24 Oktober 2026
Terungkap! Pelatih Mesir Jelaskan Arti Tanda ‘X’ dan Insiden dengan Lionel Messi

BolaIndonesia – Atmosfer panas mewarnai duel babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir. Meski The Pharaohs harus mengakhiri perjalanan setelah kalah tipis 2-3 dari sang juara bertahan, sorotan justru tertuju pada insiden yang melibatkan pelatih Mesir dengan kapten Argentina, Lionel Messi.

Beberapa saat setelah peluit panjang dibunyikan, kamera televisi menangkap momen adu mulut antara keduanya. Rekaman tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan memunculkan berbagai spekulasi mengenai penyebab perselisihan tersebut.

Kini, pelatih Mesir akhirnya buka suara. Ia menjelaskan makna dari gestur berbentuk huruf “X” yang sempat ia tunjukkan ke arah lapangan, sekaligus memberikan klarifikasi mengenai perdebatan singkat dengan Messi.

Tanda ‘X’ Bukan Sindiran untuk Lionel Messi

Dalam konferensi pers sehari setelah pertandingan, pelatih Mesir menegaskan bahwa gestur “X” sama sekali bukan ditujukan untuk mengejek Lionel Messi ataupun Argentina.

Menurutnya, tanda tersebut merupakan kode internal yang biasa digunakan staf pelatih Mesir untuk menginstruksikan perubahan sistem permainan ketika tim kehilangan penguasaan bola.

“Saya melihat banyak orang salah mengartikan gestur itu. Itu bukan pesan kepada Messi ataupun Argentina. Tanda ‘X’ adalah kode kami untuk mengubah bentuk pertahanan dan menghentikan ruang antarlini,” jelas sang pelatih.

Ia mengaku cukup terkejut ketika gestur tersebut kemudian menjadi bahan perdebatan di media sosial. Banyak pihak mengira dirinya sedang memberikan sindiran kepada Messi setelah beberapa keputusan wasit dianggap merugikan Mesir.

Padahal, menurutnya, kode tersebut telah digunakan sejak fase grup dan menjadi bagian dari komunikasi nonverbal antara staf pelatih dengan para pemain.

Mengapa Adu Mulut dengan Lionel Messi Terjadi?

Pelatih Mesir juga mengungkap penyebab adu argumen yang sempat terjadi dengan Lionel Messi seusai pertandingan.

Ia mengatakan situasi berlangsung dalam tensi yang sangat tinggi. Kedua tim baru saja menjalani pertandingan yang melelahkan dan penuh tekanan.

“Saya menghampiri area teknis sambil berbicara kepada ofisial. Messi mungkin mengira saya sedang mengomentari sesuatu tentang dirinya. Kami saling bertukar kata selama beberapa detik, tetapi semuanya selesai dengan cepat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tidak ada penghinaan ataupun tindakan yang melewati batas sportivitas.

Bahkan beberapa menit setelah suasana mereda, kedua pihak kembali berjabat tangan sebelum meninggalkan lapangan.

Lionel Messi Tetap Menunjukkan Jiwa Kepemimpinan

Di sisi lain, Lionel Messi kembali menjadi sosok penting bagi Argentina dalam pertandingan tersebut.

Kapten Albiceleste tampil sebagai motor serangan sekaligus memberikan ketenangan ketika Mesir beberapa kali mampu menyamakan kedudukan.

Selepas laga, Messi memilih tidak memperpanjang polemik yang berkembang.

Ia hanya mengatakan bahwa pertandingan sebesar babak gugur Piala Dunia memang selalu dipenuhi emosi dan ketegangan.

Bagi Messi, hal terpenting adalah kedua tim tetap menghormati satu sama lain setelah pertandingan berakhir.

Sikap tersebut mendapat banyak apresiasi karena dinilai menunjukkan kedewasaan seorang pemimpin di tengah tekanan kompetisi terbesar sepak bola dunia.

Mesir Tetap Pulang dengan Kepala Tegak

Walaupun tersingkir di babak 16 besar, performa Mesir sepanjang Piala Dunia 2026 mendapat banyak pujian.

Mereka mampu lolos dari fase grup yang berat sebelum memberikan perlawanan sengit kepada Argentina hingga menit-menit akhir.

