28 Oktober 2026

> BERITA BOLA INDONESIA

Berita sepak bola sajian Info Berita Lokal, Tarkam, Liga Domestik, liga 3, liga 2, Hingga Liga 1 Indonesia.

Idnews.Top – Tempat menonton pertandingan 32 besar Piala Dunia 2026 antara Kolombia vs Ghana. Bolaneters bisa menonton laga mendebarkan ini melalui sejumlah saluran berikut ini.

Babak 32 besar Piala Dunia 2026 mempertemukan Kolombia dan Ghana di Arrowhead Stadium, Kansas City, Sabtu (4/7) pukul 08.30 WIB. Di atas kertas, Kolombia diunggulkan berkat kualitas individu dan performa konsisten sepanjang turnamen.

Kelebihan utama Los Cafeteros terletak di sektor sayap, dengan Daniel Munoz dan Luis Diaz sebagai motor serangan. Kecepatan dan agresivitas mereka diprediksi akan menyulitkan pertahanan Ghana yang terkenal kokoh. Sebelumnya, tim kuat seperti Inggris dan Kroasia kesulitan membongkar pertahanan Ghana karena terlalu fokus menyerang dari tengah. Kolombia hadir dengan strategi berbeda, memaksimalkan lebar lapangan untuk menciptakan peluang.

Daniel Munoz sendiri datang dengan momentum positif setelah mencetak gol ke gawang RD Kongo di fase grup. Performa apiknya menjadi modal berharga bagi tim asuhan Nestor Lorenzo.

Meski tidak diunggulkan, Ghana tetap menyimpan peluang kejutan. Organisasi pertahanan disiplin menjadi kekuatan utama mereka untuk meredam serangan lawan. Di lini depan, kehadiran pemain berpengalaman seperti Jordan Ayew menjadi senjata mematikan dalam skema serangan balik, terutama saat pemain Kolombia terlalu asyik menyerang ke depan.

Dengan Kolombia yang mengandalkan sayap dan Ghana yang siap menunggu di belakang, laga ini menjanjikan duel taktik menarik antara serangan agresif dan pertahanan terorganisir.

Tempat Menonton Kolombia vs Ghana

Kompetisi: Piala Dunia 2026
Pertandingan: Kolombia vs Ghana
Tempat: Arrowhead Stadium, Kansas City
Hari, tanggal: Sabtu, 4 Juli 2026
Jam kick-off: 08.30 WIB
Siaran langsung: TVRI dan TVRI Sport
Live Streaming: Maxstream, Folaplay
Link Streaming: https://maxstream.tv/live/0_t2lownf9/kolombia_vs_ghana

DISCLAIMER: Semua informasi mengenai jadwal siaran TV yang disajikan disusun berdasarkan data yang tersedia untuk umum pada saat penulisan. Stasiun televisi terkait berhak melakukan perubahan jadwal, penundaan, atau pembatalan program siaran tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Prakiraan Susunan Pemain Kolombia vs Ghana

Kolombia (4-3-3): Vargas; Munoz, Lucumi, Sanchez, Mojica; Puerta, Lerma, Arias; Rodriguez, Suarez, Diaz

Pelatih: Nestor Lorenzo

Ghana (4-5-1): Asare; Senaya, Adjetey, Luckassen, Mensah; Sulemana, Partey, Owusu, Sibo, Semenyo; Ayew

Pelatih: Carlos Queiroz

Idnews.Top – Sebuah catatan kurang baik datang bagi sepak bola Asia. Tidak ada satu-pun perwakilan AFC yang lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Seperti yang sudah diketahui, Piala Dunia 2026 mengubah format turnamennya. Sebelumnya, Piala Dunia hanya diikuti oleh 32 tim, namun mulai edisi 2026 ini jumlah pesertanya meningkat menjadi 48.

Peningkatan kuota tersebut membuat jatah AFC di Piala Dunia 2026 jadi naik. Total Asia mengirimkan sembilan wakil ke Piala Dunia 2026, di mana ada dua tim debutan yaitu Yordania dan Uzbekistan.

Di awal turnamen, banyak yang memprediksi ada setidaknya satu atau dua wakil Asia yang melaju jauh di turnamen ini. Namun sayang, apa yang terjadi di lapangan tidak seindah harapan.

Sudah Berguguran di Fase Grup

Jangankan melaju jauh di Piala Dunia 2026, wakil-wakil Asia justru berguguran di fase grup.

Korea Selatan dan Iran finish di peringkat ketiga namun gagal mengamankan status peringkat ketiga terbaik untuk lolos ke babak 32 besar. Sementara Uzbekistan, Yordania, Qatar, Irak dan Arab Saudi sukses jadi juru kunci di masing-masing grup.

Alhasil hanya dua wakil Asia yang lolos ke babak gugur, yaitu Timnas Jepang yang jadi runner up grup F dan Australia yang jadi runner up grup D.

Tersingkir di 32 Besar

Ada harapan yang besar bahwa Jepang dan Australia bisa membawa Asia melaju jauh di Piala Dunia 2026. Namun sayang kenyataan di lapangan lebih pahit dari yang kita duga.

