24 Oktober 2026
Bahaya Kartu Kuning! 17 Pemain Bisa Absen di Semifinal Piala Dunia 2026

BolaIndonesia – Babak perempat final Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi pertaruhan hidup-mati bagi delapan negara yang masih bertahan. Sejumlah pemain bintang juga harus menghadapi ancaman lain yang tak kalah besar, yakni akumulasi kartu kuning yang bisa membuat mereka gagal tampil di semifinal.

Berdasarkan regulasi FIFA, kartu kuning yang diperoleh pada fase gugur baru akan dihapus setelah babak perempat final selesai. Artinya, pemain yang sudah mengoleksi satu kartu kuning akan otomatis terkena skorsing satu pertandingan apabila kembali menerima kartu kuning di laga perempat final. Situasi ini membuat banyak pelatih harus memutar otak agar para pemainnya tetap bermain agresif tanpa kehilangan kendali.

Inggris Punya Risiko Terbesar

Timnas Inggris menjadi salah satu tim yang paling dipusingkan oleh ancaman hukuman tersebut. The Three Lions memiliki lima pemain yang berada di ujung tanduk.

Nama-nama seperti Jude Bellingham, Declan Rice, Marc Guehi, Harry Kane, dan Nico O’Reilly harus ekstra hati-hati saat menghadapi Norwegia. Satu pelanggaran yang berbuah kartu kuning saja dapat membuat mereka kehilangan kesempatan tampil apabila Inggris berhasil menembus semifinal.

Kehilangan pemain-pemain tersebut jelas akan menjadi pukulan besar bagi skuad asuhan Thomas Tuchel. Declan Rice merupakan motor lini tengah, sementara Bellingham menjadi pemain yang kerap menentukan jalannya pertandingan melalui kreativitas dan agresivitasnya.

Michael Olise Jadi Sorotan Prancis

Prancis juga menghadapi persoalan serupa. Michael Olise menjadi salah satu pemain yang terancam absen jika kembali menerima kartu kuning saat Les Bleus menghadapi Maroko.

Bahkan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dikabarkan telah mengajukan banding kepada FIFA terkait kartu kuning yang diterima Olise pada babak sebelumnya. Mereka menilai kartu tersebut tidak layak diberikan sehingga berharap hukuman disiplin itu dapat dibatalkan sebelum pertandingan perempat final berlangsung.

Selain Olise, gelandang Manu Koné juga masuk dalam daftar pemain Prancis yang harus menjaga disiplin selama pertandingan berlangsung.

Hakimi hingga Xhaka Juga Masuk Daftar

Maroko tentu tidak ingin kehilangan Achraf Hakimi yang menjadi salah satu pemain paling berpengaruh sepanjang turnamen. Bek kanan Paris Saint-Germain itu sudah mengoleksi satu kartu kuning sehingga harus tampil lebih disiplin ketika menghadapi Prancis.

Sementara itu, Swiss memiliki kapten sekaligus pemimpin lini tengah, Granit Xhaka, yang juga berada dalam situasi serupa menjelang duel melawan Argentina.

Di kubu Belgia terdapat Brandon Mechele, sedangkan Spanyol harus mewaspadai kemungkinan kehilangan Ferran Torres. Norwegia juga menghadapi ancaman dengan Antonio Nusa yang tampil impresif sepanjang turnamen.

Daftar 17 Pemain yang Terancam Skorsing

Berikut daftar 17 pemain yang akan absen di semifinal apabila menerima kartu kuning pada laga perempat final:

  • Jude Bellingham (Inggris)
  • Declan Rice (Inggris)
  • Marc Guehi (Inggris)
  • Harry Kane (Inggris)
  • Nico O’Reilly (Inggris)
  • Michael Olise (Prancis)
  • Manu Koné (Prancis)
  • Achraf Hakimi (Maroko)
  • Granit Xhaka (Swiss)
  • Ricardo Rodríguez (Swiss)
  • Ferran Torres (Spanyol)
  • Antonio Nusa (Norwegia)
  • Brandon Mechele (Belgia)
  • Leandro Trossard (Belgia)
  • Nicolás Otamendi (Argentina)
  • Rodrigo De Paul (Argentina)
  • Cristian Romero (Argentina)

Adu Strategi Jelang Perebutan Tiket Semifinal

Ancaman kartu kuning dipastikan akan memengaruhi pendekatan setiap pelatih. Di satu sisi mereka membutuhkan performa terbaik dari para pemain inti untuk memenangkan pertandingan. Namun di sisi lain, kehilangan pemain kunci di semifinal tentu bisa menjadi kerugian yang jauh lebih besar.

