24 Oktober 2026
Keributan Final Piala Dunia 2026 Berujung Investigasi FIFA, Argentina Terancam

BolaIndonesia – Timnas Argentina kini menghadapi persoalan serius setelah final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol berakhir dengan keributan antarpemain. Kekalahan 0-1 dari La Furia Roja di final memang menjadi pukulan berat bagi Lionel Messi dan kawan-kawan, tetapi drama ternyata belum selesai setelah pertandingan berakhir.

FIFA dilaporkan telah membuka penyelidikan terkait insiden yang terjadi setelah peluit panjang dibunyikan. Keributan tersebut melibatkan sejumlah pemain dari kedua kesebelasan dan berpotensi berujung pada sanksi disipliner bagi pihak-pihak yang dianggap melanggar regulasi.

Spanyol sendiri keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah mencetak gol kemenangan pada babak tambahan waktu. Namun, pesta juara mereka sempat diwarnai ketegangan ketika sejumlah pemain Argentina terlibat perselisihan dengan pemain Spanyol di lapangan.

Keributan Pecah Setelah Peluit Panjang

Situasi memanas setelah laga final berakhir. Berdasarkan laporan yang beredar, Leandro Paredes menjadi salah satu pemain Argentina yang terlibat dalam insiden tersebut setelah terlibat konfrontasi dengan pemain Spanyol.

Keributan kemudian berkembang menjadi bentrokan yang melibatkan beberapa pemain lainnya. Nama Eric Garcia dan Gavi dari kubu Spanyol turut disebut dalam rangkaian kejadian tersebut.

Dalam situasi yang semakin tidak terkendali, beberapa pemain terlihat berusaha melerai rekan-rekan mereka. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, juga dikabarkan berupaya meredakan suasana agar keributan tidak semakin besar.

Namun, kejadian tersebut telanjur menjadi perhatian dunia. Final Piala Dunia yang seharusnya menjadi panggung perayaan sepak bola justru ditutup dengan insiden yang berpotensi memberikan konsekuensi panjang bagi Argentina.

FIFA kemudian menunjuk jaksa disipliner dan etika untuk menangani penyelidikan. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai kapan proses tersebut akan selesai atau jenis hukuman apa yang mungkin dijatuhkan.

Argentina Berpotensi Kehilangan Pemain

Penyelidikan FIFA tentu menjadi perhatian besar bagi Argentina. Jika ditemukan pelanggaran serius terhadap Kode Disiplin FIFA, pemain yang terbukti bersalah dapat menghadapi hukuman tambahan.

Sanksi tersebut bisa berupa denda, larangan bermain dalam sejumlah pertandingan, atau hukuman lain sesuai tingkat pelanggaran. Meski demikian, keputusan akhir tetap bergantung pada hasil investigasi dan bukti yang dikumpulkan oleh FIFA.

Bagi Argentina, situasi ini tentu menjadi kabar yang tidak ideal. Mereka baru saja kehilangan kesempatan mempertahankan gelar juara dunia setelah takluk dari Spanyol. Kini, masalah disipliner berpotensi memperpanjang kekecewaan yang dirasakan skuad La Albiceleste.

Terlebih lagi, Argentina sebelumnya sudah bermain dengan tekanan besar sepanjang turnamen. Mereka harus melewati laga-laga sulit hingga akhirnya mencapai partai puncak. Kekalahan di final membuat emosi para pemain semakin tinggi, meski hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan yang melanggar regulasi.

Enzo Fernandez dan Leandro Paredes Jadi Sorotan

Selain keributan setelah pertandingan, Argentina juga telah menerima sejumlah kartu dalam laga final. Enzo Fernandez disebut mendapat kartu merah setelah menerima kartu kuning kedua pada menit-menit akhir waktu normal.

Sementara itu, Leandro Paredes juga menjadi salah satu pemain yang mendapat sorotan akibat keterlibatannya dalam keributan setelah pertandingan. Situasi ini membuat kemungkinan hukuman tambahan menjadi perhatian publik.

FIFA kini memiliki tugas untuk memeriksa seluruh rekaman pertandingan dan kejadian setelah laga. Setiap pemain yang terlibat akan dinilai berdasarkan bukti yang tersedia.

Penyelidikan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kronologi insiden sekaligus menentukan siapa saja yang dianggap melakukan pelanggaran.

Kekalahan yang Berubah Menjadi Drama

Final Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen bersejarah bagi Spanyol dan Argentina. Spanyol berhasil mengangkat trofi setelah kemenangan dramatis 1-0, sedangkan Argentina harus menerima kenyataan gagal mempertahankan gelar.

Namun, keributan selepas pertandingan membuat perhatian publik bergeser dari hasil pertandingan ke persoalan disipliner. Momen penuh emosi yang seharusnya menjadi bagian dari rivalitas olahraga justru berpotensi berujung pada sanksi FIFA.