Pelatih Mesir mengaku bangga terhadap perjuangan para pemainnya.

Menurutnya, pengalaman menghadapi tim sekelas Argentina akan menjadi modal penting bagi regenerasi sepak bola Mesir dalam beberapa tahun mendatang.

“Kami memang kalah, tetapi kami menunjukkan karakter. Saya ingin publik mengingat perjuangan para pemain, bukan kontroversi setelah pertandingan,” katanya.

Fokus Argentina Beralih ke Babak Berikutnya

Sementara itu, Argentina berhasil mengamankan tiket ke perempat final dan menjaga peluang mempertahankan gelar Piala Dunia.

Pelatih Mesir pun menutup pembahasan mengenai insiden dengan Lionel Messi. Ia menegaskan tidak ada masalah pribadi di antara mereka dan berharap isu tersebut tidak terus dibesar-besarkan.

“Messi adalah pemain luar biasa. Kami sama-sama ingin menang sehingga emosi muncul sesaat. Setelah itu semua selesai. Saya menghormatinya sebagai legenda sepak bola,” tutupnya.

Dengan klarifikasi tersebut, polemik mengenai tanda “X” dan adu mulut dengan Lionel Messi tampaknya mulai menemukan titik terang. Kini perhatian publik kembali tertuju pada persaingan di lapangan, sementara Argentina melanjutkan langkah menuju perebutan gelar Piala Dunia 2026 dan Mesir pulang dengan kebanggaan atas perjuangan yang telah mereka tunjukkan.

LARISBOLA – Argentina memastikan langkah ke final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Inggris 2-1 di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Albiceleste bangkit dari ketertinggalan melalui gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez untuk menjaga peluang mempertahankan gelar juara dunia.

Laga berlangsung ketat sejak babak pertama dengan duel fisik yang mendominasi permainan. Kedua tim hanya menghasilkan total expected goals (xG) 0,08 hingga turun minum sehingga peluang bersih nyaris tidak terlihat.

Memasuki babak kedua, pertandingan berubah drastis setelah Anthony Gordon membawa Inggris unggul. Argentina merespons lewat tembakan spektakuler Enzo Fernandez sebelum Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan pada masa injury time berkat umpan Lionel Messi.

Kemenangan tersebut membawa Argentina ke final menghadapi Spanyol di New York/New Jersey Stadium. Berikut rapor para pemain Albiceleste berdasarkan performa mereka sepanjang pertandingan.

Kiper dan Lini Belakang Argentina

Emiliano Martinez memperoleh nilai 6 setelah menjalani babak pertama yang relatif tenang. Ia hanya kebobolan satu gol dari penyelesaian Anthony Gordon dan tidak banyak mendapat ancaman lain sepanjang laga.

Di lini belakang, Nicolas Tagliafico meraih nilai 6 meski sempat kesulitan menghadapi Morgan Rogers. Penampilannya membaik setelah Argentina tertinggal dan lebih sering membantu serangan.

Lisandro Martinez juga mendapat nilai 6 berkat beberapa intersep penting serta agresivitasnya membatasi ruang Harry Kane. Namun, bek Manchester United itu menerima kartu kuning setelah menghentikan serangan balik Inggris.

Cristian Romero memperoleh nilai 6 karena tampil solid dalam duel satu lawan satu. Bek tengah Tottenham itu juga bermain dengan intensitas tinggi meski harus menerima kartu kuning.

Nahuel Molina menjadi pemain dengan nilai terendah, yakni 3. Ia gagal mengawal Anthony Gordon pada proses gol Inggris dan beberapa kali kehilangan momentum saat membantu serangan.

Lini Tengah Argentina

Enzo Fernandez menjadi motor kebangkitan Argentina dengan nilai 8. Gelandang Chelsea itu mencetak gol penyama lewat tembakan jarak jauh yang tidak mampu dijangkau Jordan Pickford.

Alexis Mac Allister meraih nilai 7 setelah tampil tenang mengatur ritme permainan. Ia juga dua kali membentur tiang gawang sehingga nyaris mencatatkan namanya di papan skor.

Leandro Paredes mendapat nilai 5 usai menjalankan peran sebagai jangkar lini tengah. Ia tampil agresif menghadapi Jude Bellingham, tetapi pengaruhnya belum terlalu besar sebelum akhirnya ditarik keluar.

