29 Oktober 2026

> BERITA GLOBAL DUNIA SEPAK BOLA

Berita sepak bola sajian Info Berita SEPAK BOLA DARI SELURUH DUNIA, Tentang Tim, Pemain, dan Topik Hangat update yang sedang trending untuk para penggemar dunia sepak bola.

Tangis Mohamed Salah! Panenka Ikonik Bawa Mesir Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026

BolaIndonesia – Mohamed Salah kembali membuktikan mengapa dirinya menjadi ikon sepak bola Mesir. Sang kapten tampil sebagai sosok sentral saat membawa The Pharaohs melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Australia melalui drama adu penalti yang mendebarkan.

Laga yang berlangsung sengit selama 120 menit berakhir dengan skor 1-1 sebelum Mesir memastikan kemenangan 4-2 lewat adu penalti. Salah menjadi sorotan utama berkat eksekusi penalti bergaya Panenka yang berani sekaligus penuh ketenangan, sebuah momen yang langsung menjadi perbincangan dunia sepak bola. Kemenangan tersebut juga menjadi pencapaian bersejarah bagi Mesir yang sukses memenangkan pertandingan fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Pertandingan Penuh Tekanan Sejak Menit Awal

Mesir sebenarnya membuka keunggulan lebih dahulu melalui sundulan Emam Ashour pada menit ke-13 setelah memanfaatkan rangkaian serangan yang dibangun dari sisi kiri lapangan. Australia kemudian meningkatkan intensitas permainan dan akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri Mohamed Hany di babak kedua.

Setelah skor kembali imbang, kedua tim saling berhati-hati. Peluang emas memang tercipta, termasuk beberapa kesempatan yang melibatkan Salah, namun penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat pertandingan harus berlanjut hingga babak tambahan waktu.

Meski tampil dominan dalam beberapa fase pertandingan, Mesir gagal mencetak gol kemenangan sehingga drama adu penalti tak dapat dihindari.

Panenka Salah Jadi Simbol Kepercayaan Diri

Ketika tekanan mencapai titik tertinggi, Mohamed Salah justru memperlihatkan ketenangan luar biasa.

Sebagai algojo ketiga Mesir, pemain berusia 34 tahun itu memilih melakukan tendangan Panenka, yakni sebuah teknik penalti dengan mencungkil bola pelan ke tengah gawang ketika kiper telah menjatuhkan diri.

Keputusan tersebut sangat berisiko. Jika gagal, Salah akan menjadi sasaran kritik. Namun sang kapten memperlihatkan mental kelas dunia. Bola meluncur mulus ke tengah gawang sementara penjaga gawang Australia sudah bergerak ke sisi lain.

Sorak sorai pendukung Mesir pun pecah. Eksekusi tersebut langsung menjadi salah satu momen paling ikonik sepanjang Piala Dunia 2026 sekaligus menunjukkan kualitas mental seorang pemimpin di bawah tekanan.

Tangis Haru Setelah Peluit Akhir

Usai Hossam Abdelmaguid memastikan kemenangan Mesir melalui penalti penentu, emosi Mohamed Salah akhirnya tak lagi terbendung.

Kapten Mesir terlihat berkaca-kaca bahkan nyaris menangis ketika merayakan keberhasilan bersama rekan-rekannya. Momen itu menggambarkan betapa besar arti kemenangan tersebut bagi Salah yang telah bertahun-tahun membawa harapan jutaan rakyat Mesir.

Dalam wawancaranya setelah pertandingan, Salah menyebut kemenangan ini sebagai bagian dari sejarah baru sepak bola Mesir. Ia mengaku bangga karena generasi saat ini berhasil mencatatkan pencapaian yang selama puluhan tahun sulit diraih negaranya.

Strategi Australia Justru Berbalik Menjadi Bumerang

Australia sebenarnya telah menyiapkan strategi khusus menghadapi kemungkinan adu penalti. Pelatih Tony Popovic melakukan pergantian penjaga gawang menjelang babak tos-tosan dengan harapan mendapatkan keuntungan psikologis.

Namun keputusan tersebut justru tidak membuahkan hasil. Keempat penendang Mesir sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna, sementara Australia gagal memanfaatkan momentum dan harus menerima kenyataan tersingkir dari turnamen.

Tantangan Berat Menanti Mesir

Lolos ke babak 16 besar menjadi pencapaian luar biasa bagi Mesir, tetapi perjalanan mereka belum selesai. Selanjutnya The Pharaohs dijadwalkan menghadapi Argentina yang telah memastikan tiket ke fase berikutnya usai mengalahkan Cape Verde dalam pertandingan babak 32 besar. Duel tersebut diprediksi menjadi salah satu laga paling menarik karena mempertemukan Mohamed Salah dengan Lionel Messi di panggung Piala Dunia.

Panenka yang Akan Selalu Dikenang

Di luar hasil pertandingan, malam di Texas akan selalu dikenang sebagai malam milik Mohamed Salah. Bukan karena jumlah gol yang dicetaknya, melainkan karena keberanian mengambil keputusan yang tidak semua pemain berani lakukan dalam situasi paling menegangkan.