Karena itu, duel perempat final Piala Dunia 2026 diprediksi berlangsung tidak hanya sengit dari sisi kualitas permainan, tetapi juga penuh pertarungan taktik dan pengendalian emosi. Para pemain dituntut bermain maksimal tanpa melakukan pelanggaran yang tidak perlu.

Jika mampu melewati ujian tersebut, mereka bukan hanya membawa negaranya melangkah ke empat besar, tetapi juga memastikan diri tetap tersedia untuk membantu tim mengejar mimpi mengangkat trofi Piala Dunia 2026.

Piala Dunia 2026: Bukan Argentina, Spanyol Jadi Ancaman Terbesar Prancis

BolaIndonesia – Timnas Prancis kini menjelma sebagai favorit utama untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026. Performa impresif Les Bleus sejak fase grup hingga babak 16 besar membuat banyak pengamat mulai menempatkan mereka di posisi terdepan dalam bursa juara.

Menariknya, ancaman terbesar bagi Prancis justru dinilai bukan datang dari juara bertahan Argentina. Sebaliknya, Spanyol disebut sebagai satu-satunya tim yang memiliki kualitas, keseimbangan permainan, dan kedalaman skuad untuk menggagalkan ambisi Kylian Mbappe dan kolega.

Sejumlah simulasi superkomputer serta bursa taruhan terbaru bahkan menempatkan Prancis sebagai kandidat nomor satu juara, sementara Spanyol berada tepat di belakang mereka sebagai pesaing paling berbahaya.

Prancis Tampil Nyaris Sempurna

Prancis melaju ke perempat final dengan modal yang sangat meyakinkan. Lini depan mereka produktif, sementara pertahanan tampil disiplin dan sulit ditembus.

Kehadiran Kylian Mbappe tetap menjadi pembeda terbesar. Kecepatan, penyelesaian akhir, hingga kemampuannya membuka ruang membuat pertahanan lawan selalu berada dalam tekanan sepanjang pertandingan.

Namun kekuatan Prancis bukan hanya berada pada Mbappe. Ousmane Dembele, Desire Doue, Eduardo Camavinga, Aurélien Tchouaméni hingga William Saliba memberikan keseimbangan di setiap lini.

Kedalaman skuad inilah yang membuat Prancis tetap berbahaya meski harus menghadapi jadwal padat di fase gugur. Tidak mengherankan jika berbagai model prediksi kini menempatkan Les Bleus sebagai favorit kuat untuk menjadi kampiun dunia.

Argentina Tetap Berbahaya, Tetapi…

Argentina memang masih memiliki Lionel Messi yang tampil luar biasa sepanjang turnamen. Albiceleste juga menunjukkan mental juara ketika menyingkirkan Mesir dan berhasil menjaga asa mempertahankan gelar.

Namun secara keseluruhan, perjalanan Argentina menuju final berada di sisi bagan yang berbeda dengan Prancis. Artinya kedua tim hanya mungkin bertemu apabila sama-sama berhasil mencapai partai puncak.

Selain itu, beberapa analis menilai permainan Argentina musim ini lebih mengandalkan pengalaman serta efektivitas dibanding dominasi penuh selama 90 menit.

Jika dibandingkan dengan Prancis yang memiliki kombinasi kecepatan, kekuatan fisik, dan kedalaman pemain lebih merata, Argentina dinilai sedikit berada di bawah level Les Bleus dalam aspek intensitas permainan.

Spanyol Punya Senjata yang Tidak Dimiliki Tim Lain

Berbeda dengan Argentina, Spanyol memiliki karakter permainan yang sangat merepotkan Prancis.

Tim asuhan Luis de la Fuente tampil disiplin dalam bertahan sekaligus sabar menguasai bola. Mereka mampu memperlambat tempo ketika dibutuhkan, tetapi juga dapat menyerang dengan sangat cepat saat menemukan celah.

Keunggulan terbesar Spanyol adalah organisasi permainan yang sangat rapi. Mereka tidak bergantung pada satu pemain bintang sehingga ancaman bisa datang dari berbagai sektor.

Lini tengah menjadi kekuatan utama La Roja. Dominasi penguasaan bola mampu mengurangi peluang lawan untuk mengembangkan permainan, sesuatu yang sangat penting ketika menghadapi tim secepat Prancis.

Selain itu, pertahanan Spanyol juga menjadi salah satu yang paling solid sepanjang turnamen sehingga membuat mereka layak disebut sebagai lawan paling sulit bagi Les Bleus.

Jalur Menuju Final Bisa Mempertemukan Keduanya

Skenario paling menarik justru berada di bagan semifinal.

Apabila Prancis mampu mengatasi Maroko dan Spanyol berhasil melewati hadangan Belgia, kedua raksasa Eropa tersebut akan saling bertemu untuk memperebutkan satu tiket menuju final Piala Dunia 2026.