Di babak 32 besar, Jepang langsung bertemu dengan salah satu unggulan juara, Brasil. Sempat mengimbangi permainan Brasil, namun The Samurai Blue harus menelan kekecewaan usai Gabriel Martinelli mencetak gol kemenangan Brasil di masa injury time.

Sementara Australia juga harus menelan kekalahan di babak 32 besar. Sempat mengimbangi Mesir dengan skor 1-1 di waktu normal, Socceroos tumbang di babak adu penalti dengan skor 2-4.

Tersingkirnya Australia membuat Asia sudah tidak punya wakil di Piala Dunia 2026. AFC menjadi konfederasi kedua yang sudah tidak punya wakil di Piala Dunia 2026 setelah OFC, di mana satu-satunya wakil OFC, Selandia Baru tumbang di fase gurp.

Tangis Mohamed Salah! Panenka Ikonik Bawa Mesir Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026

BolaIndonesia – Mohamed Salah kembali membuktikan mengapa dirinya menjadi ikon sepak bola Mesir. Sang kapten tampil sebagai sosok sentral saat membawa The Pharaohs melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Australia melalui drama adu penalti yang mendebarkan.

Laga yang berlangsung sengit selama 120 menit berakhir dengan skor 1-1 sebelum Mesir memastikan kemenangan 4-2 lewat adu penalti. Salah menjadi sorotan utama berkat eksekusi penalti bergaya Panenka yang berani sekaligus penuh ketenangan, sebuah momen yang langsung menjadi perbincangan dunia sepak bola. Kemenangan tersebut juga menjadi pencapaian bersejarah bagi Mesir yang sukses memenangkan pertandingan fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Pertandingan Penuh Tekanan Sejak Menit Awal

Mesir sebenarnya membuka keunggulan lebih dahulu melalui sundulan Emam Ashour pada menit ke-13 setelah memanfaatkan rangkaian serangan yang dibangun dari sisi kiri lapangan. Australia kemudian meningkatkan intensitas permainan dan akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri Mohamed Hany di babak kedua.

Setelah skor kembali imbang, kedua tim saling berhati-hati. Peluang emas memang tercipta, termasuk beberapa kesempatan yang melibatkan Salah, namun penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat pertandingan harus berlanjut hingga babak tambahan waktu.

Meski tampil dominan dalam beberapa fase pertandingan, Mesir gagal mencetak gol kemenangan sehingga drama adu penalti tak dapat dihindari.

Panenka Salah Jadi Simbol Kepercayaan Diri

Ketika tekanan mencapai titik tertinggi, Mohamed Salah justru memperlihatkan ketenangan luar biasa.

Sebagai algojo ketiga Mesir, pemain berusia 34 tahun itu memilih melakukan tendangan Panenka, yakni sebuah teknik penalti dengan mencungkil bola pelan ke tengah gawang ketika kiper telah menjatuhkan diri.

Keputusan tersebut sangat berisiko. Jika gagal, Salah akan menjadi sasaran kritik. Namun sang kapten memperlihatkan mental kelas dunia. Bola meluncur mulus ke tengah gawang sementara penjaga gawang Australia sudah bergerak ke sisi lain.

Sorak sorai pendukung Mesir pun pecah. Eksekusi tersebut langsung menjadi salah satu momen paling ikonik sepanjang Piala Dunia 2026 sekaligus menunjukkan kualitas mental seorang pemimpin di bawah tekanan.

Tangis Haru Setelah Peluit Akhir

Usai Hossam Abdelmaguid memastikan kemenangan Mesir melalui penalti penentu, emosi Mohamed Salah akhirnya tak lagi terbendung.

Kapten Mesir terlihat berkaca-kaca bahkan nyaris menangis ketika merayakan keberhasilan bersama rekan-rekannya. Momen itu menggambarkan betapa besar arti kemenangan tersebut bagi Salah yang telah bertahun-tahun membawa harapan jutaan rakyat Mesir.

Dalam wawancaranya setelah pertandingan, Salah menyebut kemenangan ini sebagai bagian dari sejarah baru sepak bola Mesir. Ia mengaku bangga karena generasi saat ini berhasil mencatatkan pencapaian yang selama puluhan tahun sulit diraih negaranya.

Strategi Australia Justru Berbalik Menjadi Bumerang

Australia sebenarnya telah menyiapkan strategi khusus menghadapi kemungkinan adu penalti. Pelatih Tony Popovic melakukan pergantian penjaga gawang menjelang babak tos-tosan dengan harapan mendapatkan keuntungan psikologis.

Namun keputusan tersebut justru tidak membuahkan hasil. Keempat penendang Mesir sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna, sementara Australia gagal memanfaatkan momentum dan harus menerima kenyataan tersingkir dari turnamen.

Tantangan Berat Menanti Mesir

Lolos ke babak 16 besar menjadi pencapaian luar biasa bagi Mesir, tetapi perjalanan mereka belum selesai. Selanjutnya The Pharaohs dijadwalkan menghadapi Argentina yang telah memastikan tiket ke fase berikutnya usai mengalahkan Cape Verde dalam pertandingan babak 32 besar. Duel tersebut diprediksi menjadi salah satu laga paling menarik karena mempertemukan Mohamed Salah dengan Lionel Messi di panggung Piala Dunia.