Panenka yang dingin, tangis haru setelah peluit akhir, serta keberhasilan membawa Mesir mencetak sejarah baru menjadikan pertandingan melawan Australia sebagai salah satu bab paling emosional dalam perjalanan karier Mohamed Salah. Di usia yang telah memasuki penghujung karier internasionalnya, sang “Raja Mesir” sekali lagi membuktikan bahwa pemain besar selalu hadir ketika negaranya paling membutuhkan.

LARISBOLA – Hasil pertandingan Argentina vs Cape Verde pada babak 32 Besar Piala Dunia 2026 di Miami Stadium, Sabtu (4/7) pagi WIB. Argentina harus berjuang keras untuk menang 3-2 lewat babak extra time dan lolos ke 16 Besar.

Pada awal pertandingan, Cape Verde sempat memberikan ancaman melalui tembakan Ryan Mendes yang berhasil diblok lini pertahanan Argentina. Namun, peluang itu menjadi satu-satunya momen berbahaya Blue Sharks di paruh pertama, dengan catatan expected goals (xG) hanya 0,04.

Memasuki menit ke-15, Argentina mulai mengambil alih kendali permainan. Albiceleste terus menekan pertahanan lawan dan menciptakan sejumlah peluang, termasuk tembakan Messi yang melebar serta tendangan bebasnya yang masih mampu diamankan kiper Vozinha.

Gol akhirnya lahir setelah Lisandro Martinez mengirim umpan panjang akurat kepada Messi. Sang kapten mengontrol bola dengan sempurna di dalam kotak penalti sebelum melepaskan penyelesaian klinis yang membawa Argentina unggul 1-0.

Enzo Fernandez juga sempat memperoleh peluang emas, sementara Argentina menutup babak pertama dengan dominasi permainan dan berpeluang menambah gol selepas jeda.

Argentina tetap dominan pada awal babak kedua. Lionel Messi jadi poros serangan sang juara bertahan. Namun, Cape Verde tidak menunjukkan rasa takut. Mereka bermain normal dan mampu mencuri gol pada menit ke-59.

Ryan Mendes melakukan pergerakan yang bagus dari sisi sayap. Setelah itu, dia melepas umpan pada Deroy Duarte. Selanjutnya, setelah kontrol yang bagus, Duarte mengirim bola mendatar dan membobol gawang Argentina.

Lionel Scaloni segera merespon situasi dengan melakukan pergantian pemain. Julian Alvares dan Nicolas Gonzalez dimainkan untuk menggantikan Lautaro Martinez dan Thiago Almada. Argentina meningkatkan intensitas serangan.

Vozinha membuat penyelamatan penting pada menit ke-72 dan 72. Dia menepis tendangan bebas indah Lionel Messi. Setelah itu, upaya dari Nico Gonzalez juga masih bisa digagalkan. Skor masih 1-1. Vozinha kokoh di bawah mistar.

Argentina punya beberapa peluang lain, termasuk dari tendangan bebas Lionel Messi di periode tambahan waktu. Namun, tidak ada gol tercipta. Laga dilanjutkan lewat tambahan waktu.

Argentina mencetak gol cepat pada babak extra time. Pada menit 93, berawal dari situasi sepak sudut, Alexis Mac Allister melepas sundulan yang mengarah ke Lisandro Martinez. Sang bek tengah lantas melepas sepakan keras. Goll! Skor 2-1.

Cape Verde keluar menyerang. Yannick Semedo dan Gilson Benchimol dimainkan untuk menambah daya gedor. Hasilnya, Sidny Lopes Cabral mencetak gol indah lewat sepakan melengkung. Skor menjadi imbang 2-2.

Argentina kembali unggul pada menit 112. Dari situasi sepak sudut yang diambil Lionel Messi, terjadi perebutan bola di kotak penalti. Bola mengenai Diney Borges dan masuk ke gawang sendiri. Argentina unggul 3-2.

Pada sisa waktu, Cape Verde punya beberapa peluang untuk menyamakan kedudukan. Namun, skor 3-2 bertahan hingga usai. Argentina lolos ke babak 16 Besar. Lionel Messi dan kolega akan berjumpa Mesir pada babak tersebut.

Argentina (4-4-2): Emiliano Martinez; Nahuel Molina, Cristian Romero, Lisandro Martinez, Facundo Medina; Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, Enzo Fernandez, Thiago Almada; Lionel Messi, Lautaro Martinez.

Pelatih: Lionel Scaloni.

Cape Verde (4-1-4-1): Vozinha; Steven Moreira, Pico Lopes, Diney Borges, Sidny Cabral; Kevin Pina; Ryan Mendes, Laros Duarte, Deroy Duarte, Jovane Cabral; Nuno da Costa.

Pelatih: Bubista.

HT Extra Time Australia vs Mesir Masih 1-1

BolaIndonesia – Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Australia dan Mesir masih berlangsung sengit hingga jeda babak tambahan pertama (half time extra time). Kedua tim masih bermain imbang 1-1 dalam duel yang berlangsung penuh tensi tinggi.

Australia dan Mesir saling bergantian menguasai jalannya pertandingan. Meski kedua pelatih telah melakukan sejumlah pergantian pemain untuk menjaga intensitas permainan, belum ada gol tambahan yang tercipta hingga peluit tanda berakhirnya babak pertama extra time dibunyikan.