Bagi Argentina, fokus kini bukan hanya bagaimana menerima kekalahan dari Spanyol. Federasi dan para pemain juga harus menunggu hasil penyelidikan FIFA.

Jika terbukti terjadi pelanggaran, hukuman dapat menjadi babak baru bagi Argentina setelah perjalanan panjang mereka di Piala Dunia 2026 berakhir.

FIFA Segera Tentukan Sikap

FIFA diperkirakan akan mempelajari laporan pertandingan, rekaman video, serta keterangan dari pihak-pihak terkait sebelum mengambil keputusan. Proses ini penting agar sanksi yang diberikan benar-benar berdasarkan fakta dan tingkat kesalahan masing-masing individu.

Sementara itu, Argentina harus menghadapi situasi tersebut dengan kepala dingin. Kekalahan di final memang menyakitkan, tetapi kontroversi setelah pertandingan bisa menjadi pelajaran penting bagi skuad La Albiceleste.

Kini, perhatian tertuju kepada FIFA. Apakah Argentina akan mendapatkan hukuman berat, atau para pemain yang terlibat hanya menerima sanksi ringan?

Jawabannya masih menunggu hasil investigasi. Yang jelas, kekalahan Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 belum menjadi akhir dari cerita. Drama di lapangan justru berpotensi membuka babak baru yang jauh lebih serius bagi juara dunia 2022 tersebut.

BOLADONESIA – Spanyol berhasil keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina di New York, Senin (20/7) dinihari WIB. Partai Spanyol vs Argentina usai dengan skor 1-0 berkat gol Ferran Torres di masa injury time.

Laga Spanyol vs Argentina berlangsung cukup alot semenjak babak pertama. La Furia Roja mendominasi penguasaan bola, namun kesulitan membongkar rapatnya lini pertahanan Argentina..

Lini pertahanan Argentina tampil sangat disiplin di babak pertama. Emiliano Martinez pun tidak perlu terlalu keras berjibaku mengamankan gawangnya. Paruh pertama usai dengan skor sama kuat, 0-0.

Di babak kedua, Spanyol masih enggan melepaskan kontrol permainan. Pelatih kepala, Luis de la Fuente memasukkan Pedri dan Ferran Torres untuk meningkatkan kreativitas di lini depan.

Akan tetapi, lagi-lagi La Furia Roja kesulitan membongkar rapatnya lini pertahanan Argentina. Di sisi lain, Argenitna bermain sangat defensif dan tidak mampu menciptakan peluang.

Argenitna mendapat bencana di masa injury time babak kedua. Enzo Fernandez diusir wasit setelah mendapat kartu kuning kedua akibat telak keras kepada Pau Cubarsi. Meski unggul jumlah pemain, Spanyol tetap belum berhasil memecah kebuntuan sehingga laga terpaksa berlanjut ke babak tambahan.

Di babak tambahan, Spanyol semakin bernafsu untuk memecah kebuntuan. Pada menit ke-99, Nico Williams akhirnya berhasil menjebol gawang Argentina. Namun, gol tersebut dianulir wasit karena Mikel Merino dinilai melakukan pelanggaran kepada Nicolas Otamendi sebelum bola bersarang di gawang kawalan Emiliano Martinez.

Empat menit berselang, Spanyol lagi-lagi mendapat peluang emas. Namun, sundulan Merino dari jarak dekat malah melenceng ke samping gawang Martinez.

Upaya keras Spanyol akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-106. Memanfaatkan umpan sundulan Williams, Torres melepas tembakan keras yang tidak berhasil diselamatkan Martinez.

Di sisa waktu pertandingan, Argentina langsung keluar menyerang. Namun, mereka tidak berhasil menyamakan kedudukan dan skor 1-0 untuk Spanyol bertahan hingga wasit membubarkan pertandingan.

Derita Argentina bertahambah parah setelah wasit meniup peluit akhir laga. Leandro Paredes mendapat kartu merah karena terlibat pertikaian dengan Eric Garcia.

SUSUNAN PEMAIN SPANYOL VS ARGENTINA:

Spanyol: 23-Unai Simon; 12-Pedro Porro, 22-Pau Cubarsi, 14-Aymeric Laporte (4-Eric Garcia 99′), 24-Marc Cucurella; 16-Rodri (18-Martin Zubimendi 99′); 10-Dani Olmo (6-Mikel Merino 75′), 8-Fabian Ruiz (20-Pedri 62′); 19-Lamine Yamal, 21-Mikel Oyarzabal (7-Ferran Torres 62′), 15-Alex Baena (17-Nico Williams 75′)

Pelatih: Luis de la Fuente

Argentina: 23-Emiliano Martinez; 4-Gonzalo Montiel (26-Nahuel Molina 58′) , 13-Cristian Romero (25-Facundo Medina 70′), 6-Lisandro Martinez (19-Nicolas Otamendi 44′), 3-Nicolas Tagliafico; 7-Rodrigo De Paul (17-Giuliano Simeone 70′), 24-Enzo Fernandez, 20-Alexis Mac Allister, 15-Nicolas Gonzalez (5-Leandro Paredes 46′); 9-Julian Alvarez (2-Marcos Senesi 102′), 10-Lionel Messi

