24 Oktober 2026

Dua wakil Jawa Tengah yang akan bersaing di Championship 2026/2027, PSIS Semarang dan Persis Solo, mulai menunjukkan keseriusan dalam membangun kekuatan lewat aktivitas pada bursa transfer.

PSIS bergerak cepat memperkenalkan sederet amunisi anyar. Sementara itu, Persis juga memamerkan hasil perburuan dengan mengumumkan belasan rekrutan baru untuk menghadapi musim depan.

Menariknya, kedua tim punya kesamaan dalam strategi perekrutan. PSIS maupun Persis kompak mendatangkan sejumlah pemain yang pernah mengenyam pengalaman bersama Timnas Indonesia.

Lantas, siapa saja pemain yang telah direkrut kedua kesebelasan untuk mengarungi ketatnya persaingan Championship 2026/2027?

PSIS Semarang

PSIS menjadi satu di antara kontestan yang paling serius mempersiapkan diri menuju musim baru. Dengan target kembali promosi ke kasta tertinggi, Laskar Mahesa Jenar bergerak cepat menggalang kekuatan.

Sejauh ini, sudah ada 19 pemain yang resmi bergabung. Mereka ialah Hari Nur Yulianto, Syahrian Abimanyu, Ray Redondo, Nuri Fasya, Muammar Khadafi, dan Komang Tri.

Kemudian Agus Nova, Jack Brown, Andy Setyo, Lorensius Sabda, Amirul Amin, Akbar Arjunsyah, Ricki Ariansyah, Abduh Lestaluhu, Ahmad Nufiandani, Fitra Ridwan, Bayu Fiqri, Deri Corfe, serta Miftahul Hamdi.

Dari deretan nama tersebut, cukup banyak pemain yang memiliki pengalaman membela Timnas Indonesia di berbagai level. Kehadiran mereka tentunya bisa menambah kualitas dan pengalaman dalam skuad PSIS.

Adapun pemain yang pernah berseragam Tim Merah-Putih di antaranya Syahrian Abimanyu, Jack Brown, Andy Setyo, Abduh Lestaluhu, Komang Tri, Amirul Amin, Akbar Arjunsyah, Ahmad Nufiandani, Bayu Fiqri, dan Miftahul Hamdi.

Persis Solo

Di sisi lain, Persis juga tak mau ketinggalan dalam menyusun kekuatan untuk Championship 2026/2027. Tim besutan Ricky Nelson mulai gencar welcome-welcome pemain anyar demi memperdalam skuad.

Hingga saat ini, Laskar Sambernyawa total mengamankan 18 pemain. Mereka adalah Ahmad Mujadid, Novan Sasongko, Asep Berlian, Hasyim Kipuw, Andrean Rindorindo, dan Luthfi Kamal.

Ada pula Feby Eka, Saldi Amiruddin, Juan Mera, Teguh Amiruddin, Fandi Ahmad, Alkelvin Bhaghi, Rizky Nasution, Badrian Ilham, Theodore Leeming, Oliver Leeming, Terens Puhiri, serta Mario Londok.

Sama seperti PSIS, Tim Laskar Sambernyawa juga mendatangkan beberapa pemain yang sempat mencicipi atmosfer Timnas Indonesia, baik di level senior maupun kelompok usia.

Nama-nama seperti Novan Sasongko, Hasyim Kipuw, Luthfi Kamal, Feby Eka, Terens Puhiri, Fandi Ahmad, hingga Theodore Leeming diharapkan membawa pengalaman dan mental bertanding yang dibutuhkan tim pada musim mendatang.

BOLADONESIA – Gianni Infantino, Presiden FIFA, terus mendapatkan tekanan. Terbaru, dia diminta mundur oleh Presiden LaLiga, Javier Tebas, karena dinilai sudah mengambil langkah-langkah kontroversial, terutama selama gelaran Piala Dunia 2026, yang justru merusak sepak bola itu sendiri.

Beberapa hal yang menjadi sorotan Tebas adalah adanya hydration break yang membuat sepak bola seperti basket yang memiliki 4 quarter, jeda babak pada final yang diperpanjang demi menggelar acara hiburan, penangguhan sanksi kartu merah Folarin Balogun, dan rencana penambahan peserta Piala Dunia menjadi 64 tim.

“Menurut saya, iya, saya pikir waktunya sudah habis,” kata Javier Tebas saat ditanya soal apakah Gianni Infantino harus mundur seperti dikutip IDNEWS.TOP dari La Gazzetta dello Sport. “FIFA mengatur segalanya sesuka hati, untuk kepentingan mereka sendiri. Ketika ingin 27 menit jeda laga, jadilah. Hydrations break adalah kebohongan. Di LaLiga, itu hanya dilakukan jika cuaca benar-benar panas.”