Sorotan terbesar pada periode ini datang dari kapten Mesir, Mohamed Salah, yang gagal memanfaatkan peluang emas untuk membawa The Pharaohs unggul.

Mesir sebenarnya tampil lebih agresif memasuki babak tambahan dan beberapa kali membuat lini belakang Australia bekerja keras.

Mohamed Salah Gagal Maksimalkan Peluang Emas

Momen yang paling dinantikan terjadi ketika Mohamed Salah mendapatkan ruang tembak di depan kotak penalti Australia. Sang bintang menerima umpan matang setelah Mesir membangun serangan cepat dari sisi kanan.

Sayangnya, penyelesaian akhirnya masih belum menemui sasaran yang diharapkan. Peluang tersebut menjadi kesempatan terbaik Mesir sepanjang extra time pertama sekaligus membuat para pendukung The Pharaohs menahan napas.

Salah terlihat frustrasi sesaat setelah peluang itu gagal berbuah gol. Namun pemain berusia 34 tahun tersebut langsung memberi semangat kepada rekan-rekannya agar tetap fokus menghadapi 15 menit terakhir.

Mesir masih mendominasi penguasaan bola pada fase ini, sementara Australia lebih memilih menunggu kesempatan melalui serangan balik cepat.

Australia Bertahan dengan Disiplin

Di sisi lain, Australia menunjukkan organisasi pertahanan yang sangat disiplin. Lini belakang Socceroos beberapa kali berhasil mematahkan kombinasi serangan Mesir yang dimotori Mohamed Salah dan Omar Marmoush.

Penjaga gawang Australia juga tampil sigap ketika harus mengantisipasi bola-bola silang maupun tendangan dari luar kotak penalti.

Strategi bertahan sambil mengandalkan kecepatan pemain sayap masih menjadi senjata utama Australia. Namun hingga jeda extra time pertama, peluang bersih yang mereka ciptakan masih sangat minim. Kedua tim sama-sama mulai merasakan kelelahan akibat tempo pertandingan yang tinggi sejak menit awal.

Laga Masih Terbuka di Extra Time Kedua

Dengan skor yang masih bertahan 1-1, peluang kedua tim untuk lolos ke babak berikutnya tetap sama besar.

Australia diperkirakan akan mencoba bermain lebih berani pada 15 menit terakhir, sementara Mesir diprediksi tetap mengandalkan kreativitas Mohamed Salah sebagai motor serangan.

Jika tidak ada gol tambahan, pertandingan akan berlanjut ke babak adu penalti untuk menentukan siapa yang berhak melaju ke babak perempat final Piala Dunia 2026.

Atmosfer pertandingan pun semakin menegangkan karena setiap kesalahan kecil bisa menjadi penentu nasib kedua negara.

Semua mata kini tertuju pada apakah Mohamed Salah mampu menebus kegagalan peluang emasnya atau justru Australia yang mencuri kemenangan dramatis pada babak tambahan kedua. Hingga jeda extra time pertama, papan skor masih menunjukkan Australia 1-1 Mesir dalam duel yang berlangsung ketat dan penuh drama.

Bintang Timnas Inggris, Declan Rice, menegaskan dirinya siap untuk menjalankan tugas apa pun yang diberikan oleh pelatih, termasuk bermain di posisi yang aneh pada Piala Dunia 2026.

Declan Rice sempat mendapatkan tugas yang mendadak dari pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, saat Tiga Singa menumbangkan Kongo pada babak 32 besar yang berlangsung di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Rabu (1-7-2026).

Saat memasuki menit-menit akhir pertandingan, The Three Lions sempat kekurangan opsi di posisi bek kanan. Tuchel akhirnya menggeser Rice, yang sempat kesulitan saat berduet dengan Elliot Anderson di lini tengah, ke posisi tersebut.

Pemain berusia 27 tahun itu sesekali pernah dimainkan sebagai bek tengah saat ia baru menembus tim senior West Ham United, dan manajer Arsenal, Mikel Arteta, juga sempat bereksperimen dengan menempatkannya sebagai bek sayap baru-baru ini.

Tetap saja itu bukanlah posisi yang dikuasai atau bahkan dinikmati oleh Rice.

Namun, dengan keterbatasan opsi yang dimiliki Tuchel dan kebutuhan Inggris akan perubahan yang dinamis, ia menggeser Rice ke posisi itu setelah menarik keluar Djed Spence. Ini demi memberikan ruang bagi Eberechi Eze yang berinsting menyerang di lini tengah.

Lakukan Semua Tugas

Bagi Declan Rice, bermain sebagai bek kanan, meski durasinya hanya berlangsung selama 12 menit, menjadi satu di antara momen tersulitnya dalam pertandingan ini. Dia memang tak asing dengan posisi tersebut.

Dia sudah beberapa kali dipasang mengisi sektor itu. Namun, kemampuannya tak bisa keluar secara maksimal jika beroperasi di posisi itu. Yang jelas, dia tetap siap melakukan apa pun demi membantu The Three Lions.

“Itu mungkin 12 menit tersulit dalam pertandingan ini, harus bermain di posisi bek kanan,” ujar Rice pascapertandingan seperti dikutip dari BBC.

