Berita sepak bola sajian Info Berita LIGA PRANCIS, Tentang Tim, Pemain, dan Topik Hangat update yang sedang trending untuk para penggemar dunia sepak bola.
Kiper Barcelona, Wojciech Szczesny, mengaku sempat kehilangan gairah terhadap sepak bola sebelum memutuskan menerima tawaran dari klub raksasa Katalonia tersebut. Penjaga gawang asal Polandia itu bahkan merasa karier profesionalnya telah berakhir ketika memutuskan pensiun pada 2024.
Szczesny bergabung dengan Barcelona pada Oktober 2024 setelah keluar dari masa pensiun. Saat itu, Blaugrana membutuhkan kiper berpengalaman menyusul cedera serius yang dialami Marc-Andre ter Stegen.
Dalam wawancara dengan The Athletic, kiper berusia 36 tahun tersebut menceritakan bagaimana kepindahannya ke Barcelona mengubah pandangannya terhadap sepak bola dan menghidupkan kembali semangat yang sempat hilang.
“Ketika saya berhenti, saya sudah tidak ingin bermain sepak bola lagi. Saya tidak pernah membayangkan akan ada sesuatu setelah 2024. Sekarang saya menjalani salah satu periode terbaik dalam karier saya dan menikmati setiap momennya,” ujar Szczesny.
Kehilangan Motivasi Bermain
Mantan kiper Timnas Polandia itu mengungkapkan bahwa sebelum Barcelona datang dengan tawaran mereka, sepak bola sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang dinantikannya setiap hari.
Menurut Szczesny, ia tidak lagi menikmati bermain maupun menjalani rutinitas latihan.
“Saya seperti kehilangan rasa cinta terhadap sepak bola. Saya tidak lagi menikmati bermain. Saya juga tidak menikmati bangun pagi untuk latihan,” katanya.
Szczesny menuturkan, kepergiannya dari Juventus terasa seperti penutup perjalanan karier profesionalnya. Meski masih memiliki sisa kontrak satu musim, klub asal Turin itu memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama sehingga kedua pihak berpisah.
Situasi tersebut membuatnya tidak tertarik memulai petualangan baru di klub lain.
“Saya tidak siap menghadapi tantangan baru. Saya tidak ingin pindah negara, berganti klub, mencari sekolah baru untuk anak-anak, dan mencari tempat tinggal baru,” ungkapnya.
Ia mengatakan keputusan pensiun menjadi pilihan yang mudah bagi dirinya maupun keluarganya.
“Pada titik tertentu dalam hidup, keluarga memang menjadi prioritas di atas sepak bola.”
Tawaran Barcelona Sulit Ditolak
Ketika sudah merasa nyaman menikmati kehidupan bersama keluarga di Marbella, Barcelona datang dengan tawaran yang mengubah segalanya.
Szczesny mengakui sempat ragu sebelum mengambil keputusan, tetapi kesempatan bergabung dengan Barcelona dinilainya terlalu besar untuk dilewatkan.
“Saya sempat ragu beberapa waktu. Keputusannya tidak mudah, tetapi kesempatan itu terlalu besar. Saya masih menyukai tantangan dan masih memiliki ambisi.”
Ia juga ingin menguji kemampuannya di level tertinggi.
“Ketika kesempatan seperti itu datang dan Anda masih memiliki ambisi serta percaya pada kemampuan sendiri, tentu Anda ingin menguji diri dan melihat apa yang masih bisa Anda lakukan,” ucap mantan kiper Arsenal itu.
Menikmati Setiap Momen
Szczesny menyebut periode bersama Barcelona sebagai bonus dalam perjalanan kariernya. Karena itulah, ia memilih menikmati setiap kesempatan yang didapat semaksimal mungkin.
“Saya sebelumnya sudah menjadi pesepak bola yang pensiun, lalu sekarang bisa menikmati momen seindah ini. Saya seperti salah satu suporter yang berada di lapangan,” katanya.
Ia menegaskan sejak memutuskan kembali bermain, dirinya berjanji akan menikmati semuanya sepenuh hati.
“Saya menganggap ini sebagai bonus dalam karier saya. Saya ingin menikmati semuanya dengan cara yang saya sukai dan tampaknya orang-orang bisa merasakan ketulusan itu.”
Menurut Szczesny, ia juga merasakan besarnya dukungan yang diberikan para pendukung Barcelona.
“Saya merasakan cinta yang sama besarnya seperti rasa cinta saya kepada tempat ini dan klub ini.”
Sejak bergabung, Szczesny menjadi satu di antara pemain favorit suporter. Bahkan, para pendukung Barcelona menciptakan chant khusus bertajuk “Szczesny Fumador (the smoker)” untuknya.
Alih-alih malu, ia justru menikmati bentuk apresiasi tersebut.
“Saya belum pernah memiliki chant sendiri sebelumnya, jadi itu sudah menjadi sesuatu yang mengejutkan. Saya menikmatinya. Saya hanya berusaha menjadi diri sendiri dan tampaknya orang-orang menghargainya,” ujar pemain kelahiran 18 April 1990 itu.
Tetap Merasa Dibutuhkan
Szczesny mengungkapkan keputusan memperpanjang masa baktinya di Barcelona bukan semata-mata karena ingin terus menjadi pilihan utama. Baginya, yang lebih penting adalah merasa masih dibutuhkan oleh tim, termasuk ketika tidak berada di lapangan.
Ia juga merasa bangga karena masih mampu mengikuti standar tinggi yang dimiliki Barcelona.
“Setiap kali selesai latihan dan merasa masih mampu berada di level ini, saya merasa bangga terhadap diri sendiri,” ucapnya.
