Arsenal dikabarkan semakin dekat mengamankan tanda tangan gelandang Newcastle United, Bruno Guimaraes, untuk menghadapi musim 2026/2027.
Kehadiran pemain asal Brasil itu diyakini bakal membuat lini tengah The Gunners semakin solid setelah musim lalu berhasil menjuarai Premier League.
Manajer Mikel Arteta sebenarnya sudah memiliki komposisi gelandang yang kuat dengan Martin Zubimendi dan Declan Rice.
Namun, padatnya jadwal membuat Zubimendi mulai mengalami penurunan performa di penghujung musim, sementara Rice juga kerap dipaksa tampil tanpa banyak rotasi. Situasi itu mendorong Arsenal berburu tambahan tenaga di sektor tengah.
Bruno Guimaraes dinilai sebagai sosok ideal. Selama membela Newcastle United, pemain berusia 28 tahun itu dikenal sebagai gelandang pekerja keras yang agresif dalam merebut bola, tetapi juga memiliki kemampuan membawa permainan ke depan.
Jika transfernya rampung, Arsenal diprediksi akan mengandalkan trio Zubimendi sebagai gelandang bertahan, dengan Rice dan Guimaraes bermain lebih bebas sebagai gelandang box-to-box.
Seberapa Kreatif?
Meski demikian, kombinasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kreativitas di lini tengah. Arteta diyakini akan mengandalkan kreativitas dari sektor sayap, terutama jika Arsenal juga berhasil mendatangkan Vinicius Junior untuk berduet dengan Bukayo Saka. Dengan begitu, keseimbangan antara kekuatan bertahan dan daya serang tetap bisa terjaga.
Di luar trio utama, Arsenal masih memiliki sejumlah opsi pelapis seperti Martin Odegaard, Eberechi Eze, Mikel Merino, hingga Myles Lewis-Skelly.
Odegaard dan Eze diproyeksikan menjadi senjata saat tim membutuhkan kreativitas tambahan, sementara Merino tetap menawarkan fleksibilitas karena mampu bermain sebagai gelandang maupun penyerang darurat.
Lewis-Skelly juga mulai dipersiapkan kembali ke posisi naturalnya sebagai gelandang setelah sebelumnya lebih sering dimainkan sebagai bek kiri.
Bruno Guimaraes Selangkah Lagi
Nama Bruno Guimaraes sudah lama berada di radar Arsenal. Pelatih Mikel Arteta disebut sangat menyukai aksi dan profil permainan gelandang asal Brasil tersebut.
Manajemen The Gunners juga dikabarkan telah bergerak untuk mengamankan jasa Guimaraes. Kendati demikian, prosesnya masih berliku dan belum sampai pada tahap kesepakatan.
Menurut BBC Sport, peluang Arsenal merekrut sang gelandang kini membesar. Meski belum ada pertemuan resmi antarklub, keyakinan bahwa transfer dapat terwujud semakin menguat seiring kesediaan Arsenal meningkatkan paket finansial.
Jadwal siaran langsung final Piala Presiden 2026 yang akan mempertemukan Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya, Kamis (6/8/2026) pukul 19.30 WIB. Partai final akan digelar di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali.
Pertandingan Persib melawan Persebaya bisa ditonton melalui siaran langsung di Indosiar, serta live streaming di Vidio.
Seperti diketahui, Persib Bandung melenggang ke final Piala Presiden 2026 setelah memenangi laga klasik kontra Persija. Maung Bandung menang dengan skor 2-1.
Sementara itu, Persebaya punya kans untuk menuntaskan ambisi menjuarai Piala Presiden. Mereka akan menantang Persib di partai puncak.
Persebaya melaju ke final setelah mengalahkan sesama klub besar Jawa Timur, Arema FC.
Cara Menonton Pertandingannya
Kamis (6/8/2026) Persib Bandung Vs Persebaya Surabaya Venue: Stadion I Wayan Dipta, Gianyar Kick-off: 19.30 WIB Siaran langsung: Indosiar Live streaming: Vidio
Arsenal didorong untuk ikut bersaing mendapatkan tanda tangan Bradley Barcola pada bursa transfer musim panas 2026. Mantan pemain The Gunners, Emmanuel Frimpong, menilai winger Paris Saint-Germain (PSG) itu akan menjadi tambahan ideal bagi skuad Mikel Arteta.
Sebelumnya, Liverpool disebut berada di posisi terdepan untuk merekrut Barcola. Namun, Arsenal dinilai tidak boleh melewatkan kesempatan mendatangkan pemain berusia 23 tahun itu jika ingin terus bersaing memperebutkan gelar juara.
Bradley Barcola masuk dalam daftar prioritas Liverpool untuk memperkuat lini depan menjelang bergulirnya musim 2026/2027.
Manajer anyar The Reds, Andoni Iraola, dikabarkan ingin menambah kualitas di sektor sayap dan melihat Barcola sebagai sosok yang tepat.
Laporan menyebut Liverpool telah menerima sinyal positif pemain asal Prancis itu tertarik untuk pindah ke Anfield. Namun, negosiasi diperkirakan tidak akan mudah karena Paris Saint-Germain memasang banderol lebih dari 130 juta pound.
Nilai transfer yang sangat tinggi tersebut berpotensi menjadi kendala terbesar bagi Liverpool dalam menyelesaikan kesepakatan.
Arsenal Diminta Tak Ragu Masuk Persaingan
Di tengah ketertarikan Liverpool terhadap Bradley Barcola, Emmanuel Frimpong justru meminta Arsenal untuk membajak negosiasi tersebut.
