
BOLADONESIA – Direktur olahraga RB Leipzig, Marcel Schaefer, sebenarnya tidak berniat menjual Yan Diomande pada musim panas lalu. Diomande terpaksa dijual karena tawaran Real Madrid begitu menggiurkan dan Die Roten Bullen membutuhkan suntikan dana segar.
Diomande menjadi penjualan termahal sepanjang sejarah Leipzig setelah ditebus Real Madrid dengan mahar 140 juta euro. Diomande diangkut dengan harga fantastis setelah mencatat 13 gol serta 10 assist dalam 36 penampilan pada musim 2025-26.

“Niat kami bukan menjual Yan Diomande. Mengapa kami harus melakukannya? Kami adalah sebuah klub dan membutuhkan pendapatan dari transfer. Kami membutuhkan dana dan tawaran Real Madrid sangat signifikan,” ujar Schaefer kepada Bulinews.
“Ini adalah sesuatu yang wajib kami lakukan secara ekonomi. Kami harus menjual pemain setiap musim panas,” kata Schaefer menambahkan.
RB Leipzig Dapat Keuntungan Besar
Leipzig mendapat keuntungan besar dari penjualan Diomande. Winger berpaspor Pantai Gading itu didatangkan Die Roten Bullen dari Leganes pada musim panas 2025 dengan harga 20 juta euro.
Schaefer mengaku sempat mendapat kritikan pedas karena mendatangkan Diomande dengan harga cukup tinggi. Namun, kini ia bisa tersenyum puas karena investasinya berbuah manis.

“Ini contoh bagus bahwa kami tidak berinvestasi pada apa yang sudah ditunjukkan seorang pemain, tetapi pada potensinya. Kami adalah satu-satunya klub yang mengajukan angka setinggi itu. Jumlahnya jauh di atas nilai pasarnya, tetapi potensinya sangat luar biasa bagi kami,” tuntas Schaefer.
Diomande kini telah mencatat tujuh penampilan bersama Real Madrid. Namun, ia masih juga belum berhasil membuka rekening golnya di ibu kota Spanyol.
