25 Oktober 2026
Jerman Tersingkir! Hasil Jerman vs Paraguay Berakhir Tragis Usai Kalah Adu Penalti

BolaIndonesia – Timnas Jerman harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 lebih cepat dari yang diperkirakan. Die Mannschaft secara mengejutkan tersingkir setelah kalah adu penalti 3-4 dari Paraguay usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit pada laga babak 32 besar.

Hasil ini menjadi salah satu kejutan terbesar di fase gugur turnamen. Paraguay, yang tidak banyak diunggulkan sebelum pertandingan dimulai, justru mampu menunjukkan mental luar biasa ketika menghadapi tekanan dari salah satu raksasa sepak bola dunia.

Kemenangan tersebut memastikan La Albirroja melaju ke babak 16 besar, sementara Jerman kembali gagal memenuhi ekspektasi publik sepak bola dunia. Kekalahan ini juga memperpanjang catatan kurang memuaskan Der Panzer di ajang Piala Dunia dalam beberapa edisi terakhir.

Paraguay Unggul Lebih Dulu Lewat Julio Enciso

Sejak peluit pertama dibunyikan, Jerman langsung mencoba mengambil alih penguasaan bola. Florian Wirtz, Jamal Musiala, dan Kai Havertz bergantian membangun serangan dari lini tengah.

Namun justru Paraguay yang mampu mencuri keunggulan terlebih dahulu. Melalui sebuah serangan efektif, Julio Enciso berhasil menyundul bola menjadi gol dan membuat pendukung Paraguay bersorak.

Gol tersebut membuat pertandingan berubah drastis. Paraguay semakin disiplin bertahan sambil menunggu kesempatan melakukan serangan balik cepat. Sebaliknya, Jerman terus meningkatkan intensitas serangan demi mengejar ketertinggalan sebelum turun minum.

Meski menciptakan sejumlah peluang emas, penyelesaian akhir Die Mannschaft belum mampu menembus pertahanan rapat Paraguay hingga babak pertama berakhir.

Kai Havertz Menjaga Asa Jerman

Memasuki babak kedua, Jerman tampil jauh lebih agresif. Tekanan yang terus diberikan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-52.

Kai Havertz sukses mencetak gol penyama kedudukan setelah memanfaatkan peluang di depan gawang. Skor berubah menjadi 1-1 dan membuat pertandingan kembali terbuka.

Gol tersebut meningkatkan kepercayaan diri skuad asuhan Julian Nagelsmann. Mereka terus mengurung pertahanan Paraguay melalui kombinasi serangan dari kedua sisi lapangan.

Sementara itu Paraguay memilih bermain lebih sabar. Mereka tetap berbahaya melalui serangan balik cepat yang beberapa kali membuat lini belakang Jerman bekerja keras mengamankan situasi.

Hingga waktu normal berakhir, tidak ada tambahan gol yang tercipta sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.

Drama Extra Time dan Keputusan VAR

Pada babak tambahan, Jerman sebenarnya sempat merasa berhasil membalikkan keadaan setelah mencetak gol.

Sayangnya, gol tersebut dianulir wasit setelah meninjau tayangan Video Assistant Referee (VAR). Pelanggaran terhadap kiper Paraguay, Orlando Gill, dinilai terjadi sebelum bola masuk ke gawang sehingga skor tetap bertahan 1-1.

Keputusan tersebut menjadi salah satu momen paling menentukan dalam pertandingan. Jerman kehilangan momentum, sementara Paraguay semakin percaya diri mampu membawa laga hingga adu penalti.

Beberapa peluang kembali tercipta dari kedua kubu, namun ketangguhan lini pertahanan dan penampilan gemilang kedua penjaga gawang membuat skor tidak berubah hingga peluit akhir extra time dibunyikan.

Adu Penalti Jadi Penentu Nasib

Babak adu penalti berlangsung penuh ketegangan. Paraguay tampil lebih tenang ketika menjadi algojo.

Sebaliknya, Jerman justru kehilangan ritme pada momen paling krusial. Orlando Gill tampil sebagai pahlawan dengan menggagalkan tendangan Kai Havertz, sementara Jonathan Tah gagal memanfaatkan kesempatan setelah eksekusinya melambung.

Jose Canale kemudian menjadi penendang penentu kemenangan Paraguay. Eksekusinya yang tenang memastikan Paraguay menang 4-3 dalam adu penalti sekaligus mengamankan tiket menuju babak 16 besar.

Para pemain Paraguay langsung merayakan kemenangan bersejarah tersebut bersama para pendukung yang memenuhi stadion.

Jerman Pulang Lebih Cepat, Paraguay Lanjutkan Mimpi

Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Jerman yang datang ke Piala Dunia 2026 dengan status salah satu kandidat juara. Dominasi penguasaan bola dan banyaknya peluang ternyata belum cukup untuk membawa mereka melewati perlawanan disiplin Paraguay.

