BOLADONESIA – Setelah dipastikan tetap menangani timnas Mesir yang tersingkir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026, Hossam Hassan langsung mengutarakan sebuah permintaan besar. Permintaan itu mengenai kuota pemain asing di klub-klub divisi teratas Liga Mesir.
Hassan menilai kuota yang diberlakukan saat ini terlalu banyak sehingga berdampak negatif terhadap timnas Mesir. Dia mengaku kesulitan menemukan pemain pada posisi-posisi tertentu dari klub-klub Liga Mesir karena tak diisi oleh pemain lokal. Posisi-posisi itu dikuasai oleh para pemain asing.
“Regulasi mengizinkan pendaftaran 5 pemain asing di Liga Mesir, di samping 3 pemain muda, dan pemain Palestina dikategorikan pemain lokal. Itu memungkinkan adanya formasi di sebuah tim dengan memasang lebih dari 8 pemain asing,” urai Hossam Hassan seperti dikutip IDNEWS.TOP dari Winwin.
Dia menambahkan, “Ini tidak sejalan dengan kepentingan timnas Mesir dan saya sudah merasakannya. Saya tak dapat menemukan striker mumpuni di Liga Mesir yang bermain reguler di kejuaraan kontinental karena Zamalek, Al Ahly, dan Pyramid memasang pemain asing. Itu memang hak mereka, tapi jadi beban tambahan bagi timnas.”
Usulan Hossam Hassan
Hossam Hassan menegaskan, krisis tersebut tak dialami pada beberapa dekade lalu. Dia secara khusus menyebut skuad Mesir di Piala Afrika 2006. Saat itu, selain dirinya, ada Ahmed Hossam Mido, Emad Moteab, Amr Zaki, dan Abdel Halim Ali. Itu karena klub-klub masih mengandalkan para striker lokal, tak bergantung pada bomber asing.
Dalam pandangannya, krisis serupa bisa terjadi pada posisi-posisi lain. Untuk saat ini saja, pelatih berumur 59 tahun itu mulai melihat adanya keterbatasan stok untuk posisi bek kiri dan penyerang sayap. Jika regulasi dan tren tak berubah, timnas Mesir akan lebih kesulitan lagi pada masa yang akan datang.
Atas dasar itu, dia berharap operator Liga Mesir mau mengurangi kuota pemain asing. Secara khusus, dia berharap setiap klub hanya diizinkan punya 3 pemain asing sehingga akan terbuka lebih banyak kesempatan bermain bagi para pemain lokal. Langkah ini akan sangat membantu timnas Mesir.
Keterbatasan stok pemain untuk timnas Mesir membuat Hassan sebagai pelatih harus memutar otak dan bekerja lebih keras. Do antaranya memantau diaspora di negara-negara lain. Haissem Hassan adalah salah satunya. Dia masuk skuad di Piala Dunia 2026 meskipun pernah membela Prancis di tingkat junior.
Idnews.top – Mike Maignan akan menjadi salah satu tumpuan Prancis saat menghadapi Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026. Laga yang berlangsung di AT&T Stadium, Arlington, Rabu (15/7/2026) pukul 02.00 WIB itu menjadi panggung berikutnya bagi kiper AC Milan tersebut.
Penjaga gawang berusia 31 tahun itu datang dengan catatan yang sangat meyakinkan sepanjang turnamen. Dari 46 penampilan bersama tim nasional, Maignan telah membukukan empat clean sheet di Piala Dunia 2026 dan baru kebobolan dua gol.
Performa konsisten sebagai tembok terakhir itu membuat Prancis memiliki fondasi pertahanan yang sulit ditembus lawan. Ketenangan, kepemimpinan, dan kemampuan mengatur lini belakang menjadi modal penting Les Bleus dalam perburuan tiket menuju final.
Mike Maignan Jadi Pilar Pertahanan Prancis
Julukan “Magic Mike” semakin melekat berkat kontribusinya setelah mengambil peran yang sebelumnya dipegang Hugo Lloris. Ia membantu Prancis mencapai semifinal Euro 2024 dan kini kembali mengantar tim melangkah hingga empat besar Piala Dunia 2026.
Maignan juga mencatat tiga pertandingan fase gugur secara beruntun tanpa kebobolan. Rangkaian performa tersebut diawali penyelamatan penalti penting saat Prancis mengunci posisi teratas Grup I melalui kemenangan atas Norwegia.
Kemampuan fisik, refleks, teknik, serta distribusi bola menjadi keunggulan utama sang penjaga gawang. Selain piawai menggagalkan peluang lawan, ia juga berperan besar dalam membangun serangan dari lini belakang.