Banyak pihak bahkan menilai laga tersebut berpotensi menjadi “final sebelum final” mengingat kualitas kedua tim yang sama-sama berada di level tertinggi.

Pemenang duel itu diyakini akan menjadi favorit mutlak untuk mengangkat trofi pada partai final.

Duel yang Dinanti Pecinta Sepak Bola Dunia

Prancis memang masih menjadi kandidat terkuat juara Piala Dunia 2026. Mereka memiliki skuad lengkap, pengalaman besar, dan pemain-pemain yang mampu menentukan pertandingan kapan saja.

Namun jika ada satu tim yang benar-benar mampu menghentikan langkah Les Bleus, banyak indikator saat ini mengarah kepada Spanyol.

Kombinasi penguasaan bola, disiplin taktik, pertahanan kokoh, dan efektivitas serangan membuat La Roja menjadi lawan yang paling berpotensi merusak mimpi Prancis meraih gelar juara dunia.

Apabila duel tersebut benar-benar terjadi di semifinal, pertandingan itu berpeluang menjadi laga terbaik sepanjang Piala Dunia 2026 sekaligus menentukan siapa yang paling pantas berdiri di podium tertinggi dunia sepak bola.

BOLADONESIA – Wasit Piala Dunia 2026 ternyata menghadapi tuntutan fisik yang tak kalah berat dibanding para pemain. Di setiap pertandingan, mereka harus berlari hingga 13 kilometer demi selalu berada di posisi terbaik untuk mengambil keputusan.

Di balik setiap peluit yang memicu sorak maupun kontroversi, Wasit Piala Dunia 2026 dituntut mengikuti tempo permainan selama 90 menit. Menurut FIFA, seorang wasit rata-rata menempuh jarak 12 hingga 13 kilometer dalam satu pertandingan, angka yang hampir setara dengan jarak tempuh sebagian besar pemain di lapangan.

Beban tersebut membuat Wasit Piala Dunia 2026 wajib memiliki kebugaran layaknya atlet elite. Mereka tak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga mampu menjaga konsentrasi dan mengambil keputusan akurat di bawah tekanan pertandingan.

FIFA mengungkapkan persiapan menuju turnamen sudah dimulai hampir empat tahun sebelum sepak mula. Sebanyak 52 wasit, 88 asisten wasit, dan 30 petugas pertandingan video dari 50 asosiasi anggota FIFA menjalani program latihan khusus.

“Persiapan para wasit untuk Piala Dunia 2026 dimulai hampir empat tahun lalu,” demikian keterangan FIFA kepada Reuters.

Wasit Piala Dunia 2026 Jalani Latihan Berat

Selama proses tersebut, Wasit Piala Dunia 2026 menjalani berbagai latihan yang mencakup daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan, hingga akselerasi melalui simulasi pertandingan. FIFA juga memanfaatkan teknologi seperti GPS tracker, sensor detak jantung, dan tes asam laktat untuk memantau kondisi fisik serta proses pemulihan masing-masing wasit.

Tantangan mereka tak berhenti di lapangan. Para pengadil pertandingan juga harus beradaptasi dengan cuaca panas dan kelembapan tinggi di Miami, bermain di ketinggian lebih dari 2.200 meter di Mexico City, hingga menghadapi perjalanan jauh dan perbedaan zona waktu selama turnamen berlangsung.

Pengalaman bertugas pada Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat pun menjadi bekal penting dalam menyusun program persiapan. Setelah setiap pertandingan, Wasit Piala Dunia 2026 juga menjalani masa pemulihan khusus berupa latihan ringan, pijat, hingga krioterapi agar tetap berada dalam kondisi terbaik.

Meski jarang menjadi pusat perhatian, peran wasit tetap sangat vital. Satu peluit atau satu keputusan dari Wasit Piala Dunia 2026 bisa mengubah jalannya pertandingan, bahkan menentukan nasib sebuah negara di panggung sepak bola terbesar dunia.

KLIKBEST – Piala Dunia 2026 memasuki fase perempat final. Delapan tim terbaik telah memastikan tempat setelah melewati babak 16 besar yang penuh drama, kejutan, hingga momen emosional.

Tim-tim yang lolos ke delapan besar adalah Prancis, Maroko, Spanyol, Belgia, Norwegia, Inggris, Argentina, dan Swiss. Menariknya, tiga tuan rumah Piala Dunia 2026, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, seluruhnya sudah tersingkir.

Argentina menjadi satu di antara tim yang lolos dengan cara dramatis. Lionel Messi dan kawan-kawan harus bekerja keras sebelum menyingkirkan Mesir dengan skor 3-2.