Menurut mantan bek The Gunners itu, Arsenal tidak boleh cepat puas setelah meraih kesuksesan dan harus terus memperkuat skuad agar mampu mendominasi kompetisi dalam beberapa musim ke depan.
“Mikel Arteta dan para pemain akhirnya berhasil meraih target itu dan saya sangat senang. Namun, mereka tidak boleh hanya puas memenangkannya sekali,” kata Frimpong.
“Mereka harus terus menang dan mendominasi seperti yang pernah dilakukan Manchester United dan Manchester City,” lanjutnya.
Barcola dan Bruno Guimaraes Dinilai Kombinasi Ideal
Frimpong meyakini Arsenal masih membutuhkan tambahan pemain di beberapa posisi, terutama dua winger dan seorang gelandang nomor delapan murni.
Ia menilai Declan Rice saat ini belum bermain di posisi terbaiknya sehingga kehadiran gelandang baru akan membuat lini tengah Arsenal semakin seimbang.
Bagi Frimpong, Bruno Guimaraes dari Newcastle United merupakan sosok yang paling ideal untuk mengisi peran itu. Selain itu, ia juga menyebut Bradley Barcola sebagai pemain yang sangat cocok dengan gaya permainan Mikel Arteta.
“Bradley Barcola akan sangat bagus untuk Arsenal. Barcola dan Bruno Guimaraes akan membuat bursa transfer Arsenal menjadi sangat sukses,” ujarnya.
Arsenal Tetap Agresif di Bursa Transfer
Selain dikaitkan dengan Bradley Barcola, Arsenal juga masih berupaya menyelesaikan sejumlah transfer besar pada musim panas ini.
The Gunners disebut tengah mengejar rekor transfer klub untuk mendatangkan Vinicius Junior dari Real Madrid.
Pada saat yang sama, mereka juga dikabarkan semakin dekat mencapai kesepakatan senilai 80 juta pound untuk merekrut Bruno Guimaraes dari Newcastle United.
Jika Arsenal benar-benar ikut masuk dalam perburuan Bradley Barcola, persaingan dengan Liverpool dipastikan akan semakin sengit.
Kehadiran dua klub besar Premier League tersebut bisa menjadi faktor yang menentukan masa depan winger PSG itu sebelum jendela transfer ditutup.
Timnas Indonesia datang ke laga melawan Vietnam dengan modal positif. Skuad Garuda menyapu bersih dua pertandingan awal Grup A Piala AFF 2026 dengan kemenangan, sekaligus menjaga peluang besar untuk lolos ke babak semifinal.
Setelah membungkam Kamboja dengan skor 5-1 pada laga pembuka, Timnas Indonesia kembali meraih hasil maksimal saat menghadapi Timor Leste dengan memetik kemenangan 3-0.
Laga berikutnya akan menjadi ujian penting bagi Tim Garuda. Timnas Indonesia dijadwalkan menjamu Vietnam di Stadion Pakansari, Bogor, Senin (3-8-2026). Kemenangan akan membuka jalan Indonesia menuju semifinal, meski masih menyisakan satu pertandingan lagi melawan Singapura.
Sejumlah pemain Timnas Indonesia menunjukkan optimisme tinggi menjelang duel melawan Vietnam.
Bek kiri, Shayne Pattynama, menjadi satu di antara yang tampil percaya diri setelah mencetak gol pembuka saat mengalahkan Timor Leste. Gol pada menit ke-74 itu menjadi awal kemenangan 3-0 Indonesia atas Timor Leste.
“Senang bisa mencetak gol. Lebih penting lagi, kemenangan lain untuk tim,” tulis Shayne Pattynama melalui akun Instagram pribadinya.
Jordi Amat Puas
Bek senior, Jordi Amat, juga mengungkapkan rasa bangganya setelah membantu Indonesia mencatatkan clean sheet. Sepanjang pertandingan melawan Timor Leste, Jordi beberapa kali harus bekerja keras mengantisipasi serangan balik lawan.
Baginya, enam poin dari dua pertandingan serta belum kebobolan menjadi modal berharga untuk menghadapi laga berikutnya.
“6 poin, tidak kebobolan. Ayo untuk lebih banyak lagi!” tulis Jordi Amat di akun Instagram pribadinya.
Optimisme serupa disampaikan Eliano Reijnders. Winger Timnas Indonesia itu menilai dua kemenangan beruntun menjadi bekal penting sebelum menghadapi Vietnam dalam pertandingan yang diprediksi berlangsung sengit.
“Dua kemenangan dari dua pertandingan. Senin kita pergi lagi,” tulis Eliano Reijnders.
Semangat Juang
Sementara itu, Marc Klok menegaskan Timnas Indonesia harus tetap mempertahankan semangat juang yang telah ditunjukkan pada dua laga awal.
Menurutnya, kemenangan atas Timor Leste menjadi bukti bahwa Garuda mampu menjaga fokus hingga peluit panjang berbunyi.
“Terus berjuang hingga akhir. Bangga dengan usaha tim dan kemenangan lainnya. Terima kasih atas dukungannya. Tugas besar di depan besok Senin,” ujar Marc Klok.
Dengan kepercayaan diri yang sedang tinggi serta peluang lolos ke semifinal di depan mata, Timnas Indonesia kini mengalihkan seluruh fokus untuk menghadapi Vietnam. Laga tersebut dipastikan menjadi satu di antara penentu langkah skuad Garuda di Piala AFF 2026.