Menurut Szczesny, seorang pemain tidak harus selalu menjadi pilihan utama untuk bisa memberikan kontribusi bagi tim.
“Anda tidak harus selalu menjadi nomor satu di lapangan untuk membantu tim. Pengalaman dari berbagai situasi sulit maupun menyenangkan bisa dibagikan kepada pemain-pemain muda. Itu memberikan perasaan yang sangat baik,” tutur kiper dengan tinggi 195 cm tersebut.
Bagi Szczesny, Barcelona bukan hanya memberinya kesempatan kembali bermain, tetapi juga membuatnya menemukan kembali kecintaannya terhadap sepak bola yang sempat hilang.
Marcus Rashford kembali memperkuat Manchester United pada musim baru. Penyerang berusia 28 tahun itu dijadwalkan bergabung lagi dengan skuad asuhan Michael Carrick setelah menuntaskan tugas bersama Timnas Inggris di Piala Dunia 2026.
Sebelumnya, Rashford diperkirakan tidak akan lagi mengenakan seragam MU. Namun, situasi berubah setelah Barcelona memutuskan tidak mengaktifkan klausul pembelian permanen senilai 26 juta paun dalam kesepakatan peminjamannya.
Klub Katalonia itu justru memilih merekrut Anthony Gordon dari Newcastle United. Keputusan tersebut membuat masa depan Rashford kembali belum menemui kepastian.
Selain kembali ke Old Trafford, Rashford juga dikabarkan masuk radar Tottenham Hotspur. Menurut Talksport, Spurs sedang mempertimbangkan kemungkinan merekrut Rashford.
Merasa Malu
Melihat situasi terkini, mantan pemain MU, Paul Parker, menilai Rashford seharusnya merasa malu karena Barcelona lebih memilih mendatangkan Gordon daripada mempertahankannya.
Parker juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi Rashford begitu kembali ke MU. Menurutnya, pemain berusia 28 tahun itu harus bekerja keras untuk mendapatkan kembali kepercayaan rekan-rekan setimnya setelah tidak lagi membela Setan Merah sejak 2024.
“Hal terbesar adalah bagaimana dia bisa kembali mendapatkan kepercayaan dari rekan-rekan setimnya? Dia tidak menjalankan tugasnya dengan baik, tetapi semua orang membiarkannya hingga akhirnya mereka mengetahui seperti apa dirinya,” kata Parker kepada PariuriX, dikutip Express.
“Pada masa saya dulu, pemain senior pasti sudah menariknya dan melakukan sesuatu yang tidak akan menyenangkan baginya,” imbuhnya.
Kesempatan Terakhir
Parker menilai kesempatan Rashford untuk kembali ke MU muncul karena Barcelona memilih tidak mempermanenkannya.
“Dia mendapat kesempatan kecil untuk kembali dan, sejujurnya, kesempatan itu hanya datang karena Barcelona tidak menginginkannya lagi,” ujar Parker.
“Mereka memilih mengeluarkan uang lebih banyak untuk Anthony Gordon. Rashford seharusnya merasa malu. Ketika mereka memutuskan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk Gordon, dia seharusnya merasa malu,” cetus bek yang membela MU pada 1991-1996 itu.
Keputusan Barcelona merekrut Gordon memang memunculkan banyak kejutan. Sebelumnya, kondisi finansial klub tersebut disebut-sebut menjadi alasan utama mereka tidak mampu mempermanenkan Rashford.
Di sisi lain, Tottenham bukan satu-satunya klub yang dikabarkan meminati Rashford. AS Roma juga disebut tertarik merekrut penyerang Timnas Inggris tersebut.
Meski begitu, gaji Rashford diperkirakan menjadi kendala bagi klub-klub yang ingin memboyongnya.
Saat ini ia merupakan pemain dengan bayaran tertinggi di MU setelah Setan Merah lolos ke Liga Champions, dengan pendapatan mencapai 325 ribu paun per pekan.
Harus Membuktikan Diri
Parker menegaskan Rashford masih memiliki peluang untuk membuktikan diri, tetapi tantangannya tidak akan mudah.
“Kalau dia benar-benar serius ingin membuktikan dirinya lagi, itu akan menjadi tantangan besar baginya,” ucap Parker.
“Suporter tidak akan langsung menerimanya hanya karena satu pertandingan atau satu gol. Dia harus bekerja keras secara konsisten,” katanya.
Parker juga menilai sikap Rashford di luar lapangan akan menjadi sorotan begitu kembali ke MU.
“Bagaimana sikapnya saat duduk di bangku cadangan menyaksikan pertandingan? Bagaimana perilakunya saat latihan dan dalam kehidupan sosial? Itu menjadi salah satu masalah besar dan alasan mengapa dia berada dalam situasi seperti sekarang.”
“Masih banyak yang harus dia lakukan dan buktikan. Sejujurnya, ini adalah kesempatan terakhirnya. Benar-benar kesempatan terakhir,” ucap Parker.
Sebelum menjalani masa peminjaman di Barcelona dan Aston Villa, hubungan Rashford dengan mantan pelatih MU, Ruben Amorim, dilaporkan memburuk.
Meski begitu, Michael Carrick diyakini memiliki hubungan yang berbeda dengan Rashford dan disebut ingin memasukkan sang penyerang ke skuadnya untuk musim mendatang.
Timnas Indonesia akan menghadapi Timor Leste pada laga kedua Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Chonburi, Thailand, Jumat (31-7-2026).
Duel ini dinilai menjadi kesempatan emas bagi Skuad Garuda untuk mengamankan tiga poin sekaligus memperbaiki posisi di klasemen sementara.