Unggul dalam Catatan Penyelamatan
Menjelang semifinal, Spanyol memang memiliki jumlah clean sheet lebih banyak dibanding Prancis. Namun, Mike Maignan tampil lebih sibuk dengan membukukan 11 penyelamatan, unggul satu dari kiper Spanyol yang mencatat 10 penyelamatan.
Catatan tersebut menunjukkan besarnya kontribusi Maignan ketika tim berada dalam tekanan. Keputusan cepat dan posisi yang tepat membuatnya mampu menjaga gawang Prancis tetap aman pada momen-momen krusial.
Maignan lahir di Guyana Prancis yang berada di pesisir timur laut Amerika Selatan sebelum tumbuh besar di kawasan utara Paris. Perjalanan hidupnya menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter hingga berkembang menjadi salah satu kiper terbaik dunia.
Kualitas Maignan juga mendapat pengakuan dari penjaga gawang Brasil, Alisson Becker. “Dia kuat secara fisik, cepat, memiliki teknik yang bersih. Dia sangat tangguh. Dia adalah salah satu yang terbaik di dunia,” ujar Alisson.
Julian Alvarez Tak Pernah Menyerah: Perjalanan Bocah Calchin Mengejar Mimpi Besar
BolaIndonesia – Di balik ketajaman Julian Alvarez sebagai salah satu penyerang terbaik dunia, terdapat kisah sederhana yang berawal dari sebuah kota kecil bernama Calchin, Provinsi Cordoba, Argentina. Jauh sebelum mengangkat trofi bergengsi dan menjadi andalan klub-klub elite Eropa, Alvarez hanyalah seorang bocah desa yang tidak pernah bosan mengejar bola setiap hari.
Di kota yang dihuni sekitar 3.500 penduduk itu, sepak bola bukan sekadar hobi bagi Alvarez. Sejak usia dini, ia telah menunjukkan dedikasi yang berbeda dibandingkan anak-anak seusianya. Ketika teman-temannya pulang usai latihan, Alvarez justru memilih tetap berada di lapangan untuk menyempurnakan kemampuannya.
Perjalanan panjang itulah yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi salah satu striker paling komplet di dunia sepak bola modern. Kisah Alvarez menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi mampu mengalahkan segala keterbatasan.
Cinta Sepak Bola Sejak Usia Dua Tahun
Julian Alvarez lahir dalam keluarga sederhana yang jauh dari kemewahan. Ayahnya, Gustavo Alvarez, bekerja di sektor pertanian sebelum beralih ke bidang transportasi, sementara sang ibu, Mariana, merupakan seorang guru taman kanak-kanak.
Sejak berusia dua tahun, Alvarez sudah mengikuti kedua kakaknya ke sekolah sepak bola Futuras Estrellitas. Saat anak-anak lain masih sibuk bermain tanpa arah, Alvarez justru selalu mencari bola untuk ditendang.
Baginya, setiap kesempatan bermain adalah proses belajar. Tidak ada hari yang terasa lengkap tanpa menyentuh bola.
Di sekolah dasar pun, cita-citanya tidak pernah berubah. Ketika guru bertanya ingin menjadi apa saat dewasa nanti, jawabannya selalu sama: menjadi pesepak bola profesional. Mimpi itu terdengar begitu besar bagi seorang anak dari kota kecil, tetapi Alvarez tidak pernah berhenti mempercayainya.
Latihan Tambahan Menjadi Rahasia Perkembangan
Kebiasaan Alvarez setelah latihan menjadi cerita yang hingga kini masih dikenang pelatih masa kecilnya, Rafael Varas.
Saat latihan resmi selesai, Alvarez meminta beberapa bola tambahan. Ia kemudian mengulang berbagai skenario pertandingan sendirian.
Mulai dari menerima umpan silang dari sisi kanan maupun kiri, menyelesaikan peluang menggunakan kedua kaki, latihan sundulan, tendangan bebas, penalti, hingga sprint dan kontrol bola terus ia lakukan tanpa diperintah siapa pun.
Semua itu dilakukan bahkan sebelum usianya menginjak 10 tahun.
Varas mengaku sejak awal sudah melihat sesuatu yang istimewa dalam diri Alvarez. Menurutnya, bakat memang penting, tetapi kemauan Alvarez untuk terus belajar jauh lebih luar biasa dibandingkan kemampuan alaminya.
Bahkan ketika menjadi pencetak gol terbanyak di setiap kelompok umur, Alvarez tetap terbuka menerima kritik dan terus mencari cara untuk berkembang.