“Saya telah bermain di sana dua atau tiga kali musim ini. Saya tahu perannya, itu mungkin bukan kekuatan terbesar saya. Akan tetapi, saya tetap akan melakukan apa pun demi tim dan manajer,” tambahnya.

Ogah Ulangi

Perubahan yang dilakukan Tuchel memfasilitasi terbentuknya segitiga Arsenal di sisi kanan Inggris yang sebelumnya berantakan. Kolaborasi ini terdiri dari Declan Rice, Eberechi Eze, dan Bukayo Saka.

Kombinasi trio The Gunners inilah yang berujung pada gol penyeimbang kedudukan. Proses ini dimulai dengan Rice yang merangsek maju melakukan underlap.

Rice merasa puas dengan performa keseluruhannya dalam peran tersebut. Akan tetapi, ia ingin bermain sejak awal di lini tengah untuk laga besar yang krusial menghadapi tuan rumah Meksiko di Estadio Azteca, Mexico City, Senin (6-7-2026).

Tiket menuju babak perempat final menjadi taruhannya.

“Saya bilang saya akan melakukan yang terbaik, dan saya rasa saya tampil baik di sana. Kita lihat saja apa yang terjadi di pertandingan berikutnya, tapi mudah-mudahan saya tidak harus menjadi bek kanan lagi,” kata Rice.

Granit Xhaka Jadi Jenderal Lapangan Tengah, Swiss Bersinar di Piala Dunia 2026

BolaIndonesia – Granit Xhaka kembali membuktikan mengapa dirinya masih menjadi salah satu gelandang terbaik dunia di Piala Dunia 2026. Kapten Timnas Swiss itu tampil luar biasa saat memimpin negaranya mengalahkan Aljazair dengan skor 2-0 pada babak 32 besar, sekaligus mengantar Swiss melangkah ke babak 16 besar.

Meski namanya tidak tercatat di papan skor, kontribusi Xhaka terlihat jelas sepanjang pertandingan. Gelandang berusia 33 tahun tersebut menjadi pusat permainan Swiss, mengatur tempo, menjaga keseimbangan lini tengah, hingga memutus serangan lawan dengan ketenangan khas pemain berpengalaman.

Swiss memang tampil efektif lewat gol Breel Embolo dan Dan Ndoye. Namun di balik kemenangan itu, sosok Xhaka menjadi fondasi yang membuat permainan tim asuhan Murat Yakin berjalan begitu rapi dan disiplin. Swiss bahkan sukses meraih kemenangan fase gugur Piala Dunia pertama mereka sejak 1938, sebuah pencapaian bersejarah bagi negara tersebut.

Kapten yang Mengendalikan Permainan

Sepanjang laga, Xhaka menunjukkan kualitas yang sulit ditandingi. Ia hampir selalu menjadi opsi pertama dalam membangun serangan dari lini belakang.

Akurasi umpannya membuat Swiss mampu keluar dari tekanan Aljazair dengan tenang. Selain itu, visi bermainnya membantu rekan-rekannya menemukan ruang kosong untuk melancarkan serangan balik yang cepat.

Ketika Aljazair mulai meningkatkan intensitas serangan, Xhaka tetap tampil dingin. Ia mampu membaca arah permainan, menutup ruang lawan, sekaligus memberikan instruksi kepada para pemain muda di sekitarnya.

Kepemimpinan seperti inilah yang membuat Swiss mampu mengontrol jalannya pertandingan meski Aljazair sempat memiliki penguasaan bola yang cukup seimbang. Reuters juga menilai lini tengah Swiss yang dipimpin Xhaka menjadi kunci keberhasilan mereka meredam tekanan lawan sepanjang pertandingan.

Pengalaman Jadi Pembeda

Piala Dunia 2026 menjadi panggung yang memperlihatkan pentingnya pengalaman. Saat banyak tim mengandalkan energi pemain muda, Swiss memiliki kombinasi sempurna antara talenta muda dan sosok senior seperti Xhaka.

Pemain yang kini memperkuat Sunderland tersebut tampil sebagai mentor di lapangan. Ia tidak hanya fokus memainkan perannya sendiri, tetapi juga membantu menjaga organisasi permainan seluruh tim.

Ketenangan Granit Xhaka membuat para pemain muda seperti Johan Manzambi dapat bermain lebih lepas. Manzambi memang mencuri perhatian lewat assist indah untuk gol pembuka Embolo, namun kebebasan yang ia nikmati tidak lepas dari perlindungan dan keseimbangan yang diberikan Xhaka di lini tengah.

Statistik Tak Selalu Menggambarkan Pengaruhnya

Dalam sepak bola modern, pemain terbaik tidak selalu harus mencetak gol atau memberikan assist.

Peran Xhaka lebih banyak terlihat melalui keputusan-keputusan kecil yang menentukan jalannya pertandingan. Ia tahu kapan harus mempercepat tempo, kapan harus memperlambat permainan, hingga kapan harus melakukan pelanggaran taktis untuk menghentikan momentum lawan.

Kemampuan membaca pertandingan tersebut menjadi alasan mengapa Murat Yakin terus mempercayainya sebagai kapten tim nasional Swiss.

Selama lebih dari satu dekade membela negaranya, Xhaka telah berkembang menjadi simbol konsistensi dan kepemimpinan. Di Piala Dunia 2026, kualitas tersebut kembali terlihat saat Swiss menghadapi pertandingan hidup-mati.

