25 Oktober 2026

LARISBOLA – Prancis hanya selangkah lagi menuju final Piala Dunia 2026 dan akan menghadapi Spanyol pada semifinal yang berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7/2026) pukul 02.00 WIB. Didier Deschamps diperkirakan tetap mempertahankan sebagian besar pemain inti yang telah membawa Les Bleus melaju hingga empat besar.

Laga ini memiliki arti penting bagi tim berjuluk Les Bleus karena mereka berpeluang menjadi negara ketiga yang mampu mencapai tiga final Piala Dunia secara beruntun. Stabilitas susunan pemain menjadi salah satu kekuatan yang terus dijaga Deschamps sepanjang turnamen.

Meski terdapat beberapa pemain yang masih dipantau kondisi kebugarannya, perubahan besar diperkirakan tidak akan terjadi. Hanya beberapa posisi yang masih membuka peluang persaingan hingga menjelang kick-off.

Lini Tengah Prancis Masih Menjadi Tanda Tanya

Mike Maignan hampir dipastikan kembali mengawal gawang Prancis dalam penampilan internasionalnya yang ke-47. Empat bek yang mengisi lini pertahanan juga diprediksi tetap sama, yakni Jules Kounde, Dayot Upamecano, William Saliba, dan Lucas Digne.

Persaingan paling menarik berada di sektor gelandang. Aurelien Tchouameni masih berusaha pulih dari cedera paha yang membuatnya absen dalam dua pertandingan terakhir.

Jika belum sepenuhnya fit, Manu Kone berpeluang kembali menjadi starter. Penampilannya dinilai meyakinkan saat menggantikan peran Tchouameni di fase gugur.

Patrick Vieira bahkan memberikan pujian tinggi kepada Kone. “Dia adalah gelandang terbaik Les Bleus,” ujar juara Piala Dunia 1998 tersebut.

Manu Kone diperkirakan akan berduet dengan Adrien Rabiot apabila sang gelandang mampu mengatasi masalah lutut yang sempat membuatnya ditarik keluar saat Prancis mengalahkan Maroko di perempat final. Kondisi Rabiot terus dipantau, tetapi peluang tampil sejak menit awal masih cukup besar.

Mbappe Siap Pimpin Lini Serang Prancis

Kylian Mbappe tetap menjadi tumpuan utama Prancis meski sempat gagal mengeksekusi penalti pada laga sebelumnya. Kapten Les Bleus tetap mencatatkan gol kedelapan di turnamen dan kini bersaing dalam perebutan Sepatu Emas.

Mbappe juga sempat mengalami cedera engkel ringan dan ditarik keluar pada babak kedua. Namun, kondisinya diperkirakan sudah cukup baik untuk tampil sejak awal menghadapi Spanyol.

Di belakang Mbappe, Ousmane Dembele dan Michael Olise hampir pasti mengisi posisi sayap. Satu tempat lain di lini depan diprediksi menjadi milik Desire Doue yang bersaing dengan Bradley Barcola.

Marcus Thuram telah kembali berlatih penuh setelah pulih dari cedera betis. Meski demikian, penyerang Inter Milan itu kemungkinan memulai pertandingan dari bangku cadangan bersama Jean-Philippe Mateta, sementara Rayan Cherki tetap menjadi opsi penting untuk mengubah jalannya pertandingan.

FIFA akan mengkaji kemungkinan menambah jumlah peserta Piala Dunia menjadi 64 tim mulai edisi 2030.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengatakan pembahasan mengenai usulan tersebut akan dilakukan setelah Piala Dunia 2026 berakhir.

Piala Dunia 2026 ssudah mengalami perluasan dari 32 menjadi 48 peserta. Turnamen itu digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Sementara itu, Piala Dunia 2030 akan berlangsung di enam negara yang tersebar di tiga benua.

Uruguay, tuan rumah edisi perdana pada 1930, bersama Argentina yang menjadi juara dunia 2022 dan Paraguay dijadwalkan masing-masing menggelar satu pertandingan pembuka. Adapun sisa pertandingan akan dibagi antara Maroko, Portugal, dan Spanyol.

Pada September 2025, FIFA telah membahas kemungkinan memperluas jumlah peserta Piala Dunia 2030 setelah menerima proposal resmi dari delegasi sejumlah tokoh berpengaruh Amerika Selatan.

Penyataan Infantino

Dilansir dari The Athletic, Infantino memastikan usulan tersebut akan dibahas di komite terkait setelah Piala Dunia 2026 berakhir.

“Ini jelas merupakan isu yang akan dikaji dan didiskusikan di komite-komite terkait setelah Piala Dunia ini,” kata Infantino kepada media Swiss, Bluewin.

