagai calon juara, terlebih mereka hanya kebobolan satu gol hingga babak perempat final.
Kelebihan Spanyol
1. Lini Tengah Terbaik di Turnamen
Kekuatan utama Spanyol tetap berada di sektor tengah.
Pedri, Rodri, Gavi, hingga Dani Olmo mampu mengontrol ritme permainan hampir di setiap pertandingan. Mereka jarang kehilangan bola dan sangat efektif saat melakukan pressing.
Dominasi lini tengah menjadi senjata utama yang membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan.
2. Kedalaman Skuad Sangat Merata
Berbeda dengan beberapa negara lain yang bergantung pada satu atau dua bintang, Spanyol memiliki kedalaman skuad yang sangat baik.
Pemain pengganti mampu memberikan dampak instan ketika masuk ke lapangan.
Gol kemenangan atas Belgia misalnya lahir dari pemain yang masuk dari bangku cadangan, membuktikan kualitas rotasi yang dimiliki Luis de la Fuente.
3. Organisasi Bertahan Sulit Ditembus
Selain tajam menyerang, lini belakang Spanyol juga tampil disiplin.
Koordinasi empat bek bersama kiper membuat lawan jarang memperoleh peluang bersih.
Statistik kebobolan yang minim menjadi bukti bahwa keseimbangan permainan mereka berjalan sangat baik.
Kekurangan Spanyol
1. Masih Kurang Tajam Saat Finishing
Meski mampu menciptakan banyak peluang, Spanyol masih sering menyia-nyiakan kesempatan emas.
Efektivitas penyelesaian akhir belum sebaik Prancis maupun Argentina.
Jika menghadapi lawan dengan pertahanan solid, kegagalan memanfaatkan peluang bisa menjadi bumerang.
2. Ketergantungan pada Penguasaan Bola
Spanyol tetap mengandalkan filosofi menguasai pertandingan.
Namun ketika menghadapi tim yang bermain agresif dan mampu merebut bola lebih cepat, ritme permainan mereka dapat terganggu.
Prancis menjadi contoh lawan yang memiliki kemampuan menyerang balik sangat cepat.
3. Tekanan Mental di Laga Besar
Semifinal memiliki tekanan yang jauh berbeda dibanding pertandingan sebelumnya.
Spanyol memang tampil dominan sepanjang turnamen, tetapi mereka akan menghadapi Prancis yang dipenuhi pemain berpengalaman di laga-laga besar.
Mental bertanding akan menjadi faktor yang menentukan.
Ujian Berat Bernama Prancis
Laga semifinal melawan Prancis menjadi ujian sesungguhnya bagi La Furia Roja.
Prancis datang dengan materi pemain kelas dunia seperti Kylian Mbappe serta kedalaman skuad yang luar biasa. Bahkan sejumlah prediksi statistik dan bursa taruhan masih menempatkan Prancis sebagai favorit utama juara, meski peluang Spanyol juga sangat besar.
Jika mampu melewati Prancis, jalan menuju gelar diperkirakan akan semakin terbuka karena mereka hanya tinggal menghadapi pemenang Inggris kontra Argentina di partai final.
Peluang Juara Masih Sangat Terbuka
Melihat performa sepanjang turnamen, peluang Spanyol untuk menjadi juara Piala Dunia 2026 masih sangat realistis.
Keseimbangan antara lini belakang yang kokoh, lini tengah kreatif, dan permainan kolektif menjadi modal terbesar mereka. Namun, efektivitas penyelesaian akhir serta kemampuan menghadapi tekanan di semifinal akan menjadi penentu.
Bila mampu mempertahankan konsistensi dan mengatasi ujian berat melawan Prancis, La Furia Roja berpeluang mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka. Namun, satu kesalahan kecil saja bisa mengakhiri perjalanan impresif yang telah mereka bangun sejak awal turnamen.
Tuchel Kritik Kane, Bellingham Jadi Pembeda Inggris
BolaIndonesia – Timnas Inggris berhasil mengamankan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026 usai menumbangkan Norwegia dengan skor 2-1 pada babak perempat final. Kemenangan tersebut memastikan The Three Lions melanjutkan langkah menuju perebutan gelar dunia. Namun di balik hasil positif itu, pelatih Thomas Tuchel justru memberikan kritik tajam terhadap penampilan sang kapten, Harry Kane.
