26 Oktober 2026

Bulan: Juli 2026

BOLADONESIA – Roberto De Zerbi mengakui ingin mempertahankan Lucas Bergvall di Tottenham Hotspur. Namun, De Zerbi menegaskan tidak akan menghalangi Bergvall apabila memang ingin hengkang pada bursa transfer musim panas ini.

Masa depan Bergvall menjadi salah satu topik hangat di Tottenham dalam beberapa pekan terakhir. Pemain timnas Swedia tersebut dikabarkan telah meminta izin mencari klub baru demi mendapatkan menit bermain yang lebih banyak. Nottingham Forest, Newcastle United, dan Brighton disebut tertarik memboyongnya.

“Saya selalu sangat jelas kepadanya dan kepada kalian semua. Saya ingin dia tetap bersama kami. Saya pikir dia berpotensi menjadi pemain top,” jelas De Zerbi seperti dikutip IDNEWS dari TalkSport.

“Tetapi saya tidak ingin meyakinkan siapa pun untuk bertahan. Tottenham sudah menjadi klub besar tanpa saya dan kami tidak perlu membujuk siapa pun untuk tetap di sini,” kata De Zerbi menambahkan.

Lucas Bergvall Tak akan Jadi Starter di Tottenham

Meski ingin mempertahankan Bergvall, De Zerbi tidak bisa menjanjikan tempat utama bagi pemain berusia 20 tahun tersebut. Menurutnya, persaingan di skuad Tottenham akan semakin ketat pada musim 2026-27.

Situasi itu muncul setelah Spurs mendatangkan Sandro Tonali dan Mateus Fernandes untuk memperkuat lini tengah. Kedua pemain tersebut diperkirakan akan menjadi pesaing langsung Bergvall dalam perebutan tempat di tim utama.

“Dia bisa mendapatkan tempat jika bertahan bersama kami. Persaingan antarpemain akan sangat kuat karena kami adalah Tottenham dan harus membangun skuad yang kuat, bukan hanya sebelas pemain.”

Bergvall sendiri tampil dalam 33 pertandingan di semua kompetisi musim lalu. Namun, hanya 17 di antaranya yang dijalani sebagai starter.

Kabar Buruk Arsenal! Jurrien Timber Tinggalkan Kamp Pramusim karena Cedera Pangkal Paha

BolaIndonesia – Arsenal kembali diterpa kabar yang membuat para pendukungnya cemas. Bek andalan mereka, Jurrien Timber, terpaksa meninggalkan kamp pramusim The Gunners di Spanyol untuk kembali ke London menjalani pemeriksaan medis terkait cedera pangkal paha yang telah mengganggunya dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, pihak klub menegaskan bahwa kepulangan Timber bukan disebabkan oleh cedera baru, melainkan bagian dari program rehabilitasi yang telah direncanakan sebelumnya.

Keputusan tersebut diambil agar kondisi bek asal Belanda itu dapat dipantau secara intensif oleh tim medis Arsenal sebelum kompetisi Liga Inggris 2026/2027 resmi dimulai. Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa Arsenal tidak ingin mengambil risiko terhadap salah satu pemain bertahan terbaiknya.


Cedera Lama yang Belum Sepenuhnya Hilang

Cedera pangkal paha bukanlah masalah baru bagi Timber. Gangguan tersebut sudah menghantuinya sejak penghujung musim lalu dan bahkan membuatnya gagal membela Timnas Belanda di Piala Dunia 2026.

Sebelumnya, Timber sempat kembali bermain sebagai pemain pengganti pada final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain. Namun, setelah laga tersebut kondisi fisiknya dinilai belum cukup ideal untuk kembali berkompetisi secara penuh.

Kini Arsenal memilih pendekatan yang lebih hati-hati. Pemeriksaan di London dilakukan guna memastikan proses penyembuhan berjalan sesuai target sehingga sang pemain bisa kembali dalam kondisi terbaik saat musim baru dimulai.


Arsenal Pastikan Tidak Ada Cedera Baru

Kepulangan Timber sempat memicu spekulasi bahwa ia kembali mengalami cedera serius. Namun berbagai laporan menyebutkan bahwa kondisi tersebut bukan merupakan kemunduran baru.

Tim medis Arsenal memang telah menjadwalkan pemeriksaan lanjutan di London sebagai bagian dari rehabilitasi. Setelah pemeriksaan selesai, Timber diperkirakan akan kembali bergabung dengan rekan-rekannya di kamp latihan Spanyol apabila hasil evaluasi menunjukkan perkembangan positif.

Hal ini tentu menjadi kabar yang sedikit melegakan bagi Mikel Arteta. Meski harus kehilangan Timber untuk sementara waktu di sesi latihan, Arsenal masih optimistis bek berusia 25 tahun tersebut tidak akan absen dalam jangka panjang.


Tantangan Besar untuk Mikel Arteta

Absennya Timber dalam sebagian agenda pramusim tetap menjadi pukulan tersendiri bagi Arsenal. Pramusim merupakan periode penting untuk membangun chemistry, meningkatkan kebugaran, sekaligus menguji berbagai skema permainan.

Mikel Arteta diketahui sangat mengandalkan fleksibilitas Timber. Bek asal Belanda itu mampu dimainkan sebagai bek kanan, bek tengah maupun inverted full-back yang menjadi salah satu elemen penting dalam sistem permainan Arsenal.