Pelatih: Lionel Scaloni

Kartu kuning: L. Martinez 41′, Paredes 52′, E. Fernandez 82′, Romero 90′, Scaloni 105′, Mac Allister 111′

Kartu Merah: E. Fernandez 90′, Paredes 120′

BOLADONESIA – Bek anyar Persija Jakarta, Denis Kolinger, mengaku terkesan dengan metode kepelatihan Shin Tae-yong. Meski baru menjalani pekan pertama bersama Macan Kemayoran, pemain asal Kroasia itu menilai latihan yang diterapkan pelatih asal Korea Selatan tersebut berjalan sangat profesional.

Kolinger menjadi salah satu rekrutan anyar Persija untuk menghadapi musim 2026-2027. Sejak bergabung dalam sesi latihan di Persija Training Ground, bek berusia 32 tahun itu langsung mengikuti seluruh program yang disusun Shin Tae-yong bersama tim pelatih.

Proses adaptasi bek jangkung itu pun berjalan cukup mulus. Dia merasa tidak mengalami kesulitan untuk mengikuti ritme latihan maupun berbaur dengan rekan-rekan barunya di dalam skuad Macan Kemayoran.

Menurut dia, intensitas latihan terus meningkat dari hari ke hari. Dia optimistis seluruh pemain akan berada dalam kondisi terbaik saat kompetisi Super League 2026-2027 dimulai.

“Latihan berjalan sangat baik setiap hari. Sekarang kami sudah memiliki rutinitas harian. Kami memulainya dengan intensitas yang lebih ringan dan saya rasa setiap hari akan semakin berat. Saya berharap kami siap menyambut awal musim,” kata Denis Kolinger.

Denis Kolinger Apresiasi STY

Selain puas dengan proses adaptasinya, Kolinger juga memberikan apresiasi kepada Shin Tae-yong. Pemain yang pernah mencatatkan satu penampilan bersama Timnas Kroasia itu menilai sang pelatih mampu menciptakan keseimbangan antara kedisiplinan dan suasana yang menyenangkan di dalam tim.

Menurut Kolinger, Shin Tae-yong selalu menuntut para pemain tampil serius selama latihan. Namun, di luar sesi latihan, mantan pelatih Timnas Indonesia tersebut tetap memberi ruang agar para pemain bisa menikmati kebersamaan di dalam tim.

“Saya pikir pelatih sangat profesional, itulah yang saya sukai. Dia ingin kami serius saat latihan, itu hal yang normal. Ketika kami bercanda, kami bercanda. Tetapi ketika kami bekerja, kami benar-benar bekerja,” ucap dia.

 KLIKBETS – Ferran Torres menjadi penentu gelar Piala Dunia 2026 untuk Timnas Spanyol dan menyebut kemenangan itu sebagai buah dari takdir. Penyerang La Furia Roja tersebut mencetak gol tunggal yang memastikan trofi dunia berlabuh ke negaranya.

Beberapa jam yang lalu, Spanyol menghadapi Argentina pada partai final. Pertarungan sengit itu baru diputuskan di babak tambahan waktu kedua, saat Torres memecah kebuntuan dan mengamankan mahkota dunia kedua bagi Spanyol.

Menariknya, Torres tidak memulai laga sebagai starter. Luis De La Fuente sejak awal memilih Mikel Oyarzabal, sebelum kemudian memasukkan Torres pada babak kedua untuk menggantikan Oyarzabal.

Usai laga, kebahagiaan Torres pecah. Kepada BBC Sports, ia menegaskan bahwa momen di final memang berpihak kepada Spanyol dan dirinya.

Gol Penentu di Babak Tambahan Waktu

Eks penyerang Barcelona itu masuk di paruh kedua dan menjadi pembeda. Di babak tambahan waktu kedua, ia mencetak satu-satunya gol di partai puncak tersebut. Gol itu memastikan Argentina tak mampu membalas hingga peluit panjang.

Dengan torehan tersebut, Spanyol mengukuhkan gelar Piala Dunia kedua mereka. Bagi Torres, momen ini terasa lengkap karena hadir pada fase paling krusial dan dalam tensi pertandingan setinggi final.

Ia menyebut jalannya laga seakan mengarah pada satu konklusi: Spanyol memang harus menang hari itu. “Hari ini takdir telah tertulis dan kami memang ditakdirkan untuk menang,” buka Torres yang dikutip BBC Sports.

Pada laga tersebut, Torres menuntaskan peluang emas ke gawang Emiliano Martinez pagi tadi. Kontribusinya menjadi penentu di tengah duel yang berlangsung ketat sejak menit awal.