Saat ini, persaingan di Grup A mulai memanas. Singapura memimpin klasemen dengan koleksi enam poin, sementara Vietnam berada di posisi kedua dengan tiga poin dan unggul selisih gol atas Timnas Indonesia.
Pengamat sepak bola senior, Gusnul Yakin, menilai Indonesia tidak cukup hanya meraih kemenangan atas Timor Leste. Menurutnya, Skuad Garuda juga perlu mencetak gol sebanyak mungkin agar memiliki peluang lebih baik dalam perebutan tiket ke babak semifinal.
“Singapura dan Vietnam pesaing terberat di Grup A. Timnas Indonesia dituntut menang dengan jumlah gol banyak agar bisa mengejar agregat milik Vietnam,” ujar Gusnul Yakin.
Perlu Rotasi
Menurut mantan pelatih Arema tersebut, hasil melawan Timor Leste bisa menjadi modal penting sebelum Indonesia menjalani dua pertandingan yang lebih berat, yakni menghadapi Vietnam dan Singapura.
Gusnul menilai laga kontra Timor Leste menjadi momen yang tepat bagi pelatih John Herdman untuk melakukan sejumlah penyesuaian dalam susunan pemain. Ia mengamati masih ada beberapa pemain yang belum mampu menampilkan performa terbaik ketika menghadapi Kamboja.
“Saya kira John Herdman perlu melakukan rotasi. Saya amati ada beberapa pemain yang kurang maksimal saat melawan Kamboja lalu. Pemain itu bukan jelek, tapi belum sepenuhnya bisa mengikuti pakem permainan John Herdman,” jelasnya.
Tampil Lebih Efektif
Meski begitu, Gusnul menegaskan tujuan utama perubahan komposisi pemain bukan sekadar memberi kesempatan tampil kepada pemain lain.
Ia berharap langkah tersebut dapat membuat Timnas Indonesia tampil lebih efektif sehingga mampu meraih kemenangan dengan margin gol yang meyakinkan.
Di sisi lain, Indonesia juga masih harus menghadapi dua lawan terkuat di Grup A, yakni Vietnam dan Singapura. Karena itu, Gusnul menilai Skuad Garuda tidak boleh kehilangan poin pada dua pertandingan tersebut apabila ingin memastikan langkah ke semifinal.
“Jika tahu kedalaman tim secara utuh, John Herdman tak ragu lagi dengan kekuatan Timnas Indonesia untuk melawan Vietnam dan Singapura nanti. Apalagi kita tak boleh terpeleset di partai itu jika ingin lolos ke semifinal,” kata Gusnul.
Persebaya Surabaya meraih kemenangan tipis 1-0 saat menghadapi PSMS Medan dalam laga kedua Grup B Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (29/7/2026) malam.
Satu-satunya gol kemenangan Persebaya Surabaya dicetak oleh Yuran Fernandes lewat tandukan yang khas pada menit ke-45. Diogo Ramalho menjadi pemberi assist.
PSMS Medan memberikan perlawanan yang sengit di sepanjang laga. Dalam beberapa kesempatan upaya para pemain Ayam Kinantan membuat lini belakang Persebaya Surabaya kelabakan.
Persebaya Surabaya pun mampu mempertahankan keunggulan 1-0 hingga wasit meniup peluit panjang tanda babak kedua berakhir. Kemenangan ini disambut meriah oleh Bonek yang memadati Stadion Gelora Bung Tomo malam ini.
Mulus ke Semifinal
Kemenangan yang diraih Persebaya Surabaya atas PSMS Medan membuat mereka melaju mulus ke semifinal Piala Presiden 2026. Bajul Ijo mantap menempati posisi teratas sementara Grup B dengan enam poin.
Posisi kedua klasemen sementara Grup B Piala Presiden 2026 ditempati oleh Port FC. Klub asal Thailand itu memiliki empat poin setelah menjalani dua laga.
Persebaya Surabaya dan Port FC akan bertemu pada laga terakhir Grup B Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya pada Sabtu (1/8/2026).
Idnews.top – Chelsea semakin dekat mendapatkan Jordan Henderson pada bursa transfer musim panas ini. Fabrizio Romano menyatakan bahwa The Blues telah mencapai kesepakatan pribadi dengan sang gelandang.
Henderson akan bergabung dengan status bebas transfer setelah sepakat mengakhiri kontraknya bersama Brentford. Gelandang berusia 36 tahun itu disebut akan menandatangani kontrak berdurasi dua tahun.
Romano juga mengungkapkan Henderson dijadwalkan meneken kontraknya pada pekan ini. Dengan begitu, mantan kapten Liverpool tersebut akan segera menjadi bagian dari skuad Chelsea.
Kehadiran Henderson menandai perubahan pendekatan Chelsea di bawah arahan Xabi Alonso. Klub kini mulai mengombinasikan pemain muda dengan sosok berpengalaman untuk memperkuat tim.
Xabi Alonso Ingin Tambah Pengalaman di Skuad
Henderson akan menjadi pemain senior kedua yang direkrut Chelsea setelah Danny Welbeck. Kombinasi keduanya diharapkan meningkatkan pengalaman sekaligus kepemimpinan di ruang ganti.
Xabi Alonso memang mendorong Chelsea untuk mendatangkan pemain yang sudah matang secara pengalaman. Sebelumnya, The Blues sempat mencoba merekrut Granit Xhaka, tetapi gagal mencapai kesepakatan.
Alonso menilai Henderson memiliki karakter pemimpin dan mental juara yang dibutuhkan tim. Pengalaman panjangnya sebagai kapten Liverpool menjadi salah satu alasan utama Chelsea mengejarnya.