Swiss Makin Percaya Diri Menuju Babak 16 Besar

Keberhasilan menyingkirkan Aljazair memberikan suntikan moral yang sangat besar bagi Swiss. Mereka kini bersiap menghadapi tantangan berikutnya di babak 16 besar dengan kepercayaan diri tinggi.

Performa solid Xhaka menjadi modal penting untuk menghadapi lawan yang lebih berat. Dengan pengalaman tampil di berbagai turnamen besar, ia diyakini akan kembali menjadi sosok sentral yang menentukan arah permainan Swiss.

Di usia yang sudah tidak muda lagi, Xhaka justru menunjukkan bahwa kualitas seorang gelandang tidak hanya diukur dari kecepatan atau kekuatan fisik, melainkan kecerdasan membaca permainan dan kemampuan memimpin rekan-rekannya.

Jika mampu mempertahankan performa seperti ini, bukan tidak mungkin Swiss akan melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026. Dan selama Granit Xhaka terus bermain di level terbaiknya, peluang tersebut akan selalu terbuka lebar.

Cristiano Ronaldo dan Luka Modric menghadirkan momen emosional pada babak 32 Besar Piala Dunia 2026. Seusai Portugal mengalahkan Kroasia 2-1 di Toronto Stadium, keduanya berpelukan di tengah lapangan.

Gestur itu merefleksikan persahabatan yang terjalin selama bertahun-tahun di Real Madrid dan langsung menyita perhatian publik sepak bola. Di balik pertandingan yang berlangsung sengit selama 90 menit, rasa hormat dua legenda itu tampak jelas.

Bagi Ronaldo, kemenangan ini menjaga asa untuk mewujudkan mimpi menjadi juara dunia. Di sisi lain, kekalahan Kroasia berpotensi menandai akhir perjalanan Modric di panggung Piala Dunia.

Momen Emosional di Toronto Stadium

Setelah peluit panjang, Ronaldo segera menghampiri Modric. Kapten Portugal itu memeluk mantan rekan setimnya yang tampak terpukul karena Kroasia harus tersingkir.

Momen sederhana tersebut menjadi simbol persahabatan yang telah terjaga lama. Di tengah persaingan ketat selama laga, keduanya menunjukkan rasa saling menghormati sebagai sesama ikon sepak bola.

Isyarat itu cepat menyebar dan menjadi sorotan. Publik melihat bagaimana dua bintang besar menjaga nilai sportivitas di fase gugur turnamen ini.

Jejak Kebersamaan di Real Madrid

Kebersamaan Ronaldo dan Modric di Real Madrid membentuk hubungan yang erat. Selama bertahun-tahun, keduanya menjadi pilar dalam salah satu era paling sukses Los Blancos.

Mereka bersama-sama memenangkan berbagai trofi, termasuk enam gelar Liga Champions Eropa. Rangkaian gelar tersebut menegaskan status mereka dalam sejarah klub.

Kesuksesan itu membuat nama Ronaldo dan Modric dikenang sebagai bagian dari generasi emas Real Madrid. Ikatan inilah yang terlihat kembali di Toronto Stadium.

Akhir Era Luka Modric di Panggung Piala Dunia

Kekalahan dari Portugal terasa menyakitkan bagi Modric. Gelandang 40 tahun itu sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa karier internasionalnya mendekati garis akhir. “Saya tahu saya telah mencapai fase tertentu dalam karier saya,” kata Modric baru-baru ini.

Piala Dunia 2026 menjadi edisi kelima yang diikutinya sepanjang karier. Ia tampil sebagai starter pada keempat pertandingan Kroasia di turnamen tersebut dan mencatatkan penampilan ke-23 di ajang Piala Dunia.

Beberapa hari sebelumnya, Modric merayakan penampilan ke-200 bersama Kroasia saat mengalahkan Panama pada fase grup. Rekan-rekan setimnya bahkan mengangkatnya ke udara sebagai bentuk penghormatan.

Ronaldo Beri Penghormatan untuk Modric

Ronaldo menjadi salah satu orang pertama yang menghibur Modric selepas laga. Sikap itu mencerminkan rasa hormat yang tumbuh selama keduanya berbagi ruang ganti di Madrid.

“Saya bermain dengan Luka selama bertahun-tahun,” kata mantan rekan setim Modric di Real Madrid, Cristiano Ronaldo. “Usia kami hampir sama. Saya pikir dia adalah legenda sepak bola. Dia tetaplah legenda sepak bola,” tegas kapten Portugal itu.

Menurut Ronaldo, pencapaian Modric akan tetap dikenang sepanjang masa. Ucapan itu melengkapi pelukan yang menyimbolkan persahabatan yang tetap terjaga meski jalan di Piala Dunia kini berpisah.

BolaIndonesia – Tottenham Hotspur benar-benar menunjukkan ambisi besar di bursa transfer musim panas 2026. Setelah sukses mengamankan gelandang muda berbakat Mateus Fernandes dengan nilai transfer fantastis, klub asal London Utara itu kini dikabarkan tinggal selangkah lagi merampungkan perekrutan Sandro Tonali dari Newcastle United.