Dia menambahkan, “Penangguhan sanksi pemain AS benar-benar serius. Mereka beruntung karena Belgia menang atas AS. Jika tidak, kasus ini bisa saja membuat Infantino kehilangan jabatannya. Karena Belgia menang, mereka bisa mengubur masalah ini. Namun, ini semua hanyalah puncak gunung es.”

Sulit Jatuhkan Gianni Infantino

Berbagai hal negatif yang mewarnai Piala Dunia 2026, plus rencana penambahan peserta jadi 64 tim pada edisi berikutnya menambah muak Javier Tebas. Dia meminta Gianni Infantino untuk menghentikan semua kegilaan itu dan mundur. Pasalnya, dia tahu betul tak mungkin sang Presiden FIFA tumbang lewat pemilihan.

“Masalahnya, dia didukung sitem, federasi-federasi,” ucap Tebas setengah putus asa. “Tak ada kandidat oposisi karena tak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Inilah sistemnya, sisten yang sudah busuk dari akarnya. Dia tak seharusnya bertahan, tapi situasi saat ini berarti dia tak akan pergi.”

Dia menambahkan, “Dalam beberapa haris terakhir di AS, saya mendengar banyak orang yang menentang Infantino, tak setuju dengan apa yang dilakukannya. Mereka mengatakan itu, tapi tak melakukan apa pun. Saya tak tahu apa yang lebih buruk, sikap diam itu atau keterlibatan karena mereka yang tetap diam sepenuhnya tahu kerusakan yang dialami sepak bola.”

Masa jabatan Infantino akan segera berakhir. Namun, dia sudah menyatakan niat untuk kembali maju dan menjadi presiden untuk periode ke-4. Menurut rencana, pemilihan Presiden FIFA akan digelar di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027. Ditengarai, wacana menambah peserta Piala Dunia 2030 ditujukan untuk mengamankan suara dari banyak anggota FIFA, terutama dari Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.

Timnas Putri Indonesia tinggal selangkah lagi untuk mengulangi prestasinya saat berjumpa Timnas Putri Laos pada babak final Piala AFF 2026. Skuad Garuda Pertiwi tetap harus berhati-hati dengan potensi kejutan yang bisa dihadirkan lawannya.

Menurut jadwal, duel antara Timnas Putri Indonesia menghadapi Laos pada partai final Piala AFF 2026 ini akan bergulir di Stadion Kuala Lumpur, Kuala Lumpur, Rabu (22/7/2026) pukul 19.45 malam WIB.

Sebagai informasi, ini menjadi kali kedua bagi skuad Garuda Pertiwi melenggang ke partai final Piala AFF. Sebab, pada edisi sebelumnya, mereka sukses lolos ke partai puncak pada 2024, sekaligus meraih gelar juara.

Jika mampu menundukkan laos pada laga ini, anak asuh Satoru Mochizuki bakal mengulangi pencapaian itu. Ini menjadi bekal untuk menghadapi ajang ASEAN Women’s Championship 2027. Sebagai informasi, hanya tiga tim teratas di ajang ini yang akan lolos ke kejuaraan tersebut.

Catatan Performa Kedua Tim

Secara performa, Timnas Putri Indonesia sebetulnya punya catatan yang jauh lebih mentereng di ajang ini ketimbang Laos. Berbekal amunisi naturalisasinya, Garuda Pertiwi tentu lebih diunggulkan di atas kertas.

Di fase grup, Vivi Oktavia dan kawan-kawan mampu melumpuhkan Timor Leste (2-0), lalu mengimbangi Kamboja (1-1). Kemudian, di semifinal, Indonesia sukses menumbangkan Singapura dua gol tanpa balas.

Sementara itu, kelolosan Laos ke final ajang ini hanya berbekal dua hasil imbang di fase grup, yakni saat bersua Malaysia (1-1) dan Singapura (1-1). Adapun di semifinal, mereka membekuk Kamboja dengan skor tipis 1-0.

Antisipasi Pemain Kunci

Pada partai final ini, skuad Garuda Pertiwi tampaknya masih akan mengandalkan beberapa pemain naturalisasinya. Dua nama yang tampil menonjol yakni Emily Nahon dan Estella Loupatty yang masing-masing sudah mengepak satu gol.

Jangan lupakan pula pemain lokal berpengalaman semacam Sheva Imut, Gea Yumanda, hingga Remini Rumbewas juga telah membuktikan kualitasnya. Ketiganya sejauh ini sudah mengepak satu gol untuk Garuda Pertiwi.