Jika proses pemulihannya berjalan lebih lama dari perkiraan, Arteta kemungkinan harus memberikan menit bermain lebih banyak kepada Ben White maupun pemain bertahan lainnya selama laga-laga uji coba.

Situasi ini juga datang ketika Arsenal tengah berusaha membangun kembali lini belakang setelah beberapa pemain


Fokus Pulih Sebelum Liga Inggris Dimulai

Arsenal tampaknya belajar dari pengalaman musim-musim sebelumnya. Klub asal London Utara itu tidak ingin memaksakan pemain kembali terlalu cepat sebelum benar-benar pulih.

Pendekatan konservatif tersebut diharapkan dapat membuat Timber siap menghadapi padatnya jadwal Liga Inggris, Liga Champions,

Bagi Timber sendiri, prioritas utamanya saat ini adalah mengembalikan kondisi fisik hingga mencapai level terbaik. Setelah melewatkan kesempatan tampil bersama Belanda di Piala Dunia 2026 akibat cedera yang sama,

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan perkembangan sesuai harapan, Timber diperkirakan akan kembali bergabung dengan skuad Arsenal di Spanyol untuk menyelesaikan agenda pramusim sebelum The Gunners memulai perjuangan mengejar gelar Liga Inggris yang kembali menjadi target

BOLADONESIA – UEFA melontarkan kritik keras terhadap FIFA terkait rencana penjualan hak komersial Piala Dunia senilai 17,5 miliar euro. Bahkan, sejumlah negara Eropa disebut mempertimbangkan boikot Piala Dunia apabila Presiden FIFA Gianni Infantino tetap memaksakan proposal tersebut.

Ketegangan antara dua organisasi sepak bola terbesar dunia itu meningkat setelah muncul laporan bahwa FIFA ingin menjual sebagian kepentingan komersial Piala Dunia kepada investor eksternal. Langkah tersebut diyakini akan menghasilkan keuntungan besar bagi FIFA dari kesuksesan Piala Dunia 2026.

Menurut laporan yang beredar, FIFA juga memberikan tenggat waktu hingga 19 September kepada seluruh federasi anggota untuk mendukung proposal tersebut. Sebagai imbalan, federasi yang menyetujui rencana itu akan menerima bonus sekitar 35 juta euro, sedangkan yang menolak hanya mendapatkan sekitar 9 juta euro.

“Hari ini kami mengetahui adanya tenggat waktu yang diberikan FIFA kepada federasi untuk mendukung proposal mereka, jika tidak maka tawaran kompensasi satu kali akan dicabut. Itu sudah menjelaskan segalanya tentang rencana ini,” tulis UEFA dalam pernyataan resminya.

UEFA Sebut FIFA Hanya Menguntungkan Diri Sendiri

UEFA juga mengonfirmasi akan menggelar pertemuan darurat pekan ini untuk membahas langkah lanjutan terkait proposal FIFA tersebut. Organisasi yang dipimpin Aleksander Ceferin itu mengklaim penolakan terhadap rencana FIFA terus bertambah.

Menurut UEFA, hasil diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan sepak bola menunjukkan bahwa semakin banyak pihak yang tidak setuju dengan gagasan tersebut.

“Setelah berdiskusi dengan banyak pemangku kepentingan dalam sepak bola, UEFA mengetahui bahwa ada penolakan yang signifikan dan terus berkembang terhadap skema FIFA.”

“FIFA tidak bisa terus menggunakan olahraga ini untuk memperkaya diri mereka sendiri dan teman-teman mereka. Kami bisa mengembangkan sepak bola dengan cara yang benar. Sudah waktunya memprioritaskan federasi, klub, liga, pemain, dan para suporter,” tegas UEFA

 KLIKBETS – Timnas Vietnam memiliki kiper andalan baru. Patrik Le Giang yang memiliki garis keturunan Slovakia resmi menyelesaikan proses naturalisasi pada Januari 2026.

Patrik Le Giang tak perlu terlalu lama menanti debut. Kiper berusia 33 tahun itu langsung menjadi andalan pasukan Kim Sang-sik di Piala AFF 2026. Ia dipasang sebagai starter saat The Golden Star Warriors menggilas Timnas Timor Leste dengan skor 7-0 beberapa waktu yang lalu. 

Dalam wawancara dengan sebuah media Slovakia yang dikutip dari Soha, Patrik Le Giang mengungkapkan mimpi besarnya. Ia ingin membawa Timnas Vietnam berlaga di putaran final Piala Dunia 2030.

“Impian setiap orang Vietnam saat ini adalah bosa berpartisipasi dalam Piala Dunia 2030,” tegas Patrik Le Giang. 

Potensi Perubahan Regulasi

Patrik Le Giang juga mengikuti betul rencana FIFA yang akan kembali mengubah jumlah peserta Piala Dunia. Kabarnya pada edisi 2030, akan ada 64 tim yang ikut di putaran final.

Jika aturan itu diresmikan, Patrik Le Giang merasa peluang Timnas Vietnam untuk melaju ke putaran final Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko akan sangat terbuka.

“Dengan FIFA memperluas turnamen menjadi 64 tim, peluang bagi negara-negara berkembang di Asia untuk mengembangkan sepak bola semakin meningkat pesat. Namun, saya tidak ingin fokus pada tahun 2030 yang masih jauh saat ini. Saya hidup di masa sekarang,” jelasnya. 