Langkah agresif ini menjadi bukti bahwa manajemen Spurs tidak ingin mengulangi musim 2025/2026 yang nyaris berakhir dengan bencana. Setelah harus berjuang hingga pekan terakhir untuk memastikan tetap bertahan di Premier League, Tottenham kini memilih melakukan perombakan besar-besaran demi kembali bersaing di papan atas. Sejumlah laporan menyebut kedua klub telah mencapai kesepakatan transfer yang bernilai sekitar 100 juta poundsterling.

Nilai Transfer Fantastis Pecahkan Rekor Klub

Transfer Sandro Tonali diperkirakan akan menjadi pembelian termahal sepanjang sejarah Tottenham Hotspur. Kesepakatan tersebut disebut mencapai total 100 juta poundsterling, terdiri dari pembayaran awal sebesar

Angka tersebut bahkan melampaui rekor yang baru saja dibuat Tottenham saat mendatangkan Mateus Fernandes. Dalam hitungan beberapa hari saja, Spurs rela mengeluarkan dana hampir 200 juta poundsterling hanya untuk memperkuat sektor lini tengah.

Keberanian finansial tersebut memperlihatkan betapa seriusnya proyek baru Tottenham di bawah arahan Roberto De Zerbi.

Roberto De Zerbi Jadi Faktor Utama

Salah satu alasan terbesar yang membuat Sandro Tonali bersedia menerima pinangan Tottenham adalah kehadiran Roberto De Zerbi. Pelatih asal Italia itu memiliki hubungan yang sangat baik dengan Tonali sejak keduanya masih berkiprah di kompetisi Italia.

Beberapa laporan menyebut Tonali memang tertarik bekerja sama dengan De Zerbi meski sempat diminati sejumlah klub elite Premier League lainnya. Bahkan gelandang berusia 26 tahun tersebut dikabarkan telah bertolak ke London untuk menjalani tahapan akhir proses transfer, termasuk tes medis sebelum diperkenalkan secara resmi kepada publik.

Lini Tengah Tottenham Berubah Total

Jika transfer ini resmi diumumkan, maka Tottenham akan memiliki salah satu lini tengah paling menarik di Premier League musim depan. Kehadiran Mateus Fernandes yang dikenal kreatif dipadukan dengan kualitas bertahan, distribusi bola, dan pengalaman internasional milik Sandro Tonali diperkirakan mampu mengangkat performa Spurs secara signifikan.

De Zerbi tampaknya ingin membangun permainan yang lebih dominan dalam penguasaan bola. Tonali dinilai sebagai sosok ideal karena memiliki kemampuan mengatur tempo permainan sekaligus disiplin saat bertahan.

Dengan tambahan pemain-pemain baru di berbagai posisi, Tottenham mulai menunjukkan wajah baru yang jauh berbeda dibandingkan musim lalu.

Newcastle Siapkan Dana untuk Bangun Skuad Baru

Di sisi lain, Newcastle United disebut menerima tawaran besar tersebut karena mempertimbangkan aspek finansial sekaligus rencana membangun kembali skuad mereka.

Dana hasil penjualan Tonali diyakini akan digunakan untuk mendatangkan beberapa pemain baru agar kekuatan tim tetap kompetitif. Newcastle memang tengah melakukan restrukturisasi skuad setelah melepas sejumlah pemain penting dalam jendela transfer kali ini.

Bursa Transfer Tottenham Belum Berakhir

Meski sudah menghabiskan dana dalam jumlah sangat besar, aktivitas Tottenham diperkirakan belum selesai. Sejumlah laporan dari Inggris menyebut klub asal London Utara itu masih ingin menambah amunisi, khususnya di sektor penyerangan agar proyek besar Roberto De Zerbi semakin komplet.

Apabila seluruh rencana berjalan sesuai harapan, Tottenham berpotensi menjadi salah satu tim dengan perubahan skuad paling drastis di Premier League musim 2026/2027. Setelah mendatangkan Mateus Fernandes dan segera meresmikan Sandro Tonali, Spurs mengirimkan pesan tegas kepada para rival bahwa mereka siap kembali bersaing memperebutkan posisi papan atas, bahkan membuka peluang untuk ikut dalam perebutan gelar musim depan.

Timnas Australia dan Timnas Mesir akan saling berhadapan dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Arlington, pada Sabtu (4/6/2026) dini hari WIB.

Timnas Australia dan Timnas Mesir kan saling berhadapan dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Arlington, pada Sabtu (4/6/2026) dini hari WIB.

Australia lolos sebagai runner-up Grup D setelah mengumpulkan empat poin dari tiga pertandingan. Tim berjuluk Socceroos itu membuka Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 2-0 atas Timnas Turki sebelum kalah 0-2 dari tuan rumah bersama Timnas Amerika Serikat.

Pada laga terakhir Grup D, Australia bermain imbang tanpa gol melawan Timnas Paraguay yang memastikan finis di posisi kedua grup. Hasil tersebut membuat Socceroos tertinggal dua poin dari Amerika Serikat yang keluar sebagai juara grup.

Namun, Australia memiliki pengalaman di babak gugur Piala Dunia 2026 setelah sebelumnya mencapai babak 16 besar pada edisi 2006 dan 2022. Pada edisi terakhir, langkah Socceroos terhenti setelah kalah dari Argentina yang menjadi juara turnamen.