Sementara itu, di kubu lawan, satu nama yang patut mendapatkan perhatian ialah Anna Keo Onsy. Sebab, ia sudah menghasilkan dua gol di Piala AFF 2026. Itu membuktikan bahwa ketajamannya tak boleh dipandang sebelah mata.

Prediksi Susunan Pemain

Timnas Indonesia Putri: Laita Masykuroh; Vini Silfianus, Remini Rumbewas, Emily Nahon, Gea Yumanda, Felicia De Zeeuw, Estella Loupatty, Sheva Imut, Isabelle Nottet, Marsela Yuliana Awi, Pauline Van De Pol;

Pelatih: Satoru Mochizuki

Timnas Putri Laos: Phatthalavady S, Vilinthone V, Vilayphone P, Anna Keo-Onsy, Vanvaly Bounlamy, Lae Inthavong, Saysamone I, Dalavone S, Anouta C, Sengdeuan P;

Pelatih: Nayuha Toyoda

Idnews.top – Spanyol menutup Piala Dunia 2026 sebagai juara setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu di New York New Jersey Stadium. Kemenangan itu bukan hanya menghadirkan trofi dunia kedua bagi La Roja, tetapi juga pengakuan dari banyak tokoh sepak bola.

Salah satu apresiasi datang dari mantan penyerang Italia, Christian Vieri. Pemilik sembilan gol di dua edisi Piala Dunia itu menilai Spanyol tampil dominan sejak peluit pertama hingga pertandingan berakhir.

Bagi Vieri, final tersebut memperlihatkan bagaimana sepak bola modern tidak selalu ditentukan oleh deretan bintang terbesar. Ia melihat kekuatan utama Spanyol lahir dari kerja sama, organisasi permainan, dan disiplin taktik yang dijalankan seluruh pemain.

Penampilan konsisten sepanjang turnamen membuat Spanyol pantas berdiri di puncak dunia. Mereka hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan dan mampu mengendalikan hampir setiap laga yang dijalani.

Permainan Kolektif Jadi Kekuatan Utama

Vieri menilai Spanyol menguasai pertandingan sejak awal tanpa memberi banyak ruang kepada Argentina. Menurutnya, dominasi itu terlihat jelas sepanjang 120 menit final.

Ia berkata, “Sejak menit pertama hingga pertandingan berakhir, yang terlihat hanya Spanyol, Spanyol, dan Spanyol. Mereka benar-benar luar biasa. Organisasi Spanyol, federasi, pelatih, dan seluruh staf melakukan pekerjaan yang fantastis bersama tim ini.”

Vieri juga percaya gelar dunia diraih berkat kekuatan kolektif, bukan semata kualitas individu. Ia mengatakan, “Hari ini, mereka memperlihatkan bahwa Anda tidak membutuhkan nama-nama besar untuk menjadi juara. Anda membutuhkan tim yang bagus. Spanyol memiliki tim yang luar biasa dan mereka bermain sebagai satu kesatuan. Argentina hampir tidak pernah menguasai bola, dan ketika mereka mendapatkannya, para pemain Spanyol langsung menekan hingga bola kembali direbut. Mereka mendominasi pertandingan dari awal sampai akhir.”

Pertahanan Kokoh Sulit Ditembus

Menurut Vieri, Argentina kesulitan mengembangkan permainan karena tekanan tinggi yang terus diterapkan Spanyol. Para pemain La Roja mampu menutup ruang dan memaksa lawan kehilangan bola dalam waktu singkat.

Ia berkata, “Setiap kali Argentina menguasai bola, mereka tidak mampu mempertahankannya. Itu sangat sulit karena Spanyol menekan dengan enam, tujuh, bahkan delapan pemain. Argentina kesulitan melewati garis tengah untuk menciptakan peluang. Saat menguasai bola Spanyol sangat bagus, dan ketika tidak menguasai bola, mereka bahkan lebih luar biasa.”

Keberhasilan tersebut menjadi bukti kualitas organisasi pertahanan Spanyol sepanjang turnamen. Mereka menutup Piala Dunia 2026 dengan rekor hanya kebobolan satu gol.

Masa Depan Cerah Bersama De la Fuente

Vieri melihat usia rata-rata skuad Spanyol yang masih sekitar 26 tahun menjadi modal besar untuk masa depan. Ia yakin La Roja memiliki peluang besar mempertahankan level permainan hingga Piala Dunia 2030.