Menyambut Piala Asia 2027

Patrik Le Giang memang tengah membela Timnas Vietnam di Piala AFF 2026. Namun, ada satu turnamen lain yang membuatnya sangat bersemangat.

Turnamen yang dimaksud adalah Piala Asia 2027 yang akan digelar di Arab Saudi pada Januari mendatang. Timnas Vietnam akan kembali ikut serta pada turnamen itu.

“Kami meraih kesuksesan besar dengan lolos ke final Kejuaraan Asia di Arab Saudi. Turnamen ini juga akan menampilkan pesaing seperti Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Turnamen ini untuk seluruh Asia, sama seperti Euro untuk Eropa,” tandasnya.

LARISBOLA – Jurrien Timber kembali ke London setelah meninggalkan kamp pramusim Arsenal di Spanyol. Bek asal Belanda itu menjalani pemeriksaan terkait masalah cedera pangkal paha yang mengganggunya.

Arsenal memastikan kepulangan Timber bukan karena mengalami cedera baru. Langkah tersebut merupakan bagian dari jadwal rehabilitasi sang pemain setelah masalah kebugaran yang ia alami.

Timber sebelumnya harus absen selama dua bulan pada akhir musim lalu akibat cedera pergelangan kaki. Ia sempat kembali tampil pada final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain, tetapi kemudian mengalami masalah pangkal paha.

Bek berusia 25 tahun itu diperkirakan akan kembali ke Spanyol untuk bergabung dengan skuad Arsenal. The Gunners saat ini sedang menjalani persiapan menghadapi musim baru.

Timber Jalani Proses Pemulihan

Jurrien Timber meninggalkan pusat latihan Arsenal di Spanyol untuk menjalani pemeriksaan kondisi. Sumber menyebut keputusan tersebut sudah masuk dalam rencana pemulihan sang pemain.

Tidak ada indikasi Timber mengalami kemunduran dalam proses penyembuhan. Arsenal tetap berharap pemain timnas Belanda itu bisa kembali memperkuat tim dalam waktu dekat.

Musim lalu, Timber menjadi pilihan utama Arsenal di posisi bek kanan. Ia tampil dalam 30 pertandingan Premier League saat The Gunners berhasil meraih gelar liga.

Timber bergabung dengan Arsenal dari Ajax pada Juli 2023 dengan nilai awal transfer 34 juta pounds. Namun, musim debutnya terganggu setelah mengalami cedera ligamen lutut anterior yang membuatnya absen cukup lama.

Pertandingan Selanjutnya

Arsenal Bersiap Hadapi Musim Baru

Kondisi Timber menjadi salah satu perhatian Arsenal menjelang dimulainya musim baru. Tim asuhan Mikel Arteta akan menghadapi Manchester City dalam laga Community Shield pada 16 Agustus.

Setelah pertandingan tersebut, Arsenal akan memulai perjuangan mempertahankan gelar Premier League. Laga pertama mereka akan berlangsung melawan tim promosi Coventry City pada 21 Agustus.

Kehadiran Timber akan menjadi tambahan penting bagi Arsenal yang ingin kembali bersaing di papan atas. Bek serbabisa tersebut menjadi bagian penting dalam skuad setelah pulih dari cedera panjang.

Arsenal berharap proses pemulihan Timber berjalan sesuai rencana. Dengan jadwal kompetitif yang segera dimulai, kebugaran para pemain menjadi faktor penting bagi perjalanan musim mereka.

BolaIndonesia – FIFA Hadapi Gelombang Kritik atas Rencana Investasi Baru, Dunia sepak bola internasional kembali menjadi sorotan pada Kamis, 30 Juli 2026. Kali ini, perhatian tertuju kepada FIFA setelah badan sepak bola dunia tersebut mengumumkan rencana pembentukan perusahaan komersial baru dengan nilai investasi mencapai US$20 miliar.

Langkah yang diprakarsai Presiden FIFA, Gianni Infantino, langsung menuai respons keras dari berbagai konfederasi dan federasi nasional. Banyak pihak menilai proses pengambilan keputusan dilakukan tanpa konsultasi yang memadai sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan tata kelola sepak bola dunia.

UEFA dan Federasi Besar Pertanyakan Transparansi

Sejumlah organisasi besar seperti UEFA, CONCACAF, hingga federasi sepak bola Inggris dan Prancis dikabarkan mempertanyakan transparansi proyek tersebut. Mereka mengaku baru mengetahui rencana investasi itu melalui pemberitaan media, bukan melalui komunikasi resmi FIFA.

Kondisi ini memicu ketegangan menjelang pembahasan proposal yang dijadwalkan dalam beberapa pekan ke depan. Bahkan, beberapa laporan menyebutkan UEFA mulai mempertimbangkan langkah-langkah lanjutan apabila usulan tersebut tetap dipaksakan tanpa perubahan

Nilai Investasi Fantastis Jadi Perdebatan

Proposal FIFA berisi pembentukan entitas komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise yang akan mengelola hak-hak komersial berbagai kompetisi internasional.

Sebagian saham perusahaan tersebut direncanakan dijual kepada investor swasta untuk memperoleh dana hingga US$20 miliar. FIFA menyebut dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat pengembangan sepak bola di seluruh dunia.

Namun banyak pihak khawatir keterlibatan investor swasta akan mengubah orientasi FIFA menjadi organisasi yang lebih berfokus pada keuntungan dibandingkan perkembangan olahraga itu sendiri.