Sementara itu, Swiss memastikan tiket perempat final setelah menang adu penalti atas Kolombia. Laga tersebut berjalan ketat sebelum Swiss akhirnya unggul 4-3 dalam drama tos-tosan.

Akhir Pahit untuk Ronaldo dan Neymar

Babak 16 besar juga menjadi panggung perpisahan bagi dua bintang besar sepak bola dunia, Cristiano Ronaldo dan Neymar.

Portugal harus tersingkir setelah kalah tipis 0-1 dari Spanyol. Hasil itu membuat mimpi Ronaldo untuk menutup karier internasionalnya dengan trofi Piala Dunia kandas.

Nasib serupa dialami Neymar. Brasil tersingkir setelah kalah 1-2 dari Norwegia. Seusai laga, Neymar disebut mengumumkan pensiun dari Timnas Brasil.

Jadwal Pertandingan

Berikut jadwal lengkap perempat final Piala Dunia 2026:

Prancis Vs Maroko Jumat, 10 Juli 2026 Boston Stadium Pukul 03.00 WIB

Spanyol Vs Belgia Sabtu, 11 Juli 2026 Los Angeles Stadium Pukul 02.00 WIB

Norwegia Vs Inggris Minggu, 12 Juli 2026 Miami Stadium Pukul 04.00 WIB

Argentina Vs Swiss Minggu, 12 Juli 2026 Kansas City Stadium Pukul 08.00 WIB

Legenda Timnas Prancis, Patrice Evra, memberikan pujian kepada performa Timnas Inggris di Piala Dunia 2026.

Namun, ia mengingatkan para pendukung The Three Lions agar tidak terlalu cepat percaya diri dengan menyanyikan slogan legendaris “It’s Coming Home”.

Inggris tampil impresif sepanjang fase gugur. Setelah menyingkirkan Republik Demokratik Kongo, pasukan Thomas Tuchel membuat kejutan besar dengan mengalahkan tuan rumah Meksiko untuk melaju ke perempat final.

Kini, Harry Kane dan kolega akan menghadapi Norwegia di Miami pada Sabtu (11/7/2026) demi memperebutkan tiket ke semifinal Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam tiga edisi terakhir.

Evra: Inggris Punya Kualitas Juara

Dalam wawancaranya bersama Stake, Evra menilai Inggris memiliki kualitas untuk menjadi juara dunia. Namun, menurutnya, perjalanan menuju trofi masih panjang sehingga para suporter sebaiknya tidak terlalu cepat larut dalam euforia.

“Inggris bermain sangat baik, tetapi tolong jangan mulai menyanyikan ‘It’s Coming Home’ terlalu cepat. Mungkin jika kali ini kalian tetap tenang, trofi itu benar-benar bisa pulang,” ujar Evra.

Mantan bek Manchester United itu juga memuji peran kapten Inggris, Harry Kane. Menurut Evra, kontribusi Kane tidak hanya diukur dari jumlah gol yang dicetaknya.

“Harry Kane tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Orang-orang hanya membicarakan golnya, padahal saya menyukai kecerdasannya. Dia mampu menghubungkan permainan, melibatkan rekan-rekannya, dan benar-benar memahami sepak bola.”

Tantangan Sesungguhnya Ada di Momen Krusial

Evra menegaskan Inggris memiliki materi pemain yang cukup untuk melangkah hingga final. Namun, ia menilai keberhasilan di Piala Dunia lebih ditentukan oleh kemampuan menghadapi tekanan pada laga-laga besar.

“Inggris punya kualitas untuk melangkah sampai akhir. Tidak diragukan lagi. Pertanyaannya bukan soal bakat, melainkan apakah mereka mampu menghadapi momen-momen besar ketika pertandingan menjadi sangat berat. Itulah yang menentukan juara Piala Dunia, bukan hanya permainan indah.”

Inggris Kehilangan Dua Pemain

Menjelang duel melawan Norwegia, Inggris dipastikan tidak tampil dengan kekuatan penuh.

Bek muda Jarell Quansah harus menjalani hukuman larangan bermain setelah menerima kartu merah saat menghadapi Meksiko. Sementara itu, gelandang senior Jordan Henderson juga absen karena mengalami patah tulang lengan setelah pertandingan tersebut.

Meski kehilangan dua pemain, Inggris tetap difavoritkan untuk melangkah ke semifinal dan berpotensi menghadapi Argentina apabila mampu melewati hadangan Norwegia.

BOLADONESIA – Kegagalan timnas Brasil di Piala Dunia 2026 masih menyisakan kekecewaan dan kekesalan di publik sepak bola negeri itu. Carlo Ancelotti, sang pelatih, jadi sasaran utamanya. Romario Faria, striker andalan saat juara Piala Dunia 1994, bahkan menyebut pelatih Italia itu seharusnya dipecat oleh Asosiasi Sepak Bola Brasil (CBF).