Pertemuan Kedua

Ini akan menjadi pertemuan kedua antara Australia dan Mesir dalam sejarah sepak bola kedua negara.Satu-satunya pertemuan sebelumnya terjadi pada uji coba 2010 yang dimenangkan Mesir dengan skor 3-0.

Pemenang pertandingan ini akan menghadapi satu di antara dari Timnas Argentina atau Timnas Tanjung Verde pada babak 16 besar.

Kondisi ini bakal menambah tekanan sekaligus motivasi bagi kedua kesebelasan untuk bermain maksimal.

Mesir melaju ke babak gugur setelah finis sebagai runner-up Grup G dengan lima poin dari tiga pertandingan.

Perjalanan Mesir

Armada Hossam Hassan tersebut hanya kalah selisih gol dari Timnas Belgia yang menempati posisi puncak grup.

Mesir memulai Piala Dunia 2026 dengan hasil 1-1 melawan Belgia sebelum menang 3-1 atas Timnas Selandia Baru dan imbang 1-1 melawan Timnas Iran.

Mesir belum pernah mencapai babak 16 besar sejak Piala Dunia 1934 dan hanya lolos empat kali di putaran final sepanjang sejarahnya.

Pada Piala Dunia 2018, tim berjuluk The Pharaohs itu gagal meraih satu kemenangan sehingga capaian kali ini sudah menjadi peningkatan signifikan.

Prakiraan Susunan Pemain

Australia (3-4-3): Patrick Beach; Alessandro Circati, Harry Souttar, Lucas Herrington; Jordan Bos, Aiden O’Neill, Jackson Irvine, Aziz Behich; Cristian Volpato, Nestory Irankunda, Connor Metcalfe

Pelatih: Tony Popovic

Mesir (4-2-3-1): Mostafa Shobeir; Mohamed Hany, Yasser Ibrahim, Ramy Rabia, Karim Hafez; Marwan Ateya, Mahmoud Saber; Mostafa Zico, Mohamed Salah, Emam Ashour; Omar Marmoush

Pelatih: Hossam Hassan

Spanyol Lolos ke 16 Besar, Marc Cucurella Jadi Arsitek Kemenangan atas Austria

BolaIndonesia – Marc Cucurella tampil luar biasa saat membawa Spanyol menyingkirkan Austria dengan skor meyakinkan 3-0 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Bek kiri yang dikenal berkat energi tanpa henti di sisi lapangan itu menjadi aktor penting di balik kemenangan La Furia Roja setelah terlibat dalam seluruh proses tiga gol yang bersarang ke gawang Austria.

Performa Cucurella membuktikan bahwa perannya bukan sekadar pemain bertahan. Ia menjadi motor serangan dari sisi kiri, terus memberikan ancaman melalui umpan-umpan akurat, overlap cepat, dan kerja sama apik dengan lini depan Spanyol.

Kemenangan ini sekaligus mengantarkan Spanyol melaju ke babak 16 besar dengan kepercayaan diri tinggi setelah memperlihatkan permainan paling dominan sepanjang turnamen.

Awal Laga, Cucurella Langsung Mengancam

Sejak peluit pertama dibunyikan, Spanyol langsung menguasai jalannya pertandingan. Penguasaan bola yang tinggi membuat Austria lebih banyak bertahan di wilayah sendiri.

Cucurella berkali-kali naik membantu serangan. Bahkan, ia sempat mencetak gol pada awal pertandingan. Namun gol tersebut dianulir wasit karena dinilai terjadi pelanggaran terhadap kiper Austria sebelum bola masuk ke gawang. Meski gagal mencatatkan nama di papan skor, bek Chelsea itu tidak kehilangan kepercayaan diri.

Ia terus memberikan tekanan melalui pergerakan agresif di sisi kiri dan menjadi sumber kreativitas bagi lini serang Spanyol.

Assist Perdana untuk Oyarzabal

Usaha Cucurella akhirnya membuahkan hasil pada babak pertama. Berawal dari penetrasi di sisi kiri, ia mengirim umpan datar yang sangat akurat ke depan gawang.

Mikel Oyarzabal berhasil menyambut bola tersebut dengan penyelesaian tenang untuk membawa Spanyol unggul 1-0.

Assist itu menjadi bukti kualitas visi bermain Cucurella. Alih-alih melepaskan umpan sembarangan, ia mampu memilih momen yang tepat sehingga Oyarzabal mendapatkan ruang ideal untuk menaklukkan kiper Austria.

Berperan Besar dalam Gol Kedua

Kontribusi Cucurella tidak berhenti sampai di sana. Pada gol kedua yang dicetak Pedro Porro, bek berusia 27 tahun itu kembali menjadi inisiator serangan.

Ia memulai rangkaian umpan cepat dari sisi kiri yang membuat pertahanan Austria kehilangan keseimbangan. Bola kemudian mengalir ke kotak penalti sebelum diselesaikan Porro melalui sundulan jarak dekat.

Meski tidak tercatat sebagai pemberi assist resmi, pergerakan dan umpannya menjadi kunci terciptanya gol kedua yang semakin memantapkan dominasi Spanyol sepanjang pertandingan.