Henderson Dinilai Bawa Nilai Tambah
Selama membela Liverpool, Henderson berhasil mengangkat trofi Premier League dan Liga Champions sebagai kapten tim. Rekam jejak tersebut diyakini dapat membantu perkembangan para pemain muda Chelsea.
Chelsea juga disebut masih melanjutkan pembicaraan untuk merekrut Danny Welbeck. Langkah itu memperlihatkan keinginan Alonso menciptakan keseimbangan antara energi pemain muda dan pengalaman para senior.
Meski sebagian suporter mempertanyakan kemampuan Henderson di level tertinggi saat ini, Chelsea tetap yakin dengan kualitasnya. Kepemimpinan, profesionalisme, dan mental pemenangnya dinilai akan memberi dampak positif, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Ada banyak perdebatan yang selalu muncul dalam dunia sepak bola. Siapa pemain terbaik sepanjang masa? Siapa yang paling layak memenangkan Ballon d’Or? Benarkah gol Geoff Hurst benar-benar melewati garis gawang?
Daftarnya nyaris tak ada habisnya, dan untuk sebagian besar pertanyaan tersebut, jawabannya tentu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang masing-masing orang.
Hal yang sama juga berlaku ketika membahas siapa tim terbaik dalam sejarah sepak bola. Selama bertahun-tahun, begitu banyak tim luar biasa yang tidak hanya mengukir warisan prestasi, tetapi dalam beberapa kasus juga memberikan dampak budaya yang melampaui dunia sepak bola.
Karena itulah, menyusun daftar tim-tim terbaik sepanjang masa bukanlah pekerjaan yang mudah.
Namun, berdasarkan riset yang dilakukan OLBG dan dikutip The Sun, Rabu (30/7/2026), para penggemar telah memberikan suara untuk menentukan tim-tim terbaik yang pernah tampil di lapangan hijau.
Hasil pemungutan suara tersebut kemudian menghasilkan daftar 10 tim terbaik sepanjang sejarah sepak bola, yang diurutkan berdasarkan jumlah suara yang diperoleh.
Real Madrid: 1984-1990
Antara 1984 hingga 1990, Real Madrid kembali menikmati salah satu era keemasan mereka yang dipimpin oleh kelompok legendaris “La Quinta del Buitre”, yang beranggotakan Emilio Butragueno, Michel, Miguel Pardeza, Manolo Sanchís, dan Rafael Martín Vazquez.
Dikenal dengan gaya bermain menyerang yang atraktif, Real Madrid mendominasi sepak bola Spanyol pada periode tersebut. Di bawah arahan pelatih Luis Molowny dan Leo Beenhakker, Los Blancos berhasil meraih lima gelar La Liga secara beruntun (1985-1990), dua trofi Piala UEFA (1985 dan 1986), satu Copa del Rey (1989), serta tiga gelar Piala Super Spanyol.
Jauh sebelum era Galacticos, inilah skuad Real Madrid yang lebih dekat dengan akar tradisi klub. Meski tidak dihuni banyak bintang hasil transfer mahal, mereka tetap mampu menunjukkan kehebatan dan mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa.
Prestasi Real Madrid (1984-1990):
La Liga: 5 kali Copa del Rey: 1 kali Copa de la Liga: 1 kali Supercopa de Espana: 3 kali Piala UEFA/UEFA Europa League: 2 kali
Manchester United:1966-1968
Manchester United berhasil bangkit secara luar biasa dari tragedi Munich Air Disaster pada 1958 yang menghancurkan klub. Hanya berselang 10 tahun, Setan Merah mencatat sejarah sebagai klub Inggris pertama yang menjuarai Piala Champions Eropa (European Cup).
Di bawah arahan manajer legendaris Sir Matt Busby, yang juga selamat dari kecelakaan tersebut, Manchester United dibangun kembali dengan perpaduan pemain muda dan senior berpengalaman. Tim ini diperkuat sejumlah bintang seperti George Best, Bobby Charlton (penyintas tragedi Munich), Denis Law, dan Nobby Stiles.
Fakta Menarik: George Best, Denis Law, dan Bobby Charlton menjadi satu-satunya trio dalam sejarah sepak bola yang sama-sama memenangkan Ballon d’Or saat masih membela klub yang sama.
Keberhasilan menjuarai European Cup 1968 setelah mengalahkan Benfica di Wembley, markas sepak bola Inggris, menjadi puncak kisah kebangkitan MU dari tragedi menjadi kejayaan. Momen tersebut juga dianggap sebagai salah satu fondasi yang membentuk kebesaran klub berjuluk Setan Merah hingga saat ini.
Prestasi Manchester United (1966-1968)
Divisi Pertama Inggris (First Division): 1 kali FA Charity Shield: 1 kali European Cup (Liga Champions): 1 kali
Manchester City: 2022-2023
Musim 2022/2023 menjadi tonggak bersejarah bagi Manchester City setelah berhasil menjadi tim kedua dalam sejarah sepak bola Inggris yang meraih treble winners. Di bawah arahan Pep Guardiola, The Citizens tampil luar biasa dengan permainan taktis yang brilian dan konsistensi yang mengesankan sepanjang musim.
Manchester City sukses menyalip Arsenal dalam perburuan gelar Premier League, kemudian mengalahkan Manchester United dengan skor 2-1 di final Piala FA, sebelum menuntaskan musim impian dengan menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya lewat kemenangan 1-0 atas Inter Milan.
Di lini depan, Erling Haaland menjadi sosok paling menonjol setelah mencetak 52 gol di semua kompetisi, sekaligus membuktikan diri sebagai rekrutan terbaik musim itu. Ia mendapat dukungan penting dari Kevin De Bruyne dan Rodri, yang menjadi motor permainan Manchester City.