Berbeda dengan Jude Bellingham yang kembali tampil penuh energi dan menjadi motor permainan Inggris, Kane dinilai gagal memberikan pengaruh besar sepanjang pertandingan. Tuchel secara terbuka menyebut striker Bayern Munchen itu belum menunjukkan kualitas terbaiknya pada laga penting tersebut.
Kritik tersebut langsung menjadi sorotan publik sepak bola Inggris karena Kane selama ini dikenal sebagai sosok pemimpin sekaligus mesin gol utama tim nasional.
Bellingham Jadi Pembeda di Tengah Lapangan
Jude Bellingham kembali membuktikan mengapa dirinya menjadi salah satu gelandang terbaik dunia saat ini. Pemain muda tersebut tampil agresif sejak menit pertama dengan mengatur tempo permainan, memenangkan duel-duel penting, serta menjadi penghubung antara lini tengah dan lini depan.
Mobilitas tinggi Bellingham membuat lini tengah Norwegia kesulitan mengembangkan permainan. Ia beberapa kali berhasil merebut bola di area berbahaya sebelum membangun serangan balik cepat yang menghasilkan peluang emas bagi Inggris.
Performa konsisten pemain Real Madrid itu mendapat pujian langsung dari Tuchel.
Menurut sang pelatih, Bellingham menunjukkan karakter pemimpin meski usianya masih relatif muda. Ia terus meminta bola, bekerja keras tanpa henti, dan tetap tampil tenang ketika pertandingan berjalan ketat.
Kontribusi inilah yang membuat Bellingham disebut sebagai pemain paling berpengaruh dalam kemenangan Inggris.
Harry Kane Dinilai Belum Maksimal
Berbeda dengan Bellingham, Harry Kane justru kesulitan memberikan ancaman berarti kepada pertahanan Norwegia.
Striker berusia 33 tahun tersebut beberapa kali kehilangan bola saat mencoba membangun serangan. Ia juga jarang terlihat memenangkan duel melawan bek tengah Norwegia sehingga Inggris lebih banyak menyerang melalui sisi sayap.
Thomas Tuchel mengaku mengharapkan lebih banyak kontribusi dari pemain yang berstatus kapten tim tersebut.
Menurutnya, seorang penyerang utama tidak hanya diukur dari peluang mencetak gol, tetapi juga dari kemampuan membuka ruang, menekan lawan, serta membantu rekan-rekannya menciptakan peluang.
“Kami membutuhkan lebih banyak intensitas dan keterlibatan dari Harry. Ia memiliki kualitas luar biasa, tetapi hari ini belum berada pada level terbaiknya,” ujar Tuchel seusai pertandingan. Meski demikian, pelatih asal Jerman itu tetap menegaskan kepercayaannya kepada Kane menjelang semifinal.
Norwegia Berikan Perlawanan Sengit
Norwegia tampil jauh lebih baik dibandingkan prediksi banyak pengamat.
Dipimpin sejumlah pemain muda berbakat, mereka mampu memberikan tekanan kepada Inggris sejak awal pertandingan. Organisasi pertahanan yang disiplin membuat Kane dan para penyerang Inggris kesulitan menemukan ruang.
Bahkan beberapa kali Norwegia mampu menciptakan peluang berbahaya melalui serangan balik cepat yang memaksa lini belakang Inggris bekerja keras.
Namun pengalaman para pemain Inggris akhirnya menjadi pembeda.
Gol kemenangan memastikan Inggris mengakhiri perlawanan Norwegia sekaligus menjaga mimpi meraih gelar Piala Dunia pertama sejak 1966.
Meski lolos ke semifinal, Thomas Tuchel mengingatkan bahwa performa timnya masih harus ditingkatkan.
Ia menilai Inggris belum tampil seimbang selama 90 menit penuh. Beberapa kesalahan dalam transisi bertahan masih sering muncul dan berpotensi dimanfaatkan lawan pada fase berikutnya.
Menurut Tuchel, pertandingan semifinal akan menuntut konsentrasi yang jauh lebih tinggi sehingga setiap pemain harus berada dalam kondisi terbaik.
Kritik kepada Kane juga dianggap sebagai bentuk dorongan agar sang kapten kembali menunjukkan kualitas terbaiknya ketika menghadapi lawan berikutnya.