Kiper Barcelona, Wojciech Szczesny, mengaku sempat kehilangan gairah terhadap sepak bola sebelum memutuskan menerima tawaran dari klub raksasa Katalonia tersebut. Penjaga gawang asal Polandia itu bahkan merasa karier profesionalnya telah berakhir ketika memutuskan pensiun pada 2024.
Szczesny bergabung dengan Barcelona pada Oktober 2024 setelah keluar dari masa pensiun. Saat itu, Blaugrana membutuhkan kiper berpengalaman menyusul cedera serius yang dialami Marc-Andre ter Stegen.
Dalam wawancara dengan The Athletic, kiper berusia 36 tahun tersebut menceritakan bagaimana kepindahannya ke Barcelona mengubah pandangannya terhadap sepak bola dan menghidupkan kembali semangat yang sempat hilang.
“Ketika saya berhenti, saya sudah tidak ingin bermain sepak bola lagi. Saya tidak pernah membayangkan akan ada sesuatu setelah 2024. Sekarang saya menjalani salah satu periode terbaik dalam karier saya dan menikmati setiap momennya,” ujar Szczesny.
Kehilangan Motivasi Bermain
Mantan kiper Timnas Polandia itu mengungkapkan bahwa sebelum Barcelona datang dengan tawaran mereka, sepak bola sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang dinantikannya setiap hari.
Menurut Szczesny, ia tidak lagi menikmati bermain maupun menjalani rutinitas latihan.
“Saya seperti kehilangan rasa cinta terhadap sepak bola. Saya tidak lagi menikmati bermain. Saya juga tidak menikmati bangun pagi untuk latihan,” katanya.
Szczesny menuturkan, kepergiannya dari Juventus terasa seperti penutup perjalanan karier profesionalnya. Meski masih memiliki sisa kontrak satu musim, klub asal Turin itu memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama sehingga kedua pihak berpisah.
Situasi tersebut membuatnya tidak tertarik memulai petualangan baru di klub lain.
“Saya tidak siap menghadapi tantangan baru. Saya tidak ingin pindah negara, berganti klub, mencari sekolah baru untuk anak-anak, dan mencari tempat tinggal baru,” ungkapnya.
Ia mengatakan keputusan pensiun menjadi pilihan yang mudah bagi dirinya maupun keluarganya.
“Pada titik tertentu dalam hidup, keluarga memang menjadi prioritas di atas sepak bola.”
Tawaran Barcelona Sulit Ditolak
Ketika sudah merasa nyaman menikmati kehidupan bersama keluarga di Marbella, Barcelona datang dengan tawaran yang mengubah segalanya.
Szczesny mengakui sempat ragu sebelum mengambil keputusan, tetapi kesempatan bergabung dengan Barcelona dinilainya terlalu besar untuk dilewatkan.
“Saya sempat ragu beberapa waktu. Keputusannya tidak mudah, tetapi kesempatan itu terlalu besar. Saya masih menyukai tantangan dan masih memiliki ambisi.”
Ia juga ingin menguji kemampuannya di level tertinggi.
“Ketika kesempatan seperti itu datang dan Anda masih memiliki ambisi serta percaya pada kemampuan sendiri, tentu Anda ingin menguji diri dan melihat apa yang masih bisa Anda lakukan,” ucap mantan kiper Arsenal itu.
Menikmati Setiap Momen
Szczesny menyebut periode bersama Barcelona sebagai bonus dalam perjalanan kariernya. Karena itulah, ia memilih menikmati setiap kesempatan yang didapat semaksimal mungkin.
“Saya sebelumnya sudah menjadi pesepak bola yang pensiun, lalu sekarang bisa menikmati momen seindah ini. Saya seperti salah satu suporter yang berada di lapangan,” katanya.
Ia menegaskan sejak memutuskan kembali bermain, dirinya berjanji akan menikmati semuanya sepenuh hati.
“Saya menganggap ini sebagai bonus dalam karier saya. Saya ingin menikmati semuanya dengan cara yang saya sukai dan tampaknya orang-orang bisa merasakan ketulusan itu.”
Menurut Szczesny, ia juga merasakan besarnya dukungan yang diberikan para pendukung Barcelona.
“Saya merasakan cinta yang sama besarnya seperti rasa cinta saya kepada tempat ini dan klub ini.”
Sejak bergabung, Szczesny menjadi satu di antara pemain favorit suporter. Bahkan, para pendukung Barcelona menciptakan chant khusus bertajuk “Szczesny Fumador (the smoker)” untuknya.
Alih-alih malu, ia justru menikmati bentuk apresiasi tersebut.
“Saya belum pernah memiliki chant sendiri sebelumnya, jadi itu sudah menjadi sesuatu yang mengejutkan. Saya menikmatinya. Saya hanya berusaha menjadi diri sendiri dan tampaknya orang-orang menghargainya,” ujar pemain kelahiran 18 April 1990 itu.
Tetap Merasa Dibutuhkan
Szczesny mengungkapkan keputusan memperpanjang masa baktinya di Barcelona bukan semata-mata karena ingin terus menjadi pilihan utama. Baginya, yang lebih penting adalah merasa masih dibutuhkan oleh tim, termasuk ketika tidak berada di lapangan.
Ia juga merasa bangga karena masih mampu mengikuti standar tinggi yang dimiliki Barcelona.
“Setiap kali selesai latihan dan merasa masih mampu berada di level ini, saya merasa bangga terhadap diri sendiri,” ucapnya.
Menurut Szczesny, seorang pemain tidak harus selalu menjadi pilihan utama untuk bisa memberikan kontribusi bagi tim.