Persembahan Untuk Rakyat Spanyol

Torres menegaskan gol yang ia ciptakan bukan semata miliknya atau rekan setim di lapangan. Ia mempersembahkan gol penentu gelar itu kepada seluruh warga Spanyol.

Menurutnya, dukungan publik menjadi bahan bakar mental Spanyol melewati tekanan final dan perlawanan Argentina. Doa serta dorongan dari rumah membuat skuad De La Fuente tetap tegak pada momen-momen penentuan.

“Menurut saya, pada akhirnya gol itu berasal dari 47 juta orang masyarakat Spanyol, bukan hanya kami yang berada di sini. Kami memang jauh dari rakyat kami hari ini, tetapi kami berusaha sedekat mungkin dengan mereka,” sambung Torres.

Menjawab Kritik Sepanjang Turnamen

Torres tidak menutup mata terhadap kritik yang mengiringi performanya sepanjang turnamen. Gol di final memberinya pelepasan emosional sekaligus jawaban di atas lapangan.

Ia meyakini setiap fase memiliki waktunya sendiri. Di partai puncak ini, kesempatan itu datang, dan ia menuntaskannya dengan cara paling efektif: mencetak gol kemenangan.

“Rasanya sangat melegakan bisa mencetak gol. Saya mendapat kritik sepanjang turnamen, tetapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, takdir sudah tertulis,” ia menandaskan.

Dengan kontribusi tersebut, Spanyol menutup rangkaian Piala Dunia 2026 dengan gelar, sementara Torres pulang sebagai pahlawan yang menentukan hasil akhir di babak tambahan waktu kedua atas Argentina.

IDnew.top – Manajer Manchester United, Michael Carrick mengungkapkan situasi timnya di pra musim 2026/2027. Ia mengonfirmasi bahwa pemain-pemain yang berlaga di Piala Dunia akan segera memperkuat Setan Merah lagi.

Sejak dua pekan lalu, Manchester United sudah memulai pra musim mereka. Carrick mengumpulkan para penggawa Setan Merah di Carrington untuk mulai berlatih menyambut musim baru.

Namun sejauh ini skuad MU memang masih belum komplet. Ada beberapa pemain inti mereka yang belum bergabung dengan pra musim mereka karena mereka mendapatkan jatah libur usai tampil di Piala Dunia 2026.

Ketika ditanya kapan para pemain ini akan bergabung, begini kata Carric. “Ya, mereka yang bermain di Piala Dunia akan segera kembali ke tim kami,” ujar Carrick di MUTV.

Bakal Semakin Kuat

Carrick menyebut bahwa para pemain yang bertanding di Piala Dunia 2026 akan diintegrasikan secara perlahan menyesuiakan sampai di babak mana mereka bertanding.

Ia yakin bahwa ketika skuad Setan Merah sudah utuh, mereka bakal jadi tim yang lebih kuat kendati sang manajer menilai skuad MU yang tersedia saat ini sebenarnya sudah cukup bagus.

“Tim kami akan semakin kuat seiring waktu menjelang musim di mulai. Namun saya bisa bilang, kami punya grup yang bagus di pra musim saat ini,” sambung Carrick.

Bakal Terus Berkembang

Manchester United sendiri baru saja menggelar laga uji coba melawan Wrexham. Di pertandingan yang digelar di Helsinski, Finlandia itu, Setan Merah kalah dengan skor tipis 0-1.

Carrick berjanji bahwa timnya akan terus berbenah dan akan semakin membaik sehingga mereka akan siap menghadapi musim kompetisi 2026/2027 mendatang.

“Kami tidak sabar untuk memainkan pertandingan-pertandingan berikutnya. Kami akan terus berkembang, kami akan terus mendorong diri kami hingga datangnya musim baru,” pungkas pelatih 44 tahun tersebut.

Laga MU Berikutnya

Manchester United sendiri dijadwalkan akan mengadakan laga uji coba lagi di akhir pekan ini.

Mereka akan menantang tim asal Norwegia, Rosenborg pada hari Jumat (24/7) malam nanti dan Setan Merah bertekad untuk meraih kemenangan di partai ini.

Man of The Match Spanyol vs Argentina: Ferran Torres Bersinar

BolaIndonesia – Timnas Spanyol resmi mengukir sejarah dengan menjuarai Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu. Dalam laga final yang berlangsung penuh tensi, Ferran Torres muncul sebagai pahlawan kemenangan sekaligus layak menyandang predikat Man of The Match berkat gol tunggal yang memastikan La Roja meraih trofi dunia kedua sepanjang sejarah. Gol Ferran Torres tercipta pada menit ke-106 setelah memanfaatkan umpan matang dari Nico Williams. Momen tersebut menjadi pembeda dalam pertandingan yang sebelumnya berlangsung sangat ketat selama 90 menit waktu normal.

Kemenangan ini sekaligus mengakhiri penantian panjang Spanyol sejak mengangkat trofi Piala Dunia pertama pada 2010. Kini, generasi baru La Roja berhasil membuktikan diri sebagai kekuatan terbaik dunia dengan permainan disiplin, efektif, dan penuh determinasi sepanjang turnamen.