Sebaliknya, Paraguay kembali membuktikan bahwa semangat juang dan organisasi permainan mampu mengalahkan perbedaan kualitas di atas kertas. Keberhasilan ini menjadi kemenangan fase gugur Piala Dunia pertama mereka sejak 2010 sekaligus membuka peluang mencatat sejarah baru di turnamen edisi kali ini.

Di babak 16 besar, Paraguay akan menghadapi pemenang pertandingan Prancis melawan Swedia dengan kepercayaan diri tinggi setelah sukses menumbangkan salah satu kekuatan utama Eropa. Sementara bagi Jerman, kekalahan ini menjadi bahan evaluasi besar untuk membangun kembali kekuatan tim menuju turnamen internasional berikutnya.

LARISBOLA – Paraguay menciptakan kejutan besar di Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Jerman pada babak 32 Besar. Kemenangan tersebut tidak lepas dari aksi gemilang kiper Orlando Gill yang menjadi pahlawan dalam drama adu penalti.

Bermain di Boston Stadium, Selasa (30/6) pagi WIB, Jerman dan Paraguay harus menjalani laga penuh ketegangan. Kedua tim bermain imbang 1-1 selama 90 menit hingga pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu.

Jerman lebih dominan dalam penguasaan bola, tetapi Paraguay mampu menunjukkan perlawanan disiplin. Setelah skor tetap imbang hingga extra time berakhir, pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti.

Dalam babak tos-tosan tersebut, Paraguay menang 4-3 setelah Orlando Gill menggagalkan dua eksekusi pemain Jerman. Penampilan luar biasa kiper berusia 26 tahun itu menjadi salah satu faktor utama keberhasilan Paraguay melaju ke babak berikutnya.

Orlando Gill Jadi Tembok Paraguay di Hadapan Jerman

Pertandingan Jerman vs Paraguay berlangsung dengan intensitas tinggi sejak menit awal. Jerman tampil lebih banyak menguasai bola, tetapi justru Paraguay yang mampu membuka keunggulan lebih dulu melalui gol Julio Enciso pada menit ke-42.

Jerman tidak membutuhkan waktu lama untuk merespons setelah jeda. Kai Havertz mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-54 lewat sundulan yang membuat skor kembali imbang 1-1.

Memasuki babak extra time, kedua tim tetap tampil agresif untuk mencari gol kemenangan. Jerman sempat mencetak gol melalui Jonathan Tah, tetapi gol tersebut dianulir wasit karena terdapat pelanggaran Waldemar Anton dalam proses terjadinya gol.

Pertandingan akhirnya harus ditentukan lewat adu penalti. Paraguay tampil lebih tenang, sementara Jerman harus menerima kenyataan setelah tiga eksekutornya gagal menjalankan tugas.

Kai Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tah menjadi tiga pemain Jerman yang gagal mencetak gol dari titik putih. Orlando Gill tampil luar biasa dengan menepis penalti Havertz dan Woltemade.

Sebelum menjadi pahlawan dalam adu penalti, Gill juga sudah tampil gemilang sepanjang pertandingan. Kiper San Lorenzo itu mencatat enam penyelamatan penting selama waktu normal dan extra time.

Adu penalti menjadi momen paling menegangkan dalam pertandingan tersebut. Gill mengaku merasakan tekanan besar ketika harus menghadapi para penendang Jerman dari jarak 12 meter.

“Sangat mendebarkan. Pertandingan yang sulit. Kami berhasil bertahan. Kami membuka skor, mereka menyamakan kedudukan, tetapi kemudian kami berhasil mempertahankan keunggulan,” kata Orlando Gill.

Kiper Paraguay itu menjelaskan bahwa persiapan menjadi faktor penting dalam keberhasilannya menggagalkan dua penalti. Timnya sudah melakukan analisis terhadap kebiasaan para eksekutor Jerman.

“Jelas, kami menganalisis setiap pemain dan setiap detail dari penendang penalti. Syukurlah saya berhasil menyelamatkan dua penalti,” ucap Orlando Gill.

Keberhasilan menahan dua penalti menjadi bukti kesiapan Gill menghadapi tekanan besar. Ia mampu membaca arah tendangan dan membantu Paraguay melewati salah satu laga paling sulit di Piala Dunia 2026.

Bagi Gill, kemenangan atas Jerman bukan hanya soal lolos ke babak berikutnya. Hasil tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh masyarakat Paraguay.

“Ini adalah suatu kehormatan; kami menyingkirkan seorang juara. Ini didedikasikan untuk semua warga Paraguay,” sambungnya.

BOLADONESIA – Timnas Jepang pincang saat menghadapi timnas Brasil pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Selasa (30/6/2026) dini hari WIB. Gelandang Takefusa Kubo dipastikan masih absen karena belum pulih dari cedera yang dialami saat melawan Belanda pada matchday pertama fase grup.