“Anda tidak harus selalu menjadi nomor satu di lapangan untuk membantu tim. Pengalaman dari berbagai situasi sulit maupun menyenangkan bisa dibagikan kepada pemain-pemain muda. Itu memberikan perasaan yang sangat baik,” tutur kiper dengan tinggi 195 cm tersebut.
Bagi Szczesny, Barcelona bukan hanya memberinya kesempatan kembali bermain, tetapi juga membuatnya menemukan kembali kecintaannya terhadap sepak bola yang sempat hilang.
Timnas Indonesia akan menghadapi Timor Leste pada laga kedua Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Chonburi, Thailand, Jumat (31-7-2026).
Duel ini dinilai menjadi kesempatan emas bagi Skuad Garuda untuk mengamankan tiga poin sekaligus memperbaiki posisi di klasemen sementara.
Saat ini, persaingan di Grup A mulai memanas. Singapura memimpin klasemen dengan koleksi enam poin, sementara Vietnam berada di posisi kedua dengan tiga poin dan unggul selisih gol atas Timnas Indonesia.
Pengamat sepak bola senior, Gusnul Yakin, menilai Indonesia tidak cukup hanya meraih kemenangan atas Timor Leste. Menurutnya, Skuad Garuda juga perlu mencetak gol sebanyak mungkin agar memiliki peluang lebih baik dalam perebutan tiket ke babak semifinal.
“Singapura dan Vietnam pesaing terberat di Grup A. Timnas Indonesia dituntut menang dengan jumlah gol banyak agar bisa mengejar agregat milik Vietnam,” ujar Gusnul Yakin.
Perlu Rotasi
Menurut mantan pelatih Arema tersebut, hasil melawan Timor Leste bisa menjadi modal penting sebelum Indonesia menjalani dua pertandingan yang lebih berat, yakni menghadapi Vietnam dan Singapura.
Gusnul menilai laga kontra Timor Leste menjadi momen yang tepat bagi pelatih John Herdman untuk melakukan sejumlah penyesuaian dalam susunan pemain. Ia mengamati masih ada beberapa pemain yang belum mampu menampilkan performa terbaik ketika menghadapi Kamboja.
“Saya kira John Herdman perlu melakukan rotasi. Saya amati ada beberapa pemain yang kurang maksimal saat melawan Kamboja lalu. Pemain itu bukan jelek, tapi belum sepenuhnya bisa mengikuti pakem permainan John Herdman,” jelasnya.
Tampil Lebih Efektif
Meski begitu, Gusnul menegaskan tujuan utama perubahan komposisi pemain bukan sekadar memberi kesempatan tampil kepada pemain lain.
Ia berharap langkah tersebut dapat membuat Timnas Indonesia tampil lebih efektif sehingga mampu meraih kemenangan dengan margin gol yang meyakinkan.
Di sisi lain, Indonesia juga masih harus menghadapi dua lawan terkuat di Grup A, yakni Vietnam dan Singapura. Karena itu, Gusnul menilai Skuad Garuda tidak boleh kehilangan poin pada dua pertandingan tersebut apabila ingin memastikan langkah ke semifinal.
“Jika tahu kedalaman tim secara utuh, John Herdman tak ragu lagi dengan kekuatan Timnas Indonesia untuk melawan Vietnam dan Singapura nanti. Apalagi kita tak boleh terpeleset di partai itu jika ingin lolos ke semifinal,” kata Gusnul.
Ada banyak perdebatan yang selalu muncul dalam dunia sepak bola. Siapa pemain terbaik sepanjang masa? Siapa yang paling layak memenangkan Ballon d’Or? Benarkah gol Geoff Hurst benar-benar melewati garis gawang?
Daftarnya nyaris tak ada habisnya, dan untuk sebagian besar pertanyaan tersebut, jawabannya tentu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang masing-masing orang.
Hal yang sama juga berlaku ketika membahas siapa tim terbaik dalam sejarah sepak bola. Selama bertahun-tahun, begitu banyak tim luar biasa yang tidak hanya mengukir warisan prestasi, tetapi dalam beberapa kasus juga memberikan dampak budaya yang melampaui dunia sepak bola.
Karena itulah, menyusun daftar tim-tim terbaik sepanjang masa bukanlah pekerjaan yang mudah.
Namun, berdasarkan riset yang dilakukan OLBG dan dikutip The Sun, Rabu (30/7/2026), para penggemar telah memberikan suara untuk menentukan tim-tim terbaik yang pernah tampil di lapangan hijau.
Hasil pemungutan suara tersebut kemudian menghasilkan daftar 10 tim terbaik sepanjang sejarah sepak bola, yang diurutkan berdasarkan jumlah suara yang diperoleh.
Real Madrid: 1984-1990
Antara 1984 hingga 1990, Real Madrid kembali menikmati salah satu era keemasan mereka yang dipimpin oleh kelompok legendaris “La Quinta del Buitre”, yang beranggotakan Emilio Butragueno, Michel, Miguel Pardeza, Manolo Sanchís, dan Rafael Martín Vazquez.
Dikenal dengan gaya bermain menyerang yang atraktif, Real Madrid mendominasi sepak bola Spanyol pada periode tersebut. Di bawah arahan pelatih Luis Molowny dan Leo Beenhakker, Los Blancos berhasil meraih lima gelar La Liga secara beruntun (1985-1990), dua trofi Piala UEFA (1985 dan 1986), satu Copa del Rey (1989), serta tiga gelar Piala Super Spanyol.