Gianni Infantino Berusaha Meyakinkan Anggota FIFA

Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa program tersebut bersifat sukarela dan bertujuan meningkatkan nilai komersial sepak bola global.

Dalam proposalnya, FIFA juga menawarkan insentif finansial kepada asosiasi anggota apabila mayoritas mendukung pembentukan perusahaan baru tersebut. Meski demikian, langkah ini justru memunculkan perdebatan mengenai independensi dan tata kelola organisasi sepak bola dunia

Masa Depan Sepak Bola Dunia Dipertaruhkan

Kontroversi ini diprediksi akan menjadi salah satu isu terbesar di dunia sepak bola setelah berakhirnya Piala Dunia 2026. Keputusan yang akan diambil para anggota FIFA berpotensi memengaruhi arah bisnis, hak siar, hingga pengelolaan kompetisi internasional dalam beberapa tahun mendatang.

Para pengamat menilai FIFA perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka agar setiap perubahan besar mendapat dukungan luas dari seluruh konfederasi dan federasi anggota.

Dengan dinamika yang terus berkembang, publik sepak bola kini menantikan bagaimana FIFA dan para pemangku kepentingan menemukan jalan tengah demi menjaga integritas olahraga paling populer di dunia.

Inter Milan Akui Tak Mampu Saingi Belanja Fantastis Klub Premier League

BolaIndonesia – Inter Milan menegaskan mereka tidak akan mengikuti pola belanja besar-besaran seperti yang dilakukan sejumlah klub Premier League. Meski tetap memiliki ambisi bersaing di level tertinggi, manajemen Nerazzurri memilih mempertahankan stabilitas keuangan dibanding menghamburkan dana demi mendatangkan pemain bintang.

Perbedaan kekuatan finansial antara Serie A dan Premier League memang semakin terlihat dalam beberapa musim terakhir. Klub-klub Inggris mendapatkan pemasukan besar dari hak siar televisi, sponsor, hingga pendapatan komersial yang membuat mereka mampu menggelontorkan ratusan juta euro setiap bursa transfer.

Di sisi lain, Inter Milan harus lebih berhati-hati dalam menyusun strategi transfer. Mereka lebih mengutamakan perekrutan pemain yang sesuai kebutuhan tim, memiliki nilai investasi jangka panjang, dan tetap sejalan dengan kondisi finansial klub.

Premier League Punya Kekuatan Finansial Berbeda

Premier League saat ini menjadi kompetisi dengan pendapatan terbesar di dunia. Bahkan klub papan tengah Inggris mampu mengeluarkan biaya transfer yang sering kali lebih besar dibandingkan klub-klub elite Italia.

Situasi tersebut membuat persaingan di bursa transfer semakin sulit bagi Inter Milan. Ketika mengincar pemain yang sama, klub-klub Inggris sering datang dengan tawaran gaji lebih tinggi dan biaya transfer yang sulit ditandingi.

Karena itulah, Inter memilih pendekatan yang lebih realistis. Mereka tidak ingin memaksakan pembelian pemain dengan harga di luar kemampuan klub hanya demi memenangkan persaingan transfer.

Fokus pada Transfer yang Tepat Sasaran

Alih-alih membeli banyak pemain mahal, Inter Milan lebih memilih mencari sosok yang benar-benar dibutuhkan oleh pelatih. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif untuk menjaga keseimbangan skuad sekaligus kondisi keuangan klub.

Strategi seperti ini sebenarnya sudah terbukti berhasil dalam beberapa musim terakhir. Inter mampu tetap bersaing di papan atas Serie A, tampil kompetitif di Liga Champions, dan meraih sejumlah gelar domestik meski tidak selalu menjadi klub dengan pengeluaran terbesar.

Manajemen klub percaya kualitas perekrutan jauh lebih penting dibanding jumlah uang yang dikeluarkan.

Stabilitas Keuangan Jadi Prioritas

Setelah beberapa tahun menghadapi tantangan finansial, Inter Milan kini berusaha membangun fondasi ekonomi yang lebih sehat. Klub tidak ingin kembali berada dalam kondisi yang memaksa mereka menjual pemain penting hanya untuk menyeimbangkan neraca keuangan.

Karena itu, setiap keputusan transfer kini melalui pertimbangan matang. Faktor usia pemain, nilai jual kembali, kebutuhan tim, hingga beban gaji menjadi bagian penting sebelum kesepakatan dilakukan.

Langkah tersebut juga sejalan dengan aturan keberlanjutan finansial yang semakin diperhatikan oleh klub-klub Eropa.

Inter Tetap Bidik Gelar

Meski tidak mampu berbelanja secara agresif seperti klub-klub Premier League, Inter Milan menegaskan target mereka tidak berubah. Nerazzurri tetap ingin bersaing memperebutkan gelar Serie A, Coppa Italia, hingga Liga Champions.

Kepercayaan terhadap kualitas pelatih, kekompakan skuad, dan perekrutan pemain yang tepat menjadi modal utama menghadapi musim baru. Inter yakin kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran transfer.

Dalam era sepak bola modern yang dipenuhi persaingan finansial, Inter Milan memilih membangun tim secara bertahap. Filosofi tersebut diyakini akan membuat klub tetap kompetitif tanpa harus mengambil risiko ekonomi yang berlebihan.