Keberhasilan meraih treble sekaligus mengakhiri penantian panjang City untuk mengangkat trofi Liga Champions. Pencapaian tersebut juga mengukuhkan Manchester City sebagai salah satu klub terbaik di dunia.
Prestasi Manchester City (2022/2023)
Premier League Piala FA (FA Cup) Liga Champions (Champions League)
Arsenal: 2003-2004
Musim 2003/2004 menjadi salah satu periode paling bersejarah dalam perjalanan Arsenal. Di bawah arahan Arsene Wenger, The Gunners menjuarai Premier League tanpa sekalipun menelan kekalahan, sehingga mendapat julukan legendaris “The Invincibles”.
Tim racikan Wenger dianggap sebagai simbol masuknya filosofi sepak bola modern Eropa ke Inggris. Bahkan, pelatih asal Prancis itu kerap disebut sebagai sosok yang mengubah budaya sepak bola Inggris, baik dari segi gaya bermain maupun pendekatan profesional terhadap tim.
Arsenal diperkuat sederet pemain bintang seperti Thierry Henry, yang menjadi top skor Premier League musim itu. Selain Henry, ada kapten Patrick Vieira, Dennis Bergkamp, Robert Pires, hingga Sol Campbell, yang menuai kontroversi setelah pindah dari Tottenham Hotspur. Kepindahan Campbell terbukti menjadi keputusan tepat karena ia menjadi bagian penting dari kesuksesan Arsenal.
Hingga kini, banyak pihak masih menganggap skuad The Invincibles sebagai salah satu, bahkan mungkin tim terbaik dalam sejarah Premier League. Namun, fakta bahwa mereka hanya meraih satu trofi selama rangkaian 49 pertandingan tak terkalahkan membuat posisi mereka dalam daftar tim terbaik sepanjang masa sedikit tertahan.
Prestasi Arsenal (2003/2004):
Premier League (Juara tanpa terkalahkan)
Spanyol: 2008-2012
Jika ingin melihat seperti apa dominasi di level sepak bola internasional, maka lihatlah Timnas Spanyol pada periode 2008 hingga 2012. Mengusung gaya bermain tiki-taka yang mulai dipopulerkan Pep Guardiola bersama Barcelona, La Roja tampil nyaris tak tersentuh ketika tim-tim lain kesulitan menghadapi permainan penguasaan bola mereka.
Spanyol berhasil menjuarai tiga turnamen besar secara beruntun, yakni Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012. Pencapaian tersebut membuat mereka menjadi satu-satunya tim nasional yang mampu mencatatkan prestasi seperti itu.
Kekuatan utama Spanyol terletak di lini tengah yang dipenuhi pemain kelas dunia. Mereka memiliki banyak pilihan, mulai dari Xavi, Andrés Iniesta, Cesc Fàbregas, Sergio Busquets, hingga Xabi Alonso. Sementara di lini belakang, hadir nama-nama seperti Sergio Ramos, Gerard Piqué, dan Carles Puyol, yang menjadikan pertahanan La Roja sangat sulit ditembus lawan.
Generasi Spanyol saat ini, yang diperkuat pemain seperti Rodri dan Lamine Yamal, juga mulai menorehkan prestasi setelah menjuarai Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Jika mampu memenangkan satu turnamen besar lagi, mereka berpeluang menyamai warisan luar biasa yang ditinggalkan generasi emas 2008-2012.
Prestasi Spanyol (2008-2012)
Juara Piala Eropa (UEFA Euro): 2 kali (2008 dan 2012) Juara Piala Dunia FIFA: 1 kali (2010)
Real Madrid: 1955-1960
Jika ada satu tim yang benar-benar mendefinisikan dominasi sepak bola Eropa pada era awal kompetisi antarklub, maka jawabannya adalah Real Madrid periode 1955 hingga 1960. Los Blancos mencatat sejarah dengan menjuarai lima edisi pertama European Cup (kini Liga Champions) secara beruntun, sebuah rekor yang hingga kini belum mampu disamai klub mana pun.
Dipimpin legenda Alfredo Di Stéfano, Real Madrid diperkuat sederet pemain hebat seperti Ferenc Puskás, Paco Gento, Raymond Kopa, dan kemudian José Santamaría. Mereka dikenal memainkan sepak bola menyerang yang atraktif, cepat, dan penuh kreativitas.
Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final European Cup 1960, ketika Real Madrid membantai Eintracht Frankfurt dengan skor 7-3. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan terbaik dalam sejarah sepak bola.
Era keemasan ini menjadikan Real Madrid sebagai simbol sepak bola Eropa sekaligus meletakkan fondasi bagi status mereka sebagai salah satu klub terbesar dan paling sukses di dunia.
Prestasi Real Madrid (1955-1960)
La Liga: 3 gelar European Cup (Liga Champions): 5 gelar Piala Interkontinental: 1 gelar
Liverpool: 1975-1984
Pada periode 1975 hingga 1984, Liverpool membangun salah satu dinasti paling dominan dalam sejarah sepak bola. Di bawah arahan Bob Paisley, yang kemudian diteruskan Joe Fagan, The Reds menguasai seni meraih kemenangan dengan cara yang tenang, konsisten, dan efektif, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.
Selama kurun waktu tersebut, Liverpool sukses meraih tujuh gelar Divisi Pertama Inggris (First Division), tiga trofi European Cup (1977, 1978, dan 1981), satu Piala UEFA (1976), serta empat gelar Piala Liga Inggris (League Cup) secara beruntun.