Jauh sebelum era Galacticos, inilah skuad Real Madrid yang lebih dekat dengan akar tradisi klub. Meski tidak dihuni banyak bintang hasil transfer mahal, mereka tetap mampu menunjukkan kehebatan dan mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa.
Prestasi Real Madrid (1984-1990):
La Liga: 5 kali Copa del Rey: 1 kali Copa de la Liga: 1 kali Supercopa de Espana: 3 kali Piala UEFA/UEFA Europa League: 2 kali
Manchester United:1966-1968
Manchester United berhasil bangkit secara luar biasa dari tragedi Munich Air Disaster pada 1958 yang menghancurkan klub. Hanya berselang 10 tahun, Setan Merah mencatat sejarah sebagai klub Inggris pertama yang menjuarai Piala Champions Eropa (European Cup).
Di bawah arahan manajer legendaris Sir Matt Busby, yang juga selamat dari kecelakaan tersebut, Manchester United dibangun kembali dengan perpaduan pemain muda dan senior berpengalaman. Tim ini diperkuat sejumlah bintang seperti George Best, Bobby Charlton (penyintas tragedi Munich), Denis Law, dan Nobby Stiles.
Fakta Menarik: George Best, Denis Law, dan Bobby Charlton menjadi satu-satunya trio dalam sejarah sepak bola yang sama-sama memenangkan Ballon d’Or saat masih membela klub yang sama.
Keberhasilan menjuarai European Cup 1968 setelah mengalahkan Benfica di Wembley, markas sepak bola Inggris, menjadi puncak kisah kebangkitan MU dari tragedi menjadi kejayaan. Momen tersebut juga dianggap sebagai salah satu fondasi yang membentuk kebesaran klub berjuluk Setan Merah hingga saat ini.
Prestasi Manchester United (1966-1968)
Divisi Pertama Inggris (First Division): 1 kali FA Charity Shield: 1 kali European Cup (Liga Champions): 1 kali
Manchester City: 2022-2023
Musim 2022/2023 menjadi tonggak bersejarah bagi Manchester City setelah berhasil menjadi tim kedua dalam sejarah sepak bola Inggris yang meraih treble winners. Di bawah arahan Pep Guardiola, The Citizens tampil luar biasa dengan permainan taktis yang brilian dan konsistensi yang mengesankan sepanjang musim.
Manchester City sukses menyalip Arsenal dalam perburuan gelar Premier League, kemudian mengalahkan Manchester United dengan skor 2-1 di final Piala FA, sebelum menuntaskan musim impian dengan menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya lewat kemenangan 1-0 atas Inter Milan.
Di lini depan, Erling Haaland menjadi sosok paling menonjol setelah mencetak 52 gol di semua kompetisi, sekaligus membuktikan diri sebagai rekrutan terbaik musim itu. Ia mendapat dukungan penting dari Kevin De Bruyne dan Rodri, yang menjadi motor permainan Manchester City.
Keberhasilan meraih treble sekaligus mengakhiri penantian panjang City untuk mengangkat trofi Liga Champions. Pencapaian tersebut juga mengukuhkan Manchester City sebagai salah satu klub terbaik di dunia.
Prestasi Manchester City (2022/2023)
Premier League Piala FA (FA Cup) Liga Champions (Champions League)
Arsenal: 2003-2004
Musim 2003/2004 menjadi salah satu periode paling bersejarah dalam perjalanan Arsenal. Di bawah arahan Arsene Wenger, The Gunners menjuarai Premier League tanpa sekalipun menelan kekalahan, sehingga mendapat julukan legendaris “The Invincibles”.
Tim racikan Wenger dianggap sebagai simbol masuknya filosofi sepak bola modern Eropa ke Inggris. Bahkan, pelatih asal Prancis itu kerap disebut sebagai sosok yang mengubah budaya sepak bola Inggris, baik dari segi gaya bermain maupun pendekatan profesional terhadap tim.
Arsenal diperkuat sederet pemain bintang seperti Thierry Henry, yang menjadi top skor Premier League musim itu. Selain Henry, ada kapten Patrick Vieira, Dennis Bergkamp, Robert Pires, hingga Sol Campbell, yang menuai kontroversi setelah pindah dari Tottenham Hotspur. Kepindahan Campbell terbukti menjadi keputusan tepat karena ia menjadi bagian penting dari kesuksesan Arsenal.
Hingga kini, banyak pihak masih menganggap skuad The Invincibles sebagai salah satu, bahkan mungkin tim terbaik dalam sejarah Premier League. Namun, fakta bahwa mereka hanya meraih satu trofi selama rangkaian 49 pertandingan tak terkalahkan membuat posisi mereka dalam daftar tim terbaik sepanjang masa sedikit tertahan.
Prestasi Arsenal (2003/2004):
Premier League (Juara tanpa terkalahkan)
Spanyol: 2008-2012
Jika ingin melihat seperti apa dominasi di level sepak bola internasional, maka lihatlah Timnas Spanyol pada periode 2008 hingga 2012. Mengusung gaya bermain tiki-taka yang mulai dipopulerkan Pep Guardiola bersama Barcelona, La Roja tampil nyaris tak tersentuh ketika tim-tim lain kesulitan menghadapi permainan penguasaan bola mereka.
Spanyol berhasil menjuarai tiga turnamen besar secara beruntun, yakni Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012. Pencapaian tersebut membuat mereka menjadi satu-satunya tim nasional yang mampu mencatatkan prestasi seperti itu.