Kubo mengalami cedera pada lutut kirinya ketika Jepang imbang 2-2 dengan Belanda. Gara-gara cedera itu, pemain Real Sociedad tersebut absen pada dua laga sisa Samurai Blue pada fase grup. Kondisinya pun masih belum membalik jelang laga Brasil vs Jepang pada babak 32 besar. Hal itu diungkapkan pelatih Hajime Moriyasu pada konferensi pers pralaga.

“Kubo tak akan dapat bermain pada pertandingan melawan Brasil. Dia belum bergabung dengan latihan tim secara penuh. Sejauh ini, dia hanya dapat melakukan latihan lari secara individual. Jadi, dia sudah pasti tak akan bermain pada pertandingan besok,” kata Hajime Moriyasu soal kondisi Takefusa Kubo seperti dikutip Football5Star.net dari Gekisaka.

Pelatih berumur 57 tahun itu lebih lanjut mengungkapkan, “Kami semua berharap pemulihannya berlangsung cepat. Dia pun terus bekerja keras untuk meningkatkan kondisinya. Semoga saja dia akan segera dapat bermain kembali pada pertandingan berikutnya (jika lolos dari adangan Brasil).”

Kondisi Takefusa Kubo Kian Membaik

Harapan Hajime Moriyasu bukan tanpa alasan. Kondisi Takefusa Kubo kian membaik. Buktinya, dia ikut terbang ke Houston untuk laga Brasil vs Jepang meskipun dipastikan tak dapat tampil. Sebelumnya, saat Jepang melawan Tunisia dan swedia, pemain berumur 25 tahun itu ditinggal di Nashville untuk fokus pada pemulihan cederanya.

Sang pemain pun menunjukkan optimisme soal kondisinya. “Perasaanku baik. Aku baik-baik saja,” kata Kubo selepas latihan timnas Jepang jelang babak 32 besar meskipun tetap tak dapat menyembunyikan kemurungannya. Hal itu juga ditegaskan bek kanan Yukinari Sugawara. “Kondisinya bagus!” ujar dia.

Pada laga melawan Belanda, Kubo memang tidak mencetak gol. Namun, dialah pemberi assist bagi gol Keito Nakamura yang menjadikan kedudukan imbang 1-1. Itu juga merupakan assist ke-3 Kubo dalam 4 penampilan beruntun bersama Samurai Biru. Statistik tersebut menunjukkan arti penting sang pemain bagi tim asuhan Moriyasu.

Bagi Kubo, kepastian absen pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 jadi kenyataan pahit. Bukan apa-apa, itu mengulang kisah 4 tahun lalu. Ketika itu, dia juga tak ada di skuad Jepang saat menjelani laga pertama pada fase gugur Piala Dunia 2022. Hasilnya, Samurai Blue tersisih setelah kalah 2-4 dari Kroasia pada du penalti menyusul hasil imbang 1-1 dalam 120 menit

Kanada Tunggu Belanda atau Maroko di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Singkirkan Afrika Selatan

BolaIndonesia – Timnas Kanada mencatatkan sejarah baru di Piala Dunia 2026 setelah memastikan langkah ke babak 16 besar usai menundukkan Afrika Selatan dengan skor tipis 1-0 pada laga babak 32 besar. Kemenangan dramatis tersebut diraih berkat gol Stephen Eustaquio pada masa injury time, tepatnya menit ke-90+2, yang sekaligus mengantarkan wakil CONCACAF itu melangkah lebih jauh di turnamen terbesar sepak bola dunia.

Keberhasilan ini menjadi pencapaian terbaik Kanada sepanjang sejarah keikutsertaannya di Piala Dunia. Setelah sebelumnya belum pernah melewati fase grup pada format lama, kini mereka sukses memanfaatkan status sebagai salah satu tuan rumah dengan menembus fase gugur dan langsung mengamankan tiket menuju babak 16 besar.

Gol Dramatis Eustaquio Jadi Penentu

Pertandingan melawan Afrika Selatan berlangsung sangat ketat. Kedua tim sama-sama tampil disiplin sehingga peluang bersih sangat minim sepanjang laga. Kanada lebih banyak menguasai permainan, tetapi kokohnya lini belakang Afrika Selatan membuat pertandingan tampak akan berlanjut ke babak tambahan.

Namun, ketika waktu normal hampir habis, Stephen Eustaquio muncul sebagai pahlawan. Gelandang Porto tersebut melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang gagal diantisipasi kiper Ronwen Williams. Gol tersebut langsung disambut selebrasi meriah para pemain Kanada yang sadar mereka baru saja menorehkan sejarah baru bagi negaranya.

Pelatih Jesse Marsch pun memberikan pujian kepada seluruh skuadnya. Menurutnya, para pemain telah menunjukkan mentalitas luar biasa hingga detik terakhir pertandingan dan layak disebut sebagai pahlawan bagi sepak bola Kanada.

Menunggu Pemenang Belanda vs Maroko

Usai memastikan tiket ke babak 16 besar, Kanada kini tinggal menunggu siapa lawan berikutnya. Mereka akan menghadapi pemenang pertandingan antara Belanda dan Maroko yang dijadwalkan berlangsung setelah laga Kanada selesai.