Panenka yang Akan Selalu Dikenang

Di luar hasil pertandingan, malam di Texas akan selalu dikenang sebagai malam milik Mohamed Salah. Bukan karena jumlah gol yang dicetaknya, melainkan karena keberanian mengambil keputusan yang tidak semua pemain berani lakukan dalam situasi paling menegangkan.

Panenka yang dingin, tangis haru setelah peluit akhir, serta keberhasilan membawa Mesir mencetak sejarah baru menjadikan pertandingan melawan Australia sebagai salah satu bab paling emosional dalam perjalanan karier Mohamed Salah. Di usia yang telah memasuki penghujung karier internasionalnya, sang “Raja Mesir” sekali lagi membuktikan bahwa pemain besar selalu hadir ketika negaranya paling membutuhkan.

Granit Xhaka Jadi Jenderal Lapangan Tengah, Swiss Bersinar di Piala Dunia 2026

BolaIndonesia – Granit Xhaka kembali membuktikan mengapa dirinya masih menjadi salah satu gelandang terbaik dunia di Piala Dunia 2026. Kapten Timnas Swiss itu tampil luar biasa saat memimpin negaranya mengalahkan Aljazair dengan skor 2-0 pada babak 32 besar, sekaligus mengantar Swiss melangkah ke babak 16 besar.

Meski namanya tidak tercatat di papan skor, kontribusi Xhaka terlihat jelas sepanjang pertandingan. Gelandang berusia 33 tahun tersebut menjadi pusat permainan Swiss, mengatur tempo, menjaga keseimbangan lini tengah, hingga memutus serangan lawan dengan ketenangan khas pemain berpengalaman.

Swiss memang tampil efektif lewat gol Breel Embolo dan Dan Ndoye. Namun di balik kemenangan itu, sosok Xhaka menjadi fondasi yang membuat permainan tim asuhan Murat Yakin berjalan begitu rapi dan disiplin. Swiss bahkan sukses meraih kemenangan fase gugur Piala Dunia pertama mereka sejak 1938, sebuah pencapaian bersejarah bagi negara tersebut.

Kapten yang Mengendalikan Permainan

Sepanjang laga, Xhaka menunjukkan kualitas yang sulit ditandingi. Ia hampir selalu menjadi opsi pertama dalam membangun serangan dari lini belakang.

Akurasi umpannya membuat Swiss mampu keluar dari tekanan Aljazair dengan tenang. Selain itu, visi bermainnya membantu rekan-rekannya menemukan ruang kosong untuk melancarkan serangan balik yang cepat.

Ketika Aljazair mulai meningkatkan intensitas serangan, Xhaka tetap tampil dingin. Ia mampu membaca arah permainan, menutup ruang lawan, sekaligus memberikan instruksi kepada para pemain muda di sekitarnya.

Kepemimpinan seperti inilah yang membuat Swiss mampu mengontrol jalannya pertandingan meski Aljazair sempat memiliki penguasaan bola yang cukup seimbang. Reuters juga menilai lini tengah Swiss yang dipimpin Xhaka menjadi kunci keberhasilan mereka meredam tekanan lawan sepanjang pertandingan.

Pengalaman Jadi Pembeda

Piala Dunia 2026 menjadi panggung yang memperlihatkan pentingnya pengalaman. Saat banyak tim mengandalkan energi pemain muda, Swiss memiliki kombinasi sempurna antara talenta muda dan sosok senior seperti Xhaka.

Pemain yang kini memperkuat Sunderland tersebut tampil sebagai mentor di lapangan. Ia tidak hanya fokus memainkan perannya sendiri, tetapi juga membantu menjaga organisasi permainan seluruh tim.

Ketenangan Granit Xhaka membuat para pemain muda seperti Johan Manzambi dapat bermain lebih lepas. Manzambi memang mencuri perhatian lewat assist indah untuk gol pembuka Embolo, namun kebebasan yang ia nikmati tidak lepas dari perlindungan dan keseimbangan yang diberikan Xhaka di lini tengah.

Statistik Tak Selalu Menggambarkan Pengaruhnya

Dalam sepak bola modern, pemain terbaik tidak selalu harus mencetak gol atau memberikan assist.

Peran Xhaka lebih banyak terlihat melalui keputusan-keputusan kecil yang menentukan jalannya pertandingan. Ia tahu kapan harus mempercepat tempo, kapan harus memperlambat permainan, hingga kapan harus melakukan pelanggaran taktis untuk menghentikan momentum lawan.

Kemampuan membaca pertandingan tersebut menjadi alasan mengapa Murat Yakin terus mempercayainya sebagai kapten tim nasional Swiss.

Selama lebih dari satu dekade membela negaranya, Xhaka telah berkembang menjadi simbol konsistensi dan kepemimpinan. Di Piala Dunia 2026, kualitas tersebut kembali terlihat saat Swiss menghadapi pertandingan hidup-mati.

Swiss Makin Percaya Diri Menuju Babak 16 Besar

Keberhasilan menyingkirkan Aljazair memberikan suntikan moral yang sangat besar bagi Swiss. Mereka kini bersiap menghadapi tantangan berikutnya di babak 16 besar dengan kepercayaan diri tinggi.