Ia berkata, “Masih banyak hal yang akan datang dari tim Spanyol ini karena mereka sangat muda dan penuh semangat. Anda bisa membayangkan mereka bermain di Santiago Bernabeu atau Camp Nou dengan stadion penuh warna merah. Mereka tidak akan mudah kebobolan.”

Pujian juga diberikan kepada pelatih Luis de la Fuente yang dinilai berhasil membangun fondasi kuat sejak menangani kelompok usia muda. Pengalamannya bersama para pemain membuat proses pembentukan tim berjalan lebih cepat dan efektif.

Vieri tidak lupa mengapresiasi Rodri serta Pau Cubarsi yang tampil luar biasa sepanjang turnamen. Menurutnya, Rodri menjadi pusat permainan Spanyol, sedangkan Cubarsi mampu berkembang pesat karena berada dalam sistem tim yang saling memahami dan selalu percaya diri memainkan bola.

Bagi Vieri, gelar Piala Dunia 2026 bukan hasil yang datang secara kebetulan. Spanyol berhasil mencapai puncak karena memiliki identitas permainan yang jelas, organisasi yang solid, dan para pemain yang rela bekerja untuk kepentingan tim di atas segalanya.

BOLADONESIA – Penunjukan Juergen Klopp sebagai pelatih kepala timnas Jerman hanya tinggal menunggu waktu. Klopp mengatakan proses negosiasi berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan apa pun.

Proses negosiasi antara Klopp dengan Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) telah berlangsung di New York semenjak beberapa pekan lalu. Proses negosiasi berlangsung dengan lancar meski Klopp saat ini masih terikat kontrak dengan Red Bull.

“Belum ada yang sepenuhnya final. Namun, pembicaraan telah berjalan dengan baik, dan semuanya bergerak ke arah yang benar. Saya telah mencapai kesepakatan dan persetujuan dengan Red Bull. Jadi, secara praktis, tidak ada lagi yang menghalangi,” kata Klopp kepada Magenta TV.

“Kami sudah tidak jauh lagi dari waktu pengumuman. Ketika saatnya tiba, kami akan membuat pengumuman itu sendiri,” sambung pria berumur 59 tahun itu.

Penunjukan Juergen Klopp akan Diumumkan dalam Beberapa Hari ke Depan

Lebih lanjut, Klopp mengatakan DFB bakal mengumumkan penunjukannya dalam beberapa hari ke depan. Ia berharap punya waktu cukup untuk mempersiapkan tim untuk menjalani partai pekan pembuka UEFA Nations League pada September mendatang.

“Idealnya, hal ini akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Lagipula, hanya ada sekitar 60 hari hingga pertandingan internasional berikutnya. Pada titik tertentu, sebuah keputusan harus diambil, dan itu akan segera diputuskan,” tuntas Klopp.

Klopp dihadapkan dengan tugas berat bersama timnas Jerman. Ia diminta membangkitkan Die Mannschaft dari keterpurukan yang telah berlangsung selama enam tahun terakhir.

Klopp bakal menjalani debutnya pada partai UEFA Nations League di markas Belanda. Laga tersebut rencananya mentas pada 25 September 2026.

Spanyol Juara Dunia! Luis De La Fuente Tagih Janji Tato Cucurella

BolaIndonesia – Timnas Spanyol akhirnya mengakhiri penantian panjang dengan kembali mengangkat trofi Piala Dunia 2026. La Furia Roja menaklukkan Argentina 1-0 setelah melalui pertandingan sengit hingga babak perpanjangan waktu. Gol tunggal Ferran Torres memastikan Spanyol meraih gelar dunia kedua sepanjang sejarah setelah terakhir kali menjadi juara pada 2010.

Keberhasilan tersebut semakin mengukuhkan era emas di bawah kepemimpinan Luis De La Fuente. Setelah sukses mempersembahkan gelar Euro 2024, kini pelatih berusia 65 tahun itu membawa Spanyol menjadi raja sepak bola dunia.

Atmosfer perayaan langsung pecah di ruang ganti. Para pemain, staf pelatih, hingga ofisial larut dalam euforia. Namun di tengah pesta kemenangan, satu momen unik justru menjadi sorotan publik.

Candaan Luis De La Fuente untuk Marc Cucurella

Sebelum partai final berlangsung, bek kiri Marc Cucurella sempat melontarkan janji yang mengundang perhatian. Ia mengatakan akan membuat tato wajah Luis De La Fuente apabila Spanyol berhasil menjadi juara dunia.

Kini, setelah trofi benar-benar berada di tangan La Roja, sang pelatih tidak lupa mengingat janji tersebut.