Giuliano Simeone juga memperoleh nilai 5. Kerja kerasnya dalam menekan pertahanan Inggris cukup terlihat, tapi kontribusinya di lini depan masih terbatas.

Julian Alvarez menerima nilai 6 setelah menjadi pencipta peluang terbaik Argentina pada awal babak kedua. Pergerakannya cukup merepotkan pertahanan Inggris walau gagal mencetak gol.

Lionel Messi menjadi pemain terbaik dengan nilai 9. Dua assist yang ia berikan kepada Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez menjadi pembeda, ditambah kemampuannya mengendalikan tempo permainan saat Argentina membutuhkan inspirasi.

Pemain Pengganti Argentina

Nico Gonzalez memperoleh nilai 6 berkat pergerakan tanpa bola yang membuka ruang di kotak penalti Inggris. Kehadirannya menambah ancaman melalui bola-bola udara.

Rodrigo De Paul juga meraih nilai 6 setelah langsung memberi dampak lewat umpan silang yang hampir berbuah gol Alexis Mac Allister. Energinya membantu Argentina menjaga tekanan hingga akhir laga.

Nicolas Otamendi mendapat nilai 6 meski tidak terlalu banyak menghadapi ancaman. Gonzalo Montiel juga meraih nilai 6 karena membantu memperlebar permainan di sisi lapangan.

Lautaro Martinez tidak mendapatkan nilai karena masuk pada menit ke-81. Meski demikian, penyerang Inter Milan itu menjadi pahlawan kemenangan lewat sundulan pada menit 90+2.

Rangkuman Rating Pemain Argentina

  • Emiliano Martinez: 6
  • Nicolas Tagliafico: 6
  • Lisandro Martinez: 6
  • Cristian Romero: 6
  • Nahuel Molina: 3
  • Enzo Fernandez: 8
  • Alexis Mac Allister: 7
  • Leandro Paredes: 5
  • Giuliano Simeone: 5
  • Julian Alvarez: 6
  • Lionel Messi: 9
  • Nico Gonzalez: 6
  • Rodrigo De Paul: 6
  • Nicolas Otamendi: 6
  • Gonzalo Montiel: 6
  • Lautaro Martinez: Tidak mendapat rating (masuk menit ke-81, tetapi mencetak gol kemenangan).

Idnews.top – Polemik yang muncul setelah laga Argentina melawan Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026 akhirnya mendapat penjelasan langsung dari Hossam Hassan. Pelatih Mesir itu mengungkap makna di balik gestur ‘X’ yang sempat memicu berbagai spekulasi usai pertandingan.

Momen tersebut terjadi pada menit ke-98 ketika Hassan menyilangkan kedua tangannya ke arah wasit Francois Letexier. Isyarat itu menjadi sorotan karena dalam beberapa kesempatan sebelumnya, gestur ‘X’ identik dengan laporan dugaan tindakan rasis di lapangan.

Situasi pertandingan memang berlangsung dalam tensi tinggi. Mesir yang sempat unggul 2-0 harus menerima kenyataan tersingkir setelah Argentina membalikkan keadaan dan menang 3-2 melalui gol Cristiano Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez dalam rentang 13 menit.

Kontroversi keputusan wasit turut memperkeruh suasana. Mesir memprotes pembatalan gol Mostafa Ziko serta menilai terjadi pelanggaran terhadap Mohamed Salah dalam proses gol kemenangan yang dicetak Enzo Fernandez pada menit ke-93.

Hossam Hassan Tegaskan Gestur ‘X’ Bukan Terkait Isu Rasisme

Lebih dari sepekan setelah pertandingan berakhir, Hossam Hassan akhirnya memberikan klarifikasi mengenai aksi yang dilakukannya di pinggir lapangan. Ia menegaskan bahwa gestur tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan dugaan tindakan rasis.

Menurut Hassan, isyarat itu merupakan bentuk protes terhadap kepemimpinan wasit yang dinilainya merugikan Mesir. Ia merasa beberapa keputusan penting sepanjang pertandingan tidak berpihak kepada timnya.