Skuad Liverpool saat itu dipenuhi para pemain legendaris. Ada Kenny Dalglish dengan kecerdasan bermainnya, Graeme Souness yang tangguh di lini tengah, Kevin Keegan dengan semangat juangnya, Ian Rush sebagai mesin gol, serta duet Alan Hansen dan Ray Clemence yang menjadi pilar kokoh di lini pertahanan.
Liverpool pada era tersebut tidak sekadar mengoleksi trofi. Mereka menjadi simbol dominasi dan menetapkan standar kesuksesan yang hanya mampu disamai oleh sedikit klub hingga saat ini.
Prestasi Liverpool (1975-1984)
Divisi Pertama Inggris (First Division): 7 gelar European Cup (Liga Champions): 3 gelar Piala UEFA: 1 gelar Piala Liga Inggris (League Cup): 4 gelar Piala FA: 5 gelar Piala Super Eropa (UEFA Super Cup): 1 gelar
Brazil 1970
Jika ada satu tim nasional yang layak disebut sebagai yang terbaik sepanjang masa, maka Brasil 1970 adalah jawabannya. Tim inilah yang benar-benar menggambarkan keindahan sepak bola.
Pada era ketika siaran pertandingan internasional belum semudah sekarang diakses, Brasil memukau dunia lewat permainan menyerang yang atraktif, teknik individu kelas tinggi, dan aksi-aksi yang tak terlupakan di Piala Dunia 1970 di Meksiko.
Brasil menyapu bersih enam pertandingan yang mereka jalani untuk meraih gelar Piala Dunia ketiga dalam sejarah. Pada laga final, Selecao tampil dominan dan menghancurkan Italia dengan skor 4-1.
Skuad Brasil saat itu dipenuhi pemain-pemain legendaris. Pele, Jairzinho, Tostao, Rivelino, dan Carlos Alberto membentuk lini serang yang begitu cair, kreatif, dan sulit dihentikan. Pergerakan mereka yang dinamis serta kemampuan teknik luar biasa membuat setiap lawan kewalahan.
Pelé juga mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali. Sementara itu, gol Carlos Alberto di partai final hingga kini masih dikenang sebagai salah satu gol terbaik dan paling ikonis dalam sejarah sepak bola.
Banyak pihak menilai Brasil 1970 sebagai representasi sempurna dari “jogo bonito” atau sepak bola indah, sekaligus tim nasional terbaik yang pernah menghiasi panggung dunia.
Prestasi Brasil (1970):
Juara Piala Dunia FIFA: 1 gelar (1970)
Barcelona: 2008-2012
Di bawah arahan Pep Guardiola, Barcelona melahirkan gaya bermain tiki-taka yang memadukan pressing tanpa henti, umpan-umpan pendek, dan penguasaan posisi yang luar biasa. Permainan mereka bukan sekadar mendominasi lawan, tetapi juga merevolusi sepak bola modern hingga menjadi standar yang masih dijadikan acuan sampai sekarang.
Karena itulah, cukup mengejutkan ketika tim ini hanya menempati peringkat kedua dalam daftar tim sepak bola terbaik sepanjang masa berdasarkan hasil pemungutan suara.
Pada periode tersebut, Los Cules sukses meraih tiga gelar La Liga, dua trofi Liga Champions (2009 dan 2011), dua Copa del Rey, serta dua gelar Piala Dunia Antarklub FIFA.
Kesuksesan Barcelona dibangun di atas fondasi generasi emas. Lionel Messi tampil dalam performa terbaik sepanjang kariernya, didukung oleh duet maestro lini tengah Xavi dan Andrés Iniesta, serta sederet pemain kelas dunia lainnya.
Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final Liga Champions 2011, ketika Barcelona mengalahkan Manchester United. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan tim paling sempurna dalam sejarah sepak bola sekaligus menjadi puncak kejayaan skuad legendaris racikan Guardiola.
Prestasi Barcelona (2008-2012)
La Liga: 3 gelar Copa del Rey: 2 gelar Supercopa de España: 3 gelar Liga Champions: 2 gelar Piala Super UEFA: 2 gela rPiala Dunia Antarklub FIFA: 2 gelar
Manchester United: 1998-1999
Treble yang diraih Manchester City pada 2022/2023 memang luar biasa. Namun, banyak yang menilai pencapaian Manchester United pada musim 1998/1999 lebih istimewa karena mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil meraih prestasi tersebut dan harus melewati tantangan yang jauh lebih berat.
Meski Setan Merah sudah menjadi kekuatan dominan di Inggris sepanjang dekade 1990-an, persaingan di kasta tertinggi sepak bola Inggris saat itu dinilai lebih sengit dibanding ketika Manchester City menjuarai treble pada 2023. Selain itu, kualitas kompetisi Eropa juga jauh lebih kompetitif.
Pada masa itu, Premier League belum menjadi liga terkuat di dunia seperti sekarang. La Liga, Serie A, dan Bundesliga justru dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi.
Perjalanan Manchester United menuju gelar Liga Champions 1998/1999 juga penuh rintangan. Tim asuhan Sir Alex Ferguson harus bersaing dengan Barcelona di fase grup, kemudian menyingkirkan Inter Milan dan Juventus di babak gugur, sebelum menghadapi Bayern Munchen, yang juga menjadi lawan mereka di fase grup, pada laga final.
Final melawan Bayern menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah sepak bola. Manchester United membalikkan keadaan lewat dua gol pada injury time untuk menang 2-1 dan memastikan gelar Liga Champions sekaligus menyempurnakan raihan treble.