Kane Tetap Jadi Andalan Inggris
Terlepas dari kritik tersebut, Harry Kane masih menjadi sosok penting dalam skuad Inggris. Pengalamannya di turnamen besar serta naluri mencetak gol membuat Tuchel diyakini tetap akan menempatkannya sebagai ujung tombak utama pada semifinal nanti.
Di sisi lain, Jude Bellingham diprediksi kembali menjadi pemain kunci yang mengatur ritme permainan Inggris. Kolaborasi keduanya akan sangat menentukan peluang The Three Lions melangkah ke final Piala Dunia 2026.
Jika Kane mampu menjawab kritik dengan penampilan yang lebih tajam dan Bellingham mempertahankan performa impresifnya, Inggris memiliki peluang besar untuk terus melaju dan mendekati impian mengangkat trofi Piala Dunia setelah penantian panjang selama enam dekade.
KLIKBETS – Lionel Messi terlibat adu argumen dengan wasit Joao Pinheiro saat Timnas Argentina menaklukkan Swiss 3-1 setelah perpanjangan waktu pada laga perempat final Piala Dunia 2026 di Stadion Kansas City, Minggu (12-7-2026).
Penyerang berusia 39 tahun itu terlihat meluapkan emosinya kepada wasit asal Portugal tersebut, tepatnya pada menit ke-42.
Momen ketegangan itu terekam kamera, meski secara keseluruhan Messi menjalani laga yang relatif lebih tenang dalam urusan mencetak gol.
Penyebab pasti perselisihan tersebut belum diketahui. Namun, media Argentina, Ole, seperti dilansir Give Me Sport mengungkap isi ucapan Messi kepada Pinheiro.
“Berbicaralah dengan baik, jangan tidak menghormati saya. Berbicaralah kepada saya dengan baik, saya berbicara kepada Anda dengan baik.”
Dugaan Penyebab
Insiden itu diduga bermula ketika Pinheiro meminta Messi mengubah posisinya di pagar hidup menjelang tendangan bebas Swiss.
Messi tampaknya mempermasalahkan cara sang wasit menyampaikan instruksi tersebut, bukan isi ucapannya.
Setelah kejadian itu, Messi tidak berlarut-larut memikirkannya dan kembali memusatkan perhatian untuk membantu serangan Argentina hingga pertandingan berakhir.
Kendati sempat bersitegang dengan wasit, Messi tetap menjadi satu di antara motor kreativitas Argentina sepanjang 120 menit pertandingan.
Berdasarkan penilaian Opta, ia memperoleh rating 7,79, menyumbang satu assist, tetapi gagal mencetak gol. Itu menjadi laga pertama Messi di Piala Dunia 2026 tanpa mencatatkan namanya di papan skor.
Akurasi umpannya juga tetap terjaga dengan mencatatkan tingkat keberhasilan 86 persen dari 65 operan yang dilepaskan.
Selain itu, Messi turut membantu fase bertahan dengan merebut kembali penguasaan bola di area depan serta terus merepotkan lini belakang Swiss melalui pergerakannya.
Penampilan Messi memang tidak termasuk yang paling menonjol menurut standarnya sendiri. Namun, kontribusinya tetap menjadi bagian penting dari keberhasilan Argentina meraih kemenangan yang memastikan langkah ke semifinal menghadapi Inggris.
Erling Haaland menilai Inggris beruntung memiliki pemain seperti Jude Bellingham. Penyerang Norwegia itu juga mengatakan mantan rekan setimnya di Borussia Dortmund tersebut menerima terlalu banyak kritik yang tidak perlu.
Bellingham kembali menjadi penentu kemenangan Inggris saat mengalahkan Norwegia 2-1 pada perempat final Piala Dunia di Miami, Minggu (12-7-2026) dini hari WIB. Gelandang Real Madrid itu mencetak dua gol yang membawa The Three Lions bangkit setelah sempat tertinggal.
Dua gol tersebut membuat koleksi gol Bellingham di Piala Dunia 2026 menjadi enam, seluruhnya tercipta dari situasi nonpenalti.
Catatan itu menyamai rekor Gary Lineker sebagai pemain Inggris dengan gol nonpenalti terbanyak dalam satu edisi turnamen besar, yakni enam gol pada Piala Dunia 1986.
Bellingham kini juga telah mengoleksi tujuh gol di Piala Dunia. Di antara pemain yang berusia 23 tahun atau lebih muda, hanya Kylian Mbappe yang memiliki torehan lebih banyak, yakni 12 gol.