Duel Belanda kontra Maroko diprediksi menjadi salah satu pertandingan paling menarik di babak 32 besar. Belanda datang dengan reputasi sebagai salah satu kandidat kuat juara, sedangkan Maroko berambisi mengulang performa impresif mereka di turnamen internasional dalam beberapa tahun terakhir.

Kanada Punya Modal Percaya Diri

Selain kemenangan penting, Kanada juga memperoleh keuntungan berupa waktu pemulihan yang lebih panjang sebelum menjalani babak 16 besar. Kondisi ini memberi kesempatan bagi pelatih Jesse Marsch untuk memulihkan kebugaran pemain, termasuk Alphonso Davies yang baru kembali tampil setelah pulih dari cedera.

Momentum positif juga menjadi modal besar. Kanada kini memiliki kepercayaan diri tinggi setelah mampu memenangkan pertandingan sulit melalui kerja keras hingga menit-menit terakhir. Mental juang tersebut bisa menjadi senjata penting ketika menghadapi lawan yang secara kualitas di atas kertas lebih berpengalaman.

Belanda atau Maroko, Tantangan Berat Menanti

Jika bertemu Belanda, Kanada akan menghadapi tim yang memiliki kualitas individu dan pengalaman panjang di turnamen besar. Sebaliknya, apabila Maroko yang lolos, pertandingan diperkirakan berlangsung lebih terbuka mengingat kedua tim sama-sama mengandalkan kecepatan transisi dan organisasi pertahanan yang solid.

Apa pun hasil pertandingan tersebut, Kanada dipastikan menghadapi ujian sesungguhnya dalam upaya melanjutkan kisah bersejarah mereka di Piala Dunia 2026.

Seluruh perhatian kini tertuju pada duel Belanda kontra Maroko. Pemenangnya akan menjadi lawan berikutnya bagi Kanada dalam laga hidup-mati babak 16 besar yang dipastikan berlangsung sengit dan sarat gengsi.

Idnews.top – Pertandingan Afrika Selatan vs Kanada pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 menghadirkan drama hingga detik terakhir. Duel yang berlangsung di SoFi Stadium, Inglewood, Senin (29/6/2026) WIB itu dimenangkan Kanada dengan skor tipis 1-0.

Laga Afrika Selatan vs Kanada berjalan ketat sejak menit awal dengan kedua tim saling menciptakan peluang berbahaya. Ketika laga tampak akan berakhir tanpa gol, Stephen Eustaquio muncul sebagai pembeda.

Gelandang Kanada tersebut mencetak gol kemenangan pada menit ke-90+2. Berkat kontribusi krusialnya, Eustaquio terpilih sebagai Man of the Match dalam pertandingan tersebut.

Gol Penentu Eustaquio Antar Kanada ke Babak Berikutnya

Afrika Selatan tampil cukup menjanjikan pada babak pertama dengan sejumlah kombinasi serangan yang merepotkan lini belakang Kanada. Namun, penyelesaian akhir menjadi kendala utama yang membuat peluang gagal berbuah gol.

Kanada juga memiliki kesempatan emas menjelang turun minum. Aubrey Modiba berhasil menyapu sundulan Moise Bombito di garis gawang sebelum Ronwen Williams melakukan penyelamatan penting untuk menggagalkan peluang Tajon Buchanan.

Setelah jeda, Kanada mengambil alih kendali permainan. Tembakan Tani Oluwaseyi sempat ditepis Williams, sementara Mbekezeli Mbokazi melakukan intersepsi penting untuk menghalau ancaman lanjutan.

Masuknya Alphonso Davies pada menit ke-75 meningkatkan intensitas serangan Kanada. Kecepatan dan kemampuan individunya memberi tekanan tambahan kepada pertahanan Afrika Selatan.

Gol yang ditunggu akhirnya lahir pada masa stoppage time. Eustaquio menyambut bola pantul di tepi kotak penalti dan melepaskan tembakan akurat yang bersarang di sudut bawah gawang.

Man of the Match yang Menentukan Nasib Kanada

Penampilan Stephen Eustaquio menjadi faktor pembeda dalam laga yang berlangsung sangat seimbang. Gol pada menit akhir memastikan Kanada melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

FIFA menilai kontribusi Eustaquio sangat menentukan hasil pertandingan. Gol tersebut memberi kemenangan penting bagi skuad asuhan Jesse Marsch setelah bekerja keras sepanjang laga.

Gol detik-detik akhir Stephen Eustaquio memberi Kanada kemenangan yang diraih melalui perjuangan keras atas Afrika Selatan.

Kemenangan ini membawa Kanada ke fase berikutnya untuk menghadapi pemenang laga Belanda melawan Maroko. Sementara itu, Afrika Selatan harus mengakhiri perjalanan mereka meski berhasil mencatat sejarah dengan mencapai fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Bagi Eustaquio, penghargaan Man of the Match menjadi pelengkap malam istimewa yang memastikan namanya tercatat sebagai pahlawan kemenangan Kanada. Satu sentuhan akurat pada menit akhir cukup untuk mengubah arah pertandingan dan menjaga mimpi Kanada tetap hidup di Piala Dunia 2026.