Tantangan Serie A di Tengah Dominasi Inggris

Fenomena ini juga menjadi gambaran kondisi Serie A secara keseluruhan. Banyak klub Italia harus bekerja lebih cermat dibanding rival-rival mereka dari Inggris.

Meski demikian, sejarah membuktikan bahwa klub Italia masih mampu bersaing melalui organisasi permainan yang kuat, pengembangan pemain, dan strategi transfer yang efektif. Inter Milan ingin menjadi contoh bahwa kesuksesan tidak selalu harus dibangun dengan belanja besar.

Dengan pendekatan yang disiplin dan berorientasi jangka panjang, Nerazzurri berharap tetap menjadi penantang serius di semua kompetisi, sekaligus menjaga kesehatan finansial klub untuk masa depan.

Persebaya Surabaya meraih kemenangan tipis 1-0 saat menghadapi PSMS Medan dalam laga kedua Grup B Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (29/7/2026) malam.

Satu-satunya gol kemenangan Persebaya Surabaya dicetak oleh Yuran Fernandes lewat tandukan yang khas pada menit ke-45. Diogo Ramalho menjadi pemberi assist.

PSMS Medan memberikan perlawanan yang sengit di sepanjang laga. Dalam beberapa kesempatan upaya para pemain Ayam Kinantan membuat lini belakang Persebaya Surabaya kelabakan.

Persebaya Surabaya pun mampu mempertahankan keunggulan 1-0 hingga wasit meniup peluit panjang tanda babak kedua berakhir. Kemenangan ini disambut meriah oleh Bonek yang memadati Stadion Gelora Bung Tomo malam ini.

Mulus ke Semifinal

Kemenangan yang diraih Persebaya Surabaya atas PSMS Medan membuat mereka melaju mulus ke semifinal Piala Presiden 2026. Bajul Ijo mantap menempati posisi teratas sementara Grup B dengan enam poin.

Posisi kedua klasemen sementara Grup B Piala Presiden 2026 ditempati oleh Port FC. Klub asal Thailand itu memiliki empat poin setelah menjalani dua laga.

Persebaya Surabaya dan Port FC akan bertemu pada laga terakhir Grup B Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya pada Sabtu (1/8/2026).

Susunan Pemain

Persebaya (4-3-3): Reza (Kiper), Koko, Welber, Yuran, Meilana (Belakang), Ramalho, Irianto, Pratama (Tengah), Pereira, Sananta, Dicky (Depan).

Pelatih: Bernardo Tavares

PSMS (4-2-3-1): Natshir (Kiper), Nurviat, Arrahim, Meneses, Simanjuntak (Belakang), Tavano, Manahati, Barrow, Cahya, Jauhari (Tengah), Utama (Depan).

Idnews.top – Chelsea semakin dekat mendapatkan Jordan Henderson pada bursa transfer musim panas ini. Fabrizio Romano menyatakan bahwa The Blues telah mencapai kesepakatan pribadi dengan sang gelandang.

Henderson akan bergabung dengan status bebas transfer setelah sepakat mengakhiri kontraknya bersama Brentford. Gelandang berusia 36 tahun itu disebut akan menandatangani kontrak berdurasi dua tahun.

Romano juga mengungkapkan Henderson dijadwalkan meneken kontraknya pada pekan ini. Dengan begitu, mantan kapten Liverpool tersebut akan segera menjadi bagian dari skuad Chelsea.

Kehadiran Henderson menandai perubahan pendekatan Chelsea di bawah arahan Xabi Alonso. Klub kini mulai mengombinasikan pemain muda dengan sosok berpengalaman untuk memperkuat tim.

Xabi Alonso Ingin Tambah Pengalaman di Skuad

Henderson akan menjadi pemain senior kedua yang direkrut Chelsea setelah Danny Welbeck. Kombinasi keduanya diharapkan meningkatkan pengalaman sekaligus kepemimpinan di ruang ganti.

Xabi Alonso memang mendorong Chelsea untuk mendatangkan pemain yang sudah matang secara pengalaman. Sebelumnya, The Blues sempat mencoba merekrut Granit Xhaka, tetapi gagal mencapai kesepakatan.

Alonso menilai Henderson memiliki karakter pemimpin dan mental juara yang dibutuhkan tim. Pengalaman panjangnya sebagai kapten Liverpool menjadi salah satu alasan utama Chelsea mengejarnya.

Henderson Dinilai Bawa Nilai Tambah

Selama membela Liverpool, Henderson berhasil mengangkat trofi Premier League dan Liga Champions sebagai kapten tim. Rekam jejak tersebut diyakini dapat membantu perkembangan para pemain muda Chelsea.

Chelsea juga disebut masih melanjutkan pembicaraan untuk merekrut Danny Welbeck. Langkah itu memperlihatkan keinginan Alonso menciptakan keseimbangan antara energi pemain muda dan pengalaman para senior.

Meski sebagian suporter mempertanyakan kemampuan Henderson di level tertinggi saat ini, Chelsea tetap yakin dengan kualitasnya. Kepemimpinan, profesionalisme, dan mental pemenangnya dinilai akan memberi dampak positif, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Ada banyak perdebatan yang selalu muncul dalam dunia sepak bola. Siapa pemain terbaik sepanjang masa? Siapa yang paling layak memenangkan Ballon d’Or? Benarkah gol Geoff Hurst benar-benar melewati garis gawang?

Daftarnya nyaris tak ada habisnya, dan untuk sebagian besar pertanyaan tersebut, jawabannya tentu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang masing-masing orang.