Bersinar Bersama Club Atletico Calchin
Kemampuan Alvarez semakin menonjol ketika memperkuat Club Atletico Calchin.
Di hampir setiap turnamen usia muda, namanya selalu menghiasi daftar pencetak gol terbanyak. Salah satu pertandingan yang paling dikenang terjadi saat menghadapi Defensores de James Craik.
Kala itu Alvarez mencetak empat gol sekaligus, termasuk sebuah gol rabona yang membuat para pemain lawan ikut memberikan tepuk tangan usai pertandingan.
Meski sering menjadi pembeda, Alvarez tidak pernah bermain egois. Ia belajar membaca permainan, bekerja sama dengan rekan setim, dan memahami bahwa sepak bola adalah permainan kolektif.
Mentalitas seperti itulah yang kemudian menjadi fondasi kesuksesannya di level profesional.
Keputusan Besar Meninggalkan Kampung Halaman
Bakat Alvarez mulai menarik perhatian klub-klub besar Argentina seperti River Plate, Boca Juniors, hingga Renato Cesarini.
Namun keluarganya tidak ingin terburu-buru melepas sang anak. Mereka memilih membiarkan Alvarez menikmati masa kecilnya di Calchin terlebih dahulu.
Baru ketika berusia 15 tahun, Alvarez merasa sudah siap meninggalkan kampung halamannya demi mengejar impian.
Keputusan itu menjadi titik balik hidupnya.
Ia bergabung dengan akademi River Plate, berkembang pesat, kemudian menjalani debut profesional pada 2018 di bawah asuhan Marcelo Gallardo.
Kariernya terus menanjak hingga bermain di Manchester City, Atletico Madrid, dan menjadi bagian penting Timnas Argentina yang menjuarai Piala Dunia 2022. Kini, Alvarez juga menjadi salah satu andalan Argentina di Piala Dunia 2026.
Tetap Rendah Hati Meski Menjadi Bintang Dunia
Kesuksesan Alvarez turut membawa dampak besar bagi Club Atletico Calchin.
Dana kompensasi pembinaan yang diterima klub dari perjalanan transfer Alvarez membantu pembangunan lapangan rumput standar profesional, sistem irigasi modern, hingga berbagai fasilitas latihan baru.
Meski telah menjadi bintang dunia, Alvarez tetap dikenal sebagai pribadi yang sederhana.
Setiap kali pulang ke Calchin, ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat dibanding menjadi pusat perhatian.
Bagi warga Calchin, Julian Alvarez bukan hanya seorang juara dunia atau penyerang elite. Ia tetap bocah yang dulu selalu datang paling awal ke lapangan dan pulang paling akhir karena ingin terus bermain bola.
Kisah Julian Alvarez menjadi inspirasi bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari kota besar atau fasilitas mewah. Terkadang, semuanya berawal dari sebuah lapangan sederhana, keluarga yang selalu mendukung, dan seorang anak yang tidak pernah berhenti mengejar bola.
BOLADONESIA – Yotsakon Burapha optimistis menatap gelaran Piala ASEAN 2026 yang akan digelar mulai 25 Juli mendatang. Striker timnas Thailand itu merasa dalam kondisi prima untuk tampil apik dalam gelaran rutin dua tahunan tersebut.
“Kondisi fisikku sekarang sangat bagus, siap membantu timnas Thailand di Piala ASEAN. Aku sudah berlatih dengan tim di Chonburi selama hampir tiga pekan ini,” urai Yotsakon Burapha seperti dikutip Football5Star.net dari Siam Sport.
Penyerang Chonburi FC itu menambahkan, “Pada kesempatan akhir, aku menyesal berada di timnas dalam kondisi fisik tidak bagus. Namun, aku sekarang sangat siap, baik fisik maupun mental.”
Bukan tanpa alasan striker berumur 21 tahun itu sangat bersemangat untuk berlaga di Piala ASEAN nanti. Bukan apa-apa, dia baru 5 kali dipanggil ke skuad Changsuek dan hanya turun pada 2 laga awal, yakni dalan lawatan ke Eropa pada Oktober 2023.
Target Yotsakon Burapha
Jadi salah satu dari hanya empat striker yang dibawa pelatih Anthony Hudson ke skuad timnas Thailand untuk Piala ASEAN 2026, Yotsakon Burapha punya target jelas. Dia ingin mencetak gol sebanyak mungkin bagi Changsuek.
“Targetku adalah mencetak gol dan mebantu tim meraih kemenangan. Namun, itu hanya target kedua. Target utama adalah berkontribusi kepada tim, membuktikan diri sebaik mungkin karena aku melihat kembali ke timnas lagi ini sebagai tantangan,” ujar dia.