BOLADONESIA – Hong Myung Bo, pelatih timnas Korsel, resmi mengundurkan diri dari posisinya setelah kegagalan total di Piala Dunia 2026. Hal itu dilakukan di tengah tekanan bertubi-tubi yang diterima akibat kegagalan timnya. Tak terkecuali dari orang nomor satu di Korea Selatan.

Korsel gagal melaju dari fase grup karena hanya finis di posisi ke-3 Grup A. Setelah menang 2-1 atas Republik Cheska, Taeguk Warriors lantas takluk 0-1 dari Meksiko dan Afrika Selatan. Raihan 3 poin dengan selisih gol -1 tak cukup untuk membawa tim asuhan Myung-bo berada didertan 8 peringkat ke-3 terbaik yang berhak lolos ke 34 besar.

“Pertama-tama, saya dengan tulus meminta maaf kepada orang-orang yang mencintai sepak bola Korea dan selalu mendukung timnas. Saya bermaksud mengundurkan diri dari posisi sebagai pelatih kepala timnas Korsel pada hari ini,” urai Hong Myung Bo seperti dikutip IDNNEWS.TOP dari Chosun Ilbo.

Dia menambahkan, “Menerima peran sebagai pelatih timnas bukanlah putusan mudah bagi saya. Namun, sejak menerima posisi ini, saya tak mempertimbangkan alasan-alasan lain. Saya yakin bahwa memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya hingga saat terakhir adalah satu-satunya hal yang harus saya lakukan.”

Hong Myung Bo Tak Kompeten?

Kritik membanjiri Hong Myung Bo setelah Korea Selatan takluk 0-1 dari Afrika Selatan. Hal utama yang jadi sasaran adalah putusannya mencadangkan sang bintang, Son Heung-min. Dia menerima semua kritik itu dengan lapang dada dan tak mau memberikan pembelaan dan enggan menjelaskan poin-poin yang menjadi kritik pihak luar.

“Saya tak dapat mengklaim setiap putusan yang ambil selalu benar. Standar dari semua putusan saya selalu sepak bola Korea. Saya yakin bahwa posisi pelatih kepala adalah posisi di mana tak ada penjelasan ketika berhadapan dengan hasil. Oleh karena itu, saya berdiri di sini hari ini untuk mengambil tanggung jawab, bukan memberikan penjelasan. Saya telah gagal mendapatkan hasil yang diharapkan,” ujar Myung-bo.

Tekanan yang dihadapi pelatih berumur 57 tahun itu bukan main-main. Tekanan itu bahkan datang dari Presiden Korsel Lee Jae-myung. Orang nomor satu di Korsel tersebut bahkan menyinggung soal kompetensi dalam unggahan di akun media sosialnya setelah tim asuhan Myung-bo tersisih dari Piala Dunia 2026.

“Ketika loyalitas dan faksionalisme lebih dihargai dari kompetensi dan orang tak berkompeten ditunjuk mengisi posisi sebagai pemimpin, hasilnya sudah bisa diterka,” tulis Jae-myung. Meskipun tak menyebut nama, sang presiden diduga menyerang Myung-bo yang pengangkatannya sebagai pelatih Korsel sempat digugat banyak pihak karena dinilai tidak transparan.

Kiper veteran Timnas Tanjung Verde, Vozinha, mengungkapkan bahwa dirinya kini sedang berstatus tanpa klub.

Pengakuan itu muncul di tengah pencapaiannya membawa Tanjung Verde mencetak sejarah dengan lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026.

Tanjung Verde memastikan tiket otomatis ke babak 32 besar setelah finis sebagai runner-up Grup H. Prestasi tersebut menjadi catatan bersejarah bagi negara kepulauan kecil itu yang tampil sebagai debutan di Piala Dunia.

Vozinha, yang kini berusia 40 tahun, sebelumnya membela klub Portugal, Chaves, selama dua musim terakhir. Namun, kontraknya telah berakhir sehingga ia kini sedang mencari pelabuhan baru untuk melanjutkan karier profesionalnya.

Dalam wawancara dengan jurnalis Brasil, Daniel Braune, Vozinha mengaku belum memiliki klub baru, meski terbuka terhadap berbagai peluang.

“Saya mengakhiri kontrak dengan klub sebelumnya, Deportivo Chaves, dan saat ini saya belum memiliki apa pun,” ujar Vozinha.

“Saya terbuka untuk semuanya. Kita lihat saja nanti apa yang akan datang,” katanya.

Kendati telah memasuki usia 40 tahun, performa impresifnya di Piala Dunia 2026 diyakini membuat banyak klub tertarik menggunakan jasanya.