Mental pantang menyerah dan kemampuan bangkit di saat-saat krusial membuat tim Manchester United musim 1998/1999 dikenang sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa. Bahkan, berdasarkan hasil pemungutan suara para penggemar, skuad tersebut dinobatkan sebagai tim sepak bola terbaik sepanjang sejarah.
Prestasi Manchester United (1998/1999)
Premier League Piala FA (FA Cup) Liga Champions (European Cup)
IDnews. top – Real Madrid Bungkam Leganes 4-1, Tim Racikan Mourinho Kian Menjanjikan
Real Madrid kembali menunjukkan performa impresif dalam rangkaian laga pramusim. Los Blancos mengatasi perlawanan Leganes dengan skor 4-1 di Stadion Alfredo Di Stefano, Rabu (29/7/2026) dini hari WIB.
Hasil tersebut memperpanjang tren positif skuad besutan Jose Mourinho. Sebelumnya, mereka juga berhasil mengalahkan Alcorcon dengan skor tipis 1-0.
Bukan hanya hasil akhir yang menjadi sorotan, tetapi juga perkembangan permainan Madrid. Intensitas pressing, transisi cepat, dan organisasi tim mulai terlihat semakin matang di bawah arahan Mourinho.
Empat gol Madrid dicetak Federico Valverde, Gonzalo Garcia, Franco Mastantuono, serta satu gol bunuh diri Ruben Pulido Penas. Kemenangan ini menjadi modal berharga sebelum memasuki kompetisi resmi musim 2026/2027.
Sejak awal pertandingan, Real Madrid langsung mengambil kendali permainan. Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan Mourinho membuat lini tengah Madrid mampu menguasai tempo pertandingan.
Gol pembuka hadir pada menit ke-22 melalui Federico Valverde. Gelandang asal Uruguay itu menuntaskan umpan terobosan Arda Guler dengan sepakan terarah yang gagal dihentikan kiper Leganes.
Madrid kemudian menggandakan keunggulan lima menit berselang lewat Gonzalo Garcia yang menyambut umpan silang Trent Alexander-Arnold. Leganes belum menyerah dan mampu memperkecil skor menjadi 2-1 pada menit ke-36 melalui sepakan keras Naim Garcia yang lebih dulu membentur tiang gawang.
Babak Kedua: Mastantuono Tambah Gol, Madrid Menutup Laga dengan Kemenangan Meyakinkan
Selepas turun minum, Real Madrid tetap tampil dominan dan terus menekan pertahanan lawan. Leganes kesulitan keluar dari tekanan sehingga lebih banyak bertahan di area sendiri.
Gol ketiga akhirnya tercipta pada menit ke-58. Franco Mastantuono berada di posisi yang tepat untuk menyambar bola liar hasil tembakan Trent Alexander-Arnold dan mengubah skor menjadi 3-1.
Keunggulan Madrid semakin besar hanya dua menit kemudian setelah Ruben Pulido Penas melakukan gol bunuh diri. Mourinho memanfaatkan sisa pertandingan untuk memainkan beberapa pemain muda, sementara Los Blancos sukses mempertahankan keunggulan 4-1 hingga peluit panjang dibunyikan.
Idnews.top – Barcelona tetap mencatat hasil positif saat bermain tanpa Frenkie de Jong pada era Hansi Flick. Namun, catatan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan pengaruh besar sang gelandang terhadap permainan tim.
Barcelona meraih 25 kemenangan, satu hasil imbang, dan enam kekalahan dari 32 pertandingan tanpa De Jong. Statistik itu terlihat impresif, tetapi standar yang dimiliki klub asal Catalunya tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kebanyakan tim.
Keberhasilan Barcelona tidak hanya diukur dari jumlah kemenangan yang diraih sepanjang musim. Konsistensi permainan, kontrol pertandingan, dan kemampuan bersaing memperebutkan setiap gelar juga menjadi tolok ukur utama.
Situasi tersebut membuat absennya De Jong tetap menjadi perhatian menjelang musim 2026/27. Hansi Flick kini harus mencari solusi terbaik hingga kapten tim itu pulih dari cedera.
Statistik Belum Menggambarkan Kondisi Sebenarnya
Persentase kemenangan sekitar 78 persen memang menunjukkan performa yang baik. Namun, angka itu tetap berada di bawah level yang ingin dipertahankan Barcelona saat tampil dengan kekuatan terbaik.
Pengaruh De Jong tidak hanya terlihat melalui statistik pertandingan. Gelandang asal Belanda itu mampu menerima bola di bawah tekanan, melewati pressing lawan, dan mengatur tempo permainan dengan konsisten.
Kemampuan tersebut membuat proses membangun serangan berjalan lebih lancar. Tanpa dirinya, Barcelona sering kehilangan ritme dan transisi permainan menjadi kurang efektif.
Peran De Jong Lebih dari Sekadar Gelandang
Sebagai kapten, De Jong juga menghadirkan kepemimpinan yang sulit diukur melalui data. Pengalaman dan ketenangannya sering membantu Barcelona mengendalikan pertandingan ketika berada dalam tekanan.
Pramusim kali ini kembali memperlihatkan pentingnya peran tersebut. Flick mencoba beberapa alternatif di lini tengah, tetapi belum ada pemain yang benar-benar mampu memberikan pengaruh serupa.
Tommy Marques maupun Brian Farinas memiliki kesempatan untuk membuktikan kualitasnya. Namun, menggantikan salah satu gelandang paling komplet di dunia tetap menjadi tantangan besar.
Bernal dan Gavi Berebut Kesempatan
Absennya De Jong membuka peluang bagi Marc Bernal dan Gavi untuk tampil lebih sering. Keduanya memiliki kualitas yang dapat membantu Barcelona menjaga keseimbangan di lini tengah.