Performa solid Xhaka menjadi modal penting untuk menghadapi lawan yang lebih berat. Dengan pengalaman tampil di berbagai turnamen besar, ia diyakini akan kembali menjadi sosok sentral yang menentukan arah permainan Swiss.

Di usia yang sudah tidak muda lagi, Xhaka justru menunjukkan bahwa kualitas seorang gelandang tidak hanya diukur dari kecepatan atau kekuatan fisik, melainkan kecerdasan membaca permainan dan kemampuan memimpin rekan-rekannya.

Jika mampu mempertahankan performa seperti ini, bukan tidak mungkin Swiss akan melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026. Dan selama Granit Xhaka terus bermain di level terbaiknya, peluang tersebut akan selalu terbuka lebar.

BolaIndonesia – Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan pertandingan menarik pada 3 Juli 2026. Spanyol sukses mengamankan tiket ke babak 16 besar setelah tampil dominan atas Austria. Di sisi lain, Portugal akan menghadapi Kroasia dalam pertandingan yang diprediksi berlangsung sengit.

Selain persaingan di lapangan, bursa transfer Eropa juga semakin memanas. Sejumlah klub besar mulai bergerak untuk memperkuat skuad jelang musim baru.

Spanyol Tampil Meyakinkan ke Babak 16 Besar

Timnas Spanyol menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu kandidat juara. Sejak menit awal, La Furia Roja menguasai jalannya pertandingan dan mampu menciptakan banyak peluang.

Mikel Oyarzabal menjadi bintang kemenangan berkat dua gol yang dicetaknya. Sementara itu, Lamine Yamal kembali memperlihatkan performa luar biasa sehingga mendapat banyak pujian.

Berkat kemenangan tersebut, Spanyol melangkah ke babak berikutnya dengan kepercayaan diri tinggi. Kini mereka menjadi salah satu tim yang paling diwaspadai di fase gugur.

Portugal vs Kroasia Jadi Sorotan Dunia

Selanjutnya, perhatian pecinta sepak bola tertuju pada duel Portugal kontra Kroasia.

Portugal masih mengandalkan Cristiano Ronaldo sebagai pemimpin di lini depan. Sebaliknya, Kroasia membawa pengalaman serta organisasi permainan yang solid sehingga diyakini mampu memberikan perlawanan sengit.

Pertandingan ini diprediksi berlangsung ketat karena kedua tim sama-sama memiliki target lolos ke babak berikutnya. Oleh sebab itu, setiap peluang sekecil apa pun akan sangat menentukan hasil akhir.

Bursa Transfer Eropa Ikut Memanas

Selain Piala Dunia, kabar dari bursa transfer juga menjadi perhatian.

Tottenham Hotspur resmi menyelesaikan transfer gelandang muda Portugal, Mateus Fernandes. Kehadiran pemain berusia 21 tahun tersebut menjadi salah satu pembelian terbesar klub pada musim panas ini.

Di sisi lain, Manchester City terus aktif memperkuat skuad. Langkah tersebut menunjukkan bahwa persaingan Liga Inggris musim depan dipastikan semakin menarik.

Peluang Juara Semakin Terbuka

Memasuki fase gugur, persaingan Piala Dunia 2026 dipastikan semakin ketat. Setiap pertandingan kini menjadi laga hidup dan mati sehingga tidak ada lagi ruang untuk melakukan kesalahan.

Spanyol telah mengirim pesan kuat kepada para rivalnya. Namun demikian, Portugal masih berpeluang menyusul apabila mampu mengatasi perlawanan Kroasia.

Dengan kualitas pemain yang dimiliki masing-masing tim, para penggemar sepak bola dipastikan akan kembali disuguhkan pertandingan kelas dunia sepanjang babak gugur Piala Dunia 2026.

BolaIndonesia – Tottenham Hotspur benar-benar menunjukkan ambisi besar di bursa transfer musim panas 2026. Setelah sukses mengamankan gelandang muda berbakat Mateus Fernandes dengan nilai transfer fantastis, klub asal London Utara itu kini dikabarkan tinggal selangkah lagi merampungkan perekrutan Sandro Tonali dari Newcastle United.

Langkah agresif ini menjadi bukti bahwa manajemen Spurs tidak ingin mengulangi musim 2025/2026 yang nyaris berakhir dengan bencana. Setelah harus berjuang hingga pekan terakhir untuk memastikan tetap bertahan di Premier League, Tottenham kini memilih melakukan perombakan besar-besaran demi kembali bersaing di papan atas. Sejumlah laporan menyebut kedua klub telah mencapai kesepakatan transfer yang bernilai sekitar 100 juta poundsterling.

Nilai Transfer Fantastis Pecahkan Rekor Klub

Transfer Sandro Tonali diperkirakan akan menjadi pembelian termahal sepanjang sejarah Tottenham Hotspur. Kesepakatan tersebut disebut mencapai total 100 juta poundsterling, terdiri dari pembayaran awal sebesar

Angka tersebut bahkan melampaui rekor yang baru saja dibuat Tottenham saat mendatangkan Mateus Fernandes. Dalam hitungan beberapa hari saja, Spurs rela mengeluarkan dana hampir 200 juta poundsterling hanya untuk memperkuat sektor lini tengah.