Hal yang sama juga berlaku ketika membahas siapa tim terbaik dalam sejarah sepak bola. Selama bertahun-tahun, begitu banyak tim luar biasa yang tidak hanya mengukir warisan prestasi, tetapi dalam beberapa kasus juga memberikan dampak budaya yang melampaui dunia sepak bola.

Karena itulah, menyusun daftar tim-tim terbaik sepanjang masa bukanlah pekerjaan yang mudah.

Namun, berdasarkan riset yang dilakukan OLBG dan dikutip The Sun, Rabu (30/7/2026), para penggemar telah memberikan suara untuk menentukan tim-tim terbaik yang pernah tampil di lapangan hijau.

Hasil pemungutan suara tersebut kemudian menghasilkan daftar 10 tim terbaik sepanjang sejarah sepak bola, yang diurutkan berdasarkan jumlah suara yang diperoleh.

  1. Real Madrid: 1984-1990

Antara 1984 hingga 1990, Real Madrid kembali menikmati salah satu era keemasan mereka yang dipimpin oleh kelompok legendaris “La Quinta del Buitre”, yang beranggotakan Emilio Butragueno, Michel, Miguel Pardeza, Manolo Sanchís, dan Rafael Martín Vazquez.

Dikenal dengan gaya bermain menyerang yang atraktif, Real Madrid mendominasi sepak bola Spanyol pada periode tersebut. Di bawah arahan pelatih Luis Molowny dan Leo Beenhakker, Los Blancos berhasil meraih lima gelar La Liga secara beruntun (1985-1990), dua trofi Piala UEFA (1985 dan 1986), satu Copa del Rey (1989), serta tiga gelar Piala Super Spanyol.

Jauh sebelum era Galacticos, inilah skuad Real Madrid yang lebih dekat dengan akar tradisi klub. Meski tidak dihuni banyak bintang hasil transfer mahal, mereka tetap mampu menunjukkan kehebatan dan mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa.

Prestasi Real Madrid (1984-1990):

La Liga: 5 kali
Copa del Rey: 1 kali
Copa de la Liga: 1 kali
Supercopa de Espana: 3 kali
Piala UEFA/UEFA Europa League: 2 kali

  1. Manchester United:1966-1968

Manchester United berhasil bangkit secara luar biasa dari tragedi Munich Air Disaster pada 1958 yang menghancurkan klub. Hanya berselang 10 tahun, Setan Merah mencatat sejarah sebagai klub Inggris pertama yang menjuarai Piala Champions Eropa (European Cup).

Di bawah arahan manajer legendaris Sir Matt Busby, yang juga selamat dari kecelakaan tersebut, Manchester United dibangun kembali dengan perpaduan pemain muda dan senior berpengalaman. Tim ini diperkuat sejumlah bintang seperti George Best, Bobby Charlton (penyintas tragedi Munich), Denis Law, dan Nobby Stiles.

Fakta Menarik: George Best, Denis Law, dan Bobby Charlton menjadi satu-satunya trio dalam sejarah sepak bola yang sama-sama memenangkan Ballon d’Or saat masih membela klub yang sama.

Keberhasilan menjuarai European Cup 1968 setelah mengalahkan Benfica di Wembley, markas sepak bola Inggris, menjadi puncak kisah kebangkitan MU dari tragedi menjadi kejayaan. Momen tersebut juga dianggap sebagai salah satu fondasi yang membentuk kebesaran klub berjuluk Setan Merah hingga saat ini.

Prestasi Manchester United (1966-1968)

Divisi Pertama Inggris (First Division): 1 kali
FA Charity Shield: 1 kali
European Cup (Liga Champions): 1 kali

  1. Manchester City: 2022-2023

Musim 2022/2023 menjadi tonggak bersejarah bagi Manchester City setelah berhasil menjadi tim kedua dalam sejarah sepak bola Inggris yang meraih treble winners. Di bawah arahan Pep Guardiola, The Citizens tampil luar biasa dengan permainan taktis yang brilian dan konsistensi yang mengesankan sepanjang musim.

Manchester City sukses menyalip Arsenal dalam perburuan gelar Premier League, kemudian mengalahkan Manchester United dengan skor 2-1 di final Piala FA, sebelum menuntaskan musim impian dengan menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya lewat kemenangan 1-0 atas Inter Milan.

Di lini depan, Erling Haaland menjadi sosok paling menonjol setelah mencetak 52 gol di semua kompetisi, sekaligus membuktikan diri sebagai rekrutan terbaik musim itu. Ia mendapat dukungan penting dari Kevin De Bruyne dan Rodri, yang menjadi motor permainan Manchester City.

Keberhasilan meraih treble sekaligus mengakhiri penantian panjang City untuk mengangkat trofi Liga Champions. Pencapaian tersebut juga mengukuhkan Manchester City sebagai salah satu klub terbaik di dunia.

Prestasi Manchester City (2022/2023)

Premier League
Piala FA (FA Cup)
Liga Champions (Champions League)

  1. Arsenal: 2003-2004

Musim 2003/2004 menjadi salah satu periode paling bersejarah dalam perjalanan Arsenal. Di bawah arahan Arsene Wenger, The Gunners menjuarai Premier League tanpa sekalipun menelan kekalahan, sehingga mendapat julukan legendaris “The Invincibles”.