Ia kembali menegaskan bahwa Piala Dunia diperuntukkan bagi seluruh dunia, bukan hanya Eropa dan Amerika Selatan.

“Setiap negara harus memiliki mimpi untuk tampil di Piala Dunia. Anda bisa melihat kualitas tim-tim saat ini sangat tinggi dan terus meningkat di seluruh dunia.”

“Jika negara-negara yang lebih kecil tidak diberi kesempatan tampil di Piala Dunia, mereka akan kehilangan dorongan untuk terus berkembang,” ucapnya.

Tuai Kritik

Infantino juga menilai format 48 tim yang diterapkan pada Piala Dunia edisi kali ini merupakan “keberhasilan 100 persen”. Namun, format tersebut tetap menuai kritik.

Setelah fase grup berakhir, pelatih Ghana, Carlos Queiroz, menyebut perluasan peserta telah mengurangi nilai proses kualifikasi dan membuat turnamen menjadi sesuatu yang vulgar dan biasa.

Sebelumnya, Infantino dan FIFA sempat menugaskan studi kelayakan mengenai wacana menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali, bukan empat tahun sekali, sebelum akhirnya rencana tersebut dibatalkan.

Infantino juga mengungkapkan dirinya hampir setiap hari berkomunikasi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, Trump sangat menikmati jalannya turnamen dan menyaksikan hampir setiap pertandingan melalui televisi, meski belum hadir langsung di stadion.

Pria berusia 56 tahun itu kembali menegaskan pernyataannya pada Juni lalu bahwa Trump akan menghadiri partai final Piala Dunia 2026 dan menyerahkan trofi kepada tim juara.

Dukungan

Gagasan Piala Dunia 64 tim pertama kali diajukan pejabat sepak bola Uruguay, Ignacio Alonso, dalam rapat Dewan FIFA pada Maret 2025.

FIFA sebelumnya menyatakan kepada The New York Times bahwa usulan Alonso muncul secara spontan dalam agenda lain-lain menjelang akhir rapat.

Kemudian, pada November 2025, Presiden CONMEBOL yang juga Wakil Presiden FIFA, Alejandro Dominguez, menyebut Piala Dunia 2030 dengan 64 peserta sebagai mimpi yang menurutnya dapat mempersatukan dunia, sekali saja.

Dengan menjadi tuan rumah sebagian pertandingan Piala Dunia 2030, Amerika Selatan tidak dapat kembali menjadi penyelenggara hingga setidaknya 2042 karena aturan FIFA mengatur satu konfederasi hanya bisa menjadi tuan rumah sekali dalam tiga edisi Piala Dunia.

Hal ini berarti Amerika Selatan hanya menjadi tuan rumah utama satu kali dalam rentang 64 tahun, yakni saat Brasil menggelar Piala Dunia 2014.

Jika jumlah peserta bertambah menjadi 64 tim, Uruguay, Argentina, dan Paraguay berpeluang menjadi tuan rumah satu grup penuh, bukan hanya masing-masing satu pertandingan.

Penolakan

Format 64 tim akan membuat lebih dari seperempat dari 210 tim nasional putra anggota FIFA tampil di putaran final. Kondisi itu dinilai berisiko mengurangi arti penting proses kualifikasi di berbagai kawasan.

Di zona CONMEBOL, enam dari 10 negara sudah lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia dengan format 48 tim, ditambah satu tiket play-off.

April lalu, Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menolak usulan tersebut dan menyebutnya sebagai ide yang buruk karena dinilai dapat merusak kualitas turnamen maupun kompetisi kualifikasi di Eropa.

Pandangan serupa juga disampaikan Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, yang menyebut rencana itu bukan ide yang bagus.

Jagokan Inggris Juara Piala Dunia 2026? Ini Kekuatan, Kelemahan, dan Peluang The Three Lions

BolaIndonesia – Timnas Inggris kembali menjadi salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026. Setelah berhasil melaju hingga babak semifinal, The Three Lions menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tim bertabur bintang, tetapi juga memiliki mentalitas juara yang semakin matang di bawah arahan Thomas Tuchel.

Inggris sukses melewati hadangan lawan-lawan tangguh sepanjang fase gugur, termasuk kemenangan dramatis atas Norwegia di perempat final yang memastikan tiket menuju empat besar. Kini, tantangan berikutnya adalah menghadapi Argentina dalam laga semifinal yang diprediksi berlangsung sengit.

Meski begitu, banyak pengamat mulai bertanya-tanya, apakah Inggris benar-benar layak dijagokan menjadi juara dunia? Berikut analisis mengenai kekuatan, kelemahan, dan peluang mereka meraih trofi Piala Dunia 2026.