Dengan senyum lebar, Luis De La Fuente melontarkan kalimat yang langsung viral:

“Mana tatto-mu, Cucurella?”

Ucapan itu disampaikan dengan nada bercanda di hadapan awak media usai pertandingan. De La Fuente bahkan mengaku yakin para pemainnya merupakan sosok yang selalu menepati janji, termasuk Cucurella.

Pelatih asal Spanyol tersebut juga menambahkan bahwa dirinya sudah terlalu tua untuk ikut membuat tato, tetapi ia percaya para pemainnya akan menghormati komitmen yang telah mereka ucapkan.

Janji yang Berawal dari Sebuah Gurauan

Janji Cucurella sebenarnya bermula saat sesi wawancara beberapa hari sebelum final. Bek berambut kribo itu ditanya mengenai apa yang akan ia lakukan jika Spanyol berhasil menjadi juara dunia.

Tanpa berpikir lama, ia menjawab bahwa dirinya siap menato wajah Luis De La Fuente di tubuhnya.

Pernyataan tersebut langsung menjadi perbincangan luas di media sosial. Banyak pendukung Spanyol yang berharap sang bek benar-benar menepati ucapannya apabila La Roja sukses mengangkat trofi.

Menariknya, Cucurella memang dikenal sering membuat janji unik. Saat Spanyol menjuarai Euro 2024, ia juga memenuhi nazarnya dengan mengubah warna rambutnya sebagai bentuk selebrasi. Karena rekam jejak itu, banyak penggemar percaya bek berusia 27 tahun tersebut akan kembali membuktikan konsistensinya.

De La Fuente Bangga dengan Generasi Emas Spanyol

Di balik candaan soal tato, Luis De La Fuente lebih menekankan kebanggaannya terhadap karakter yang dimiliki para pemain.

Menurutnya, skuad Spanyol bukan sekadar kumpulan pesepak bola berbakat, melainkan sebuah keluarga yang saling percaya dan bekerja keras demi tujuan yang sama.

Pelatih itu menyebut perjalanan menuju gelar juara dunia dipenuhi kerja keras, pengorbanan, dan rasa saling menghormati. Ia menilai kemenangan atas Argentina menjadi hadiah yang pantas bagi seluruh rakyat Spanyol.

Keberhasilan ini juga mempertegas kekuatan kolektif La Roja. Sepanjang turnamen, lini pertahanan tampil sangat solid, sementara lini tengah tetap menjadi pusat permainan dengan penguasaan bola yang dominan.

Momen yang Akan Selalu Dikenang

Trofi Piala Dunia 2026 menjadi babak baru bagi sepak bola Spanyol. Generasi muda seperti Lamine Yamal, Pau Cubarsí, hingga para pemain senior berhasil menyatukan kualitas individu dengan semangat kolektif yang luar biasa.

Di tengah berbagai kisah heroik selama turnamen, candaan Luis De La Fuente kepada Marc Cucurella menjadi salah satu cerita yang paling menghibur. Kalimat sederhana, “Mana tatto-mu, Cucurella?”, langsung menghiasi berbagai pemberitaan internasional dan memperlihatkan eratnya hubungan antara pelatih dengan para pemainnya.

Kini publik tinggal menunggu satu hal. Akankah Marc Cucurella benar-benar memenuhi janjinya dengan mengabadikan wajah sang pelatih di tubuhnya? Jika melihat rekam jejaknya yang selalu menepati nazar, bukan tidak mungkin tato tersebut benar-benar akan segera terwujud.

KLIKBETS – Piala Dunia 2026 resmi berakhir dengan Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina di partai final. Gelar itu dianggap pantas diraih La Furia Roja setelah tampil konsisten sepanjang turnamen.

Namun, kesuksesan Spanyol bukan satu-satunya sorotan. Piala Dunia 2026 menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta.

Sebelum turnamen dimulai, banyak pihak meragukan format baru tersebut karena dikhawatirkan menurunkan kualitas pertandingan.

Kenyataannya justru sebaliknya. Bertambahnya jumlah peserta menghadirkan lebih banyak cerita menarik, mulai dari penampilan negara debutan hingga munculnya kejutan dari tim-tim nonunggulan.

Salah satu kisah paling mencuri perhatian datang dari Cape Verde yang berhasil menahan imbang Spanyol dan Uruguay, bahkan memaksa Argentina bermain hingga babak tambahan.

Keberhasilan format 48 tim membuat wacana ekspansi menjadi 64 peserta pada Piala Dunia 2030 semakin menguat. Jika terealisasi, FIFA diyakini tetap bisa menjaga jumlah pertandingan fase gugur tanpa membebani tim finalis secara signifikan.