Jadi Pahlawan Tanjung Verde

Vozinha menjadi satu di antara sosok paling berpengaruh dalam keberhasilan Tanjung Verde mencatat sejarah.

Tim berjuluk Blue Sharks itu menjadi debutan pertama yang mampu menembus fase gugur Piala Dunia sejak Slovakia pada edisi 2010.

Di babak 32 besar, Tanjung Verde akan menghadapi juara bertahan, Argentina.

Negara yang hanya memiliki sekitar 500 ribu penduduk itu juga mencatat rekor sebagai negara dengan populasi terkecil yang pernah mencapai fase gugur Piala Dunia.

Penampilan terbaik Vozinha hadir pada laga pembuka Grup H saat menghadapi Spanyol. Ia tampil gemilang dengan menjaga gawangnya tetap perawan sehingga laga berakhir tanpa gol.

Penjaga gawang berpengalaman itu bahkan mampu menggagalkan berbagai peluang dari pemain-pemain Spanyol, termasuk Lamine Yamal dan Nico Williams. Berkat performa tersebut, jumlah pengikutnya di Instagram melonjak hingga bertambah sekitar satu juta akun.

Vozinha kemudian mencatatkan clean sheet keduanya dari tiga pertandingan grup ketika Tanjung Verde bermain imbang 0-0 melawan Arab Saudi.

Hasil itu memastikan mereka finis di posisi kedua Grup H setelah Uruguay kalah dari Spanyol.

Lini Belakang Ikut Berperan

Keberhasilan Tanjung Verde tak hanya ditentukan oleh aksi heroik Vozinha. Barisan pertahanan mereka juga tampil solid sepanjang fase grup.

Satu di antara pemain yang mencuri perhatian adalah Roberto Pico Lopes. Bek yang kini bermain untuk Shamrock Rovers di Liga Irlandia itu memiliki kisah unik sebelum memperkuat timnas.

Lopes sebelumnya bekerja sebagai penasihat kredit perumahan. Ia mendapat panggilan memperkuat Timnas Tanjung Verde melalui LinkedIn dan sempat mengira pesan dari pelatih tersebut hanyalah spam.

Pemain berusia 33 tahun itu akhirnya menjadi pesepak bola profesional penuh waktu pada 2017, sebelum menjalani debut bersama Timnas Tanjung Verde pada 2019.

Cristiano Ronaldo Tak Lagi Bermain 90 Menit di Piala Dunia 2026, Ini Alasannya

BolaIndonesia – Cristiano Ronaldo tak lagi bermain 90 menit di Piala Dunia 2026. Menit bermain Cristiano Ronaldo menjadi sorotan karena pelatih Portugal memilih melakukan rotasi.

Namun kali ini bukan karena jumlah gol atau selebrasi khasnya, melainkan karena durasi bermain yang dinilai tidak biasa. Sang megabintang Portugal beberapa kali tidak menyelesaikan pertandingan selama 90 menit penuh, sesuatu yang jarang terjadi sepanjang kariernya.

Situasi tersebut memunculkan banyak pertanyaan. Apakah pelatih sengaja membatasi menit bermain Ronaldo demi menjaga kebugarannya, atau justru ada alasan lain yang berkaitan dengan strategi tim? Terlepas dari berbagai spekulasi, keputusan itu menjadi salah satu topik yang paling banyak dibahas selama turnamen berlangsung.

Ronaldo Tak Lagi Bermain Penuh

Selama bertahun-tahun, Cristiano Ronaldo dikenal sebagai pemain yang hampir selalu berada di lapangan hingga peluit akhir berbunyi. Bahkan ketika usianya memasuki kepala tiga, ia tetap memiliki kondisi fisik luar biasa yang membuatnya mampu tampil penuh di berbagai kompetisi.

Namun di Piala Dunia 2026, pola tersebut berubah. Ronaldo beberapa kali ditarik keluar pada babak kedua atau bahkan memulai pertandingan dari bangku cadangan sebelum akhirnya dimainkan sebagai pemain pengganti.

Keputusan itu terasa janggal bagi banyak pendukung Portugal. Sebab dalam laga-laga besar sebelumnya, Ronaldo hampir selalu menjadi sosok yang dipercaya tampil selama 90 menit.

Meski demikian, perubahan tersebut tidak serta-merta menunjukkan penurunan kualitas permainan sang kapten. Sebaliknya, banyak pihak menilai hal itu merupakan bagian dari pendekatan baru untuk memaksimalkan kontribusinya.

Faktor Usia Tak Bisa Diabaikan

Di usia yang kini telah melewati 40 tahun, Cristiano Ronaldo memang menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Meski kondisi fisiknya masih berada di level elite, proses pemulihan tubuh tentu tidak lagi secepat ketika masih berusia 25 atau 30 tahun.

Pelatih Portugal tampaknya memahami situasi tersebut. Mengurangi menit bermain bisa menjadi cara efektif untuk memastikan Ronaldo tetap segar ketika pertandingan memasuki fase-fase penentuan.