Ketegangan di bangku cadangan Mesir memang sempat meningkat setelah serangkaian keputusan kontroversial. Bahkan, tayangan pertandingan memperlihatkan saudara kembar Hossam Hassan yang juga menjadi asistennya, Ibrahim Hassan, sempat menurunkan tangan sang pelatih setelah gestur tersebut dilakukan.

“Isyarat itu bukan rasis. Saya memberi tahu , ‘Anda tidak adil’. datang kepada saya dan berkata, ‘Mengapa? Mengapa? Mengapa?’ Dan saya tidak tahu apa lagi,” ucap Hossam Hassan pada The Sun.

Hossam Hassan Ungkap Momen Adu Argumen dengan Lionel Messi

Selain menjelaskan maksud gestur tersebut, Hossam Hassan juga mengungkap adanya interaksi langsung dengan Lionel Messi seusai insiden itu. Menurutnya, kapten Argentina menghampiri dirinya dan mempertanyakan alasan di balik protes yang dilakukan kepada wasit.

Meski sempat terjadi adu argumen singkat, pelatih berusia 59 tahun itu mengaku memilih tidak memperpanjang perdebatan. Ia tetap menaruh rasa hormat kepada Messi sebagai salah satu pesepak bola terbaik dalam sejarah.

“Itu adalah salah satu dari sedikit momen ketika Messi terlibat adu mulut selama pertandingan. Dan dia akhirnya menangis karena sedang mengalami masa sulit secara emosional,” kata Hossam Hassan.

“Kami adalah tim yang sangat tangguh dan kami menempatkan mereka dalam posisi yang sulit. Saya mencoba untuk tidak menanggapinya dan menghindari gesekan verbal di antara kami, sebagai bentuk penghormatan terhadap kariernya,” tegasnya.

Para pemain Argentina merayakan kemenangan dramatis atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026 yang memastikan langkah mereka ke final menghadapi Spanyol.

BolaIndonesia – 16 Juli 2026 menjadi hari bersejarah bagi Argentina. Tim berjuluk La Albiceleste berhasil mengamankan tiket menuju final Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Inggris dalam laga semifinal yang berlangsung sengit di Atlanta Stadium, Amerika Serikat. Kemenangan tersebut memastikan duel akbar melawan Spanyol pada partai puncak yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026.

Argentina Bangkit Setelah Tertinggal

Pertandingan berlangsung dengan tempo tinggi sejak menit awal. Inggris sempat unggul lebih dulu melalui Anthony Gordon dan tampil disiplin menjaga keunggulan. Namun, Argentina menunjukkan mental juara dengan terus menekan pertahanan lawan.

Memasuki babak kedua, perubahan strategi membuat Argentina mampu membalikkan keadaan. Gol demi gol membawa La Albiceleste memastikan kemenangan dramatis sekaligus mengamankan tiket ke final.

Performa Konsisten Sepanjang Turnamen

Keberhasilan Argentina tidak lepas dari performa impresif mereka sejak fase grup. Kombinasi pemain senior dan talenta muda membuat skuad Lionel Scaloni tampil konsisten di setiap pertandingan.

Lini pertahanan yang solid dipadukan dengan serangan cepat menjadi kekuatan utama Argentina dalam perjalanan menuju final Piala Dunia 2026.

Spanyol Siap Menjadi Lawan di Final

Spanyol telah lebih dahulu memastikan tempat di final setelah mengalahkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0. Tim Matador tampil dominan berkat penguasaan bola yang kuat dan efektivitas dalam penyelesaian akhir.

Pertemuan Argentina dan Spanyol diprediksi menjadi salah satu final terbaik dalam sejarah Piala Dunia karena kedua tim sedang berada dalam performa terbaik.

Inggris Masih Berpeluang Raih Posisi Ketiga

Meski gagal mencapai final, Inggris tetap memiliki kesempatan menutup turnamen dengan hasil positif. The Three Lions dijadwalkan menghadapi Prancis dalam laga perebutan tempat ketiga.

Pertandingan tersebut diperkirakan berlangsung sengit karena kedua tim sama-sama ingin mengakhiri Piala Dunia 2026 dengan kemenangan.

Prediksi Final Piala Dunia 2026

Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan dua tim terbaik sepanjang turnamen. Argentina datang sebagai juara bertahan, sedangkan Spanyol membawa status juara Eropa.