Kedalaman Skuad Jadi Senjata Utama Inggris

Salah satu alasan terbesar Inggris pantas dijagokan adalah kualitas skuad yang sangat merata. Hampir di setiap posisi, mereka memiliki pemain kelas dunia yang mampu mengubah jalannya pertandingan.

Di lini depan, Harry Kane masih menjadi mesin gol utama. Sang kapten tampil tajam sepanjang turnamen dengan dukungan Jude Bellingham yang sedang menikmati performa terbaiknya. Kombinasi keduanya menjadi ancaman serius bagi pertahanan lawan.

Sementara itu, sektor tengah dihuni pemain-pemain kreatif sekaligus pekerja keras seperti Declan Rice, Elliot Anderson, hingga Phil Foden yang mampu memberikan variasi serangan.

Di lini belakang, Marc Guehi menunjukkan perkembangan pesat. Bersama Jordan Pickford yang tampil konsisten di bawah mistar, Inggris memiliki fondasi pertahanan yang cukup solid.

Kedalaman skuad ini membuat Thomas Tuchel memiliki banyak opsi ketika pertandingan berjalan tidak sesuai rencana. Pergantian pemain sering kali mampu mengubah ritme permainan dan memberikan energi baru.

Mental Bertanding yang Terus Meningkat

Selama bertahun-tahun Inggris sering mendapat kritik karena gagal tampil maksimal di pertandingan besar.

Namun kondisi itu mulai berubah.

Di Piala Dunia 2026, mereka beberapa kali berhasil bangkit dari situasi sulit. Saat menghadapi Norwegia misalnya, Inggris tetap tenang meski pertandingan berlangsung ketat sebelum akhirnya memastikan kemenangan pada babak tambahan waktu.

Thomas Tuchel juga berhasil membangun karakter tim yang tidak mudah panik ketika tertinggal maupun mendapat tekanan tinggi.

Mental inilah yang menjadi pembeda dibanding generasi-generasi sebelumnya. Reuters bahkan menyoroti ketangguhan mental Inggris sebagai salah satu faktor utama keberhasilan mereka mencapai semifinal.

Thomas Tuchel Membawa Identitas Baru

Pergantian pelatih menjadi salah satu titik balik Inggris.

Thomas Tuchel menghadirkan pendekatan taktik yang lebih fleksibel dibanding sebelumnya. Ia mampu mengubah formasi sesuai kebutuhan pertandingan tanpa menghilangkan keseimbangan tim.

Keberanian melakukan pergantian pemain di waktu yang tepat juga menjadi nilai tambah.

Dalam beberapa laga knockout, keputusan Tuchel terbukti memberikan dampak besar terhadap hasil akhir pertandingan. Ia tidak ragu mengubah pola permainan ketika strategi awal tidak berjalan sesuai harapan.

Kelemahan Inggris Masih Terlihat

Meski tampil impresif, Inggris bukan tanpa kelemahan.

Pertama adalah konsistensi permainan selama 90 menit. Pada beberapa pertandingan, mereka sempat kehilangan kontrol sehingga memberi kesempatan lawan menciptakan peluang berbahaya.

Kedua adalah ketergantungan terhadap Jude Bellingham dan Harry Kane.

Kedua pemain tersebut terlibat langsung dalam sebagian besar gol Inggris sepanjang turnamen. Jika salah satu dari mereka mampu dimatikan lawan, kreativitas serangan Inggris berpotensi menurun drastis.

Selain itu, keseimbangan lini belakang juga masih menjadi perhatian. Saat menghadapi tim dengan transisi cepat, Inggris beberapa kali terlihat kesulitan mengantisipasi serangan balik.

Faktor pengalaman Thomas Tuchel di turnamen internasional bersama tim nasional juga masih menjadi tanda tanya, mengingat ini merupakan kompetisi besar pertamanya sebagai pelatih Inggris.

Peluang Juara Sangat Terbuka

Melihat performa sejauh ini, peluang Inggris mengangkat trofi Piala Dunia 2026 jelas sangat terbuka.

Mereka memiliki perpaduan pemain muda berbakat dan sosok senior berpengalaman. Jika mampu melewati rintangan Argentina di semifinal, kepercayaan diri Inggris dipastikan akan meningkat drastis menuju partai final.

Meski Prancis dan Spanyol masih dianggap sebagai favorit utama oleh sebagian analis, Inggris tetap berada dalam kelompok kandidat terkuat berkat konsistensi penampilan mereka sepanjang turnamen.