Romario mengakui materi pemain Brasil saat ini tidak seperti pada masanya. Ada penurunan kualitas yang begitu nyata. Namun, Ancelotti sebagai pelatih tetaplah sosok yang paling bertanggung jawab atas kegagalan di Piala Dunia kali ini. Terutama kekalahan 1-2 dari Norwegia pada babak 16 besar.

“Kami pernah punya Dunga. Dia kalah dan pergi. Felipao yang menang dan bertahan. Kami pernah dilatih Tite yang kalah, bertahan, dan pergi. Sekarang, kami punya Ancelotti ini yang kalah dan akan bertahan lagi. Sumpah, itu salah besar!” ujar Romario Faria soal Carlo Ancelotti seperti dikutip IDNEWS.TOP dari No Ataque. “Saya akan bilang kepada dia untuk mengambil tiket dan pulang ke Italia.”

Pemain terbaik Piala Dunia 1994 itu menambahkan, “Saya tak mengatakan Ancelotti sebagai biang kegagalan, tapi dia sangat bertanggung jawab pada kekalahan ini. Dia menarik Bruno Guimaraes dan memasukkan Ederson. Mengapa dan untuk alasan apa? Saya ingin tahu apa yang ingin dia coba dengan melakukan hal itu.”

Kontrak Carlo Ancelotti

Hal yang juga dikritik Romario Faria adalah putusan CBF memperpanjang kontrak Carlo Ancelotti jelang Piala Dunia 2026. Durasinya pun tak main-main, hingga Piala Dunia 2030! Padahal, saat didapuk sebagai pelatih baru pada Mei 2025, dia hanya diikat kontrak hingga Piala Dunia 2026. Logikanya, hasil di ajang itu jadi pertimbangan utama untuk memperpanjang atau memutus kontraknya.

“Tidak mungkin Ancelotti bisa terus jadi pelatih timnas Brasil setelah kekalahan ini, setelah aib yang ditimbulkannya (melawan Norwegia). Saya akan merobek surat kontraknya dan menyuruh dia untuk mengambil langkah hukum!” ucap eks striker yang menjulang di PSV Eindhoven dan Barcelona tersebut.

Akan tetapi, harapan Romario dipastikan tak terwujud. CBF tetap bergeming untuk memberikan waktu kepada Ancelotti. “Dia hanya punya waktu kurang dari setahun dan bekerja sekitar 4 bulan,” ujar Ridrigo Caetano, Direktur Tim Nasional. “Saya yakin tim ini berada di jalur meningkat. Penilaiannya pun positif. Jika tidak, dia tak mungkin mau bertahan. Dia sendiri tentu tak akan memutuskan bertahan.”

Caetano pun yakin Ancelotti dan tim kepelatihannya akan mampu membentuk tim baru dengan mengandalkan para pemain muda seiring berakhirnya era para pemain senior. Dia juga menegaskan, putusan tetap mempertahankan Ancelotti adalah upaya untuk mencari stabilitas. Dia mengingatkan, tren memecat pelatih setelah gagal di turnamen bersar terbukti tak berdampak positif bagi Selecao.

LARISBOLA – Prancis terus memperkuat statusnya sebagai favorit juara Piala Dunia 2026. Penampilan konsisten Les Bleus sepanjang turnamen membuat banyak pengamat menilai mereka sebagai tim yang paling siap mengangkat trofi.

Tim asuhan Didier Deschamps melangkah ke babak perempat final dengan performa yang meyakinkan. Mereka hanya kebobolan dua gol dalam lima pertandingan dan tetap mengandalkan ketajaman Kylian Mbappe sebagai senjata utama.

Di tengah laju impresif tersebut, muncul pandangan menarik dari Arsene Wenger. Mantan pelatih Arsenal itu justru tidak melihat Argentina sebagai ancaman terbesar bagi Prancis.

Menurut Wenger, hanya Spanyol yang memiliki karakter permainan untuk meredam kekuatan Les Bleus. Ia menilai kualitas kolektif La Furia Roja menjadi modal utama untuk menghentikan langkah Prancis menuju gelar dunia.

Wenger Jagokan Prancis, tetapi Waspadai Spanyol
Wenger mengaku menjagokan Prancis menjadi juara Piala Dunia 2026. Ia menilai Les Bleus tampil paling konsisten dibandingkan negara peserta lainnya.

Bagi Wenger, sepak bola modern menuntut setiap tim mampu bermain dengan intensitas tinggi sepanjang pertandingan. Prancis dinilai memiliki perpaduan kualitas teknik, fisik, dan kedalaman skuad yang membuat mereka unggul.