Laga ini diprediksi berlangsung ketat dan menarik perhatian jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia. Kedua tim memiliki kualitas yang seimbang sehingga peluang menjadi juara masih terbuka lebar.

BOLADONESIA – Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel tak menyesal dengan pemilihan taktiknya pasca dikalahkan Argentina 1-2 (16/7/26). Dia bahkan menyebut Inggris mungkin memainkan performa terbaiknya di laga ini.

Inggris terlihat akan melaju ke babak final Piala Dunia 2026 setelah Anthony Gordon mencetak gol pada menit ke-55. Namun Tuchel memutuskan untuk bermain parkir bis dengan memasukkan dua bek tengah Dan Burn dan Ezri Konsa.

Dan Argentina berhasil melakukan comeback lewat Enzo Fernandez pada menit ke-85 dan Lautaro Martinez pada menit ke-90+2. Tuchel ditanya apakah dia menyesali keputusannya.

“Saat ini tidak ada penyesalan. Tim telah memberikan segalanya dan kami sangat, sangat dekat. Kami pantas unggul 1-0. Kami memainkan salah satu pertandingan terbaik kami, mungkin pertandingan terbaik kami dalam keadaan seperti ini. Tim berada di puncak, kami tidak bisa menyelesaikannya,” ucapnya seperti dilansir IDNEWS dari The Guardian.

“Yang merugikan kami hari ini adalah kurangnya aktivitas kami dalam struktur permainan apa pun. Saya mengerti diskusi-diskusi ini ada di luar sana dan tentu saja jutaan pelatih setelah pertandingan lebih mengetahuinya.

“Anda bisa mendiskusikan ini dengan jutaan pelatih. Saya harus membuat keputusan di lapangan. Ini adalah bagaimana saya menganalisis pertandingan dan saya bertanggung jawab atas hal itu.”

Thomas Tuchel Jelaskan Taktiknya

Tuchel menjelaskan lebih rinci mengapa dirinya memutuskan untuk bermain dengan lima bek.

“Kami memutuskan untuk menggunakan formasi lima bek karena celah di antara mereka terlalu terbuka,” kata Tuchel.

“Argentina bermain lebih berisiko, bermain dengan ritme yang lebih baik, dan bermain dengan perasaan bahwa mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, yang membuat mereka lebih leluasa dan membuat kami tertekan.

“Karena kami jelas tiba-tiba bermain dengan perasaan bahwa kami memiliki banyak hal untuk dipertaruhkan. Tentu saja tanggung jawab ada pada pelatih dan jika hasilnya tidak baik, mudah untuk mengatakan bahwa itu salah.”

Inggris vs Argentina 1-2: Messi Jadi Pembeda, Albiceleste Tantang Spanyol di Final Piala Dunia 2026

BolaIndonesia – Timnas Argentina memastikan langkah ke final Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Inggris dengan skor dramatis 2-1 pada laga semifinal yang berlangsung di Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB. Albiceleste menunjukkan mental juara dengan membalikkan keadaan lewat dua gol pada menit-menit akhir pertandingan.

Kemenangan ini membuat Argentina akan berhadapan dengan Spanyol di partai puncak Piala Dunia 2026. Sebaliknya, Inggris harus mengubur mimpi mengakhiri puasa gelar dunia dan akan menghadapi Prancis dalam perebutan tempat ketiga. Hasil tersebut sekaligus memastikan final impian antara dua raksasa sepak bola dunia, Spanyol kontra Argentina.

Inggris Sempat Menguasai Situasi Lewat Anthony Gordon

Sejak peluit pertama dibunyikan, pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi. Inggris tampil disiplin dengan organisasi permainan yang rapi sehingga mampu meredam kreativitas Lionel Messi dan rekan-rekannya sepanjang babak pertama.

Setelah skor tetap 0-0 hingga turun minum, Inggris akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-55. Anthony Gordon sukses memanfaatkan peluang di dalam kotak penalti untuk membawa The Three Lions unggul 1-0.

Gol tersebut membuat kepercayaan diri pasukan Thomas Tuchel meningkat. Inggris bahkan beberapa kali mengancam lewat serangan balik cepat yang dipimpin Jude Bellingham dan Harry Kane. Namun sejumlah peluang gagal dikonversi menjadi gol kedua yang sangat dibutuhkan.