Sebelum bisa mencetak gol di gawang lawan, Yotsakon memang harus terlebih dahulu berebut tempat di tim utama dengan Teerasak Poeiphimai, Patrik Gustavsson, dan Jehhanafee Mamah. Soal pengalaman, dia jelas kalah dari Teerasak dan Gustavsson.
Dari keempat striker yang dibawa Hudson, Teerasak dan Gustavsson termasuk pemain yang tampil pada Piala ASEAN 2024. Kala itu, Gustavsson menjaringkan 4 gol dan membuat 2 assist, sementara Teerasak mencetak 3 assist.
Menakar Peluang Spanyol Juara Piala Dunia 2026: 5 Kelebihan dan 3 Kekurangan La Furia Roja
BolaIndonesia – Timnas Spanyol tinggal selangkah lagi menuju partai puncak Piala Dunia 2026. La Furia Roja sukses melaju ke babak semifinal setelah menyingkirkan Belgia dengan skor 2-1 di perempat final. Kini, tantangan besar menanti pasukan Luis de la Fuente, yakni menghadapi Prancis dalam duel yang disebut banyak pihak sebagai “final sebelum final”.
Perjalanan impresif Spanyol sepanjang turnamen membuat mereka kembali disebut sebagai kandidat kuat juara dunia. Namun, apakah mereka benar-benar memiliki peluang terbesar untuk mengangkat trofi? Berikut ulasannya.
Spanyol Tampil Paling Konsisten
Jika melihat performa sejak fase grup hingga perempat final, Spanyol menjadi salah satu tim paling stabil di Piala Dunia 2026.
Mereka mampu mengalahkan Austria dengan skor telak 3-0 di babak 16 besar sebelum menundukkan Belgia pada laga yang berlangsung ketat. Gaya bermain berbasis penguasaan bola khas Spanyol kini dipadukan dengan transisi menyerang yang jauh lebih cepat dibanding era sebelumnya.
Luis de la Fuente berhasil menciptakan keseimbangan antara pemain muda dan senior. Para pemain tidak hanya menguasai bola, tetapi juga mampu menciptakan peluang dengan tempo tinggi.
Statistik tersebut membuat Spanyol layak diperhitungkan sebagai calon juara, terlebih mereka hanya kebobolan satu gol hingga babak perempat final.
Kelebihan Spanyol
1. Lini Tengah Terbaik di Turnamen
Kekuatan utama Spanyol tetap berada di sektor tengah.
Pedri, Rodri, Gavi, hingga Dani Olmo mampu mengontrol ritme permainan hampir di setiap pertandingan. Mereka jarang kehilangan bola dan sangat efektif saat melakukan pressing.
Dominasi lini tengah menjadi senjata utama yang membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan.
2. Kedalaman Skuad Sangat Merata
Berbeda dengan beberapa negara lain yang bergantung pada satu atau dua bintang, Spanyol memiliki kedalaman skuad yang sangat baik.
Pemain pengganti mampu memberikan dampak instan ketika masuk ke lapangan.
Gol kemenangan atas Belgia misalnya lahir dari pemain yang masuk dari bangku cadangan, membuktikan kualitas rotasi yang dimiliki Luis de la Fuente.
3. Organisasi Bertahan Sulit Ditembus
Selain tajam menyerang, lini belakang Spanyol juga tampil disiplin.
Koordinasi empat bek bersama kiper membuat lawan jarang memperoleh peluang bersih.
Statistik kebobolan yang minim menjadi bukti bahwa keseimbangan permainan mereka berjalan sangat baik.
Kekurangan Spanyol
1. Masih Kurang Tajam Saat Finishing
Meski mampu menciptakan banyak peluang, Spanyol masih sering menyia-nyiakan kesempatan emas.
Efektivitas penyelesaian akhir belum sebaik Prancis maupun Argentina.
Jika menghadapi lawan dengan pertahanan solid, kegagalan memanfaatkan peluang bisa menjadi bumerang.
2. Ketergantungan pada Penguasaan Bola
Spanyol tetap mengandalkan filosofi menguasai pertandingan.
Namun ketika menghadapi tim yang bermain agresif dan mampu merebut bola lebih cepat, ritme permainan mereka dapat terganggu.
Prancis menjadi contoh lawan yang memiliki kemampuan menyerang balik sangat cepat.
3. Tekanan Mental di Laga Besar
Semifinal memiliki tekanan yang jauh berbeda dibanding pertandingan sebelumnya.