Keberanian finansial tersebut memperlihatkan betapa seriusnya proyek baru Tottenham di bawah arahan Roberto De Zerbi.

Roberto De Zerbi Jadi Faktor Utama

Salah satu alasan terbesar yang membuat Sandro Tonali bersedia menerima pinangan Tottenham adalah kehadiran Roberto De Zerbi. Pelatih asal Italia itu memiliki hubungan yang sangat baik dengan Tonali sejak keduanya masih berkiprah di kompetisi Italia.

Beberapa laporan menyebut Tonali memang tertarik bekerja sama dengan De Zerbi meski sempat diminati sejumlah klub elite Premier League lainnya. Bahkan gelandang berusia 26 tahun tersebut dikabarkan telah bertolak ke London untuk menjalani tahapan akhir proses transfer, termasuk tes medis sebelum diperkenalkan secara resmi kepada publik.

Lini Tengah Tottenham Berubah Total

Jika transfer ini resmi diumumkan, maka Tottenham akan memiliki salah satu lini tengah paling menarik di Premier League musim depan. Kehadiran Mateus Fernandes yang dikenal kreatif dipadukan dengan kualitas bertahan, distribusi bola, dan pengalaman internasional milik Sandro Tonali diperkirakan mampu mengangkat performa Spurs secara signifikan.

De Zerbi tampaknya ingin membangun permainan yang lebih dominan dalam penguasaan bola. Tonali dinilai sebagai sosok ideal karena memiliki kemampuan mengatur tempo permainan sekaligus disiplin saat bertahan.

Dengan tambahan pemain-pemain baru di berbagai posisi, Tottenham mulai menunjukkan wajah baru yang jauh berbeda dibandingkan musim lalu.

Newcastle Siapkan Dana untuk Bangun Skuad Baru

Di sisi lain, Newcastle United disebut menerima tawaran besar tersebut karena mempertimbangkan aspek finansial sekaligus rencana membangun kembali skuad mereka.

Dana hasil penjualan Tonali diyakini akan digunakan untuk mendatangkan beberapa pemain baru agar kekuatan tim tetap kompetitif. Newcastle memang tengah melakukan restrukturisasi skuad setelah melepas sejumlah pemain penting dalam jendela transfer kali ini.

Bursa Transfer Tottenham Belum Berakhir

Meski sudah menghabiskan dana dalam jumlah sangat besar, aktivitas Tottenham diperkirakan belum selesai. Sejumlah laporan dari Inggris menyebut klub asal London Utara itu masih ingin menambah amunisi, khususnya di sektor penyerangan agar proyek besar Roberto De Zerbi semakin komplet.

Apabila seluruh rencana berjalan sesuai harapan, Tottenham berpotensi menjadi salah satu tim dengan perubahan skuad paling drastis di Premier League musim 2026/2027. Setelah mendatangkan Mateus Fernandes dan segera meresmikan Sandro Tonali, Spurs mengirimkan pesan tegas kepada para rival bahwa mereka siap kembali bersaing memperebutkan posisi papan atas, bahkan membuka peluang untuk ikut dalam perebutan gelar musim depan.

Spanyol Lolos ke 16 Besar, Marc Cucurella Jadi Arsitek Kemenangan atas Austria

BolaIndonesia – Marc Cucurella tampil luar biasa saat membawa Spanyol menyingkirkan Austria dengan skor meyakinkan 3-0 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Bek kiri yang dikenal berkat energi tanpa henti di sisi lapangan itu menjadi aktor penting di balik kemenangan La Furia Roja setelah terlibat dalam seluruh proses tiga gol yang bersarang ke gawang Austria.

Performa Cucurella membuktikan bahwa perannya bukan sekadar pemain bertahan. Ia menjadi motor serangan dari sisi kiri, terus memberikan ancaman melalui umpan-umpan akurat, overlap cepat, dan kerja sama apik dengan lini depan Spanyol.

Kemenangan ini sekaligus mengantarkan Spanyol melaju ke babak 16 besar dengan kepercayaan diri tinggi setelah memperlihatkan permainan paling dominan sepanjang turnamen.

Awal Laga, Cucurella Langsung Mengancam

Sejak peluit pertama dibunyikan, Spanyol langsung menguasai jalannya pertandingan. Penguasaan bola yang tinggi membuat Austria lebih banyak bertahan di wilayah sendiri.

Cucurella berkali-kali naik membantu serangan. Bahkan, ia sempat mencetak gol pada awal pertandingan. Namun gol tersebut dianulir wasit karena dinilai terjadi pelanggaran terhadap kiper Austria sebelum bola masuk ke gawang. Meski gagal mencatatkan nama di papan skor, bek Chelsea itu tidak kehilangan kepercayaan diri.

Ia terus memberikan tekanan melalui pergerakan agresif di sisi kiri dan menjadi sumber kreativitas bagi lini serang Spanyol.

Assist Perdana untuk Oyarzabal

Usaha Cucurella akhirnya membuahkan hasil pada babak pertama. Berawal dari penetrasi di sisi kiri, ia mengirim umpan datar yang sangat akurat ke depan gawang.