Tim racikan Wenger dianggap sebagai simbol masuknya filosofi sepak bola modern Eropa ke Inggris. Bahkan, pelatih asal Prancis itu kerap disebut sebagai sosok yang mengubah budaya sepak bola Inggris, baik dari segi gaya bermain maupun pendekatan profesional terhadap tim.

Arsenal diperkuat sederet pemain bintang seperti Thierry Henry, yang menjadi top skor Premier League musim itu. Selain Henry, ada kapten Patrick Vieira, Dennis Bergkamp, Robert Pires, hingga Sol Campbell, yang menuai kontroversi setelah pindah dari Tottenham Hotspur. Kepindahan Campbell terbukti menjadi keputusan tepat karena ia menjadi bagian penting dari kesuksesan Arsenal.

Hingga kini, banyak pihak masih menganggap skuad The Invincibles sebagai salah satu, bahkan mungkin tim terbaik dalam sejarah Premier League. Namun, fakta bahwa mereka hanya meraih satu trofi selama rangkaian 49 pertandingan tak terkalahkan membuat posisi mereka dalam daftar tim terbaik sepanjang masa sedikit tertahan.

Prestasi Arsenal (2003/2004):

Premier League (Juara tanpa terkalahkan)

  1. Spanyol: 2008-2012

Jika ingin melihat seperti apa dominasi di level sepak bola internasional, maka lihatlah Timnas Spanyol pada periode 2008 hingga 2012. Mengusung gaya bermain tiki-taka yang mulai dipopulerkan Pep Guardiola bersama Barcelona, La Roja tampil nyaris tak tersentuh ketika tim-tim lain kesulitan menghadapi permainan penguasaan bola mereka.

Spanyol berhasil menjuarai tiga turnamen besar secara beruntun, yakni Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012. Pencapaian tersebut membuat mereka menjadi satu-satunya tim nasional yang mampu mencatatkan prestasi seperti itu.

Kekuatan utama Spanyol terletak di lini tengah yang dipenuhi pemain kelas dunia. Mereka memiliki banyak pilihan, mulai dari Xavi, Andrés Iniesta, Cesc Fàbregas, Sergio Busquets, hingga Xabi Alonso. Sementara di lini belakang, hadir nama-nama seperti Sergio Ramos, Gerard Piqué, dan Carles Puyol, yang menjadikan pertahanan La Roja sangat sulit ditembus lawan.

Generasi Spanyol saat ini, yang diperkuat pemain seperti Rodri dan Lamine Yamal, juga mulai menorehkan prestasi setelah menjuarai Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Jika mampu memenangkan satu turnamen besar lagi, mereka berpeluang menyamai warisan luar biasa yang ditinggalkan generasi emas 2008-2012.

Prestasi Spanyol (2008-2012)

Juara Piala Eropa (UEFA Euro): 2 kali (2008 dan 2012)
Juara Piala Dunia FIFA: 1 kali (2010)

  1. Real Madrid: 1955-1960

Jika ada satu tim yang benar-benar mendefinisikan dominasi sepak bola Eropa pada era awal kompetisi antarklub, maka jawabannya adalah Real Madrid periode 1955 hingga 1960. Los Blancos mencatat sejarah dengan menjuarai lima edisi pertama European Cup (kini Liga Champions) secara beruntun, sebuah rekor yang hingga kini belum mampu disamai klub mana pun.

Dipimpin legenda Alfredo Di Stéfano, Real Madrid diperkuat sederet pemain hebat seperti Ferenc Puskás, Paco Gento, Raymond Kopa, dan kemudian José Santamaría. Mereka dikenal memainkan sepak bola menyerang yang atraktif, cepat, dan penuh kreativitas.

Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final European Cup 1960, ketika Real Madrid membantai Eintracht Frankfurt dengan skor 7-3. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan terbaik dalam sejarah sepak bola.

Era keemasan ini menjadikan Real Madrid sebagai simbol sepak bola Eropa sekaligus meletakkan fondasi bagi status mereka sebagai salah satu klub terbesar dan paling sukses di dunia.

Prestasi Real Madrid (1955-1960)

La Liga: 3 gelar
European Cup (Liga Champions): 5 gelar
Piala Interkontinental: 1 gelar

  1. Liverpool: 1975-1984

Pada periode 1975 hingga 1984, Liverpool membangun salah satu dinasti paling dominan dalam sejarah sepak bola. Di bawah arahan Bob Paisley, yang kemudian diteruskan Joe Fagan, The Reds menguasai seni meraih kemenangan dengan cara yang tenang, konsisten, dan efektif, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.

Selama kurun waktu tersebut, Liverpool sukses meraih tujuh gelar Divisi Pertama Inggris (First Division), tiga trofi European Cup (1977, 1978, dan 1981), satu Piala UEFA (1976), serta empat gelar Piala Liga Inggris (League Cup) secara beruntun.

Skuad Liverpool saat itu dipenuhi para pemain legendaris. Ada Kenny Dalglish dengan kecerdasan bermainnya, Graeme Souness yang tangguh di lini tengah, Kevin Keegan dengan semangat juangnya, Ian Rush sebagai mesin gol, serta duet Alan Hansen dan Ray Clemence yang menjadi pilar kokoh di lini pertahanan.

Liverpool pada era tersebut tidak sekadar mengoleksi trofi. Mereka menjadi simbol dominasi dan menetapkan standar kesuksesan yang hanya mampu disamai oleh sedikit klub hingga saat ini.