Spanyol memang tampil dominan sepanjang turnamen, tetapi mereka akan menghadapi Prancis yang dipenuhi pemain berpengalaman di laga-laga besar.
Mental bertanding akan menjadi faktor yang menentukan.
Ujian Berat Bernama Prancis
Laga semifinal melawan Prancis menjadi ujian sesungguhnya bagi La Furia Roja.
Prancis datang dengan materi pemain kelas dunia seperti Kylian Mbappe serta kedalaman skuad yang luar biasa. Bahkan sejumlah prediksi statistik dan bursa taruhan masih menempatkan Prancis sebagai favorit utama juara, meski peluang Spanyol juga sangat besar.
Jika mampu melewati Prancis, jalan menuju gelar diperkirakan akan semakin terbuka karena mereka hanya tinggal menghadapi pemenang Inggris kontra Argentina di partai final.
Peluang Juara Masih Sangat Terbuka
Melihat performa sepanjang turnamen, peluang Spanyol untuk menjadi juara Piala Dunia 2026 masih sangat realistis.
Keseimbangan antara lini belakang yang kokoh, lini tengah kreatif, dan permainan kolektif menjadi modal terbesar mereka. Namun, efektivitas penyelesaian akhir serta kemampuan menghadapi tekanan di semifinal akan menjadi penentu.
Bila mampu mempertahankan konsistensi dan mengatasi ujian berat melawan Prancis, La Furia Roja berpeluang mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka. Namun, satu kesalahan kecil saja bisa mengakhiri perjalanan impresif yang telah mereka bangun sejak awal turnamen.
Tuchel Kritik Kane, Bellingham Jadi Pembeda Inggris
BolaIndonesia – Timnas Inggris berhasil mengamankan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026 usai menumbangkan Norwegia dengan skor 2-1 pada babak perempat final. Kemenangan tersebut memastikan The Three Lions melanjutkan langkah menuju perebutan gelar dunia. Namun di balik hasil positif itu, pelatih Thomas Tuchel justru memberikan kritik tajam terhadap penampilan sang kapten, Harry Kane.
Berbeda dengan Jude Bellingham yang kembali tampil penuh energi dan menjadi motor permainan Inggris, Kane dinilai gagal memberikan pengaruh besar sepanjang pertandingan. Tuchel secara terbuka menyebut striker Bayern Munchen itu belum menunjukkan kualitas terbaiknya pada laga penting tersebut.
Kritik tersebut langsung menjadi sorotan publik sepak bola Inggris karena Kane selama ini dikenal sebagai sosok pemimpin sekaligus mesin gol utama tim nasional.
Bellingham Jadi Pembeda di Tengah Lapangan
Jude Bellingham kembali membuktikan mengapa dirinya menjadi salah satu gelandang terbaik dunia saat ini. Pemain muda tersebut tampil agresif sejak menit pertama dengan mengatur tempo permainan, memenangkan duel-duel penting, serta menjadi penghubung antara lini tengah dan lini depan.
Mobilitas tinggi Bellingham membuat lini tengah Norwegia kesulitan mengembangkan permainan. Ia beberapa kali berhasil merebut bola di area berbahaya sebelum membangun serangan balik cepat yang menghasilkan peluang emas bagi Inggris.
Performa konsisten pemain Real Madrid itu mendapat pujian langsung dari Tuchel.
Menurut sang pelatih, Bellingham menunjukkan karakter pemimpin meski usianya masih relatif muda. Ia terus meminta bola, bekerja keras tanpa henti, dan tetap tampil tenang ketika pertandingan berjalan ketat.
Kontribusi inilah yang membuat Bellingham disebut sebagai pemain paling berpengaruh dalam kemenangan Inggris.
Harry Kane Dinilai Belum Maksimal
Berbeda dengan Bellingham, Harry Kane justru kesulitan memberikan ancaman berarti kepada pertahanan Norwegia.
Striker berusia 33 tahun tersebut beberapa kali kehilangan bola saat mencoba membangun serangan. Ia juga jarang terlihat memenangkan duel melawan bek tengah Norwegia sehingga Inggris lebih banyak menyerang melalui sisi sayap.
Thomas Tuchel mengaku mengharapkan lebih banyak kontribusi dari pemain yang berstatus kapten tim tersebut.
Menurutnya, seorang penyerang utama tidak hanya diukur dari peluang mencetak gol, tetapi juga dari kemampuan membuka ruang, menekan lawan, serta membantu rekan-rekannya menciptakan peluang.
“Kami membutuhkan lebih banyak intensitas dan keterlibatan dari Harry. Ia memiliki kualitas luar biasa, tetapi hari ini belum berada pada level terbaiknya,” ujar Tuchel seusai pertandingan. Meski demikian, pelatih asal Jerman itu tetap menegaskan kepercayaannya kepada Kane menjelang semifinal.