Mikel Oyarzabal berhasil menyambut bola tersebut dengan penyelesaian tenang untuk membawa Spanyol unggul 1-0.

Assist itu menjadi bukti kualitas visi bermain Cucurella. Alih-alih melepaskan umpan sembarangan, ia mampu memilih momen yang tepat sehingga Oyarzabal mendapatkan ruang ideal untuk menaklukkan kiper Austria.

Berperan Besar dalam Gol Kedua

Kontribusi Cucurella tidak berhenti sampai di sana. Pada gol kedua yang dicetak Pedro Porro, bek berusia 27 tahun itu kembali menjadi inisiator serangan.

Ia memulai rangkaian umpan cepat dari sisi kiri yang membuat pertahanan Austria kehilangan keseimbangan. Bola kemudian mengalir ke kotak penalti sebelum diselesaikan Porro melalui sundulan jarak dekat.

Meski tidak tercatat sebagai pemberi assist resmi, pergerakan dan umpannya menjadi kunci terciptanya gol kedua yang semakin memantapkan dominasi Spanyol sepanjang pertandingan.

Menutup Laga dengan Assist Kedua

Pada penghujung pertandingan, Cucurella kembali menunjukkan kualitasnya. Kali ini ia mengirim umpan terobosan yang sangat matang kepada Oyarzabal.

Sang striker tidak menyia-nyiakan peluang tersebut dan mencetak gol keduanya sekaligus memastikan kemenangan telak 3-0 untuk Spanyol.

Dengan dua assist dan keterlibatan langsung dalam proses gol kedua, Cucurella praktis menjadi pemain yang berkontribusi pada seluruh gol Spanyol dalam pertandingan tersebut. Penampilannya mendapat banyak pujian karena mampu tampil sama baiknya ketika menyerang maupun bertahan.

Kokoh Bertahan, Tajam Menyerang

Selain kontribusi ofensif, Cucurella juga tampil disiplin saat bertahan. Ia mencatat akurasi operan di atas 90 persen, memenangi duel penting, serta membantu Spanyol menjaga clean sheet.

Statistik tersebut semakin mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain paling konsisten di skuad Luis de la Fuente sepanjang turnamen. Bersama lini belakang Spanyol, ia sukses membuat Austria gagal menciptakan ancaman berarti ke gawang Unai Simón.

Modal Besar Menuju Babak 16 Besar

Pelatih Luis de la Fuente mengaku puas dengan performa anak asuhnya, tetapi tetap mengingatkan agar tim tidak cepat berpuas diri. Menurutnya, fase gugur berikutnya akan jauh lebih berat sehingga Spanyol harus mempertahankan intensitas permainan yang sama.

Spanyol kini bersiap menghadapi pemenang duel Portugal kontra Kroasia pada babak 16 besar. Jika Cucurella mampu mempertahankan performa seperti saat melawan Austria, peluang La Furia Roja melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 tentu semakin terbuka.

Penampilan impresif sang bek kiri menjadi bukti bahwa modern full-back bukan hanya bertugas menghentikan serangan lawan. Dalam sistem permainan Spanyol, Marc Cucurella justru menjelma sebagai salah satu senjata utama yang mampu menentukan hasil pertandingan melalui kontribusi nyata di kedua sisi lapangan.

Belgia menyingkirkan Senegal 3-2 lewat extra time di Seattle (2/7/2026) WIB. Ini comeback kedua Red Devils dari tertinggal dua gol di fase gugur setelah Jepang

Belgia kembali membalikkan keadaan di ajang empat tahunan tersebut. Red Devils menyingkirkan Senegal 3-2 lewat perpanjangan waktu pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, meski sempat tertinggal dua gol.

Laga di Lumen Field, Seattle, Kamis (2/7/2026) WIB, sempat mengarah ke kemenangan Senegal hingga menit-menit akhir waktu normal. Belgia memaksa extra time dan memastikan tiket ke babak 16 besar.

Hasil ini menambah daftar comeback Belgia dari ketertinggalan 0-2 pada fase gugur Piala Dunia. Sebelumnya, mereka melakukan hal serupa saat melawan Jepang di babak 16 besar Piala Dunia 2018.

Dua momen itu menempatkan Jepang dan Senegal sebagai korban kebangkitan dramatis Belgia di panggung Piala Dunia.

Lolos 16 Besar Usai Drama di Seattle

Senegal tampil lebih efektif di sebagian besar jalannya pertandingan. Mereka unggul lebih dulu melalui Habib Diarra pada menit ke-24, dan memperlebar jarak lewat Ismaila Sarr pada menit ke-51.

Belgia berada di ambang eliminasi ketika waktu normal memasuki fase krusial. Harapan skuad berjuluk Red Devils muncul saat Romelu Lukaku memperkecil ketertinggalan pada menit ke-86.

Tiga menit berselang, Youri Tielemans menyundul umpan Leandro Trossard untuk mengubah skor menjadi 2-2. Gol tersebut memaksa duel berlanjut ke perpanjangan waktu.

Ketika laga tampak menuju adu penalti, keputusan VAR menghadirkan babak baru. Wasit menunjuk titik putih setelah tinjauan menyatakan Tielemans dilanggar di kotak penalti.