Kini semuanya bergantung pada kemampuan The Three Lions mempertahankan performa terbaik dalam dua pertandingan terakhir. Bila Harry Kane tetap tajam, Jude Bellingham terus tampil dominan, dan Thomas Tuchel mampu meracik strategi yang tepat, bukan tidak mungkin Inggris akhirnya mengakhiri penantian panjang sejak 1966 dan kembali menjadi juara dunia.

BOLANESIA – Kapten timnas Belgia, Kevin De Bruyne belum memutuskan untuk pensiun dari tim nasional. Namun dia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan.

Belgia gugur pada perempat final Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Spanyol 1-2 (11/7/26). Laga ini diyakini akan menjadi laga terakhir De Bruyne di Piala Dunia.

Pemain Napoli itu sendiri ditanya pasca apakah ini adalah laga terakhirnya bersama Belgia.

“Saya rasa tidak, tapi izinkan saya istirahat sebentar. Tahun ini sangat sibuk, dan setelah itu kita lihat nanti,” ucap De Bruyne seperti dilansir IDNEWS dari Goal.

“Saya telah melewati dua atau tiga tahun yang sulit dan menjalani operasi besar. Saya berusia 35 tahun. Saya bangga bisa berdiri di sini, memberikan segalanya setiap hari, dan mampu menjadi contoh bagi tim muda ini.”

Thibaut Courtois Bisa Ikuti Jejak Kevin De Bruyne

Sementara itu, Thibaut Courtois, yang berusia 34 tahun, juga sejatinya belum mau memutuskan pensiun. Namun dia ingin meminta federasi untuk mengizinkannya beristirahat sepanjang turnamen Nations League dan akan kembali pada Kualifikasi Euro 2028.

Namun jika federasi tidak mengizinkannya, Courtois akan memutuskan pensiun.

“Akan lebih baik jika saya mengambil istirahat selama setahun dari Nations League agar bisa beristirahat. Kemudian saya bisa menjaga gawang untuk kualifikasi Euro dan di Euro. Sekarang terserah pelatih tim nasional dan federasi untuk membuat pilihan,” katanya.

“Saya akan mendiskusikannya dengan Vincent Mannaert dan pelatih tim nasional. Jika mereka memiliki pandangan berbeda dari saya, maka saya harus mempertimbangkan apakah saya bisa tetap menjadi bagian dari Setan Merah. Mungkin ini adalah pertandingan terakhir saya sebagai pemain internasional.”

Idnews.top – Jadwal dan link streaming laga Swiss vs Argentina pada babak 8 Besar Piala Dunia 2026 di Kansas City Stadium, Minggu (12/7) mulai pukul 08.00 pagi WIB. Laga Swiss vs Argentina akan disiarkan di TVRI dan MaxStream.

Perjalanan Argentina menuju delapan besar jauh dari kata mulus. Tim asuhan Lionel Scaloni dipaksa bekerja ekstra dalam dua laga fase gugur.

Saat menghadapi Mesir di babak 16 besar, Argentina sempat tertinggal 0-2 hingga memasuki 10 menit terakhir. Lionel Messi yang sebelumnya gagal mengeksekusi penalti akhirnya mengubah jalannya pertandingan lewat assist untuk Cristian Romero dan gol penyeimbang sebelum Enzo Fernandez memastikan kemenangan dramatis 3-2.

Di sisi lain, Swiss kembali membuktikan konsistensinya di level internasional. Di bawah arahan Murat Yakin, mereka memang tidak selalu tampil atraktif, tetapi mampu menjaga organisasi permainan dengan sangat baik.

Swiss menyingkirkan Kolombia melalui adu penalti setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit. Meski Manuel Akanji gagal mengeksekusi penalti, Ruben Vargas memastikan kemenangan yang membawa Swiss menembus perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1954.

Jadwal, Siaran Langsung, dan Link Streaming

Kompetisi: Piala Dunia 2026
Pertandingan: Argentina vs Swiss
Tempat: Arrowhead Stadium, Kansas City
Hari, tanggal: Minggu, 12 Juli 2026
Jam kick-off: 08.00 WIB
Siaran langsung: TVRI dan TVRI Sport
Link streaming: https://maxstream.tv/live/0_ty7vb3rh/argentina_vs_swiss

Prediksi Skor

Argentina memiliki kualitas individu yang sulit ditandingi, terutama ketika Messi mampu menentukan jalannya pertandingan dalam situasi paling sulit. Pengalaman mereka di laga-laga besar juga menjadi modal penting menghadapi tekanan babak gugur.

Namun, pertahanan Argentina belum sepenuhnya meyakinkan. Mereka sudah kebobolan lima gol dalam tiga pertandingan terakhir, sedangkan Swiss memiliki cukup banyak opsi di lini depan untuk mengeksploitasi ruang yang tersedia.