“Prancis akan memenangkan Piala Dunia. Saya tahu Anda akan berkata, ‘Tentu saja Anda mengatakan itu, Anda orang Prancis,” kata Wenger kepada Sky Sports.

“Tetapi ketika Anda menganalisis Piala Dunia, kereta berjalan dengan kecepatan tertentu, dan Anda harus mampu menaiki kereta itu. Misalnya, tim-tim Asia tersingkir karena mereka tidak mampu mengatasi intensitas dan kecepatan pertandingan,” sambungnya.

Pertandingan Selanjutnya

Meski menjagokan negaranya sendiri, Wenger melihat Spanyol sebagai satu-satunya tim yang berpotensi menghentikan Prancis. Kedua tim bahkan berpeluang bertemu di semifinal apabila sama-sama lolos dari babak perempat final.

Menurut Wenger, keunggulan utama Spanyol terletak pada permainan kolektif mereka. Aspek tersebut dinilai belum bisa ditandingi negara lain di Piala Dunia 2026.

“Pertanyaan sebenarnya bagi saya adalah Spanyol. Jika ada satu tim yang mampu mengalahkan Prancis saat ini, saya akan mengatakan itu adalah Spanyol karena level teknis mereka lebih baik daripada Prancis,” tambah pria berusia 76 tahun itu.

“Mereka memiliki kualitas dan budaya sepak bola kolektif yang tidak dimiliki tim lain di dunia pada level itu. Itu bisa menjadi penentu antara kedua tim ini, tetapi tentu saja Prancis lebih kuat secara fisik,” ucap Wenger

Timnas Prancis akan menghadapi Timnas Maroko dalam babak perempat final Piala Dunia 2026 di Boston Stadium, Boston, Jumat (10/7/2026) dini hari WIB, dalam laga yang sekaligus menjadi ulangan semifinal edisi 2022

Pemenang pertandingan ini dipastikan melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 untuk menghadapi pemenang duel Timnas Spanyol kontra Timnas Belgia.

Prancis datang dengan modal lima kemenangan beruntun sejak penyisihan grup hingga babak 16 besar. Tim berjuluk Les Bleus lebih dulu menjadi juara Grup I sebelum menyingkirkan Timnas Swedia dan Timnas Paraguay untuk mengamankan tiket ke delapan besar.

Perjalanan terakhir Prancis tidak berjalan mudah karena harus menunggu gol penalti Kylian Mbappe untuk mengalahkan Paraguay. Armada Didier Deschamps telah mengoleksi 13 gol sepanjang Piala Dunia 2026.

Dominasi Prancis

Produktivitas Prancis tidak lepas dari kontribusi lini depan yang dihuni Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, dan Bradley Barcola. Desire Doue juga menjadi pemain penting setelah aksinya menghasilkan penalti yang menentukan kemenangan atas Paraguay.

Deschamps berpeluang mencatat sejarah pada pertandingan ini. Pelatih yang akan mengakhiri masa baktinya setelah Piala Dunia 2026 itu dijadwalkan menjalani laga ke-25 di putaran final sehingga menyamai rekor milik Helmut Schon.

Selain membidik rekor tersebut, Deschamps juga berpotensi membukukan kemenangan ke-20 sebagai pelatih di Piala Dunia. Sebelumnya, Prancis sempat bermain di Boston dan meraih kemenangan 4-1 atas Timnas Norwegia.

Di sisi lain, Maroko bertekad memutus catatan buruk saat menghadapi Prancis. Tim berjuluk Atlas Lions itu belum pernah mengalahkan Les Bleus dalam waktu normal dari enam pertemuan sebelumnya dengan rincian empat kekalahan dan dua hasil imbang.

Konsistensi Maroko

Satu-satunya pertemuan kedua kesebelasan di kejuaraan kompetitif terjadi pada semifinal Piala Dunia 2022. Saat itu, Maroko harus mengakui keunggulan Prancis 0-2 sehingga gagal melangkah ke partai final.

Pada Piala Dunia 2026, Maroko kembali menunjukkan konsistensi dengan melewati lima pertandingan pertama tanpa kekalahan. Pasukan Mohamed Ouahbi itu lolos sebagai runner-up Grup C sebelum menyingkirkan Timnas Belanda melalui adu penalti dan mengalahkan tuan rumah bersama, Timnas Kanada, pada 16 besar.

Azzedine Ounahi menjadi bintang kemenangan Maroko atas Kanada setelah mencetak dua gol pada babak kedua. Sementara itu, Soufiane Rahimi yang masuk dari bangku cadangan turut menyumbang satu gol pada masa injury time.