Menutup Laga dengan Assist Kedua

Pada penghujung pertandingan, Cucurella kembali menunjukkan kualitasnya. Kali ini ia mengirim umpan terobosan yang sangat matang kepada Oyarzabal.

Sang striker tidak menyia-nyiakan peluang tersebut dan mencetak gol keduanya sekaligus memastikan kemenangan telak 3-0 untuk Spanyol.

Dengan dua assist dan keterlibatan langsung dalam proses gol kedua, Cucurella praktis menjadi pemain yang berkontribusi pada seluruh gol Spanyol dalam pertandingan tersebut. Penampilannya mendapat banyak pujian karena mampu tampil sama baiknya ketika menyerang maupun bertahan.

Kokoh Bertahan, Tajam Menyerang

Selain kontribusi ofensif, Cucurella juga tampil disiplin saat bertahan. Ia mencatat akurasi operan di atas 90 persen, memenangi duel penting, serta membantu Spanyol menjaga clean sheet.

Statistik tersebut semakin mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain paling konsisten di skuad Luis de la Fuente sepanjang turnamen. Bersama lini belakang Spanyol, ia sukses membuat Austria gagal menciptakan ancaman berarti ke gawang Unai Simón.

Modal Besar Menuju Babak 16 Besar

Pelatih Luis de la Fuente mengaku puas dengan performa anak asuhnya, tetapi tetap mengingatkan agar tim tidak cepat berpuas diri. Menurutnya, fase gugur berikutnya akan jauh lebih berat sehingga Spanyol harus mempertahankan intensitas permainan yang sama.

Spanyol kini bersiap menghadapi pemenang duel Portugal kontra Kroasia pada babak 16 besar. Jika Cucurella mampu mempertahankan performa seperti saat melawan Austria, peluang La Furia Roja melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026 tentu semakin terbuka.

Penampilan impresif sang bek kiri menjadi bukti bahwa modern full-back bukan hanya bertugas menghentikan serangan lawan. Dalam sistem permainan Spanyol, Marc Cucurella justru menjelma sebagai salah satu senjata utama yang mampu menentukan hasil pertandingan melalui kontribusi nyata di kedua sisi lapangan.

 KLIKBETS – Lamine Yamal kembali menjadi pusat perhatian di Piala Dunia 2026. Kali ini, pemain muda Timnas Spanyol itu memicu perbincangan luas setelah melontarkan komentar mengenai kekuatan Timnas Prancis.

Pernyataan tersebut muncul menjelang kemenangan telak Prancis 3-0 atas Swedia, Rabu dini hari WIB kemarin.

Dalam pertandingan itu, Kylian Mbappe bersama Ousmane Dembele dan Michael Olise tampil impresif untuk membawa Les Bleus melangkah ke babak 16 besar.

Hasil tersebut membuat Prancis akan menghadapi Paraguay pada 16 besar. Namun, jika kedua tim terus melaju, Prancis dan Spanyol berpeluang bertemu di semifinal.

Menjelang kemungkinan duel itu, Yamal ditanya apakah Prancis lebih baik daripada Spanyol. Pemain yang masih berusia 18 tahun hingga 13 Juli mendatang itu memberikan jawaban terbilang singkat, tetapi menohok.

“Tidak. Mereka belum pernah mengalahkan kami sejak Euro. Mereka tidak bisa lebih baik dari kami,” ujar Yamal.

Komentar Netizen

Meski begitu, Yamal juga mengatakan hasil-hasil sebelumnya tidak lagi menjadi penentu. Menurutnya, tidak ada tim yang benar-benar menjadi favorit di Piala Dunia karena format fase gugur membuat setiap pertandingan memiliki tantangan tersendiri.

Komentar tersebut langsung memancing reaksi di media sosial X.

Seorang pengguna menilai Yamal “kehilangan arah”, sementara pengguna lain menyebut sang pemain tidak pernah belajar karena kerap berbicara sebelum pertandingan.

Komentar lain juga menyinggung kemungkinan pertemuan Prancis kontra Spanyol. Satu di antara pengguna menulis bahwa jika laga itu benar-benar terjadi, Kylian Mbappe akan menghukum Spanyol.

Ada pula yang mengkritik Yamal karena dinilai terlalu banyak berbicara, meski belum memenangkan apa pun.

Performa Meyakinkan

Di sisi lain, Prancis terus menunjukkan performa meyakinkan di bawah arahan Didier Deschamps. Les Bleus mengawali perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan catatan kemenangan di seluruh pertandingan yang telah dijalani.

Kedalaman skuad Prancis juga menjadi sorotan. Prancis tetap memiliki banyak pilihan, meski pemain seperti Desire Doue dan Rayan Cherki memulai pertandingan dari bangku cadangan.

Selain produktif saat menyerang, Prancis dinilai tampil solid dalam setiap fase permainan. Serangan balik yang efektif dipadukan dengan kontribusi seluruh pemain saat bertahan membuat penampilan Les Bleus menjadi satu di antara yang paling menonjol di turnamen sejauh ini.

Yamal sebelumnya beberapa kali mampu membuktikan ucapannya di lapangan. Namun, performa Prancis saat ini membuat mereka menjadi satu di antara tim yang paling diperhitungkan di Piala Dunia 2026.