Sanjungan Haaland
Sebelum turnamen dimulai, sikap Bellingham sempat menjadi sorotan. Bahkan, muncul pendapat yang menyebut Morgan Rogers layak menjadi starter di belakang Harry Kane menggantikan perannya. Hal itu membuat Haaland merasa heran.
“Saya tidak terkejut dia mencetak dua gol hari ini dan tampil seperti itu,” kata Haaland.
“Satu-satunya hal adalah, saya merasa terkadang dia menerima terlalu banyak kritik karena tidak cukup sering mencetak gol atau apa pun alasannya.”
“Menurut saya, dia tidak pantas mendapatkannya karena dia adalah satu di antara pemain terbaik di dunia. Dia seorang gelandang, tetapi tetap mencetak gol dan mampu melewati pemain-pemain lawan,” sanjung Haaland.
“Saya hanya ingin memuji Jude. Menurut saya dia luar biasa. Inggris beruntung memilikinya, Madrid juga beruntung karena semua tim pasti ingin memiliki pemain seperti Jude,” tegas bintang Manchester City itu.
Dukung Inggris
Pada laga melawan Inggris, Haaland tidak banyak terlibat dalam permainan. Ia melepaskan dua tembakan yang semuanya berasal dari sundulan.
Pelanggarannya terhadap Elliot Anderson saat situasi sepak pojok juga membuat gol kedua Norwegia dianulir setelah tinjauan VAR.
Sebelum pertandingan tersebut, Haaland sedang mencatatkan 14 penampilan beruntun bersama timnas dengan selalu mencetak gol. Dalam periode itu, penyerang berusia 25 tahun tersebut membukukan 27 gol.
Kendati mengaku kecewa dengan beberapa keputusan yang menurutnya merugikan Norwegia, Haaland berharap Inggris mampu melangkah jauh. Tim asuhan Thomas Tuchel itu akan menghadapi Argentina pada partai semifinal.
“Tentu saja saya ingin Inggris tampil baik. Saya rasa saya mendapat jersey Inggris lebih dulu daripada jersey Norwegia ketika masih kecil,” ujar Haaland yang lahir di Leeds.
“Saya ingin Inggris tampil baik karena itu negara yang menyenangkan dan memiliki jersey yang bagus,” ucapnya.
BOLADONESIA – Bintang timnas Argentina, Lionel Messi sudah tidak sabar untuk melawan Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026. Karena ini adalah pertama kalinya Messi akan melawan mereka.
Argentina lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Swiss 3-1 (12/7/26). Sementara Inggris lolos setelah mengalahkan Norwegia 2-1.
Walaupun keduanya punya sejarah panjang di Piala Dunia, seperti pada 1986 di mana Diego Maradona mencetak gol “Hand of God” dan “Goal of the Century”, ini akan jadi pertama kalinya Messi melawan Inggris.
“Semua yang saya lihat dan ingat (tentang Argentina vs. Inggris dari tahun 1986) berasal dari video dan gambar yang terus-menerus ditonton dan dikenang oleh orang Argentina,” kata Messi seperti dilansir IDNEWS dari ESPN.
“Tapi saya pikir kelompok ini terbiasa memainkan pertandingan sepak bola tanpa memandang lawannya.
“Jelas, bermain melawan Inggris itu spesial karena mereka adalah tim raksasa, dan pertandingan melawan tim raksasa selalu spesial. Secara pribadi, ini pertama kalinya saya akan bermain melawan mereka. Saya telah bermain melawan semua tim kecuali Inggris, jadi akan menyenangkan karena alasan itu juga.
“Dan kami akan mengalaminya apa adanya: semifinal Piala Dunia melawan tim raksasa, tim hebat, dan kami akan mencoba untuk berada dalam kondisi terbaik untuk kembali bersaing.”
Julian Alvarez Sama Semangatnya dengan Lionel Messi
Julian Alvarez, yang mencetak gol cantik di injury time, yang membawa Argentina lolos juga sama semangatnya dengan Messi.
“Kami sangat bangga berada di antara empat tim terbaik di dunia,” kata Alvarez.
“Inggris, kita tahu, memiliki pemain-pemain yang mengesankan. Mereka adalah tim hebat yang telah melakukan banyak hal dengan baik (di Piala Dunia ini) tetapi kami perlu memulihkan diri dan mempersiapkan permainan kami.”
