23 Oktober 2026

Premier League

BOLADONESIA – Sejak ditangani Michael Carrick, Manchester United menunjukkan perkembangan pesat. Dari papan bawah, mereka melesat dan finis dengan meraih tiket ke Liga Champions pada musim lalu. Kini, mereka pun memperkuat diri dan diyakini banyak pihak akan jadi salah satu kandidat kuat juara Premier League.

Akan tetapi, pandangan berbeda datang dari Roy Keane. Meskipun mengakui para pemain yang didatangkan pada awal musim ini termasuk bagus, dia tetap tak yakin Man. United punya cukup modal untuk merebut gelar yang musim lalu diraih oleh Arsenal. Dia menilai masih ada titik krusial yang terlewat dalam penguatan skuad.

Hal itu diungkapkan Keane saat mengomentari upaya pembelian Carlos Baleba dari Brighton & Hove Albion. “Saya pikir itu tambahan yang bagus bagi tim, seorang gelandang bagus. Namun, untuk juara liga, saya kira masih kurang. Masalah besar United masihlah pertahanan,” urai Roy Keane soal kans Manchester United juara Premier League seperti dikutip IDNEWS.TOP dari Football365.

Dia menambahkan, “Untuk gelandang dan depan, United punya potensi besar untuk mencetak gol. Mereka sangat bagus dalam hal itu pada musim lalu, terutama setelah Carrick mengambil alih. Namun, masih ada masalah di belakang. Fullback dan bek tengah masih jadi masalah besar.”

Kelemahan Manchester United

Lebih lanjut, Roy Keane juga meniai tak ada sosok istimewa yang didatangkan Manchester United pada awal musim ini. Para pemain baru memang bagus dan sudah terbukti berkualitas. Namun, tak ada yang bisa disebut sebagai elemen penting untuk mengakhiri dahaga juara di Premier League.

“Di atas kertas, mereka punya pemain-pemain bagus di lini tengah. Namun, apakah ini lini tengah yang mampu menjuarai liga? Sepertinya tidak. Saya tidak melihatnya seperti itu,” kata eks kapten Red Devils itu dengan kritis walaupun tanpa merinci kekurangan yang masih ada di sana.

Secara khusus, eks gelandang timnas Irlandia itu membahas Youri Tielemans yang disebut-sebut bisa jadi sosok kunci bagi Man. United. Dia mengungkapkan, “Menurut saya, dia pemain bagus, tapi bukanlah pembelian untuk menjuarai liga. Tielemans tahu Premier League, pemain internasional bagus. Saya yakin dia bisa mengatasi ekspektasi. Namun, akankah dia membawa United ke puncak? Tidak!”

Manchester United telah 13 tahun berpuasa gelar di Premier League. Kali terakhir mereka juara pada 2012-13 saat masih ditangani Sir Alex Ferguson. Setelah itu, mereka selalu gagal jadi kampiun. Padahal, di ajang-ajang lain, Red Devils sempat juara. Sebut saja di Liga Europa 2016-17, Piala FA 2015-16 dan 2023-24, serta Carabao Cup 2016-17 dan 2022-23.

BOLADONESIA – Datang sebagai pemain baru dari Newcastle United, Bruno Guimaraes akan memikul ekspektasi tinggi di Arsenal. Tak main-main, ekspektasi tinggi itu datang langsung dari sang manajer, Mikel Arteta. Gelandang Brasil tersebut diharapkan jadi mesin utama yang menghidupkan di lini tengah The Gunners.

Setelah sempat diwarnai tarik-ulur cukup alot dalam negosiasi transfer, Guimaraes akhirnya resmi didapatkan Arsenal. The Gunners harus menyerahkan uang 75 juta pounds kepada Newcastle untuk merampungkan transfer itu. Sang gelandang diikat kontrak berdurasi 4 musim hingga 30 Juni 2030. Arteta terang-terangan punya harapan besar.

“Dia menggambarkan dirinya sebagai petarung. Saya pikir, dia petarung dengan kualitas luar biasa juga dengan intusiasi, kepemimpinan, dan karisma yang akan membantu kami. Itu sesuatu yang akan benar-benar memicu sesuatu yang berbeda di dalam tim,” urai Mikel Arteta soal Bruno Guimaraes seperti dikutip IDNEW.TOP dari BBC.