Kekuatan utama Spanyol terletak di lini tengah yang dipenuhi pemain kelas dunia. Mereka memiliki banyak pilihan, mulai dari Xavi, Andrés Iniesta, Cesc Fàbregas, Sergio Busquets, hingga Xabi Alonso. Sementara di lini belakang, hadir nama-nama seperti Sergio Ramos, Gerard Piqué, dan Carles Puyol, yang menjadikan pertahanan La Roja sangat sulit ditembus lawan.
Generasi Spanyol saat ini, yang diperkuat pemain seperti Rodri dan Lamine Yamal, juga mulai menorehkan prestasi setelah menjuarai Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Jika mampu memenangkan satu turnamen besar lagi, mereka berpeluang menyamai warisan luar biasa yang ditinggalkan generasi emas 2008-2012.
Prestasi Spanyol (2008-2012)
Juara Piala Eropa (UEFA Euro): 2 kali (2008 dan 2012) Juara Piala Dunia FIFA: 1 kali (2010)
Real Madrid: 1955-1960
Jika ada satu tim yang benar-benar mendefinisikan dominasi sepak bola Eropa pada era awal kompetisi antarklub, maka jawabannya adalah Real Madrid periode 1955 hingga 1960. Los Blancos mencatat sejarah dengan menjuarai lima edisi pertama European Cup (kini Liga Champions) secara beruntun, sebuah rekor yang hingga kini belum mampu disamai klub mana pun.
Dipimpin legenda Alfredo Di Stéfano, Real Madrid diperkuat sederet pemain hebat seperti Ferenc Puskás, Paco Gento, Raymond Kopa, dan kemudian José Santamaría. Mereka dikenal memainkan sepak bola menyerang yang atraktif, cepat, dan penuh kreativitas.
Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final European Cup 1960, ketika Real Madrid membantai Eintracht Frankfurt dengan skor 7-3. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan terbaik dalam sejarah sepak bola.
Era keemasan ini menjadikan Real Madrid sebagai simbol sepak bola Eropa sekaligus meletakkan fondasi bagi status mereka sebagai salah satu klub terbesar dan paling sukses di dunia.
Prestasi Real Madrid (1955-1960)
La Liga: 3 gelar European Cup (Liga Champions): 5 gelar Piala Interkontinental: 1 gelar
Liverpool: 1975-1984
Pada periode 1975 hingga 1984, Liverpool membangun salah satu dinasti paling dominan dalam sejarah sepak bola. Di bawah arahan Bob Paisley, yang kemudian diteruskan Joe Fagan, The Reds menguasai seni meraih kemenangan dengan cara yang tenang, konsisten, dan efektif, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.
Selama kurun waktu tersebut, Liverpool sukses meraih tujuh gelar Divisi Pertama Inggris (First Division), tiga trofi European Cup (1977, 1978, dan 1981), satu Piala UEFA (1976), serta empat gelar Piala Liga Inggris (League Cup) secara beruntun.
Skuad Liverpool saat itu dipenuhi para pemain legendaris. Ada Kenny Dalglish dengan kecerdasan bermainnya, Graeme Souness yang tangguh di lini tengah, Kevin Keegan dengan semangat juangnya, Ian Rush sebagai mesin gol, serta duet Alan Hansen dan Ray Clemence yang menjadi pilar kokoh di lini pertahanan.
Liverpool pada era tersebut tidak sekadar mengoleksi trofi. Mereka menjadi simbol dominasi dan menetapkan standar kesuksesan yang hanya mampu disamai oleh sedikit klub hingga saat ini.
Prestasi Liverpool (1975-1984)
Divisi Pertama Inggris (First Division): 7 gelar European Cup (Liga Champions): 3 gelar Piala UEFA: 1 gelar Piala Liga Inggris (League Cup): 4 gelar Piala FA: 5 gelar Piala Super Eropa (UEFA Super Cup): 1 gelar
Brazil 1970
Jika ada satu tim nasional yang layak disebut sebagai yang terbaik sepanjang masa, maka Brasil 1970 adalah jawabannya. Tim inilah yang benar-benar menggambarkan keindahan sepak bola.
Pada era ketika siaran pertandingan internasional belum semudah sekarang diakses, Brasil memukau dunia lewat permainan menyerang yang atraktif, teknik individu kelas tinggi, dan aksi-aksi yang tak terlupakan di Piala Dunia 1970 di Meksiko.
Brasil menyapu bersih enam pertandingan yang mereka jalani untuk meraih gelar Piala Dunia ketiga dalam sejarah. Pada laga final, Selecao tampil dominan dan menghancurkan Italia dengan skor 4-1.
Skuad Brasil saat itu dipenuhi pemain-pemain legendaris. Pele, Jairzinho, Tostao, Rivelino, dan Carlos Alberto membentuk lini serang yang begitu cair, kreatif, dan sulit dihentikan. Pergerakan mereka yang dinamis serta kemampuan teknik luar biasa membuat setiap lawan kewalahan.
Pelé juga mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali. Sementara itu, gol Carlos Alberto di partai final hingga kini masih dikenang sebagai salah satu gol terbaik dan paling ikonis dalam sejarah sepak bola.
Banyak pihak menilai Brasil 1970 sebagai representasi sempurna dari “jogo bonito” atau sepak bola indah, sekaligus tim nasional terbaik yang pernah menghiasi panggung dunia.
Prestasi Brasil (1970):
Juara Piala Dunia FIFA: 1 gelar (1970)
Barcelona: 2008-2012
Di bawah arahan Pep Guardiola, Barcelona melahirkan gaya bermain tiki-taka yang memadukan pressing tanpa henti, umpan-umpan pendek, dan penguasaan posisi yang luar biasa. Permainan mereka bukan sekadar mendominasi lawan, tetapi juga merevolusi sepak bola modern hingga menjadi standar yang masih dijadikan acuan sampai sekarang.