IDnew.top – Erling Haaland gagal membawa Norwegia melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah kalah 1-2 dari Inggris pada laga perempat final. Kekalahan itu memicu perdebatan lantaran kubu Norwegia menilai kepemimpinan wasit tidak berjalan adil.
Pertandingan di Miami berlangsung sengit sejak menit awal dengan kedua tim saling menciptakan peluang. Inggris akhirnya mengamankan kemenangan berkat dua gol Jude Bellingham yang mengakhiri langkah Norwegia.
Perdebatan muncul setelah gol penyeimbang Inggris pada akhir babak pertama. Bola hasil sapuan panjang kiper Orjan Nyland dianggap berubah arah sebelum jatuh ke kaki Elliot Anderson yang memulai proses gol.
FIFA kemudian memberikan penjelasan bahwa sensor di dalam bola tidak mendeteksi adanya sentuhan kabel pada insiden tersebut. Meski demikian, kubu Norwegia tetap mempertanyakan sejumlah keputusan wasit sepanjang pertandingan.
Ayah Erling Haaland Kritik Kepemimpinan Wasit
Alfie Haaland melontarkan komentar melalui media sosial X setelah laga berakhir. Ia memberikan ucapan selamat kepada Jude Bellingham, tetapi menyisipkan kritik terhadap wasit.
“Selamat untuk Bellingham dan wasit,” tulis Alfie Haaland. Komentar itu langsung memancing perbincangan di kalangan penggemar sepak bola.
Dalam unggahan lain, Alfie kembali melontarkan sindiran. “Benarkah? Diselamatkan oleh wasit. Semoga kalian menjuarai Piala Dunia. Namun, saya merasa kami dirampok hari ini.”
Gol Norwegia Dianulir usai Tinjauan VAR
Kontroversi tidak berhenti pada proses gol pertama Inggris. Norwegia sempat mencetak gol lewat Torbjorn Heggem pada babak kedua setelah memanfaatkan sepak pojok Martin Odegaard.
Namun, wasit membatalkan gol tersebut setelah menerima rekomendasi VAR untuk meninjau pelanggaran lebih dulu. Tayangan ulang memperlihatkan Erling Haaland mendorong Elliot Anderson sebelum bola dilepaskan dari sepak pojok.
Keputusan itu membuat keunggulan yang sempat diraih Norwegia tidak pernah tercatat di papan skor. Inggris kemudian mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang berbunyi.
Tanggapan Erling Haaland atas Keputusan VAR
Erling Haaland juga mengungkapkan pandangannya terkait insiden yang membuat gol Norwegia dianulir. Penyerang Manchester City itu merasa kontak yang terjadi masih dalam batas wajar duel di kotak penalti.
“Saya merasa terus ditarik sepanjang momen itu, dan menurut saya, itu keputusan yang terlalu mudah. Jika itu dianggap pelanggaran, maka saya seharusnya mendapatkan tendangan bebas di hampir setiap duel dalam setiap pertandingan,” kata Haaland.
Kekalahan tersebut mengakhiri impian Norwegia meraih gelar Piala Dunia pertama dalam sejarah. Di sisi lain, Inggris melangkah ke semifinal untuk keempat kalinya dengan modal kemenangan yang masih menjadi bahan perdebatan.
LARISBOLA – Prancis hanya selangkah lagi menuju final Piala Dunia 2026 dan akan menghadapi Spanyol pada semifinal yang berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7/2026) pukul 02.00 WIB. Didier Deschamps diperkirakan tetap mempertahankan sebagian besar pemain inti yang telah membawa Les Bleus melaju hingga empat besar.
Laga ini memiliki arti penting bagi tim berjuluk Les Bleus karena mereka berpeluang menjadi negara ketiga yang mampu mencapai tiga final Piala Dunia secara beruntun. Stabilitas susunan pemain menjadi salah satu kekuatan yang terus dijaga Deschamps sepanjang turnamen.
Meski terdapat beberapa pemain yang masih dipantau kondisi kebugarannya, perubahan besar diperkirakan tidak akan terjadi. Hanya beberapa posisi yang masih membuka peluang persaingan hingga menjelang kick-off.
Lini Tengah Prancis Masih Menjadi Tanda Tanya
Mike Maignan hampir dipastikan kembali mengawal gawang Prancis dalam penampilan internasionalnya yang ke-47. Empat bek yang mengisi lini pertahanan juga diprediksi tetap sama, yakni Jules Kounde, Dayot Upamecano, William Saliba, dan Lucas Digne.