Dia menambahkan, “Saya senang memiliki dia. Kita melihat dengan sangat jelas, terutama energi yang dibawanya ke tempat latihan. Rasa lapar, hasrat untuk datang ke sini dan menciptakan sejarah besar di klub. Itulah ambisi yang kami butuhkan. Kami ingin naik level dan sangat yakin kami butuh pemain dengan kepribadian, hasrat, dan karakter seperti itu untuk mendorong semua orang dari dalam.”

Kesempurnaan Bruno Guimaraes

Meskipun Arsenal sudah memiliki sejumlah gelandang berkualitas seperti Declan Rice, Martin Odegaard, Mikel Merino, dan Martin Zubimendi, Mikel Areta menilai Bruno Guimaraes adalah sosok berbeda. Dalam pandangannya, pemain berumur 28 tahun itu punya atribut sempurna sebagai gelandang tengah.

“Di lapangan, dia memiliki versatilitas untuk bermain di dua posisi berbeda, tergantung apa yang kami inginkan atau situasi permainan lawan. Dia seorang pemain yang memiliki intuisi dan ketepatan waktu untuk memenangkan bola kembali dan mengalirkan permainan dengan sangat cepat,” ujar Arteta lagi.

Manajer yang musim lalu membawa The Gunners juara Premier League itu lantas mengungkapkan, “Dia adalah pemain yang sangat piawai mengirimkan umpan terobosan, bergerak di antara lini, maupun bergerak ke belakang. Lalu, dia juga punya ketajaman. Dia punya insting tajam dan ketepatan waktu untuk tiba di kotak penalti. Dia pun punya kapasitas untuk menyelesaikan aksi dengan baik.”

Guimaraes belum bermain saat Arsenal kalah 2-3 dari Borussia Dortmund, Minggu (9/8/2026). Dia kemungkinan menjalani debut saat melawan Como 1907 pada Kamis (13/8/2026) dini hari WIB. Itu adalah uji tanding terakhir The Gunners sebelum menghadapi Manchester City pada ajang Community Shield, Minggu (16/8/2026).

BOLADONESIA – Xabi Alonso, manajer Chelsea, menyambut baik kepastian Mykhailo Mudryk bisa kembali bermain setelah menjalani skor akibat kasus doping sejak akhir 2024. Namun, pria asal Spanyol itu skeptis sang winger bisa benar-benar dapat segera tampil di lapangan lagi.

Setelah melalui perjuangan keras dan panjang, Mudryk akhirnya bernapas lega. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) akhirnya mencabut skors untuk pemain asal Ukraina tersebut. Putusan itu diambil setelah sang pemain mengakui kesalahannya dan menerima hukuman yang telah dijalaninya. Namun, menurut Alonso, itu bukan berarti winger berumur 25 tahun itu bisa langsung beraksi di lapangan.

“Terlalu awal untuk mengatakan bagaimana kondisi kebugarannya, waktu bermain yang dibutuhkan untuk kembali terlibat,” kata Xabi Alonso seperti dikutip IDNEWS.TOP dari BBC. “Namun, kami senang untuk dia karena kita mungkin tak akan dapat memahami apa yang telah dilaluinya pada masa itu dan bagaimana perasaannya menghadapi semua itu.”

Dia menambahkan, “Kami kira dia akan butuh waktu. Dia berlatih sendiri setiap hari dan saya pikir itu benar-benar keras karena dia sangat ingin bermain sepak bola, ingin jadi bagian dari tim, dan dia tak diizinkan melakukan itu dalam waktu lama. kami akan lihat apakah dia lebih cepat atau lebih lambat. Kami ingin dia jadi bagian tim. Begitu dia bergabung, kami akan memantau perkembangannya.”

Masalah Xabi Alonso

Berakhirnya skors yang dijalani Mykhailo Mudryk juga sebetulnya jadi kejutan tersendiri bagi Xabi Alonso. Saat tiba sebagai manajer baru Chelsea, dia tak memasukkan eks pemain Shakhtar Donetsk dalam rencananya. Bukan apa-apa, berdasarkan vonis awal, Mudryk harus menjalani skors hingga 2028.

Alhasil, Mudryk jadi masalah tersendiri bagi Alonso karena stok pemain sayap yang bertambah banyak. Di sektor sayap, dia sudah punya Pedro Neto, Estevao Willian, Jamie Gittens, dan Geovany Quenda. Sudah begitu, Cole Palmer beserta dua rekrutan anyar, Morgan Rogers dan Danny Welbeck, juga bisa bermain di posisi itu.