Messi Jadi Pembeda Saat Argentina Meningkatkan Tekanan

Dalam posisi tertinggal, Argentina mulai meningkatkan intensitas serangan. Lionel Messi mengambil peran lebih besar dengan bergerak lebih bebas dari sisi kanan, menciptakan ruang bagi lini depan Albiceleste.

Tekanan tanpa henti akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-85. Enzo Fernandez melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang gagal dihentikan kiper Inggris. Gol spektakuler tersebut membuat skor berubah menjadi 1-1 sekaligus membakar semangat Argentina untuk terus menyerang.

Momentum pertandingan pun berubah total. Inggris yang sebelumnya tampil percaya diri mulai kehilangan kendali permainan akibat terus ditekan oleh lini tengah Argentina.

Lautaro Martinez Jadi Pahlawan di Masa Injury Time

Ketika laga tampak akan berlanjut ke babak tambahan waktu, Argentina justru memberikan pukulan telak.

Memasuki masa injury time, Lionel Messi kembali menunjukkan kualitasnya sebagai pemain penentu. Umpan silang akurat yang dilepaskannya berhasil disambut sundulan Lautaro Martinez yang masuk sebagai pemain pengganti. Bola meluncur deras ke gawang Inggris dan membawa Argentina berbalik unggul 2-1.

Gol tersebut langsung memicu selebrasi besar para pemain Argentina, sementara kubu Inggris terlihat terpukul karena kemenangan yang sudah berada di depan mata akhirnya sirna dalam hitungan menit. Argentina pun mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang dibunyikan dan memastikan tiket menuju final.

Final Besar Menanti: Spanyol vs Argentina

Keberhasilan ini membawa Argentina melaju ke final Piala Dunia untuk kedua edisi secara beruntun. Sang juara bertahan kini hanya tinggal selangkah lagi untuk mempertahankan mahkota dunia.

Di sisi lain, Spanyol sudah lebih dahulu mengamankan tempat di final usai mengalahkan Prancis 2-0. Duel antara Spanyol dan Argentina diprediksi menjadi salah satu final paling menarik dalam sejarah Piala Dunia modern.

Pertemuan tersebut juga akan mempertemukan dua generasi berbeda. Argentina masih mengandalkan pengalaman Lionel Messi yang terus tampil menentukan, sementara Spanyol datang dengan skuad muda bertalenta yang dipimpin Lamine Yamal.

Dengan performa impresif kedua tim sepanjang turnamen, final Piala Dunia 2026 dipastikan menghadirkan duel penuh kualitas, strategi, dan gengsi. Apakah Argentina mampu mempertahankan gelarnya, atau justru Spanyol yang akan mengangkat trofi dunia untuk kedua kalinya? Jawabannya akan ditentukan pada partai final akhir pekan nanti.

Timnas Argentina punya kans besar mempertahankan gelarnya di Piala Dunia 2026. Tim Tango tinggal selangkah lagi menuju gelar kedua setelah memastikan lolos ke partai final.

Lionel Messi dan kawan-kawan mengunci tiket ke partai puncak setelah menundukkan Inggris dengan skor 2-1 pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB.

Argentina tertinggal lebih dulu pada pertandingan itu. Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55.

Namun, setelah itu Argentina benar-benar mendominasi permainan. Mereka terus menggempur barisan pertahanan Inggris yang berujung dua gol balasan di pengujung babak kedua lewat Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Alhasil, kemenangan itu mengantarkan Inggris masuk geng elite.

Menurut catatan Squawka, Argentina kembali berhasil menembus final Piala Dunia secara beruntun.

La Albiceleste menjadi tim keenam dalam sejarah yang mampu mencapai final Piala Dunia berikutnya setelah berstatus sebagai juara bertahan.

Daftar Geng Elite

Berikut daftar juara bertahan yang sukses melaju ke final edisi selanjutnya:

Italia: Juara 1934, Juara 1938
Brasil: Juara 1958, Juara 1962
Argentina: Juara 1986, Runner-up 1990
Brasil: Juara 1994, Runner-up 1998
Prancis: Juara 2018, Runner-up 2022
Argentina: Juara 2022, Finalis 2026
Kini, Argentina berpeluang mengukir sejarah dengan mempertahankan gelar juara Piala Dunia jika mampu mengalahkan Spanyol pada partai final Piala Dunia 2026.