Persaingan paling menarik berada di sektor gelandang. Aurelien Tchouameni masih berusaha pulih dari cedera paha yang membuatnya absen dalam dua pertandingan terakhir.
Jika belum sepenuhnya fit, Manu Kone berpeluang kembali menjadi starter. Penampilannya dinilai meyakinkan saat menggantikan peran Tchouameni di fase gugur.
Patrick Vieira bahkan memberikan pujian tinggi kepada Kone. “Dia adalah gelandang terbaik Les Bleus,” ujar juara Piala Dunia 1998 tersebut.
Manu Kone diperkirakan akan berduet dengan Adrien Rabiot apabila sang gelandang mampu mengatasi masalah lutut yang sempat membuatnya ditarik keluar saat Prancis mengalahkan Maroko di perempat final. Kondisi Rabiot terus dipantau, tetapi peluang tampil sejak menit awal masih cukup besar.
Mbappe Siap Pimpin Lini Serang Prancis
Kylian Mbappe tetap menjadi tumpuan utama Prancis meski sempat gagal mengeksekusi penalti pada laga sebelumnya. Kapten Les Bleus tetap mencatatkan gol kedelapan di turnamen dan kini bersaing dalam perebutan Sepatu Emas.
Mbappe juga sempat mengalami cedera engkel ringan dan ditarik keluar pada babak kedua. Namun, kondisinya diperkirakan sudah cukup baik untuk tampil sejak awal menghadapi Spanyol.
Di belakang Mbappe, Ousmane Dembele dan Michael Olise hampir pasti mengisi posisi sayap. Satu tempat lain di lini depan diprediksi menjadi milik Desire Doue yang bersaing dengan Bradley Barcola.
Marcus Thuram telah kembali berlatih penuh setelah pulih dari cedera betis. Meski demikian, penyerang Inter Milan itu kemungkinan memulai pertandingan dari bangku cadangan bersama Jean-Philippe Mateta, sementara Rayan Cherki tetap menjadi opsi penting untuk mengubah jalannya pertandingan.
FIFA akan mengkaji kemungkinan menambah jumlah peserta Piala Dunia menjadi 64 tim mulai edisi 2030.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengatakan pembahasan mengenai usulan tersebut akan dilakukan setelah Piala Dunia 2026 berakhir.
Piala Dunia 2026 ssudah mengalami perluasan dari 32 menjadi 48 peserta. Turnamen itu digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Sementara itu, Piala Dunia 2030 akan berlangsung di enam negara yang tersebar di tiga benua.
Uruguay, tuan rumah edisi perdana pada 1930, bersama Argentina yang menjadi juara dunia 2022 dan Paraguay dijadwalkan masing-masing menggelar satu pertandingan pembuka. Adapun sisa pertandingan akan dibagi antara Maroko, Portugal, dan Spanyol.
Pada September 2025, FIFA telah membahas kemungkinan memperluas jumlah peserta Piala Dunia 2030 setelah menerima proposal resmi dari delegasi sejumlah tokoh berpengaruh Amerika Selatan.
Penyataan Infantino
Dilansir dari The Athletic, Infantino memastikan usulan tersebut akan dibahas di komite terkait setelah Piala Dunia 2026 berakhir.
“Ini jelas merupakan isu yang akan dikaji dan didiskusikan di komite-komite terkait setelah Piala Dunia ini,” kata Infantino kepada media Swiss, Bluewin.
Ia kembali menegaskan bahwa Piala Dunia diperuntukkan bagi seluruh dunia, bukan hanya Eropa dan Amerika Selatan.
“Setiap negara harus memiliki mimpi untuk tampil di Piala Dunia. Anda bisa melihat kualitas tim-tim saat ini sangat tinggi dan terus meningkat di seluruh dunia.”
“Jika negara-negara yang lebih kecil tidak diberi kesempatan tampil di Piala Dunia, mereka akan kehilangan dorongan untuk terus berkembang,” ucapnya.
Tuai Kritik
Infantino juga menilai format 48 tim yang diterapkan pada Piala Dunia edisi kali ini merupakan “keberhasilan 100 persen”. Namun, format tersebut tetap menuai kritik.