Ferran Torres Tampil Sebagai Super Sub yang Menentukan

Masuk dari bangku cadangan, Ferran Torres langsung memberikan dampak besar bagi lini serang Spanyol. Ketika pertahanan Argentina mulai kehilangan konsentrasi akibat kelelahan, penyerang Barcelona itu memanfaatkan ruang kosong dengan sangat baik.

Gol yang dicetak Torres tidak hanya menunjukkan ketajaman insting mencetak gol, tetapi juga ketenangan luar biasa saat menghadapi tekanan di partai final. Ia menerima bola hasil sundulan Nico Williams sebelum melepaskan penyelesaian akurat yang gagal dihentikan Emiliano Martinez.

Sepanjang laga, Ferran Torres memang tidak bermain sejak menit awal. Namun kontribusinya jauh melampaui durasi bermainnya. Kehadirannya membuat lini depan Spanyol lebih hidup dan akhirnya menjadi pembeda ketika pertandingan memasuki babak tambahan.

Argentina Memberikan Perlawanan Sengit

Argentina datang sebagai juara bertahan dengan ambisi mempertahankan gelar. Lionel Messi bersama Julian Alvarez beberapa kali berusaha membongkar pertahanan Spanyol, namun lini belakang La Roja tampil sangat disiplin.

Situasi semakin sulit bagi Argentina setelah harus bermain dengan 10 orang akibat kartu merah Enzo Fernandez. Bermain dengan jumlah pemain yang lebih sedikit membuat Albiceleste semakin tertekan sepanjang babak tambahan.

Meski Emiliano Martinez berkali-kali melakukan penyelamatan gemilang, satu momen dari Ferran Torres akhirnya tidak mampu dihalau. Gol tersebut menjadi akhir dari perjuangan Argentina yang tampil penuh semangat sepanjang turnamen.

Strategi Luis de la Fuente Berbuah Manis

Pelatih Luis de la Fuente kembali menunjukkan kecerdasannya dalam membaca jalannya pertandingan. Pergantian pemain yang dilakukan terbukti menjadi keputusan terbaik, termasuk memasukkan Ferran Torres dan Nico Williams yang langsung mengubah ritme permainan.

Spanyol tetap sabar menguasai bola meski Argentina bertahan rapat. Mereka terus mencari celah hingga akhirnya peluang emas muncul di babak perpanjangan waktu.

Keberhasilan ini juga menjadi bukti kedalaman skuad Spanyol. Tidak hanya mengandalkan pemain inti, para pemain pengganti mampu memberikan kontribusi maksimal ketika dibutuhkan.

Statistik Ferran Torres di Final Piala Dunia 2026

Penampilan Ferran Torres pantas mendapatkan apresiasi tertinggi berkat kontribusinya pada laga puncak.

  • Mencetak gol kemenangan pada menit ke-106.
  • Menjadi pencetak gol tunggal final.
  • Mengubah jalannya pertandingan setelah masuk sebagai pemain pengganti.
  • Membawa Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah.
  • Dinobatkan sebagai Man of The Match berkat performa menentukan di partai final.

Gelar Kedua Spanyol Masuk dalam Sejarah

Keberhasilan mengalahkan Argentina menjadi pencapaian luar biasa bagi generasi baru Timnas Spanyol. Mereka menutup turnamen dengan pertahanan yang sangat solid sekaligus permainan kolektif yang konsisten sejak fase grup hingga final.

Meski penghargaan pemain terbaik turnamen (Golden Ball) diraih Rodri, nama Ferran Torres akan selalu dikenang sebagai sosok yang mencetak gol paling berharga di Piala Dunia 2026. Satu sentuhan penyelesaiannya menjadi pembeda antara kemenangan dan kegagalan.

Bagi para pendukung La Roja, malam final ini akan menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan sepak bola Spanyol. Ferran Torres berhasil mengukir namanya di panggung terbesar dunia dengan gol emas yang memastikan trofi Piala Dunia kembali ke Negeri Matador untuk kedua kalinya.

LARISBOLA – Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, memberikan isyarat mengenai masa depannya bersama La Albiceleste. Sang pelatih mengindikasikan bahwa dirinya akan mundur dari jabatannya saat kontraknya berakhir di akhir tahun ini.

Pernyataan ini dikeluarkan Scaloni seusai partai final Piala Dunia 2026. Di laga ini, Timnas Argentina harus menelan kekalahan 1-0 dari Spanyol sehingga mereka gagal juara back to back.

Kekalahan ini tentu berpengaruh pada masa depan Scaloni. Ia masih terikat kontrak bersama Timnas Argentina hingga akhir tahun 2026 mendatang.

Namun Scaloni baru-baru ini membuat pernyataan yang menarik seputar masa depannya. Ia mengindikasikan bahwa ia tidak akan melanjutkan karirnya sebagai pelatih Timnas Argentina.