Tielemans mengeksekusi sendiri kesempatan itu dan sukses pada menit 120+5. Belgia menang 3-2, mengamankan tempat di babak 16 besar dan mengakhiri laju Senegal dengan cara yang menyakitkan.

Jejak 2018: Jepang dan Awal Kebangkitan Red Devils

Delapan tahun sebelumnya, Belgia mencatat salah satu kebangkitan paling diingat di Piala Dunia. Pada babak 16 besar Piala Dunia 2018 di Rusia, lawannya kala itu adalah Jepang.

Samurai Biru mengejutkan lewat gol Genki Haraguchi pada menit ke-48. Empat menit kemudian, Takashi Inui menggandakan keunggulan menjadi 2-0.

Belgia merespons melalui Jan Vertonghen yang memperkecil skor. Tekanan berlanjut, dan Marouane Fellaini menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lima menit kemudian.

Memasuki detik-detik terakhir masa tambahan waktu, Belgia melancarkan serangan cepat dari area pertahanan sendiri. Nacer Chadli menuntaskan peluang untuk memastikan kemenangan 3-2.

Dua Momen, Satu Pola di Fase Gugur

Kemenangan atas Jepang pada 2018 tercatat sebagai comeback pertama Belgia dari ketertinggalan dua gol pada fase gugur Piala Dunia. Di edisi 2026, Senegal menjadi korban terbaru skenario serupa.

Kali ini, Belgia melakukannya di babak 32 besar dan berujung tiket ke babak 16 besar. Polanya sama: tertinggal 0-2, menyamakan kedudukan jelang akhir, lalu menuntaskan kemenangan 3-2.

Dua catatan tersebut menegaskan kemampuan Belgia untuk bangkit pada momen paling menentukan, dengan Jepang dan Senegal sama-sama merasakan pahitnya comeback Red Devils di Piala Dunia.

Idnews.top – Belgia seperti memiliki hubungan khusus dengan pertandingan yang tampak nyaris berakhir dengan kekecewaan. Ketika harapan mulai menipis, tim berjuluk Red Devils itu justru mampu menemukan jalan untuk membalikkan keadaan.

Pemandangan tersebut kembali terlihat pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Lumen Field, Seattle. Belgia tertinggal dua gol dari Senegal dan hanya beberapa menit lagi dari kepulangan lebih cepat.

Namun, sejarah ternyata belum selesai ditulis. Delapan tahun setelah membungkam Jepang lewat comeback ikonik, Belgia kembali menghadirkan cerita serupa dengan Senegal sebagai korban terbaru.

Saat Senegal Merasa Tiket Sudah di Tangan

Sepanjang sebagian besar pertandingan, Senegal tampil sebagai tim yang lebih dekat dengan kemenangan. Habib Diarra membuka keunggulan pada menit ke-24 sebelum Ismaila Sarr menggandakan skor pada awal babak kedua.

Skor 2-0 bertahan hingga laga memasuki fase akhir. Para pendukung Senegal mulai melihat babak 16 besar di depan mata, sementara Belgia tampak kehabisan waktu.

Keadaan berubah pada menit ke-86 ketika Romelu Lukaku mencetak gol yang menghidupkan harapan. Tiga menit kemudian, Youri Tielemans menyundul bola ke gawang Senegal dan membuat pertandingan kembali seimbang.

Perpanjangan waktu tidak langsung menghasilkan pemenang. Ketika adu penalti mulai terasa sebagai akhir yang paling mungkin, drama terakhir muncul pada masa tambahan waktu extra time.

Tinjauan VAR menghadirkan penalti untuk Belgia setelah Tielemans dijatuhkan di kotak penalti. Gelandang itu kemudian berdiri di depan bola dan mengirim tendangan yang memastikan kemenangan 3-2 pada menit 120+5.

Jepang yang Lebih Dulu Merasakan Luka yang Sama

Bagi banyak pendukung Belgia, comeback atas Senegal langsung mengingatkan pada malam bersejarah di Rusia pada 2018. Saat itu, Jepang sempat membuat Belgia berada di tepi jurang eliminasi.

Genki Haraguchi membuka keunggulan Jepang pada menit ke-48. Empat menit berselang, Takashi Inui melepaskan tembakan jarak jauh yang membawa Jepang memimpin 2-0.

Belgia perlahan menemukan jalan keluar dari tekanan. Jan Vertonghen memperkecil ketertinggalan sebelum Marouane Fellaini menyamakan skor menjadi 2-2.

Ketika laga memasuki detik-detik terakhir masa tambahan waktu, Belgia melancarkan serangan cepat yang berawal dari area pertahanan sendiri. Nacer Chadli muncul di posisi yang tepat untuk menuntaskan umpan Thomas Meunier dan memastikan kemenangan 3-2.

Jepang menjadi korban pertama comeback dua gol Belgia di fase gugur Piala Dunia. Kini, delapan tahun kemudian, Senegal merasakan pengalaman yang hampir identik.

Dua pertandingan itu dipisahkan oleh waktu yang panjang. Namun, keduanya memiliki pesan yang sama bahwa Belgia adalah tim yang tetap berbahaya hingga peluit akhir benar-benar berbunyi.