Gavi memiliki pengalaman lebih banyak bersama tim utama. Namun, Bernal dinilai lebih alami bermain sebagai gelandang bertahan sehingga berpeluang unggul dalam persaingan.
Barcelona memang mampu tetap meraih kemenangan tanpa De Jong berdasarkan catatan pertandingan. Namun, performa terbaik tim asuhan Flick hingga saat ini masih sangat bergantung pada kehadiran sang kapten di lapangan.
Garudayaksa FC masih terus memburu pemain baru guna persiapan mengarungi Super League 2026/2027.
Jelang bergulirnya kasta teratas Indonesia yang rencananya akan dimulai pada pekan pertama September mendatang, tim berjuluk Spirit of Garuda sudah mendaratkan sejumlah amunisi anyar.
Pemain top berlabel Timnas Indonesia seperti Wahyu Prasetyo, Daffa Fasya, Alfharezzi Buffon, Septian David Maulana, Alfriyanto Nico, dan Septian Bagaskara kini menjadi bagian skuad andalan Garudayaksa FC.
Tim yang bermarkas di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat juga sukses mengamankan tanda tangan pemain kaya pengalaman Muhammad Sihran serta Theo Fillo Numberi.
Pemain Asing
Di tataran pemain asing, sejauh ini mereka berhasil mengangkut Najeeb Yakubu (bek/Niger) dan Dominik Holec (kiper/Republik Ceko).
Garudayaksa FC memang masih membutuhkan suntikan pemain asing guna memenuhi kuota seperti yang ditetapkan I.League selaku regulator kompetisi Super League.
Seperti diketahui, berdasarkan regulasi setiap klub Super League wajib diperkuat 11 pemain asing dengan aturan sembilan masuk daftar pemain (DSP) dan tujuh di antaranya harus bermain di lapangan.
Media Officer Garudayaksa FC, Yudianto Nugroho, mengatakan pihaknya masih terus menunggu kedatangan pemain asing.
“Sampai saat ini, baru dua pemain asing yang baru datang,” kata Yudianto Nugroho.
Tak Mau Berspekulasi
Yudianto Nugroho belum bisa memastikan kapan pemain asing yang ditunggu tiba di Indonesia. “Kami masih menunggu,” ujar Yudianto Nugroho.
Terkait pemain lokal baru yang juga akan direkrut, Yudianto Nugroho tak mau berspekulasi. “Kalau pemain lokal belum ada info lagi,” kata Yudianto Nugroho.
Musim lalu, di bawah asuhan Widodo C. Putro, Garudayaksa FC tampil sebagai juara Grup A Pegadaian Championship 2025/2026.
Status mentereng tersebut membuat Garudayaksa FC naik kasta ke Super League. Bermain di kasta teratas pastinya tak mudah, terlebih bagi tim promosi.
Soalnya, Andik Vermansah dan kawan-kawan harus bersaing dengan tim-tim mapan sekaliber Borneo FC, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Persib Bandung.
Rekrutan anyar Persib Bandung, Mariano Peralta, langsung merasakan besarnya magnet Maung Bandung. Kedatangan penyerang asal Argentina itu membawa dampak signifikan terhadap popularitasnya di media sosial.
Jumlah pengikut akun Instagram Mariano Peralta melonjak tajam. Padahal, pemain berusia 28 tahun tersebut belum menjalani debutnya bersama Persib Bandung.
Saat diumumkan sebagai pemain anyar Persib pada Minggu (19/7/2026), akun Instagram Peralta tercatat memiliki sekitar 200ribu pengikut. Namun, hanya dalam waktu sepuluh hari follower Peralta menyentuh angka 532ribu.
Peralta memang belum menjalani debut karena baru tiba di Bandung pada Senin (27/8/2026) malam. Kedatangan Peralta pun langsung disambut hangat manajer Persib, Umuh Muchtar di Stasiun Tegalluar, Bandung.
Sudah di Bandung
Dia juga turut hadir di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Selasa (28/7/2026), saat Maung Bandung menghadapi DPMM FC pada laga Grup A Piala Presiden 2026
Peralta menjadi sosok yang paling dinanti kedatangannya di Persib. Pasalnya, eks pemain Borneo FC tersebut datang dengan status sebagai pemain terbaik BRI Super League 2025/2026.
Musim lalu Peralta tampil impresif bersama Borneo FC. Ia sukses mencetak 20 gol dan 14 assist dari 34 pertandingan yang telah dilalui Pesut Etam.
Sosok di Balik Transfer Peralta
Sebelum berlabuh ke Persib, Peralta disebut bakal bergabung dengan Persija Jakarta. Namun, proses negosiasi kedua belah pihak tidak menemui kata sepakat, sehingga Macan Kemayoran gagal mendapatkan jasa Peralta.
Situasi itu langsung dimanfaatkan Persib yang juga memiliki ketertarikan dengan mantan pemain klub Argentina, San Lorenzo. Hingga akhirnya, Persib resmi mengikat Peralta dengan durasi kontrak selama dua musim.
Pelatih Persib, Igor Tolic mengakui untuk mendatangkan Peralta ke Bandung tidak mudah. Tetapi, manajemen Persib bekerja keras dan tidak kenal waktu untuk mendapatkan tanda tangan Peralta.
“Soal transfer Peralta, Stanley (Sporting Director Persib) bekerja tanpa tidur selama satu bulan. Karena itu negosiasi, semua hal bisa terjadi. Semuanya sangat dinamis, dan Anda tahu siapa saja pesaingnya. Jadi, itu tidak mudah. Tapi pada akhirnya kami berhasil menyelesaikannya,” ujar Igor belum lama ini.