Norwegia Berikan Perlawanan Sengit
Norwegia tampil jauh lebih baik dibandingkan prediksi banyak pengamat.
Dipimpin sejumlah pemain muda berbakat, mereka mampu memberikan tekanan kepada Inggris sejak awal pertandingan. Organisasi pertahanan yang disiplin membuat Kane dan para penyerang Inggris kesulitan menemukan ruang.
Bahkan beberapa kali Norwegia mampu menciptakan peluang berbahaya melalui serangan balik cepat yang memaksa lini belakang Inggris bekerja keras.
Namun pengalaman para pemain Inggris akhirnya menjadi pembeda.
Gol kemenangan memastikan Inggris mengakhiri perlawanan Norwegia sekaligus menjaga mimpi meraih gelar Piala Dunia pertama sejak 1966.
Meski lolos ke semifinal, Thomas Tuchel mengingatkan bahwa performa timnya masih harus ditingkatkan.
Ia menilai Inggris belum tampil seimbang selama 90 menit penuh. Beberapa kesalahan dalam transisi bertahan masih sering muncul dan berpotensi dimanfaatkan lawan pada fase berikutnya.
Menurut Tuchel, pertandingan semifinal akan menuntut konsentrasi yang jauh lebih tinggi sehingga setiap pemain harus berada dalam kondisi terbaik.
Kritik kepada Kane juga dianggap sebagai bentuk dorongan agar sang kapten kembali menunjukkan kualitas terbaiknya ketika menghadapi lawan berikutnya.
Kane Tetap Jadi Andalan Inggris
Terlepas dari kritik tersebut, Harry Kane masih menjadi sosok penting dalam skuad Inggris. Pengalamannya di turnamen besar serta naluri mencetak gol membuat Tuchel diyakini tetap akan menempatkannya sebagai ujung tombak utama pada semifinal nanti.
Di sisi lain, Jude Bellingham diprediksi kembali menjadi pemain kunci yang mengatur ritme permainan Inggris. Kolaborasi keduanya akan sangat menentukan peluang The Three Lions melangkah ke final Piala Dunia 2026.
Jika Kane mampu menjawab kritik dengan penampilan yang lebih tajam dan Bellingham mempertahankan performa impresifnya, Inggris memiliki peluang besar untuk terus melaju dan mendekati impian mengangkat trofi Piala Dunia setelah penantian panjang selama enam dekade.
KLIKBETS – Lionel Messi terlibat adu argumen dengan wasit Joao Pinheiro saat Timnas Argentina menaklukkan Swiss 3-1 setelah perpanjangan waktu pada laga perempat final Piala Dunia 2026 di Stadion Kansas City, Minggu (12-7-2026).
Penyerang berusia 39 tahun itu terlihat meluapkan emosinya kepada wasit asal Portugal tersebut, tepatnya pada menit ke-42.
Momen ketegangan itu terekam kamera, meski secara keseluruhan Messi menjalani laga yang relatif lebih tenang dalam urusan mencetak gol.
Penyebab pasti perselisihan tersebut belum diketahui. Namun, media Argentina, Ole, seperti dilansir Give Me Sport mengungkap isi ucapan Messi kepada Pinheiro.
“Berbicaralah dengan baik, jangan tidak menghormati saya. Berbicaralah kepada saya dengan baik, saya berbicara kepada Anda dengan baik.”
Dugaan Penyebab
Insiden itu diduga bermula ketika Pinheiro meminta Messi mengubah posisinya di pagar hidup menjelang tendangan bebas Swiss.
Messi tampaknya mempermasalahkan cara sang wasit menyampaikan instruksi tersebut, bukan isi ucapannya.
Setelah kejadian itu, Messi tidak berlarut-larut memikirkannya dan kembali memusatkan perhatian untuk membantu serangan Argentina hingga pertandingan berakhir.
Kendati sempat bersitegang dengan wasit, Messi tetap menjadi satu di antara motor kreativitas Argentina sepanjang 120 menit pertandingan.
Berdasarkan penilaian Opta, ia memperoleh rating 7,79, menyumbang satu assist, tetapi gagal mencetak gol. Itu menjadi laga pertama Messi di Piala Dunia 2026 tanpa mencatatkan namanya di papan skor.
Akurasi umpannya juga tetap terjaga dengan mencatatkan tingkat keberhasilan 86 persen dari 65 operan yang dilepaskan.