Pendekatan semacam ini juga lazim dilakukan terhadap pemain senior di berbagai klub elite Eropa. Beban pertandingan yang padat membuat rotasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.

Efektivitas Tetap Menjadi Nilai Utama

Menariknya, meskipun waktu bermainnya berkurang, Ronaldo tetap mampu memberikan dampak positif ketika berada di lapangan.

Pergerakannya di kotak penalti masih berbahaya. Kemampuannya membaca arah bola tetap menjadi salah satu yang terbaik. Selain itu, kehadirannya juga memberi kepercayaan diri bagi rekan-rekan setim.

Statistik memang menunjukkan bahwa jumlah sentuhan bolanya tidak sebanyak pemain lain. Namun efisiensi Ronaldo masih menjadi senjata utama Portugal.

Dalam banyak kesempatan, satu peluang yang diperolehnya mampu menghasilkan ancaman nyata bagi pertahanan lawan.

Strategi Pelatih Jadi Sorotan

Keputusan mengurangi menit bermain Ronaldo juga dianggap sebagai bentuk keberanian pelatih Portugal dalam mengelola skuad.

Alih-alih bergantung sepenuhnya kepada sang legenda, Portugal kini mencoba membangun permainan yang lebih kolektif. Ronaldo tetap menjadi pusat perhatian, tetapi tidak lagi harus memikul seluruh beban serangan.

Pendekatan tersebut memungkinkan pemain-pemain muda tampil lebih leluasa, sementara Ronaldo dapat difokuskan pada momen-momen yang benar-benar menentukan jalannya pertandingan.

Strategi ini memang menuai pro dan kontra. Sebagian pendukung ingin melihat Ronaldo bermain penuh, sementara lainnya percaya bahwa pengaturan menit bermain justru akan membuatnya lebih efektif.

Portugal Memikirkan Turnamen, Bukan Sekadar Satu Laga

Dalam kompetisi sepanjang Piala Dunia, menjaga kebugaran pemain menjadi faktor yang sangat penting. Tim yang mampu mempertahankan kondisi fisik skuad biasanya memiliki peluang lebih besar untuk melangkah jauh.

Karena itulah, keputusan membatasi menit bermain Ronaldo kemungkinan merupakan investasi jangka panjang. Daripada memaksanya tampil penuh di setiap pertandingan, Portugal memilih memastikan bahwa sang kapten tetap berada dalam kondisi terbaik ketika menghadapi laga hidup-mati.

Langkah tersebut juga mengurangi risiko cedera yang bisa mengganggu perjalanan tim di fase gugur.

Ronaldo Tetap Menjadi Figur Sentral

Terlepas dari durasi bermain yang berkurang, pengaruh Cristiano Ronaldo terhadap Portugal masih sangat besar. Ia tetap menjadi pemimpin di ruang ganti, sumber motivasi bagi para pemain muda, sekaligus sosok yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap.

Menit bermainnya mungkin terasa janggal dibandingkan standar yang selama ini melekat pada dirinya. Namun dalam sepak bola modern, efektivitas sering kali lebih penting daripada lamanya berada di lapangan.

Jika strategi ini mampu membawa Portugal melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026, maka keputusan membatasi menit bermain Cristiano Ronaldo bisa saja dikenang sebagai salah satu langkah paling tepat yang pernah diambil tim pelatih. Dengan pengalaman, insting mencetak gol, dan mental juara yang masih dimilikinya, Ronaldo tetap menjadi aset terbesar Portugal meski kini tidak lagi harus bermain selama 90 menit penuh di setiap pertandingan.

KLIKBETS – Dari sembilan negara wakil Asia di Piala Dunia 2026 tinggal menyisakan Jepang dan Australia yang berhasil melangkah ke babak 32 Besar.

Tujuh kontestan yakni Uzbekistan, Jordania, Arab Saudi, Qatar, Irak, Korsel, dan Iran rontok di fase grup. Korsel dan Iran sempat punya harapan ke putaran berikutnya. Namun mereka secara menyakitkan harus terlempar dari daftar delapan peringkat ketiga terbaik.

Raja Isa Raja Akram Syah menganalisa ada tiga aspek yakni kelemahan karakter, kualitas pemain, dan tim analis yang dimiliki tim-tim tersebut.

“Sistem turnamen selalu sulit bagi para peserta. Termasuk Piala Dunia 2026 ini. Tiap tim harus punya karakter kuat, kualitas pemain bagus, dan tim analis mumpuni. Wakil AFC hanya beberapa negara yang memiliki tiga aspek itu,” katanya.c

Faktor Materi

Pengamat sepak bola asal Malaysia itu menunjuk Korsel dan Jepang punya karakter kuat. Tapi materi pemain Korsel tak cukup untuk bersaing di Grup A. Sementara Jepang nyaris sempurna.

“Pelatih lokal mampu menjaga karakter khas Korsel dan Jepang. Australia tak punya karakter khusus, tapi mereka punya tim analis yang pandai merancang taktik,” jelasnya.