Karena itulah, cukup mengejutkan ketika tim ini hanya menempati peringkat kedua dalam daftar tim sepak bola terbaik sepanjang masa berdasarkan hasil pemungutan suara.
Pada periode tersebut, Los Cules sukses meraih tiga gelar La Liga, dua trofi Liga Champions (2009 dan 2011), dua Copa del Rey, serta dua gelar Piala Dunia Antarklub FIFA.
Kesuksesan Barcelona dibangun di atas fondasi generasi emas. Lionel Messi tampil dalam performa terbaik sepanjang kariernya, didukung oleh duet maestro lini tengah Xavi dan Andrés Iniesta, serta sederet pemain kelas dunia lainnya.
Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final Liga Champions 2011, ketika Barcelona mengalahkan Manchester United. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan tim paling sempurna dalam sejarah sepak bola sekaligus menjadi puncak kejayaan skuad legendaris racikan Guardiola.
Prestasi Barcelona (2008-2012)
La Liga: 3 gelar Copa del Rey: 2 gelar Supercopa de España: 3 gelar Liga Champions: 2 gelar Piala Super UEFA: 2 gela rPiala Dunia Antarklub FIFA: 2 gelar
Manchester United: 1998-1999
Treble yang diraih Manchester City pada 2022/2023 memang luar biasa. Namun, banyak yang menilai pencapaian Manchester United pada musim 1998/1999 lebih istimewa karena mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil meraih prestasi tersebut dan harus melewati tantangan yang jauh lebih berat.
Meski Setan Merah sudah menjadi kekuatan dominan di Inggris sepanjang dekade 1990-an, persaingan di kasta tertinggi sepak bola Inggris saat itu dinilai lebih sengit dibanding ketika Manchester City menjuarai treble pada 2023. Selain itu, kualitas kompetisi Eropa juga jauh lebih kompetitif.
Pada masa itu, Premier League belum menjadi liga terkuat di dunia seperti sekarang. La Liga, Serie A, dan Bundesliga justru dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi.
Perjalanan Manchester United menuju gelar Liga Champions 1998/1999 juga penuh rintangan. Tim asuhan Sir Alex Ferguson harus bersaing dengan Barcelona di fase grup, kemudian menyingkirkan Inter Milan dan Juventus di babak gugur, sebelum menghadapi Bayern Munchen, yang juga menjadi lawan mereka di fase grup, pada laga final.
Final melawan Bayern menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah sepak bola. Manchester United membalikkan keadaan lewat dua gol pada injury time untuk menang 2-1 dan memastikan gelar Liga Champions sekaligus menyempurnakan raihan treble.
Mental pantang menyerah dan kemampuan bangkit di saat-saat krusial membuat tim Manchester United musim 1998/1999 dikenang sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa. Bahkan, berdasarkan hasil pemungutan suara para penggemar, skuad tersebut dinobatkan sebagai tim sepak bola terbaik sepanjang sejarah.
Prestasi Manchester United (1998/1999)
Premier League Piala FA (FA Cup) Liga Champions (European Cup)
Rekrutan anyar Persib Bandung, Mariano Peralta, langsung merasakan besarnya magnet Maung Bandung. Kedatangan penyerang asal Argentina itu membawa dampak signifikan terhadap popularitasnya di media sosial.
Jumlah pengikut akun Instagram Mariano Peralta melonjak tajam. Padahal, pemain berusia 28 tahun tersebut belum menjalani debutnya bersama Persib Bandung.
Saat diumumkan sebagai pemain anyar Persib pada Minggu (19/7/2026), akun Instagram Peralta tercatat memiliki sekitar 200ribu pengikut. Namun, hanya dalam waktu sepuluh hari follower Peralta menyentuh angka 532ribu.
Peralta memang belum menjalani debut karena baru tiba di Bandung pada Senin (27/8/2026) malam. Kedatangan Peralta pun langsung disambut hangat manajer Persib, Umuh Muchtar di Stasiun Tegalluar, Bandung.
Sudah di Bandung
Dia juga turut hadir di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Selasa (28/7/2026), saat Maung Bandung menghadapi DPMM FC pada laga Grup A Piala Presiden 2026
Peralta menjadi sosok yang paling dinanti kedatangannya di Persib. Pasalnya, eks pemain Borneo FC tersebut datang dengan status sebagai pemain terbaik BRI Super League 2025/2026.
Musim lalu Peralta tampil impresif bersama Borneo FC. Ia sukses mencetak 20 gol dan 14 assist dari 34 pertandingan yang telah dilalui Pesut Etam.
Sosok di Balik Transfer Peralta
Sebelum berlabuh ke Persib, Peralta disebut bakal bergabung dengan Persija Jakarta. Namun, proses negosiasi kedua belah pihak tidak menemui kata sepakat, sehingga Macan Kemayoran gagal mendapatkan jasa Peralta.
Situasi itu langsung dimanfaatkan Persib yang juga memiliki ketertarikan dengan mantan pemain klub Argentina, San Lorenzo. Hingga akhirnya, Persib resmi mengikat Peralta dengan durasi kontrak selama dua musim.
Pelatih Persib, Igor Tolic mengakui untuk mendatangkan Peralta ke Bandung tidak mudah. Tetapi, manajemen Persib bekerja keras dan tidak kenal waktu untuk mendapatkan tanda tangan Peralta.