Selain itu, Messi turut membantu fase bertahan dengan merebut kembali penguasaan bola di area depan serta terus merepotkan lini belakang Swiss melalui pergerakannya.
Penampilan Messi memang tidak termasuk yang paling menonjol menurut standarnya sendiri. Namun, kontribusinya tetap menjadi bagian penting dari keberhasilan Argentina meraih kemenangan yang memastikan langkah ke semifinal menghadapi Inggris.
Erling Haaland menilai Inggris beruntung memiliki pemain seperti Jude Bellingham. Penyerang Norwegia itu juga mengatakan mantan rekan setimnya di Borussia Dortmund tersebut menerima terlalu banyak kritik yang tidak perlu.
Bellingham kembali menjadi penentu kemenangan Inggris saat mengalahkan Norwegia 2-1 pada perempat final Piala Dunia di Miami, Minggu (12-7-2026) dini hari WIB. Gelandang Real Madrid itu mencetak dua gol yang membawa The Three Lions bangkit setelah sempat tertinggal.
Dua gol tersebut membuat koleksi gol Bellingham di Piala Dunia 2026 menjadi enam, seluruhnya tercipta dari situasi nonpenalti.
Catatan itu menyamai rekor Gary Lineker sebagai pemain Inggris dengan gol nonpenalti terbanyak dalam satu edisi turnamen besar, yakni enam gol pada Piala Dunia 1986.
Bellingham kini juga telah mengoleksi tujuh gol di Piala Dunia. Di antara pemain yang berusia 23 tahun atau lebih muda, hanya Kylian Mbappe yang memiliki torehan lebih banyak, yakni 12 gol.
Sanjungan Haaland
Sebelum turnamen dimulai, sikap Bellingham sempat menjadi sorotan. Bahkan, muncul pendapat yang menyebut Morgan Rogers layak menjadi starter di belakang Harry Kane menggantikan perannya. Hal itu membuat Haaland merasa heran.
“Saya tidak terkejut dia mencetak dua gol hari ini dan tampil seperti itu,” kata Haaland.
“Satu-satunya hal adalah, saya merasa terkadang dia menerima terlalu banyak kritik karena tidak cukup sering mencetak gol atau apa pun alasannya.”
“Menurut saya, dia tidak pantas mendapatkannya karena dia adalah satu di antara pemain terbaik di dunia. Dia seorang gelandang, tetapi tetap mencetak gol dan mampu melewati pemain-pemain lawan,” sanjung Haaland.
“Saya hanya ingin memuji Jude. Menurut saya dia luar biasa. Inggris beruntung memilikinya, Madrid juga beruntung karena semua tim pasti ingin memiliki pemain seperti Jude,” tegas bintang Manchester City itu.
Dukung Inggris
Pada laga melawan Inggris, Haaland tidak banyak terlibat dalam permainan. Ia melepaskan dua tembakan yang semuanya berasal dari sundulan.
Pelanggarannya terhadap Elliot Anderson saat situasi sepak pojok juga membuat gol kedua Norwegia dianulir setelah tinjauan VAR.
Sebelum pertandingan tersebut, Haaland sedang mencatatkan 14 penampilan beruntun bersama timnas dengan selalu mencetak gol. Dalam periode itu, penyerang berusia 25 tahun tersebut membukukan 27 gol.
Kendati mengaku kecewa dengan beberapa keputusan yang menurutnya merugikan Norwegia, Haaland berharap Inggris mampu melangkah jauh. Tim asuhan Thomas Tuchel itu akan menghadapi Argentina pada partai semifinal.
“Tentu saja saya ingin Inggris tampil baik. Saya rasa saya mendapat jersey Inggris lebih dulu daripada jersey Norwegia ketika masih kecil,” ujar Haaland yang lahir di Leeds.
“Saya ingin Inggris tampil baik karena itu negara yang menyenangkan dan memiliki jersey yang bagus,” ucapnya.
BOLADONESIA – Bintang timnas Argentina, Lionel Messi sudah tidak sabar untuk melawan Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026. Karena ini adalah pertama kalinya Messi akan melawan mereka.
Argentina lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Swiss 3-1 (12/7/26). Sementara Inggris lolos setelah mengalahkan Norwegia 2-1.
Walaupun keduanya punya sejarah panjang di Piala Dunia, seperti pada 1986 di mana Diego Maradona mencetak gol “Hand of God” dan “Goal of the Century”, ini akan jadi pertama kalinya Messi melawan Inggris.
“Semua yang saya lihat dan ingat (tentang Argentina vs. Inggris dari tahun 1986) berasal dari video dan gambar yang terus-menerus ditonton dan dikenang oleh orang Argentina,” kata Messi seperti dilansir IDNEWS dari ESPN.