PSSI baru saja mengumumkan harga tiket dua pertandingan Timnas Indonesia untuk penyisihan grup Piala AFF 2026. Tim berjuluk Skuad Garuda itu bakal bermain dua kali di kandang.

PSSI memilih Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, sebagai homebase Timnas Indonesia di penyisihan grup Piala AFF 2026. Skuad Garuda baru akan bermarkas di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, jika lolos ke semifinal.

Timnas Indonesia akan lebih dulu meladeni perlawanan Kamboja pada 27 Juli 2026, baru menandingi Vietnam pada 3 Agustus 2026 di Stadion Pakansari.

PSSI memberlakukan harga berbeda untuk tiket laga Timnas Indonesia kontra Kamboja dan Vietnam.

Rincian Harga Tiket

Harga tiket tribune barat dan timur melawan Kamboja dibanderol Rp200 ribu, sedangkan tribune utara dan selatan Rp100 ribu.

Sementara menghadapi Vietnam, harga tiket tribune barat dan timur dihargai Rp250 ribu, adapun tribune utara dan selatan Rp125 ribu.

Penjualan tiket akan dimulai pada 17 Juli 2026 melalui Livin’ by Mandiri dan pada 20 Juli 2026 lewat situs Kita Garuda.

2 Tandang

Timnas Indonesia, yang tergabung di Grup A Piala AFF 2026, juga bakal tampil dalam dua partai tandang di babak penyisihan.

Timnas Indonesia bakal menantang tuan rumah Timnas Timor Leste yang memilih untuk bertanding di Chonburi Stadium, Thailand, pada 31 Juli 2026.

Selain itu, Skuad Garuda bakal melawat ke Jalan Besar Stadium, Singapura, untuk menjajal kekuatan Timnas Singapura pada 7 Agustus 2026.

Daftar Harga Tiket Timnas Indonesia

Vs Kamboja

Tribune Barat: Rp200.000

Tribune Timur: Rp200.000

Tribune Utara: Rp100.000

Tribune Selatan: Rp100.000

Vs Vietnam

Tribune Barat: Rp250.000

Tribune Timur: Rp250.000

Tribune Utara: Rp125.000

Tribune Selatan: Rp125.000

Jadwal Penjualan Tiket

17 Juli 2026: Melalui Livin’ by Mandiri

20 Juli 2026: Melalui situs Kita Garuda

BOLADOENSIA – Angin kencang terus menghantam Gianni Infantino. Terbaru, Presiden FIFA itu diadukan oleh lembaga pembela hak-hak asasi manusia (HAM), FairSquare, ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) atas pelanggaran salah satu aturan yang menuntut netralitas politik.

FairSquare sudah jengah dan muak dengan tindakan Infantino belakangan ini yang menunjukkan kedekatan dengan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Secara khusus, mereka mengungkap beberapa jejak yang menunjukkan ketundukan Infantino, juga FIFA, terhadap Trump. Bahkan, Infantino sempat menghadiri beberapa kampanye Presiden AS itu.

“Gianni Infantino telah berulang kali melanggar aturan IOC soal netralitas politik dengan menyatakan dukungan politik kepada Presiden AS Donald Trump. Ada setidaknya 5 pelanggaran terhadap prinsip itu,” urai pernyataan FairSquare seperti dikutip IDNEWS.TOP dari laman resminya.

Dalam laporannya, lembaga itu antara lain secara spesifik menyoroti penangguhan hukuman bagi Folarin Balogun, pemain AS, sehingga tetap bisa bermain pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 meskipun mendapat kartu merah pada laga sebelumnya. Kasus itu mengindikasikan ketundukan Infantino kepada Trump.

Kontroversi Gianni Infantino

Meskipun belakangan diketahui ada sosok lain di belakang putusan itu, Gianni Infantino tetap jadi sorotan karena statusnya sebagai Presiden FIFA. Dia tak mungkin tak mengetahui hal itu. Apalagi, Donald Trump sempat mengaku bertelepon dengan dia untuk membahas kartu merah yang didapatkan Folarin Baloguun.