Hydration Break Masih Menuai Perdebatan

Salah satu kebijakan yang paling banyak menuai pro dan kontra selama turnamen adalah penerapan hydration break atau jeda minum.

Di stadion, keputusan tersebut kerap disambut sorakan dari penonton karena dianggap mengganggu ritme pertandingan. Sebagian kalangan bahkan menduga jeda itu dimanfaatkan untuk menambah durasi iklan televisi.

Sementara di sisi lain, FIFA bersama ilmuwan olahraga dan pelatih menilai hydration break tetap penting, terutama karena Piala Dunia digelar pada musim panas dengan suhu yang berpotensi membahayakan kesehatan pemain.

Hingga kini belum ada rencana menerapkan aturan serupa di kompetisi domestik, tetapi penggunaannya pada turnamen internasional di masa depan masih menjadi bahan evaluasi.

FIFA Diminta Tegas Soal Aturan dan Fair Play

Kontroversi terbesar sepanjang Piala Dunia 2026 muncul ketika FIFA menangguhkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Balogun sebelumnya diusir keluar lapangan saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar.

Namun, sanksinya kemudian ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Presiden FIFA Gianni Infantino meninjau kembali kasus tersebut.

Keputusan itu memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk Federasi Sepak Bola Belgia, sejumlah mantan pejabat FIFA, hingga para eks pemain.

Meski polemik mereda setelah Amerika Serikat tersingkir di babak 16 besar, banyak pihak menilai FIFA harus memastikan regulasi lebih jelas agar kontroversi serupa tidak terulang pada Piala Dunia berikutnya.

Selain itu, FIFA juga didorong untuk lebih tegas terhadap praktik dark arts atau taktik curang yang digunakan sejumlah tim untuk mengganggu ritme permainan lawan.

Argentina menjadi salah satu tim yang disorot karena beberapa kali melakukan pelanggaran keras sejak awal pertandingan, baik di semifinal maupun final.

Banyak pengamat berharap wasit kembali menerapkan kepemimpinan tegas seperti era Pierluigi Collina agar kualitas permainan tetap terjaga.

Warisan bagi Amerika Utara dan Masa Depan Sepak Bola

Sebagai tuan rumah bersama, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko juga meninggalkan sejumlah catatan penting.

Kanada menunjukkan perkembangan signifikan setelah berhasil menembus babak 16 besar. Investasi terhadap sepak bola di negara tersebut mulai menunjukkan hasil positif, ditandai meningkatnya jumlah penonton dan antusiasme masyarakat.

Meksiko tetap membuktikan diri sebagai kekuatan sepak bola kawasan CONCACAF. Atmosfer pertandingan berlangsung meriah, terutama ketika tim nasional mereka bermain.

Namun, kemenangan pertama Meksiko di fase gugur Piala Dunia dalam 40 tahun terakhir juga diwarnai tragedi setelah empat orang meninggal dunia akibat berdesakan saat perayaan kemenangan.

Sementara itu, Amerika Serikat kembali gagal melangkah lebih jauh setelah tersingkir di babak 16 besar.

Meski demikian, turnamen ini dinilai berhasil meningkatkan popularitas sepak bola di Negeri Paman Sam, terlebih dengan terus berkembangnya Major League Soccer (MLS) yang kini diperkuat Lionel Messi.

Ke depan, banyak pihak percaya sepak bola baru benar-benar akan meledak di Amerika Serikat apabila negara tersebut mampu melahirkan seorang superstar yang bisa membawa tim nasional bersaing hingga perebutan gelar juara dunia.

Sumber: Aljazeera

LARISBOLA – Kapten Timnas Argentina, Lionel Messi akhirnya buka suara usai timnya kalah di final Piala Dunai 2026. Ia menulis surat terbuka untuk seluruh pendukung Argentina.

Ya, Messi dan Timnas Argentina baru saja mengalami patah hati besar. Mereka kalah di final Piala Dunia 2026, setelah gol Ferran Torres gagal mereka balas di laga itu.

Kekalahan di final itu memang jadi kekecewaan besar bagi Timnas Argentina. Pasalnya asa mereka untuk memenangkan gelar Piala Dunia back to back dipastikan kandas.

Messi juga tidak menampik bahwa kekalahan tersebut terasa menyakitkan untuk dirinya. “Rasa sakit ini sungguh luar biasa, dan butuh waktu untuk memulihkan luka ini,” tulis Messi di akun instagramnya.