Alonso tak menampik hal tersebut. Bagaimanapun, dia harus mempertimbangkan pemain sayap Ukraina itu untuk jadi opsi dalam taktiknya karena jelas-jelas berada di skuad asuhannya. “Ya, jujur saja, kami tak menduga kabar besar ini akan datang pada saat ini,” ujar eks pelatih Real Madrid dan Bayer Leverkusen itu.

Alonso tak dapat mengabaikan Mudryk begitu saja karena memang punya kualitas tersendiri. Apalagi jika mampu kembali pada performa saat masih membela Shakhtar. Dia mengakui sang pemain punya kecepatan dan kuat dalam duel satu lawan satu. Selain itu, Mudryk pun bisa jadi pemutus kebuntuan. Namun, kata dia, tetap saja Mudryk butuh waktu lagi untuk mengembalikan performanya tersebut.

BOLADONESIA – – Chelsea secara resmi perekrutan Morgan Rogers dari Aston Villa. Untuk mendatangkan gelandang serang berumur 23 tahun itu, The Blues harus mengeluarkan uang 137,3 juta euro. Pemain yang baru saja memperkuat timnas Inggris di Piala Dunia 2026 tersebut diganjar kontrak hingga 2033.

Rogers kini tercatat sebagai rekor pembelian termahal dalam sejarah The Blues. Sebelumnya, rekor dipegang Enzo Fernandez yang diangkut dari Benfica pada 2022 dengan biaya transfer sebesar 121 juta euro. Tak hanya itu, pembelian Rogers memecahkan rekor transfer di Inggris Raya. Rekor sebelumnya dipegang Elliot Anderson yang diangkut Manchester City dari Nottingham Forest dengan dana 135 juta euro.

Jumlah uang yang dikeluarkan Chelsea untuk mendatangkan pemain berdarah Jamaika itu juga ternyata lebih dari 1,5 kali lipat dari nilai pasarnya. Menurut Transfermarkt, nilai pasar sang pemain saat ini adalah 90 juta euro. Nilai tersebut sesuai valuasi terakhir yang dilakukan pada awal Juni. Sebelumnya, pada Maret 2026, nilai pasar Rogers hanya 80 juta euro.

Dalam sejarah The Blues, Morgan Rogers tercatat sebagai pemain ke-5 yang dibeli dengan harga setidaknya 100 juta euro. Selain Enzo Fernandez, tiga pemain lainnya adalah Moises Caicedo (116 juta euro), Romelu Lukaku (113 juta euro), dan Kai Havertz (100 juta euro). Dari kelima pemain itu, Lukaku dan Havertz sudah tak lagi berada di klub asal London Barat.

Kagumi Chelsea Sejak Kecil

Bagi Morgan Rogers, kesepakatan transfer yang jadi rekor adalah perwujudan impian masa kecilnya. Dalam pernyataan pertamanya setelah resmi menjadi pemain baru Chelsea, Rogers mengaku sudah sejak lama mengagumi klub yang bermarkas di Stadion Stamford Bridge tersebut.

“Aku sangat senang. Bagiku, Chelsea adalah klub terbesar di LOndon dan klub yang selalu kukagumi sejak masih anak-anak,” urai Rogers seperti dikutip IDNEWS.TOP dari laman resmi klub barunya. “Aku sangat antusias dengan proyek dari manajer baru, para pemain yang ada, dan arah yang dituju klub ini. Itu sebabnya aku ada di sini dan aku tak sabar untuk memulai.”

Dia lantas mengungkapkan, “Aku sudah beberapa kali berbicara dengan dia (Xabi ALonso) dan kupikir penting bagiku untuk berada di sini. Aku perlu memahami seperti apa sang manajer, bagaimana dia dan apa yang diiinginkannya. Semuanya sangat cocok dengan caraku melihat permainan, cara bermain yang kuinginkan. Dia jadi faktor penting yang membuatku berada di sini.”

Rogers juga tak sabar untuk bereuni dengan Cole Palmer, mantan rekannya saat di tim junior Inggris dan Manchester City. “Aku sudah mengenal Cole sejak aku berumur 14 tahun. Pertama di timnas junior Inggris, lalu ketika kami sama-sama di Man. City. Kami sudah bicara soal ini beberapa kali. Kami sangat senang bermain bersama. Kesepekatan ini membuat kami senang,” kata dia lagi.