Setelah fase grup berakhir, pelatih Ghana, Carlos Queiroz, menyebut perluasan peserta telah mengurangi nilai proses kualifikasi dan membuat turnamen menjadi sesuatu yang vulgar dan biasa.
Sebelumnya, Infantino dan FIFA sempat menugaskan studi kelayakan mengenai wacana menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali, bukan empat tahun sekali, sebelum akhirnya rencana tersebut dibatalkan.
Infantino juga mengungkapkan dirinya hampir setiap hari berkomunikasi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, Trump sangat menikmati jalannya turnamen dan menyaksikan hampir setiap pertandingan melalui televisi, meski belum hadir langsung di stadion.
Pria berusia 56 tahun itu kembali menegaskan pernyataannya pada Juni lalu bahwa Trump akan menghadiri partai final Piala Dunia 2026 dan menyerahkan trofi kepada tim juara.
Dukungan
Gagasan Piala Dunia 64 tim pertama kali diajukan pejabat sepak bola Uruguay, Ignacio Alonso, dalam rapat Dewan FIFA pada Maret 2025.
FIFA sebelumnya menyatakan kepada The New York Times bahwa usulan Alonso muncul secara spontan dalam agenda lain-lain menjelang akhir rapat.
Kemudian, pada November 2025, Presiden CONMEBOL yang juga Wakil Presiden FIFA, Alejandro Dominguez, menyebut Piala Dunia 2030 dengan 64 peserta sebagai mimpi yang menurutnya dapat mempersatukan dunia, sekali saja.
Dengan menjadi tuan rumah sebagian pertandingan Piala Dunia 2030, Amerika Selatan tidak dapat kembali menjadi penyelenggara hingga setidaknya 2042 karena aturan FIFA mengatur satu konfederasi hanya bisa menjadi tuan rumah sekali dalam tiga edisi Piala Dunia.
Hal ini berarti Amerika Selatan hanya menjadi tuan rumah utama satu kali dalam rentang 64 tahun, yakni saat Brasil menggelar Piala Dunia 2014.
Jika jumlah peserta bertambah menjadi 64 tim, Uruguay, Argentina, dan Paraguay berpeluang menjadi tuan rumah satu grup penuh, bukan hanya masing-masing satu pertandingan.
Penolakan
Format 64 tim akan membuat lebih dari seperempat dari 210 tim nasional putra anggota FIFA tampil di putaran final. Kondisi itu dinilai berisiko mengurangi arti penting proses kualifikasi di berbagai kawasan.
Di zona CONMEBOL, enam dari 10 negara sudah lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia dengan format 48 tim, ditambah satu tiket play-off.
April lalu, Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menolak usulan tersebut dan menyebutnya sebagai ide yang buruk karena dinilai dapat merusak kualitas turnamen maupun kompetisi kualifikasi di Eropa.
Pandangan serupa juga disampaikan Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, yang menyebut rencana itu bukan ide yang bagus.
Jagokan Inggris Juara Piala Dunia 2026? Ini Kekuatan, Kelemahan, dan Peluang The Three Lions
BolaIndonesia – Timnas Inggris kembali menjadi salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026. Setelah berhasil melaju hingga babak semifinal, The Three Lions menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tim bertabur bintang, tetapi juga memiliki mentalitas juara yang semakin matang di bawah arahan Thomas Tuchel.
Inggris sukses melewati hadangan lawan-lawan tangguh sepanjang fase gugur, termasuk kemenangan dramatis atas Norwegia di perempat final yang memastikan tiket menuju empat besar. Kini, tantangan berikutnya adalah menghadapi Argentina dalam laga semifinal yang diprediksi berlangsung sengit.
Meski begitu, banyak pengamat mulai bertanya-tanya, apakah Inggris benar-benar layak dijagokan menjadi juara dunia? Berikut analisis mengenai kekuatan, kelemahan, dan peluang mereka meraih trofi Piala Dunia 2026.
Kedalaman Skuad Jadi Senjata Utama Inggris
Salah satu alasan terbesar Inggris pantas dijagokan adalah kualitas skuad yang sangat merata. Hampir di setiap posisi, mereka memiliki pemain kelas dunia yang mampu mengubah jalannya pertandingan.
Di lini depan, Harry Kane masih menjadi mesin gol utama. Sang kapten tampil tajam sepanjang turnamen dengan dukungan Jude Bellingham yang sedang menikmati performa terbaiknya. Kombinasi keduanya menjadi ancaman serius bagi pertahanan lawan.