Kenang Memori Baik

Lebih lanjut, Messi enggan meratapi berlebihan kekalahan Argentina di final itu. Karena menurutnya apa yang dilakukan La Albiceleste di turnamen ini sudah luar biasa.

“Namun saya juga memilih untuk menyimpan semua hal-hal yang baik yang terjadi, semua pertandingan di mana kami memberikan segalanya dan momen-momen itu akan tinggal dalam ingatan kami selamanya,” sambung Messi.

“Saya akan mengingat dukungan sepenuh hati negara ini, dan juga usaha dan kerja keras tim ini, di mana kami sudah berupaya untuk kembali menjadi tim terbaik di dunia.”

Ucapkan Terima Kasih dan Selamat

Pada kesempatan ini Messi juga mengucapkan terima kasih atas dukungan para masyarakat Argentian pada timnya. Ia juga mengucapkan selamat kepada Spanyol yang menjadi juara dunia.

“Saya rasa sulit bagi kami untuk mengapresiasi apa yang sudah kami capai saat ini, namun tim ini sudah dua kali beruntun masuk ke final Piala Dunia. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati terdalam untuk semua pesan yang kalian berikan setiap hari,”

“Sekali lagi, kami berhasil bersatu dan melangkah bersama dan menunjukkan kebanggaan besar sebagai masyarakat Argentina. Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada Spanyol yang telah memenangkan Piala Dunia,” pungkas Messi.

Akhir Messi di Timnas Argentina?

Banyak yang berspekulasi bahwa Piala Dunia 2026 akan jadi turnamen terakhir Lionel Messi sebagai pemain Timnas Argentina.

Ia dikabarkan akan segera pensiun dari skuad La Albiceleste setelah ia memenangkan semua trofi yang bisa diraih bersama Timnas Argentina.

Sumber: Lionel Messi Official Instagram

Idnews.top – Spanyol kembali berada di puncak sepak bola dunia setelah mengalahkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2026. Gol Ferran Torres pada menit ke-106 memastikan La Roja meraih gelar dunia kedua sepanjang sejarah.

Kemenangan itu menjadi penutup sempurna perjalanan tim asuhan Luis de la Fuente yang tampil konsisten sejak fase grup. Mereka menguasai jalannya laga final dan hanya membutuhkan satu momen untuk memastikan trofi berpindah tangan.

Keberhasilan tersebut langsung memicu gelombang apresiasi dari berbagai kalangan. Tokoh kerajaan, politik, olahraga, hingga dunia hiburan memberikan penghormatan atas pencapaian Spanyol.

Banyak pihak menilai gelar ini merupakan buah dari proses panjang pembinaan pemain muda dan konsistensi filosofi permainan. Dominasi Spanyol sepanjang turnamen menjadi alasan mengapa mereka pantas berdiri sebagai juara dunia.

Ferran Torres Jadi Penentu Gelar Dunia

Spanyol mendominasi pertandingan sejak menit awal meski Argentina bertahan sangat rapat. Emiliano Martinez berkali-kali menggagalkan peluang La Roja sepanjang waktu normal.

Gol kemenangan akhirnya lahir pada menit ke-106. Nico Williams menyundul umpan Pedro Porro sebelum Ferran Torres menyambar bola ke atap gawang tanpa mampu dihentikan Martinez.

Argentina kehilangan Enzo Fernandez akibat kartu kuning kedua menjelang babak tambahan. Lionel Messi dan rekan-rekannya tetap berjuang hingga akhir, tetapi gagal membendung tekanan Spanyol.

Raja Felipe VI hingga Gianni Infantino Beri Apresiasi

Raja Felipe VI memberikan penghormatan kepada para pemain atas perjuangan mereka sepanjang turnamen. Ia berkata, “Kalian telah menghadapi setiap tantangan dengan keyakinan sebagai tim besar dan membawa nama Spanyol ke titik tertinggi.”

Presiden FIFA, Gianni Infantino, juga memberikan ucapan selamat kepada sang juara. Ia berkata, “Selamat kepada Spanyol yang dinobatkan sebagai tim terbaik di dunia. Sebagai tim terbaik sepanjang turnamen, kalian pantas menjadi juara Piala Dunia FIFA!”

Perdana Menteri Pedro Sanchez turut merayakan keberhasilan tersebut melalui pesan singkat. Ia menulis, “Kita adalah juara dunia! Tim nasional kita luar biasa! Terima kasih, tim.”

Tokoh Olahraga dan Hiburan Ikut Merayakan
Petenis Carlos Alcaraz meluapkan kegembiraannya dengan kalimat singkat. Ia menulis, “Ayo, Spanyol!!!!!!!!!!!”