Segera Bicarakan dengan AFA

Dalam wawancaranya baru-baru ini, Scaloni mengatakan bahwa ia akan menghadap Federasi Sepak Bola Argentina, AFA dalam waktu dekat ini untuk membahas masa depannya selaku pelatih Timnas Argentina.

“Saya akan berbicara dengan presiden. Saya sudah memiliki gambaran mengenai apa yang ingin saya lakukan. Saya akan memenuhi kontrak saya, lalu kita lihat nanti,” ujar Scaloni yang dikutip TyC Sports.

“Sejujurnya, saya merasa perlu berpikir lebih jauh mengenai posisi ini. Saya tidak tahu apakah saya bisa melakukan sesuatu sebesar ini lagi. Mungkin kami perlu berbicara.”

Scaloni Khawatir Harus Membangun Ulang Skuad

Scaloni kemudian mengungkapkan kekhawatirannya mengenai masa depan skuad Argentina. Ia menyadari bahwa membangun kembali tim yang telah mencapai kesuksesan luar biasa bukanlah perkara mudah.

“Saya tidak pernah berpikir bahwa kami akan berada dalam posisi seperti ini (lolos ke final Piala Dunia 2026),” sambung Scaloni.

“Untuk melanjutkan, banyak hal yang dibutuhkan, terutama melakukan penyegaran dan membangun kembali kelompok seperti ini. Kelompok seperti ini kemungkinan besar tidak akan terbentuk lagi, dan itu sangat menyakitkan bagi saya,” pungkasnya.

Tidak Sendiri

Lionel Scaloni nampaknya bukan satu-satunya sosok yang akan mengundurkan diri dari Timnas Argentina usai Piala Dunia 2026 ini.

Kapten La Albiceleste, Lionel Messi santer dikabarkan akan pensiun dari Timnas Argentina dalam waktu dekat ini.

11 Penyelamatan Gila Emiliano Martinez Warnai Final Piala Dunia 2026

BolaIndonesia – Spanyol akhirnya berhasil mengangkat trofi Piala Dunia 2026 usai menaklukkan Argentina dengan skor tipis 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu. Namun, jika ada satu pemain yang membuat pertandingan tetap hidup hingga menit-menit akhir, nama itu adalah Emiliano “Dibu” Martinez.

Kiper andalan Argentina tersebut tampil luar biasa sepanjang laga final di MetLife Stadium. Di tengah dominasi total Spanyol, Martinez berkali-kali melakukan penyelamatan kelas dunia yang membuat para pemain La Roja frustrasi. Meski akhirnya gagal membawa Argentina mempertahankan gelar juara dunia, penampilannya layak disebut sebagai salah satu performa individu terbaik dalam sejarah final Piala Dunia.

Spanyol Menguasai Jalannya Pertandingan

Sejak peluit awal dibunyikan, Spanyol langsung menunjukkan identitas permainan mereka. Rodri menjadi pengatur tempo, sementara Pedri, Fabián Ruiz, Lamine Yamal, dan Nico Williams terus menekan lini belakang Argentina.

Peluang demi peluang berhasil diciptakan. Bola mengalir cepat dari kaki ke kaki, membuat pertahanan Albiceleste dipaksa bekerja ekstra keras.

Namun, setiap kali peluang emas tercipta, Emiliano Martinez selalu hadir sebagai penyelamat.

Beberapa kali sang penjaga gawang menepis tembakan keras dari luar kotak penalti, menggagalkan peluang satu lawan satu, hingga melakukan refleks luar biasa saat bola sudah mengarah ke pojok gawang.

Statistik pertandingan memperlihatkan betapa dominannya Spanyol. Mereka menguasai bola, menciptakan jauh lebih banyak peluang, tetapi hanya mampu mencetak satu gol karena penampilan fenomenal Martinez di bawah mistar.

Dibu Martinez Pecahkan Rekor Final Piala Dunia

Penampilan heroik Martinez bukan hanya sekadar impresif, tetapi juga mencatat sejarah.

Kiper Aston Villa tersebut membukukan 11 hingga 12 penyelamatan sepanjang pertandingan—bergantung pada metode pencatatan statistik—sebuah angka yang melampaui rekor penyelamatan terbanyak dalam sejarah final Piala Dunia. Bahkan data analitik menunjukkan ia mencegah lebih dari satu gol yang secara statistik seharusnya bersarang ke gawang Argentina.

Tak heran jika banyak pengamat menyebut skor akhir 1-0 sama sekali tidak mencerminkan jalannya pertandingan.

Tanpa aksi heroik Martinez, Spanyol sangat mungkin menutup laga dengan kemenangan tiga, empat, bahkan lima gol.

Ferran Torres Akhirnya Menemukan Celah

Setelah terus digagalkan selama lebih dari 100 menit, Spanyol akhirnya menemukan cara menaklukkan Martinez.