Lionel Mpasi Buktikan Mental Juara, Kiper RD Kongo yang Layak Diberi Apresiasi

BolaIndonesia – Penjaga gawang Timnas Republik Demokratik Kongo, Lionel Mpasi, layak mendapat apresiasi atas dedikasi, ketenangan, dan profesionalismenya di bawah mistar gawang. Meski sorotan publik sering kali hanya tertuju pada pencetak gol, peran Mpasi menjadi salah satu fondasi penting yang menjaga keseimbangan permainan timnya dalam berbagai pertandingan internasional.

Penampilan seorang kiper memang kerap diukur dari satu momen. Namun, di balik setiap penyelamatan maupun kebobolan, terdapat kerja keras, konsentrasi, dan tanggung jawab besar yang tidak selalu terlihat di atas lapangan. Lionel Mpasi menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok yang mampu memikul beban tersebut dengan penuh komitmen.

Konsisten Menjadi Benteng Pertahanan

Sepanjang kiprahnya bersama Timnas Republik Demokratik Kongo, Mpasi dikenal sebagai penjaga gawang yang memiliki refleks cepat, kemampuan membaca arah bola, serta keberanian saat menghadapi duel satu lawan satu. Karakter tersebut membuatnya menjadi pilihan utama dalam berbagai pertandingan penting.

Di level internasional, tekanan terhadap seorang penjaga gawang selalu sangat tinggi. Kesalahan sekecil apa pun dapat berujung gol dan menjadi bahan perbincangan publik. Meski demikian, Mpasi tetap tampil percaya diri dan tidak kehilangan fokus dalam menjalankan tugasnya.

Keberanian untuk terus bangkit setelah menghadapi situasi sulit menjadi salah satu kualitas yang patut diapresiasi dari pemain berusia matang tersebut.

Mentalitas yang Patut Dicontoh

Tidak semua pemain mampu menjaga mental ketika mendapat tekanan besar dari lawan maupun ekspektasi suporter. Lionel Mpasi justru menunjukkan sikap profesional dengan tetap bekerja keras tanpa banyak mencari alasan.

Dalam dunia sepak bola modern, mentalitas menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Mpasi membuktikan bahwa seorang pemain profesional harus siap menerima kritik sekaligus terus berusaha meningkatkan performa di setiap pertandingan.

Sikap tersebut menjadikannya salah satu figur penting di ruang ganti, terutama bagi pemain-pemain muda yang sedang berkembang bersama tim nasional.

Peran Besar yang Sering Terlupakan

Performa seorang penjaga gawang sering kali baru mendapat perhatian ketika terjadi kesalahan. Padahal, banyak serangan lawan yang berhasil dipatahkan berkat keputusan cepat dan positioning yang tepat dari seorang kiper.

Lionel Mpasi telah berkali-kali memperlihatkan kualitas tersebut. Ia mampu mengorganisasi lini belakang, memberikan instruksi kepada rekan-rekannya, serta menjaga komunikasi agar pertahanan tetap solid sepanjang pertandingan.

Kontribusi semacam ini memang tidak selalu tercatat dalam statistik sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap hasil akhir sebuah laga.

Pengalaman Menjadi Modal Berharga

Sebagai pemain yang telah merasakan atmosfer kompetisi Eropa dan pertandingan internasional, Lionel Mpasi membawa pengalaman yang sangat berharga bagi Timnas Republik Demokratik Kongo.

Jam terbang tinggi membuatnya lebih tenang ketika menghadapi tekanan besar. Pengalaman tersebut juga membantunya mengambil keputusan secara cepat dalam situasi krusial, baik saat mengantisipasi umpan silang maupun menghadapi tendangan jarak dekat.

Kehadiran pemain berpengalaman seperti Mpasi memberikan rasa aman bagi lini pertahanan dan meningkatkan kepercayaan diri seluruh tim.

Layak Mendapat Dukungan

Sepak bola adalah olahraga kolektif. Kemenangan maupun kekalahan tidak pernah menjadi tanggung jawab satu pemain saja. Karena itu, Lionel Mpasi layak mendapatkan dukungan dan apresiasi atas dedikasi yang terus ia tunjukkan setiap kali dipercaya mengawal gawang negaranya.

Setiap penyelamatan yang dilakukan merupakan hasil latihan panjang, disiplin tinggi, serta kerja keras yang tidak terlihat oleh publik. Hal tersebut menjadi bukti bahwa profesi penjaga gawang membutuhkan konsentrasi dan mental baja selama 90 menit pertandingan.

Penutup

Lionel Mpasi mungkin bukan pemain yang selalu menghiasi daftar pencetak gol atau menjadi sorotan utama setelah pertandingan. Namun, kontribusinya bagi Timnas Republik Demokratik Kongo tetap memiliki nilai yang sangat besar.

Keteguhan mental, pengalaman, kemampuan teknis, serta profesionalisme yang ia tunjukkan menjadikan Mpasi sosok yang pantas memperoleh apresiasi dari pecinta sepak bola. Dalam olahraga yang penuh tekanan seperti sepak bola, pemain yang mampu terus berdiri tegak menghadapi kritik sekaligus tetap memberikan performa terbaik adalah aset berharga bagi setiap tim.