Legenda basket Pau Gasol menilai keberhasilan ini lahir dari kerja kolektif yang dibangun selama bertahun-tahun. Ia berkata, “Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari kerja bertahun-tahun, tumbuh bersama, dan membangun tim yang tidak pernah berhenti percaya.”

Aktor Javier Bardem juga memberikan penghormatan kepada skuad Spanyol. Ia menilai tim nasional menjadi contoh kerja sama, persatuan, sportivitas, dan semangat kebersamaan.

Fondasi Luis de la Fuente Berbuah Gelar

Direktur Teknik Federasi Sepak Bola Spanyol, Aitor Karanka, menganggap kesuksesan ini merupakan hasil kepercayaan terhadap pemain muda dan para pelatih. Menurutnya, Luis de la Fuente beserta staf mampu memperlihatkan identitas sepak bola Spanyol di panggung tertinggi.

Legenda Spanyol Carles Puyol memberikan ucapan singkat, “Selamat, Spanyol. Sangat pantas.” Mantan petenis Rafael Nadal juga ikut merayakan dengan kalimat, “Juara dunia untuk kedua kalinya!”

Rangkaian ucapan tersebut menjadi gambaran besarnya kebanggaan masyarakat terhadap pencapaian La Roja. Setelah tampil dominan sepanjang turnamen, Spanyol akhirnya mengukuhkan diri sebagai raja baru sepak bola dunia dengan cara yang benar-benar meyakinkan.

BOLADONESIA – Lionel Messi akhirnya angkat bicara soal kegagalan timnas Argentina mempertahankan gelar juara setelah kalah 0-1 dari timnas Spanyol pada final Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Dia mengakui kesedihan dan kekecewaan mendalam. Namun, dia juga mengenang banyak hal indah dari gelaran di Amerika Utara tersebut.

“Rasa sakitnya sangat besar dan butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini,” kata Lionel Messi mengungkapkan kepedihan hatinya saat membuka pernyataannya seperti dikutip IDNEWS.TOP dari akun Instagram-nya. “Namun, aku juga berpegang teguh pada semua hal baik.”

Dia lantas menambahkan, “Pertandingan-pertandingan kami menangi dengan membalikkan keadaan, dengan memberikan yang terbaik, akan tetap terukir dalam ingat kami, dukungan dari seluruh negeri yang, bersama dengan kerja keras dan upaya tim ini, membawa kali untuk sekali lagi menjadi yang terbaik di dunia.”

La Pulga pun mengungkapkan, dirinya tetap bangga karena, walaupun gagal juara, Argentina telah lolos ke final Piala Dunia dalam 2 edisi secara beruntun. Dia menyebut, mereka telah seklai lagi menyatukan seluruh negeri dan berbagi kebanggaan luar biasa sebagai orang Argentina.

Ketidakberdayaan Lionel Messi

Pada bagian akhir penyataan lewat unggahan di akun media sosialnya itu, Lionel Messi juga tak lupa menyampaikan selamat kepada timnas Spanyol yang telah mengalahkan timnas Argentina dan tampil sebagai juara Piala Dunia 2026. Namun, dia sama sekali tidak menyinggung soal performa dan perilaku buruk La Albiceleste pada laga final Piala Dunia 2026 itu.

Laga di Stadion MetLife, New York New Jersey, jadi penutup kisah yang sangat buruk bagi Argentina. Melaju ke final dengan berbagai cibiran karena dinilai mendapat perlakuan khusus dari FIFA dan para wasit, mereka gagal membungkam kritik. Alih-alih tampil penuh motivasi untuk menang, mereka memilih bermain defensif dan baru dapat melepaskan tembakan pada menit ke-117!

Messi yang jadi pahlawan pada semifinal dengan 2 assist yang membawa Argentina comeback dari tertinggal 0-1 menjadi menang 2-1 juga terlihat tak berdaya. Tak ada sentuhan ajaib apalagi aksi-aksi menawan seorang pemain yang disebut-sebut sebagai GOAT. Dia malah terlihat frustrasi dengan meminta wasit mengartu merah Marc Cucurella yang sempat bicara dengan menutup mulutnya.

La Pulga juga tidak berbuat apa-apa ketika Nahuel Molina, Leandro Paredes, Nicolas Otamendi, dan Thiago Almada menyerang pemain Spanyol saat laga usai. Lalu, megabintang Inter Miami juga ikut membalikkan badan bersama seluruh anggota tim saat Spanyol naik podium untuk menerima trofi juara dan merayakan kemenangan.