“Soal transfer Peralta, Stanley (Sporting Director Persib) bekerja tanpa tidur selama satu bulan. Karena itu negosiasi, semua hal bisa terjadi. Semuanya sangat dinamis, dan Anda tahu siapa saja pesaingnya. Jadi, itu tidak mudah. Tapi pada akhirnya kami berhasil menyelesaikannya,” ujar Igor belum lama ini.
Penyerang sayap anyar Persib, Mariano Peralta, akhirnya tiba di Kota Bandung pada Senin (27/7/2026) pukul 21.19 WIB.
Pemain asal Argentina itu datang ke Bandung dengan naik Lereta api cepat Whoosh. Ia disambut Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar setibanya di stasiun Tegalluar, Kota Bandung.
Mariano Peralta mengaku sangat senang setibanya di Stasiun Tegalluar setelah menempuh perjalanan dari Argentina ke Indonesia.
“Ya, tentu. Saya sangat senang berada di sini, di klub yang sangat besar,” kata Peralta.
“Sekarang saya siap membantu tim dan menjalankan tugas saya sebaik mungkin. Hanya itu. Terima kasih,” tambah Peralta.
Ditanya kemungkinan siap untuk pertandingan di Piala Presiden 2026, eks pemain Borneo FC Samarinda ini sambil tersenyum belum siap untuk dimainkan.
Kedatangan Peralta ke Persib sangat dinantikan para Bobotoh. Bahkanpara Bobotoh sangat menyambut positif winger asal Argentina tersebut.
“Saya tahu. Menurut saya, di sini memiliki basis suporter yang sangat besar. Terima kasih kepada Bobotoh. Dan saya juga ingin mengucapkan terima kasih atas sambutannya,” tutur Peralta.
Rasa bahagia juga ditunjukan Komisaris PT Persib, Umuh Muchtar. Menurutnya, janji kepada Bobotoh untuk mendatangkan Peralta akhirnya terwujud.
“Saya sangat senang. Saya sudah bilang kepada Bobotoh dan selalu bilang untuk tenang. Alhamdulillah, malam ini dia baru tiba di Stasiuni KCIC Tegalluar ini,” kata Umuh Muchtar.
Tak Bisa Main Lawan DPMM FC
Umuh memastikan Peralta tidak akan bisa dimainkan pada laga besok (Selasa, 28/7/2026), melawan DPMM FC, Brunei Darussalam pada laga kedua Grup A Piala Presiden 2026
“Banyak yang tanya, besok bisa main? Tidak mungkin karena masih capek, harus istirahat dulu. Mungkin nanti ke depan,” ucap Umuh.
“Mudah-mudahan Persib ini bisa menang, nanti baru bisa main, insya Allah, ya. Itu saja yang bisa saya sampaikan. Nanti pelatih yang menentukan, ya,” pungkas Umuh.
Timnas Indonesia memulai perjuangannya di Piala AFF 2026 dengan menghadapi Kamboja pada laga pertama Grup A, Senin (27/7/2026).
Pertandingan ini menjadi kesempatan bagi skuad Garuda untuk mengawali turnamen dengan hasil positif demi membuka jalan menuju babak semifinal.
Laga Indonesia kontra Kamboja dijadwalkan berlangsung di Stadion Pakansari, Bogor, pada Senin, 27 Juli 2026, dengan kick-off pukul 20.30 WIB.
Pertandingan ini dapat disaksikan melalui siaran langsung televisi nasional serta layanan live streaming resmi.
Jadwal Timnas Indonesia vs Kamboja
Berikut jadwal pertandingan perdana Timnas Indonesia di Piala AFF 2026:
Pertandingan: Indonesia vs Kamboja
Hari/Tanggal: Senin, 27 Juli 2026
Kick-off: 20.30 WIB
Stadion: Pakansari, Bogor
Laga Krusial untuk Membuka Peluang Melangkah Jauh
Timnas Indonesia tergabung di Grup A Piala AFF 2026 bersama Vietnam, Singapura, Timor Leste, dan Kamboja. Persaingan di grup ini diprediksi berlangsung ketat karena hanya dua tim terbaik yang berhak melaju ke babak semifinal.
Menghadapi Kamboja pada pertandingan pertama menjadi kesempatan bagi skuad Garuda untuk membangun kepercayaan diri sebelum menghadapi lawan-lawan yang lebih berat, termasuk Vietnam dan Singapura.
Jadwal Timnas Indonesia di Fase Grup
Setelah menghadapi Kamboja, Timnas Indonesia masih memiliki tiga pertandingan lain di fase grup:
27 Juli 2026: Indonesia vs Kamboja 31 Juli 2026: Timor Leste vs Indonesia 3 Agustus 2026: Indonesia vs Vietnam 7 Agustus 2026: Singapura vs Indonesia Rangkaian pertandingan tersebut akan menjadi penentu langkah Indonesia dalam upaya merebut tiket ke semifinal Piala AFF 2026.
Timnas Indonesia Bidik Awal Sempurna
Bermain di hadapan pendukung sendiri membuat Indonesia diunggulkan untuk meraih kemenangan atas Kamboja.
Selain mengincar tiga poin, hasil positif pada laga pembuka juga penting untuk meningkatkan moral tim sebelum memasuki pertandingan-pertandingan berikutnya yang diprediksi lebih berat.
Dengan persiapan yang matang dan dukungan penuh dari suporter, Timnas Indonesia berharap dapat memulai perjalanan di Piala AFF 2026 dengan kemenangan sekaligus menjaga asa melangkah jauh di turnamen sepak bola paling bergengsi di Asia Tenggara tersebut.