Sementara itu, sektor tengah dihuni pemain-pemain kreatif sekaligus pekerja keras seperti Declan Rice, Elliot Anderson, hingga Phil Foden yang mampu memberikan variasi serangan.
Di lini belakang, Marc Guehi menunjukkan perkembangan pesat. Bersama Jordan Pickford yang tampil konsisten di bawah mistar, Inggris memiliki fondasi pertahanan yang cukup solid.
Kedalaman skuad ini membuat Thomas Tuchel memiliki banyak opsi ketika pertandingan berjalan tidak sesuai rencana. Pergantian pemain sering kali mampu mengubah ritme permainan dan memberikan energi baru.
Mental Bertanding yang Terus Meningkat
Selama bertahun-tahun Inggris sering mendapat kritik karena gagal tampil maksimal di pertandingan besar.
Namun kondisi itu mulai berubah.
Di Piala Dunia 2026, mereka beberapa kali berhasil bangkit dari situasi sulit. Saat menghadapi Norwegia misalnya, Inggris tetap tenang meski pertandingan berlangsung ketat sebelum akhirnya memastikan kemenangan pada babak tambahan waktu.
Thomas Tuchel juga berhasil membangun karakter tim yang tidak mudah panik ketika tertinggal maupun mendapat tekanan tinggi.
Mental inilah yang menjadi pembeda dibanding generasi-generasi sebelumnya. Reuters bahkan menyoroti ketangguhan mental Inggris sebagai salah satu faktor utama keberhasilan mereka mencapai semifinal.
Thomas Tuchel Membawa Identitas Baru
Pergantian pelatih menjadi salah satu titik balik Inggris.
Thomas Tuchel menghadirkan pendekatan taktik yang lebih fleksibel dibanding sebelumnya. Ia mampu mengubah formasi sesuai kebutuhan pertandingan tanpa menghilangkan keseimbangan tim.
Keberanian melakukan pergantian pemain di waktu yang tepat juga menjadi nilai tambah.
Dalam beberapa laga knockout, keputusan Tuchel terbukti memberikan dampak besar terhadap hasil akhir pertandingan. Ia tidak ragu mengubah pola permainan ketika strategi awal tidak berjalan sesuai harapan.
Kelemahan Inggris Masih Terlihat
Meski tampil impresif, Inggris bukan tanpa kelemahan.
Pertama adalah konsistensi permainan selama 90 menit. Pada beberapa pertandingan, mereka sempat kehilangan kontrol sehingga memberi kesempatan lawan menciptakan peluang berbahaya.
Kedua adalah ketergantungan terhadap Jude Bellingham dan Harry Kane.
Kedua pemain tersebut terlibat langsung dalam sebagian besar gol Inggris sepanjang turnamen. Jika salah satu dari mereka mampu dimatikan lawan, kreativitas serangan Inggris berpotensi menurun drastis.
Selain itu, keseimbangan lini belakang juga masih menjadi perhatian. Saat menghadapi tim dengan transisi cepat, Inggris beberapa kali terlihat kesulitan mengantisipasi serangan balik.
Faktor pengalaman Thomas Tuchel di turnamen internasional bersama tim nasional juga masih menjadi tanda tanya, mengingat ini merupakan kompetisi besar pertamanya sebagai pelatih Inggris.
Peluang Juara Sangat Terbuka
Melihat performa sejauh ini, peluang Inggris mengangkat trofi Piala Dunia 2026 jelas sangat terbuka.
Mereka memiliki perpaduan pemain muda berbakat dan sosok senior berpengalaman. Jika mampu melewati rintangan Argentina di semifinal, kepercayaan diri Inggris dipastikan akan meningkat drastis menuju partai final.
Meski Prancis dan Spanyol masih dianggap sebagai favorit utama oleh sebagian analis, Inggris tetap berada dalam kelompok kandidat terkuat berkat konsistensi penampilan mereka sepanjang turnamen.
Kini semuanya bergantung pada kemampuan The Three Lions mempertahankan performa terbaik dalam dua pertandingan terakhir. Bila Harry Kane tetap tajam, Jude Bellingham terus tampil dominan, dan Thomas Tuchel mampu meracik strategi yang tepat, bukan tidak mungkin Inggris akhirnya mengakhiri penantian panjang sejak 1966 dan kembali menjadi juara dunia.