Hasil tersebut membuat Maroko memperpanjang catatan tidak terkalahkan menjadi sepuluh pertandingan di berbagai kejuaraan sejak final Piala Afrika awal tahun ini. Namun, menghadapi Prancis diprediksi menjadi ujian terberat untuk menjaga tren positif tersebut.

Prakiraan Susunan Pemain

Prancis (4-2-3-1): Mike Maignan; Jules Kounde, Dayot Upamecano, William Saliba, Lucas Digne; Manu Kone, Adrien Rabiot; Ousmane Dembele, Michael Olise, Bradley Barcola; Kylian Mbappe

Pelatih: Didier Deschamps

Maroko (4-2-3-1): Yassine Bounou; Achraf Hakimi, Mouhamadou Diarra Diop, Chadi Riad, Noussair Mazraoui; Neil El Aynaoui, Ayyoub Bouaddi; Brahim Diaz, Azzedine Ounahi, Bilal El Khannouss; Soufiane Rahimi

Pelatih: Mohamed Ouahbi

Idnews.top – Jadwal dan link streaming Swiss vs Kolombia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 akan tersaji di BC Place, Vancouver, Rabu (8/7/2026) pukul 03.00 WIB. Duel Swiss vs Kolombia disiarkan langsung di TVRI, TVRI Sport, serta dapat disaksikan melalui layanan streaming FolaPlay dan MaxStream.

Pertandingan ini menjadi kesempatan berharga bagi kedua tim untuk kembali menembus babak perempat final Piala Dunia. Swiss terakhir kali mencapai fase delapan besar pada edisi 1954, sedangkan pencapaian terbaik Kolombia terjadi di Piala Dunia 2014.

Swiss melaju ke babak 16 besar dengan performa yang meyakinkan setelah mengalahkan Aljazair 2-0. Sementara itu, Kolombia memastikan tiket ke fase gugur berikutnya usai menundukkan Ghana dengan skor tipis 1-0.

Sepanjang turnamen, Swiss tampil konsisten. Tim asuhan Murat Yakin belum tersentuh kekalahan dan memperlihatkan keseimbangan antara pertahanan yang solid serta penyelesaian akhir yang efektif.

Pengalaman Granit Xhaka dan Ricardo Rodriguez menjadi salah satu kekuatan utama Swiss. Di lini depan, Johan Manzambi juga tampil tajam dengan koleksi tiga gol yang membuatnya menjadi ancaman serius bagi pertahanan Kolombia.

Jadwal, Siaran Langsung, dan Link Streaming

Kompetisi: 16 Besar Piala Dunia 2026
Pertandingan: Swiss vs Kolombia
Tempat: BC Place Vancouver
Hari, tanggal: Rabu, 8 Juli 2026
Jam kick-off: 03.00 WIB
Siaran langsung: TVRI dan TVRI Sport
Live streaming: FolaPlay dan MaxStream
Link streaming: https://maxstream.tv/live/0_fhyth65l/swiss_vs_kolombia
DISCLAIMER: Semua informasi mengenai jadwal siaran TV yang disajikan disusun berdasarkan data yang tersedia untuk umum pada saat penulisan. Stasiun televisi terkait berhak melakukan perubahan jadwal, penundaan, atau pembatalan program siaran tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Prediksi Skor

Rekor pertemuan sedikit berpihak kepada Kolombia. Dari empat perjumpaan sebelumnya, Kolombia meraih dua kemenangan, termasuk kemenangan 2-0 pada fase grup Piala Dunia 1994. Swiss hanya sekali menang, sedangkan satu laga lainnya berakhir imbang.

Pertarungan di lini tengah diprediksi menjadi faktor penentu. Granit Xhaka akan berhadapan langsung dengan Jefferson Lerma dalam duel memperebutkan kendali permainan.

Apabila Xhaka mampu mengatur tempo dan distribusi bola seperti pada laga-laga sebelumnya, Swiss berpeluang lebih banyak menguasai pertandingan. Namun, jika Lerma sukses mematahkan aliran serangan lawan, Kolombia bisa mengandalkan kecepatan Luis Díaz untuk melancarkan serangan balik.

Melihat performa kedua tim sepanjang turnamen, pertandingan diperkirakan berlangsung ketat dan seimbang. Meski Swiss memiliki organisasi permainan yang lebih rapi, efektivitas serangan balik Kolombia membuat wakil Amerika Selatan itu sedikit lebih diunggulkan.

Pelatih Swiss Ungkap Strategi Jitu Taklukkan Kolombia 4-3

BolaIndonesia – Timnas Swiss memastikan satu tempat di babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah melewati duel dramatis kontra Kolombia pada babak 16 besar. Laga yang berlangsung sengit selama 120 menit itu berakhir tanpa gol sebelum Swiss akhirnya menang 4-3 melalui adu penalti. Kemenangan tersebut menjadi pencapaian bersejarah karena membawa Swiss melaju ke delapan besar Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1954.