Raja Isa menilai mayoritas tim Asia sangat menggebu-gebu di pertandingan pertama. Namun dia laga berikutnya performa mereka sedikit menurun.

“Di sistem turnamen, pelatih dan stafnya harus pintar menjaga fisik dan mental pemain siap melawan tim manapun. Tapi saya lihat kebanyakan tim Asia sangat semangat di awal, tapi performa mereka merosot di pertandingan berikutnya,” ucapnya.

Debutan Melempem

Raja Isa tak menyalahkan spirit pemain Korsel yang sukses mengalahkan Ceko 2-1 di partai pembuka.

“Misi Korsel sudah benar. Mereka harus dapat poin di pertandingan pertama. Tapi sayang setelah menang atas Ceko, mereka merasa langkah berikutnya makin mudah. Tapi mereka lupa harus melawan tuan rumah Meksiko. Korsel juga masih ngotot ingin mengalahkan Afrika Selatan. Padahal seri saja sudah cukup untuk ke babak 32 Besar,” paparnya.

Mantan pelatih PSM dan Persipura itu juga menyebut Yordania dan Uzbekistan sebagai debutan Piala Dunia 2026 tak menunjukkan permainan terbaiknya.

“Jordania dan Uzbekistan sangat meyakinkan di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Tapi di Piala Dunia 2026, kualitas mereka tak nampak. Terutama Uzbekistan. Saya nilai pergantian pelatih dari Timur Kapadze ke Fabio Cannavaro kesalahan fatal Federasi Uzbekistan. Sehingga karakter tim tak nampak,” tuturnya. 

LARISBOLA – Afrika Selatan harus mengubur mimpi melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 setelah kalah tipis 0-1 dari Kanada pada babak 32 besar. Gol pada masa stoppage time menjadi pembeda dalam laga yang berlangsung di Los Angeles.

Afrika Selatan sebenarnya tampil kompetitif sepanjang pertandingan dan mampu bertahan dari berbagai tekanan tuan rumah. Namun, konsentrasi yang terlepas pada menit-menit akhir membuat mereka gagal mempertahankan hasil imbang.

Kekalahan ini memang menyakitkan, tetapi perjalanan Afrika Selatan tetap layak mendapat apresiasi. Tim asuhan Hugo Broos berhasil mencatat sejarah dengan menembus fase gugur untuk pertama kalinya di ajang Piala Dunia.

Gol Stephen Eustaquio Hancurkan Harapan Bafana Bafana

Pertandingan berjalan hati-hati sejak menit awal dengan kedua tim kesulitan menciptakan peluang bersih. Afrika Selatan sempat memberikan ancaman melalui tendangan jarak jauh Teboho Mokoena yang mampu diamankan kiper Kanada, Maxime Crepeau.

Mokoena yang kembali bermain setelah menjalani skorsing tidak tampil seefektif biasanya. Gelandang berusia 29 tahun itu beberapa kali kehilangan bola sehingga lini belakang harus bekerja ekstra keras.

Kanada hampir membuka keunggulan menjelang turun minum. Sundulan Moise Bombito disapu Aubrey Modiba tepat di garis gawang sebelum Ronwen Williams menggagalkan peluang lanjutan Tajon Buchanan.

Memasuki babak kedua, Hugo Broos melakukan penyesuaian di lini tengah dengan memasukkan Thalente Mbatha. Langkah itu membuat Afrika Selatan lebih solid meski peluang berbahaya tetap minim.

Bek tengah Mbekezeli Mbokazi tampil sebagai pemain paling menonjol di kubu Afrika Selatan. Ia berkali-kali melakukan blok dan sapuan penting untuk meredam ancaman Jonathan David maupun Liam Millar.

Perjalanan Bersejarah Berakhir dengan Kepala Tegak

Kanada meningkatkan intensitas serangan pada fase akhir pertandingan. Masuknya kapten Alphonso Davies yang baru pulih dari cedera memberikan energi tambahan bagi tim Amerika Utara tersebut.

Ronwen Williams masih mampu menjaga gawangnya dari peluang Jonathan David dan Promise David. Namun, tekanan yang terus datang akhirnya membuahkan hasil pada masa stoppage time.

Bola liar jatuh ke kaki Stephen Eustaquio. Gelandang Kanada itu langsung melepaskan tembakan keras yang gagal dihentikan Williams dan membawa negaranya menang 1-0.

Gol tersebut memastikan Kanada melaju ke babak 16 besar dan melanjutkan pencapaian terbaik mereka di turnamen ini. Di sisi lain, Afrika Selatan harus mengakhiri petualangan yang berkesan meski gagal mencetak sejarah yang lebih besar.

Laga ini juga berpotensi menjadi pertandingan terakhir Hugo Broos bersama tim nasional Afrika Selatan. Pelatih asal Belgia itu menutup periode lima tahun yang sukses dengan membawa Bafana Bafana menjadi salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026.