Prestasi Liverpool (1975-1984)

Divisi Pertama Inggris (First Division): 7 gelar
European Cup (Liga Champions): 3 gelar
Piala UEFA: 1 gelar
Piala Liga Inggris (League Cup): 4 gelar
Piala FA: 5 gelar
Piala Super Eropa (UEFA Super Cup): 1 gelar

  1. Brazil 1970

Jika ada satu tim nasional yang layak disebut sebagai yang terbaik sepanjang masa, maka Brasil 1970 adalah jawabannya. Tim inilah yang benar-benar menggambarkan keindahan sepak bola.

Pada era ketika siaran pertandingan internasional belum semudah sekarang diakses, Brasil memukau dunia lewat permainan menyerang yang atraktif, teknik individu kelas tinggi, dan aksi-aksi yang tak terlupakan di Piala Dunia 1970 di Meksiko.

Brasil menyapu bersih enam pertandingan yang mereka jalani untuk meraih gelar Piala Dunia ketiga dalam sejarah. Pada laga final, Selecao tampil dominan dan menghancurkan Italia dengan skor 4-1.

Skuad Brasil saat itu dipenuhi pemain-pemain legendaris. Pele, Jairzinho, Tostao, Rivelino, dan Carlos Alberto membentuk lini serang yang begitu cair, kreatif, dan sulit dihentikan. Pergerakan mereka yang dinamis serta kemampuan teknik luar biasa membuat setiap lawan kewalahan.

Pelé juga mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali. Sementara itu, gol Carlos Alberto di partai final hingga kini masih dikenang sebagai salah satu gol terbaik dan paling ikonis dalam sejarah sepak bola.

Banyak pihak menilai Brasil 1970 sebagai representasi sempurna dari “jogo bonito” atau sepak bola indah, sekaligus tim nasional terbaik yang pernah menghiasi panggung dunia.

Prestasi Brasil (1970):

Juara Piala Dunia FIFA: 1 gelar (1970)

  1. Barcelona: 2008-2012

Di bawah arahan Pep Guardiola, Barcelona melahirkan gaya bermain tiki-taka yang memadukan pressing tanpa henti, umpan-umpan pendek, dan penguasaan posisi yang luar biasa. Permainan mereka bukan sekadar mendominasi lawan, tetapi juga merevolusi sepak bola modern hingga menjadi standar yang masih dijadikan acuan sampai sekarang.

Karena itulah, cukup mengejutkan ketika tim ini hanya menempati peringkat kedua dalam daftar tim sepak bola terbaik sepanjang masa berdasarkan hasil pemungutan suara.

Pada periode tersebut, Los Cules sukses meraih tiga gelar La Liga, dua trofi Liga Champions (2009 dan 2011), dua Copa del Rey, serta dua gelar Piala Dunia Antarklub FIFA.

Kesuksesan Barcelona dibangun di atas fondasi generasi emas. Lionel Messi tampil dalam performa terbaik sepanjang kariernya, didukung oleh duet maestro lini tengah Xavi dan Andrés Iniesta, serta sederet pemain kelas dunia lainnya.

Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final Liga Champions 2011, ketika Barcelona mengalahkan Manchester United. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan tim paling sempurna dalam sejarah sepak bola sekaligus menjadi puncak kejayaan skuad legendaris racikan Guardiola.

Prestasi Barcelona (2008-2012)

La Liga: 3 gelar
Copa del Rey: 2 gelar
Supercopa de España: 3 gelar
Liga Champions: 2 gelar
Piala Super UEFA: 2 gela
rPiala Dunia Antarklub FIFA: 2 gelar

  1. Manchester United: 1998-1999

Treble yang diraih Manchester City pada 2022/2023 memang luar biasa. Namun, banyak yang menilai pencapaian Manchester United pada musim 1998/1999 lebih istimewa karena mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil meraih prestasi tersebut dan harus melewati tantangan yang jauh lebih berat.

Meski Setan Merah sudah menjadi kekuatan dominan di Inggris sepanjang dekade 1990-an, persaingan di kasta tertinggi sepak bola Inggris saat itu dinilai lebih sengit dibanding ketika Manchester City menjuarai treble pada 2023. Selain itu, kualitas kompetisi Eropa juga jauh lebih kompetitif.

Pada masa itu, Premier League belum menjadi liga terkuat di dunia seperti sekarang. La Liga, Serie A, dan Bundesliga justru dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi.

Perjalanan Manchester United menuju gelar Liga Champions 1998/1999 juga penuh rintangan. Tim asuhan Sir Alex Ferguson harus bersaing dengan Barcelona di fase grup, kemudian menyingkirkan Inter Milan dan Juventus di babak gugur, sebelum menghadapi Bayern Munchen, yang juga menjadi lawan mereka di fase grup, pada laga final.

Final melawan Bayern menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah sepak bola. Manchester United membalikkan keadaan lewat dua gol pada injury time untuk menang 2-1 dan memastikan gelar Liga Champions sekaligus menyempurnakan raihan treble.

Mental pantang menyerah dan kemampuan bangkit di saat-saat krusial membuat tim Manchester United musim 1998/1999 dikenang sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa. Bahkan, berdasarkan hasil pemungutan suara para penggemar, skuad tersebut dinobatkan sebagai tim sepak bola terbaik sepanjang sejarah.

Prestasi Manchester United (1998/1999)

Premier League
Piala FA (FA Cup)
Liga Champions (European Cup)