Pada menit ke-106, Ferran Torres memanfaatkan celah kecil di pertahanan Argentina sebelum melepaskan penyelesaian klinis yang akhirnya menghentikan perlawanan sang penjaga gawang.

Gol tersebut menjadi satu-satunya momen ketika Martinez benar-benar tak mampu berbuat banyak.

Meski kebobolan, publik sepak bola tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap performanya. Bahkan banyak media internasional menempatkan Martinez sebagai pemain terbaik Argentina sekaligus salah satu pemain terbaik di laga final.

Lionel Messi Tak Berkutik

Di sisi lain, Argentina kesulitan mengembangkan permainan.

Lionel Messi yang menjalani kemungkinan Piala Dunia terakhirnya gagal memberikan pengaruh besar karena terus dikawal rapat oleh lini tengah dan pertahanan Spanyol.

Rodri bersama rekan-rekannya sukses memutus aliran bola menuju sang kapten sehingga Argentina minim menciptakan peluang berbahaya sepanjang pertandingan.

Ketimpangan inilah yang membuat Martinez bekerja jauh lebih keras dibandingkan rekan-rekannya. Hampir sepanjang laga, ia menjadi pemain Argentina yang paling sibuk di lapangan.

Kekalahan yang Tetap Membesarkan Nama Martinez

Kekalahan memang terasa menyakitkan bagi Argentina. Namun, Emiliano Martinez justru meninggalkan final dengan reputasi yang semakin tinggi.

Ia memang gagal membawa pulang trofi, tetapi aksi-aksi penyelamatannya membuat final tetap kompetitif hingga babak tambahan waktu. Andai bukan karena refleks, keberanian, dan ketenangannya di bawah mistar, Spanyol kemungkinan besar sudah berpesta gol jauh sebelum Ferran Torres mencetak gol kemenangan.

Pada akhirnya, trofi memang menjadi milik Spanyol, tetapi salah satu cerita terbesar dari final Piala Dunia 2026 adalah penampilan luar biasa Emiliano Martinez—seorang penjaga gawang yang hampir sendirian menjaga harapan Argentina tetap hidup hingga detik-detik terakhir pertandingan.

Jurgen Klopp dikabarkan segera ditunjuk sebagai pelatih baru Timnas Jerman. Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) disebut akan mengumumkan penunjukan mantan manajer Liverpool tersebut pada Jumat (24/7/2026).

Klopp akan menggantikan Julian Nagelsmann yang meninggalkan kursi pelatih setelah kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026. Die Mannschaft tersingkir secara mengejutkan dari Paraguay melalui adu penalti pada babak 32 besar.

Menurut laporan jurnalis Sky Germany, Florian Plettenberg, seluruh proses menuju penunjukan Klopp kini hampir rampung.

Klopp dikabarkan telah mencapai kesepakatan penuh dengan DFB untuk menangani Timnas Jerman hingga Piala Dunia 2030.

Kesepakatan antara DFB dan Red Bull, tempat Klopp menjabat sebagai Head of Global Soccer, juga telah tercapai sehingga tidak ada lagi kendala terkait kepindahannya.

Era Baru Die Mannschaft

Plettenberg mengungkapkan Klopp dan CEO Red Bull, Oliver Mintzlaff, bahkan menggelar pertemuan tertutup di New York pada akhir pekan lalu guna menyelesaikan detail terakhir sebelum penandatanganan kontrak.

Jika tidak ada perubahan, Klopp akan menandatangani kontraknya di Frankfurt pada Jumat, bersamaan dengan konferensi pers resmi dari DFB.

Klopp belum kembali melatih sejak meninggalkan Liverpool pada akhir musim 2023/2024. Selama hampir sembilan tahun di Anfield, ia sukses mempersembahkan gelar Premier League, Liga Champions, Piala FA, Piala Liga Inggris, Piala Super Eropa, hingga Piala Dunia Antarklub.

Jabatan Sekarang

Setelah meninggalkan Liverpool, pria berusia 59 tahun itu bergabung dengan Red Bull sebagai Head of Global Soccer. Selama Piala Dunia 2026, ia juga aktif sebagai analis di televisi Jerman.

Apabila resmi ditunjuk, Klopp akan memimpin Jerman pada dua turnamen besar berikutnya, yakni Euro 2028 dan Piala Dunia 2030. Kehadirannya diharapkan mampu mengembalikan Die Mannschaft ke jajaran elite sepak bola dunia setelah hasil mengecewakan di Piala Dunia 2026.

Idnew.top – Nobar Piala Dunia itu bukan cuma soal datang, duduk, lalu teriak pas gol tercipta. Buat banyak pria, nobar juga jadi bagian dari momen kumpul yang dinanti. Ada obrolan sebelum kick-off, ada saling ejek tipis-tipis soal tim jagoan, ada juga suasana ramai yang bikin satu malam terasa lebih hidup dari biasanya.