Swiss kemungkinan akan bermain disiplin sambil menunggu kesempatan melakukan serangan balik. Jika efektivitas penyelesaian akhir mereka lebih baik dibanding saat menghadapi Kolombia, peluang mencetak gol tetap terbuka.

Meski begitu, sulit mengabaikan faktor Messi yang berkali-kali menjadi pembeda. Argentina diprediksi kembali lolos, tetapi mungkin harus melalui pertandingan yang berlangsung ketat.

Prediksi skor akhir: Argentina 2-1 Swiss

BolaIndonesia – Timnas Inggris memastikan langkah ke babak semifinal Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Norwegia dengan skor 2-1 melalui babak perpanjangan waktu dalam pertandingan perempat final yang berlangsung dramatis. Kemenangan ini menjadi salah satu laga paling menarik pada turnamen tahun ini dan kembali menegaskan status The Three Lions sebagai kandidat kuat juara.

Norwegia sempat mengejutkan publik dengan membuka keunggulan lebih dahulu melalui Andreas Schjelderup. Gol tersebut membuat Inggris berada dalam tekanan karena sepanjang babak pertama permainan mereka belum menunjukkan performa terbaik.

Namun, Jude Bellingham kembali menunjukkan kualitasnya sebagai pemain kunci. Gelandang muda tersebut sukses mencetak gol penyeimbang sebelum turun minum sehingga menghidupkan kembali peluang Inggris untuk lolos ke semifinal.

Jude Bellingham Jadi Pembeda

Babak kedua berlangsung ketat dengan kedua tim sama-sama menciptakan sejumlah peluang emas. Erling Haaland berusaha membawa Norwegia kembali unggul, tetapi lini pertahanan Inggris tampil semakin disiplin.

Ketika pertandingan memasuki babak tambahan waktu, Jude Bellingham kembali menjadi pembeda. Ia mencetak gol keduanya setelah memanfaatkan kesalahan di lini belakang Norwegia sehingga membawa Inggris berbalik unggul 2-1.

Gol tersebut sekaligus memastikan Inggris mengamankan satu tempat di semifinal Piala Dunia 2026. Penampilan Bellingham pun mendapat banyak pujian karena kembali menjadi sosok penentu di pertandingan besar.

Norwegia Pulang dengan Kepala Tegak

Meski gagal melangkah lebih jauh, perjalanan Norwegia layak mendapat apresiasi. Tim asuhan Ståle Solbakken berhasil mencatat sejarah dengan tampil impresif sepanjang turnamen, termasuk kemenangan mengejutkan atas Brasil pada babak 16 besar.

Pelatih Solbakken mengaku bangga terhadap perjuangan seluruh pemainnya. Ia menilai skuad Norwegia telah memberikan segalanya hingga menit terakhir meski akhirnya harus mengakui keunggulan Inggris.

Inggris Semakin Percaya Diri

Keberhasilan mencapai semifinal semakin meningkatkan kepercayaan diri skuad Inggris. Selain memiliki lini depan yang tajam, mereka juga menunjukkan mental juara dengan mampu bangkit setelah tertinggal.

Jude Bellingham kini menjadi salah satu kandidat kuat peraih Sepatu Emas berkat kontribusi golnya yang terus bertambah selama turnamen. Bersama Harry Kane, Inggris memiliki duet yang menjadi ancaman bagi siapa pun di fase berikutnya.

Dengan kemenangan ini, Inggris tinggal selangkah lagi menuju partai final Piala Dunia 2026. Para pendukung The Three Lions kini berharap momentum positif tersebut dapat terus berlanjut hingga mengangkat trofi juara dunia.

Skor Akhir

  • Inggris 2-1 Norwegia (AET)
  • Pencetak gol Inggris: Jude Bellingham (2)
  • Pencetak gol Norwegia: Andreas Schjelderu
Skor Norwegia vs Inggris 1-1, Duel Sengit Berlanjut

BolaIndonesia – Norwegia dan Inggris masih belum mampu menentukan pemenang hingga 90 menit waktu normal pada laga perempat final Piala Dunia 2026. Kedua tim bermain imbang 1-1 setelah babak kedua berlangsung sengit namun tanpa tambahan gol, sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak extra time.

Pertemuan dua tim Eropa ini sejak awal memang diprediksi berlangsung ketat. Norwegia yang tampil penuh percaya diri berusaha melanjutkan kejutan mereka di turnamen, sementara Inggris datang dengan status salah satu favorit juara. Hasilnya, duel berjalan seimbang dengan tempo tinggi dan intensitas yang terus meningkat hingga peluit panjang berbunyi.