“Tapi saya pikir kelompok ini terbiasa memainkan pertandingan sepak bola tanpa memandang lawannya.
“Jelas, bermain melawan Inggris itu spesial karena mereka adalah tim raksasa, dan pertandingan melawan tim raksasa selalu spesial. Secara pribadi, ini pertama kalinya saya akan bermain melawan mereka. Saya telah bermain melawan semua tim kecuali Inggris, jadi akan menyenangkan karena alasan itu juga.
“Dan kami akan mengalaminya apa adanya: semifinal Piala Dunia melawan tim raksasa, tim hebat, dan kami akan mencoba untuk berada dalam kondisi terbaik untuk kembali bersaing.”
Julian Alvarez Sama Semangatnya dengan Lionel Messi
Julian Alvarez, yang mencetak gol cantik di injury time, yang membawa Argentina lolos juga sama semangatnya dengan Messi.
“Kami sangat bangga berada di antara empat tim terbaik di dunia,” kata Alvarez.
“Inggris, kita tahu, memiliki pemain-pemain yang mengesankan. Mereka adalah tim hebat yang telah melakukan banyak hal dengan baik (di Piala Dunia ini) tetapi kami perlu memulihkan diri dan mempersiapkan permainan kami.”
IDnew.top – Erling Haaland gagal membawa Norwegia melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah kalah 1-2 dari Inggris pada laga perempat final. Kekalahan itu memicu perdebatan lantaran kubu Norwegia menilai kepemimpinan wasit tidak berjalan adil.
Pertandingan di Miami berlangsung sengit sejak menit awal dengan kedua tim saling menciptakan peluang. Inggris akhirnya mengamankan kemenangan berkat dua gol Jude Bellingham yang mengakhiri langkah Norwegia.
Perdebatan muncul setelah gol penyeimbang Inggris pada akhir babak pertama. Bola hasil sapuan panjang kiper Orjan Nyland dianggap berubah arah sebelum jatuh ke kaki Elliot Anderson yang memulai proses gol.
FIFA kemudian memberikan penjelasan bahwa sensor di dalam bola tidak mendeteksi adanya sentuhan kabel pada insiden tersebut. Meski demikian, kubu Norwegia tetap mempertanyakan sejumlah keputusan wasit sepanjang pertandingan.
Ayah Erling Haaland Kritik Kepemimpinan Wasit
Alfie Haaland melontarkan komentar melalui media sosial X setelah laga berakhir. Ia memberikan ucapan selamat kepada Jude Bellingham, tetapi menyisipkan kritik terhadap wasit.
“Selamat untuk Bellingham dan wasit,” tulis Alfie Haaland. Komentar itu langsung memancing perbincangan di kalangan penggemar sepak bola.
Dalam unggahan lain, Alfie kembali melontarkan sindiran. “Benarkah? Diselamatkan oleh wasit. Semoga kalian menjuarai Piala Dunia. Namun, saya merasa kami dirampok hari ini.”
Gol Norwegia Dianulir usai Tinjauan VAR
Kontroversi tidak berhenti pada proses gol pertama Inggris. Norwegia sempat mencetak gol lewat Torbjorn Heggem pada babak kedua setelah memanfaatkan sepak pojok Martin Odegaard.
Namun, wasit membatalkan gol tersebut setelah menerima rekomendasi VAR untuk meninjau pelanggaran lebih dulu. Tayangan ulang memperlihatkan Erling Haaland mendorong Elliot Anderson sebelum bola dilepaskan dari sepak pojok.
Keputusan itu membuat keunggulan yang sempat diraih Norwegia tidak pernah tercatat di papan skor. Inggris kemudian mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang berbunyi.
Tanggapan Erling Haaland atas Keputusan VAR
Erling Haaland juga mengungkapkan pandangannya terkait insiden yang membuat gol Norwegia dianulir. Penyerang Manchester City itu merasa kontak yang terjadi masih dalam batas wajar duel di kotak penalti.
“Saya merasa terus ditarik sepanjang momen itu, dan menurut saya, itu keputusan yang terlalu mudah. Jika itu dianggap pelanggaran, maka saya seharusnya mendapatkan tendangan bebas di hampir setiap duel dalam setiap pertandingan,” kata Haaland.
Kekalahan tersebut mengakhiri impian Norwegia meraih gelar Piala Dunia pertama dalam sejarah. Di sisi lain, Inggris melangkah ke semifinal untuk keempat kalinya dengan modal kemenangan yang masih menjadi bahan perdebatan.