Karena itu, persiapan sebelum nobar sebetulnya nggak cuma soal cari tempat atau pilih jersey. Ada detail lain yang sering kelihatan sepele, tapi ngaruh ke kenyamanan sepanjang acara tubuh yang terasa fresh, wajah yang nggak kusam, dan aroma yang bikin diri sendiri tetap nyaman saat duduk berdekatan dengan banyak orang. Di sinilah parfum pria nobar jadi relevan.

Bukan berarti nobar harus dibuat terlalu serius. Justru sebaliknya, persiapan yang simpel bisa bikin kamu lebih enjoy dari awal sampai pertandingan selesai.

Sebelum Nobar, Bukan Cuma Outfit yang Perlu Dipikirkan

Kalau mau jujur, outfit memang jadi hal pertama yang biasanya dipikirkan. Mau pakai jersey retro, kaus tim nasional, atau outfit santai yang tetap enak dilihat, semuanya bisa bantu membangun suasana. Tapi outfit yang oke akan terasa lebih maksimal kalau tubuhnya juga sudah siap.

Bayangin datang ke tempat nobar setelah seharian kerja atau kuliah, lalu langsung duduk di tengah keramaian. Baju sudah pas, tapi badan masih terasa gerah dan wajah kelihatan capek. Kesan keseluruhannya jadi kurang enak. Makanya, persiapan sebelum berangkat sebaiknya nggak berhenti di urusan baju saja.

Kadang yang bikin rasa pede naik justru hal-hal yang sederhana, mandi dulu, bersihin wajah, lalu pakai parfum yang pas. Dari situ, nobar terasa bukan sekadar datang nonton, tapi datang dalam kondisi yang lebih enak.

Grooming Simpel Biar Nggak Datang dalam Kondisi “Asal Berangkat”

Grooming sebelum nobar sebenarnya gampang. Nggak perlu ritual panjang atau banyak langkah. Yang penting tubuh terasa bersih dan wajah nggak kelihatan capek. Mandi sebelum berangkat jadi langkah paling dasar untuk ngilangin rasa gerah, debu, dan sisa aktivitas seharian.

Setelah itu, bagian wajah juga penting. Wajah yang terasa bersih bikin keseluruhan penampilan lebih siap. Untuk kebutuhan ini, FFAR Sigma Spirit 2 in 1 Face Wash & Shaving Foam cocok buat pria yang suka semuanya simpel. Produk ini bisa dipakai untuk membersihkan wajah sekaligus membantu proses bercukur, jadi nggak perlu ribet pakai banyak produk. Formulanya membantu membersihkan menyeluruh, menjaga kelembapan kulit, membantu menenangkan kulit setelah bercukur, dan memberi sensasi clean, fresh, masculine scent. Buat yang ingin tampil rapi tanpa banyak effort sebelum nobar, ini jadi langkah yang cukup masuk akal.

Yang menarik, hasil dari grooming sederhana kayak gini bukan cuma kelihatan di luar. Tubuh terasa lebih ringan, wajah lebih nyaman, dan mood biasanya ikut naik.

Parfum yang Tepat Bikin Nobar Lebih Enak Dijalanin

Setelah outfit sudah oke dan grooming dasar selesai, satu sentuhan terakhir yang sering bikin semuanya terasa lengkap adalah parfum. Dalam suasana nobar yang ramai, parfum yang tepat bisa bikin kamu merasa lebih nyaman tanpa harus terasa berlebihan.

Untuk momen seperti ini, tipe aroma yang fresh dan maskulin biasanya paling aman. FFAR Sigma Spirit EDP punya karakter seperti itu. Parfum ini dirancang untuk pria aktif yang penuh semangat dan suka kebebasan, dengan ketahanan hingga 8 jam. Bukaan aromanya datang dari ozone, lemon, bergamot, lavandin, dan italian orange yang langsung memberi kesan segar dan energik.

Setelah itu, aromanya berkembang ke melon, nutmeg, patchouli, geranium, dan white floral, lalu ditutup dengan vetiver, amber, musk, leather, dan cedar yang bikin wanginya tetap punya sisi maskulin yang rapi. Hasilnya, parfum ini terasa pas buat suasana nobar, nggak terlalu berat, tapi tetap punya karakter.

Aroma seperti ini cocok buat pria yang ingin hadir dengan kesan segar tanpa kelihatan terlalu “niat”. Nobar jadi lebih nyaman, ngobrol lebih pede, dan suasana ramai pun terasa lebih enak dijalani.

Pada akhirnya, nobar Piala Dunia bukan cuma tentang pertandingan besar, tapi juga soal menikmati momen kebersamaan dengan versi terbaik dari diri sendiri. Saat outfit sudah dipilih, tubuh sudah dibersihkan, wajah terasa segar, dan parfum yang dipakai mendukung keseluruhan vibe, rasa percaya diri biasanya muncul lebih natural. Dan dari situ, upgrade grooming routine bersama FFAR terasa seperti langkah simpel yang memang layak jadi bagian dari persiapan sebelum malam pertandingan dimulai.