Jalannya Babak Pertama Berlangsung Sengit

Sejak menit-menit awal pertandingan, Inggris langsung mengambil inisiatif serangan melalui penguasaan bola. Kombinasi lini tengah mereka beberapa kali membuka ruang di sisi sayap, tetapi disiplin pertahanan Norwegia membuat peluang-peluang tersebut belum mampu dikonversi menjadi gol.

Norwegia tidak tinggal diam. Mengandalkan kecepatan serangan balik dan kekuatan fisik para pemain depan, mereka beberapa kali merepotkan lini belakang The Three Lions. Setiap kali kehilangan bola, skuad Norwegia langsung melakukan transisi cepat untuk mengincar ruang kosong yang ditinggalkan para bek Inggris.

Gol pembuka akhirnya tercipta setelah salah satu tim berhasil memanfaatkan kelengahan lawan. Namun Inggris mampu merespons dengan cepat melalui serangan terorganisasi yang berujung gol penyeimbang. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum dan membuat pertandingan semakin terbuka pada babak kedua.

Babak Kedua Didominasi Adu Taktik

Memasuki babak kedua, kedua pelatih melakukan sejumlah penyesuaian strategi. Inggris mencoba meningkatkan intensitas tekanan dengan memasukkan pemain yang memiliki karakter lebih menyerang. Sementara Norwegia memilih tetap disiplin dan mengandalkan efektivitas serangan balik.

Laga berjalan semakin keras. Duel-duel di lini tengah terjadi hampir di setiap menit, membuat kedua tim kesulitan membangun serangan yang benar-benar bersih. Meski penguasaan bola lebih banyak dimiliki Inggris, Norwegia justru beberapa kali menciptakan peluang berbahaya melalui transisi cepat.

Penjaga gawang dari kedua kubu tampil luar biasa. Beberapa penyelamatan penting menggagalkan peluang emas yang seharusnya bisa mengubah papan skor. Ketenangan para kiper menjadi salah satu alasan mengapa pertandingan tetap berakhir imbang hingga menit ke-90.

Di sisi lain, para pemain bertahan juga tampil disiplin. Blok pertahanan yang rapat membuat para penyerang kesulitan mendapatkan ruang tembak yang ideal. Umpan-umpan silang maupun percobaan dari luar kotak penalti belum mampu menembus kokohnya lini belakang masing-masing tim.

Tempo Meningkat Menjelang Akhir Laga

Memasuki 15 menit terakhir, pertandingan semakin terbuka. Kedua tim mulai berani mengambil risiko demi mencari gol kemenangan sebelum laga memasuki babak tambahan.

Inggris beberapa kali menggempur pertahanan Norwegia melalui kombinasi permainan cepat di area sayap. Sementara Norwegia hampir mencuri gol lewat serangan balik yang memanfaatkan ruang kosong ketika Inggris terlalu banyak mengirim pemain ke depan.

Sayangnya, penyelesaian akhir menjadi kendala utama. Beberapa peluang emas hanya melebar tipis ataupun mampu diamankan oleh penjaga gawang lawan.

Wasit akhirnya meniup peluit panjang tanda berakhirnya waktu normal dengan skor tetap 1-1. Sesuai regulasi fase gugur Piala Dunia 2026, pertandingan pun harus dilanjutkan ke babak extra time selama dua kali 15 menit.

Extra Time Jadi Penentu Tiket Semifinal

Babak tambahan dipastikan menjadi ujian besar bagi kondisi fisik kedua tim. Setelah bermain dalam tempo tinggi selama 90 menit, faktor kebugaran diprediksi akan sangat menentukan jalannya pertandingan.

Inggris masih memiliki kedalaman skuad yang dapat dimanfaatkan untuk menjaga intensitas permainan. Sebaliknya, Norwegia diyakini tetap mengandalkan semangat juang tinggi serta efektivitas serangan balik yang sejauh ini cukup merepotkan pertahanan lawan.

Selain stamina, ketenangan dalam mengambil keputusan juga akan menjadi faktor krusial. Satu kesalahan kecil saja dapat berujung pada gol yang menentukan nasib kedua negara di ajang Piala Dunia 2026.

Jika hingga extra time skor masih tidak berubah, pertandingan akan dilanjutkan ke babak adu penalti untuk menentukan siapa yang berhak melangkah ke semifinal.

Seluruh perhatian kini tertuju pada 30 menit tambahan yang dipastikan berlangsung penuh drama. Baik Norwegia maupun Inggris sama-sama masih memiliki peluang yang sama besar untuk mengamankan tiket menuju empat besar, sementara para pendukung kedua tim berharap tim kesayangannya mampu tampil lebih efektif pada momen-momen penentuan.