Hal lain yang disoroti oleh FairSquare adalah promosi laman penggemar FIFA oleh Infantino yang diduga merupakan bagian dari kampanye pengumpulan data yang terkait dengan Trump. Ini lagi-lagi menunjukkan betapa intens kedekatan keduanya walaupun Infantino menyebut itu wajar karena AS adalah tuan rumah Piala Dunia 2026.

Jauh sebelumnya, FairSquare langsung melayangkan gugatan kepada Komite Etik FIFA begitu Infantino menganugerahkan Penghargaan Perdanaian FIFA kepada Trump pada Desember 2025. Langkah itu dipandang kontroversial dan kian tak sesuai ketika AS bersama Israel menyerang Iran pada Februari lalu.

Pekan lalu, Presiden IOC Kristy Coventry memang membuka kemungkinan komite etik memeriksa Infantino jika memang adu pengaduan resmi. Hal itu diungkapkan seiring kontroversi soal penangguhan hukuman kartu merah yang didapatkan Balogun. Kini, FairSquare sudah melayangkan aduan tersebut.

Idnews. top – Kylian Mbappe gagal membawa Prancis melangkah ke final Piala Dunia 2026 setelah takluk 0-2 dari Spanyol di Dallas Stadium. Penyerang Real Madrid itu tampil selama 90 menit, tetapi tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran.

Spanyol memastikan kemenangan lewat gol penalti Mikel Oyarzabal pada menit ke-22 dan gol Pedro Porro pada menit ke-58. Hasil tersebut mengantar La Furia Roja melaju ke final untuk menghadapi pemenang semifinal Inggris kontra Argentina.

Prancis sebenarnya datang dengan status unggulan tipis berkat kualitas lini serang yang dimiliki. Akan tetapi, organisasi pertahanan Spanyol membuat Les Bleus kesulitan menciptakan peluang berbahaya sepanjang pertandingan.

Bagi Prancis, kekalahan ini mengakhiri langkah mereka di semifinal dan membuat tim asuhan Didier Deschamps harus menjalani laga perebutan peringkat ketiga. Sementara itu, Spanyol menjaga peluang meraih gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah.

Kylian Mbappe Gagal Memberi Ancaman

Kylian Mbappe memasuki semifinal dengan koleksi delapan gol di Piala Dunia 2026. Catatan tersebut membuatnya kembali menjadi tumpuan utama lini depan Prancis saat menghadapi Spanyol.

Namun, pertahanan rapat yang dibangun Luis de la Fuente berhasil memutus ruang gerak sang penyerang. Mbappe kesulitan memperoleh ruang untuk berlari maupun melepaskan penyelesaian yang membahayakan gawang Unai Simon.

Selama pertandingan berlangsung, Mbappe tidak mencatatkan satu pun tembakan yang mengarah ke gawang (0 shot on target). Kondisi itu menjadi gambaran keberhasilan lini belakang Spanyol membatasi pengaruh pemain berusia 27 tahun tersebut.

Pertahanan Spanyol Redam Andalan Prancis

Mbappe sempat berusaha membangkitkan permainan Prancis setelah gol Lamine Yamal dianulir karena offside. Akan tetapi, upayanya berulang kali terhenti oleh disiplin pertahanan lawan.

Marc Cucurella melakukan tekel penting untuk menggagalkan peluang Mbappe pada babak kedua. Unai Simon juga tampil sigap sebagai sweeper-keeper sehingga ruang di belakang lini pertahanan tetap aman.

Frustrasi mulai terlihat menjelang akhir pertandingan ketika Mbappe menerima kartu kuning akibat pelanggaran terhadap Simon. Ia kemudian memperoleh kesempatan melalui tendangan bebas, tetapi bola melambung di atas mistar gawang.

Prancis Gagal Bangkit

Didier Deschamps sempat memasukkan Desire Doue dan Rayan Cherki untuk menambah daya gedor. Pergantian tersebut belum mampu mengubah jalannya pertandingan karena Spanyol tetap tampil disiplin hingga peluit akhir.

Kekalahan 0-2 memastikan Prancis gagal ke final Piala Dunia 2026. Di sisi lain, Spanyol melangkah ke partai puncak dengan modal pertahanan kokoh yang sukses meredam pemain-pemain berbahaya milik lawan, termasuk Kylian Mbappe.