Usai pertandingan, pelatih Swiss Murat Yakin mengungkap faktor utama yang membuat timnya mampu mengatasi tekanan Kolombia yang tampil agresif sejak awal pertandingan. Menurutnya, kemenangan bukan hanya ditentukan keberuntungan dalam adu penalti, melainkan hasil dari kesabaran, disiplin, serta keputusan taktis yang tepat sepanjang laga.

Kesabaran Jadi Senjata Utama Swiss

Yakin menilai Kolombia merupakan salah satu lawan paling sulit yang dihadapi timnya sepanjang turnamen. Skuad Amerika Selatan tersebut mampu menguasai bola dalam beberapa fase pertandingan dan beberapa kali mengancam gawang Gregor Kobel.

Meski demikian, Swiss tidak terpancing bermain terbuka. Mereka tetap mempertahankan organisasi pertahanan yang rapat sambil menunggu peluang melakukan serangan balik.

“Kami tahu pertandingan akan berlangsung sangat ketat. Kuncinya adalah tetap sabar dan tidak kehilangan struktur permainan,” ungkap Yakin setelah pertandingan.

Pendekatan tersebut terbukti efektif. Kolombia kesulitan menemukan ruang di area pertahanan Swiss meski beberapa kali menciptakan peluang melalui Luis Diaz dan Daniel Munoz.

Pergantian Pemain Jadi Pembeda

Selain disiplin bertahan, Yakin mengaku pergantian pemain menjadi salah satu keputusan terbaik yang diambil sepanjang pertandingan.

Masuknya tenaga baru membuat Swiss mampu menjaga intensitas permainan hingga babak tambahan waktu. Pergantian tersebut juga memberikan energi ketika para pemain mulai mengalami kelelahan.

Yakin menyebut dirinya sengaja menyiapkan beberapa pemain yang memiliki karakter berbeda agar mampu mengubah ritme permainan ketika diperlukan.

Menurutnya, momentum pertandingan berubah setelah para pemain pengganti mampu memberikan tekanan lebih besar terhadap lini belakang Kolombia. Keputusan tersebut akhirnya menjadi salah satu faktor penting sebelum pertandingan ditentukan lewat adu penalti.

Mental Baja di Adu Penalti

Setelah gagal mencetak gol selama dua jam pertandingan, Swiss harus menentukan nasib melalui adu penalti.

Yakin mengaku sudah mempersiapkan situasi tersebut sejak sesi latihan beberapa hari sebelum pertandingan. Para pemain diminta tetap tenang dan fokus meski tekanan sangat besar.

Swiss akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 4-3 setelah Ruben Vargas sukses mengeksekusi penalti penentu. Gregor Kobel juga tampil gemilang dengan melakukan penyelamatan penting yang menjaga harapan negaranya tetap hidup.

Pelatih berusia 51 tahun itu memuji mental seluruh pemainnya yang mampu menjaga konsentrasi hingga tendangan terakhir.

Pertahanan Solid Redam Ketajaman Kolombia

Sepanjang turnamen, Kolombia dikenal sebagai salah satu tim paling produktif dengan permainan menyerang yang cepat.

Namun, Swiss berhasil mematahkan kekuatan tersebut melalui koordinasi pertahanan yang disiplin.

Yakin menegaskan seluruh pemain menjalankan instruksi dengan sangat baik. Gelandang ikut membantu pertahanan, sementara lini belakang selalu menjaga jarak antarpemain sehingga Kolombia kesulitan menciptakan peluang bersih.

Strategi tersebut membuat Swiss mampu mencatat clean sheet hingga pertandingan selesai meski lawan beberapa kali mengancam melalui serangan cepat.

Fokus Hadapi Argentina di Perempat Final

Keberhasilan menyingkirkan Kolombia membawa Swiss menghadapi tantangan jauh lebih berat di babak perempat final, yakni melawan Argentina.

Yakin mengaku bangga dengan pencapaian anak asuhnya, tetapi meminta seluruh skuad segera mengalihkan fokus karena perjalanan masih panjang.

Ia menilai kemenangan atas Kolombia memberikan suntikan kepercayaan diri yang besar, namun menghadapi Argentina membutuhkan level permainan yang lebih tinggi lagi.

Swiss kini memiliki kesempatan menorehkan sejarah baru apabila mampu melanjutkan kejutan di babak delapan besar. Sementara itu, Argentina datang dengan modal kemenangan dramatis atas Mesir sehingga duel kedua tim diprediksi menjadi salah satu laga paling menarik pada fase perempat final Piala Dunia 2026.