BOLADONESIA – Pelatih baru Lazio, Gennaro Gattuso, langsung mengungkapkan fokus utama timnya jelang musim 2026-27. Gattuso menilai Gli Aquile masih membutuhkan tambahan pemain, terutama di sektor gelandang dan lini pertahanan.

Sepanjang bursa transfer musim panas 2026, Lazio baru berhasil mendatangkan satu orang pemain, yakni Alfonso Pedraza. Bek kiri berpaspor Spanyol itu diangkut dari Villarreal dengan status free transfer.

“Kami perlu melakukan sesuatu di lini tengah dan lini belakang. Setelah itu, untuk lini depan kami akan melihat pemain-pemain yang tersedia dan apakah mereka sesuai dengan apa yang kami inginkan,” ujar Gattuso dilansir IDNEWS dari laman Tuttomercatoweb.

“Kami menyadari masalah yang ada, tetapi kami tidak boleh mencari jalan keluar dengan alasan-alasan. Satu-satunya cara adalah mempersiapkan para pemain dengan baik dan bekerja keras. Setelah itu baru kita lihat hasilnya,” sambung Gattuso.

Gennaro Gattuso Minta Pemain Lazio Berhenti Mencari Alasan

Selain membahas kebutuhan skuad, Gattuso juga meminta anak asuhnya untuk mengubah mentalitas. Menurutnya, seluruh tim harus fokus bekerja keras demi mengembalikan kepercayaan para pendukung.

“Kami harus membuat para pemain mengerti bahwa mereka tidak boleh mencari alasan. Musim lalu mereka bermain tanpa dukungan suporter di kandang. Kami harus melakukan sesuatu yang lebih, membangun kebersamaan sebagai sebuah grup, dan bekerja dengan baik bersama-sama.”

“Kami harus bekerja dan tetap tersenyum, tidak bisa terus-menerus murung. Setelah itu, kita akan melihat di mana posisi kami nantinya dan apakah kami bisa mengubah cara pandang para suporter. Kami harus menghormati mereka karena kami punya kewajiban untuk bekerja keras dan memikirkan setiap pertandingan satu per satu,” tutupnya.

Gattuso bakal melakoni debut kompetitifnya bersama Gli Aquile pada partai ronde pembuka Coppa Italia melawan Mantova. Laga tersebut rencananya mentas pada 17 Agustus 2026.

Brasil tersingkir secara mengejutkan pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Norwegia. Dua gol Erling Haaland membawa Norwegia melaju ke perempat final.

Kekalahan tersebut sekaligus mengakhiri harapan Neymar tampil lebih jauh di Piala Dunia. Penyerang berusia 34 tahun itu tampak sangat terpukul setelah pertandingan berakhir.

Bagi Brasil, hasil itu menjadi pencapaian terburuk mereka di Piala Dunia sejak disingkirkan rival abadinya, Argentina, pada edisi 1990.

Tim berjuluk Selecao juga kini telah 24 tahun tidak mampu mengangkat trofi Piala Dunia.

Prestasi terbaik mereka dalam periode tersebut terjadi pada 2014 ketika mencapai semifinal sebelum kalah telak 1-7 dari Jerman, Die Mannschaft kemudian menjadi juara.

Ancaman Romario

Carlo Ancelotti ditunjuk sebagai pelatih Brasil pada Mei 2025 dengan harapan mampu mengangkat performa tim. Namun, setelah kegagalan di Piala Dunia 2026, desakan agar pelatih asal Italia itu dicopot dari jabatannya mulai bermunculan.

Satu di antara sosok yang menyuarakan kritik keras adalah Romario, anggota skuad juara dunia Brasil 1994.

Mantan striker Selecao itu bahkan mengatakan dirinya akan “membawa Ancelotti ke pengadilan” setelah Brasil tersingkir lebih cepat dari yang diharapkan.

“Dia tidak bisa tetap menjadi pelatih Brasil,” kata Romario, seperti dikutip talkSPORT.

“Kalau saya yang memimpin federasi, saya akan masuk ke ruang ganti, menyuruhnya pergi ke neraka, lalu langsung merobek kontraknya.”

“Pertandingan melawan Norwegia adalah sebuah aib. Saya bahkan akan membawanya ke pengadilan. Nanti kita lihat apa yang terjadi, tetapi dia tidak boleh bertahan,” cetus legenda sepak bola Brasil itu.

Belum Akan Lengser

Meski begitu, masa depan Ancelotti belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Pelatih yang memiliki kontrak hingga 2030 itu diperkirakan tetap melanjutkan pekerjaannya, meski mendapat kritik keras setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.

“Dia adalah pelatih kami dan akan tetap bersama kami sepanjang siklus ini,” ujar koordinator tim nasional Brasil, Rodrigo Caetano, setelah kekalahan dari Norwegia.

“Satu di antara penyebab utama kegagalan kami di Piala Dunia ini adalah tidak adanya arahan jangka panjang yang stabil untuk mempersiapkan tim nasional sebagaimana mestinya menghadapi Piala Dunia. Kami tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama lagi,” tambah Caetano.

Pernyataan tersebut mengindikasikan Ancelotti masih akan dipertahankan sebagai pelatih Brasil, meski kritik terhadap mantan pelatih Real Madrid itu terus berdatangan.

KLIKBETS – Presiden FIFA, Gianni Infantino, dikabarkan harus menghadapi dampak dari keputusan kontroversial yang menangguhkan hukuman satu pertandingan Folarin Balogun setelah adanya intervensi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

FIFA menuai kritik luas karena menunda pelaksanaan hukuman Balogun menjelang laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Amerika Serikat melawan Belgia.

Balogun, yang menjadi pencetak gol terbanyak Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026, sebelumnya menerima kartu merah langsung saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar.

Hukuman tersebut semestinya membuatnya absen saat melawan Belgia. Namun, FIFA kemudian memutuskan menangguhkan hukuman satu pertandingan Balogun selama satu tahun.

UEFA menyebut keputusan itu sebagai langkah yang “belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak bisa dibenarkan”.

Timbul Konsekuensi

Trump, yang memiliki hubungan dekat dengan Infantino dan pernah menerima FIFA Peace Prize perdana pada Desember 2025, menyampaikan terima kasih kepada FIFA karena telah “membalikkan ketidakadilan besar”.

Kendati Amerika Serikat akhirnya kalah 1-4 dari Belgia, keputusan FIFA itu tetap menimbulkan konsekuensi. Sejumlah timnas kemudian mengajukan banding serupa, tetapi seluruhnya ditolak.

Prancis, misalnya, gagal dalam upaya membatalkan kartu kuning kontroversial yang diterima Michael Olise. Sementara itu, Inggris tidak dapat mengajukan banding setelah bek Jarell Quansah dijatuhi larangan bermain dua pertandingan akibat kartu merah langsung saat menghadapi Meksiko.

Laporan kepala koresponden olahraga The Times, Martyn Ziegler, menyebut Infantino kini menghadapi situasi sebagai “lame-duck FIFA president” atau presiden FIFA yang kehilangan pengaruh sebagai dampak langsung dari keputusan terkait Balogun.

Menarik Dukungan

Menurut laporan tersebut, dilansir Give Me Sport, sejumlah negara yang sebelumnya mendukung pencalonan kembali Infantino mulai mempertimbangkan untuk menarik dukungannya.

Negara-negara tersebut menilai keputusan menunda hukuman Balogun hingga setelah Piala Dunia 2026 telah melewati batas karena dianggap berpotensi memengaruhi hasil pertandingan.

Meski begitu, laporan itu juga menyebut Infantino diperkirakan tetap bertahan dari dampak kontroversi tersebut dan kemungkinan tidak akan memiliki lawan dalam pemilihan kembali pada 2027.

Namun, skandal Balogun disebut telah merusak posisinya sehingga hampir dipastikan menghambat target-target utamanya pada masa jabatan terakhir.

Sangat Terisolasi

Satu di antara target tersebut adalah memperluas format Piala Dunia Antarklub FIFA, yang dimenangi Chelsea pada 2025, serta membuka kemungkinan turnamen itu digelar setiap dua tahun.

Selain itu, laporan tersebut menyebut Infantino dapat melupakan rencana mengubah aturan FIFA agar bisa kembali mencalonkan diri setelah masa jabatannya berakhir pada 2031.

“Campur tangan politik dalam sepak bola tidak pernah lebih kuat daripada yang dilakukan Trump, dan penjelasan FIFA sangat menggelikan,” kata seorang sumber senior sepak bola kepada The Times.

“Kekuatan Infantino telah memudar. Kini dia sangat terisolasi dan akan menjadi presiden yang kehilangan pengaruh.”

Laporan itu juga menyebut basis dukungan utama Infantino selama ini berada di Afrika. Namun, sejumlah asosiasi sepak bola di kawasan tersebut, termasuk Mesir dan Senegal, kini mulai mempertimbangkan kembali dukungan mereka terhadap pria berusia 56 tahun tersebut.