
BolaIndonesia – Adrien Rabiot langsung memberikan jawaban di atas lapangan setelah kembali memperkuat AC Milan pada awal musim 2026/2027. Gelandang asal Prancis tersebut tampil sebagai pemain pengganti saat menghadapi Torino dan menjadi salah satu aktor penting dalam kemenangan 2-1 Rossoneri.
Masuk pada menit ke-56 menggantikan Ruben Loftus-Cheek, Rabiot hanya membutuhkan beberapa menit untuk memberikan pengaruh besar. Ia mencatatkan satu assist untuk gol Alphadjo Cissè sebelum kemudian mencetak gol kedua Milan hanya dua menit berselang.
Penampilan tersebut menjadi sinyal positif bagi pelatih baru Milan, Ruben Amorim. Sang gelandang juga mengakui bahwa dirinya mulai memahami keinginan Amorim terkait perannya dalam sistem permainan baru Rossoneri.
Rabiot Langsung Beri Dampak
AC Milan mengawali Serie A 2026/2027 dengan kemenangan penting di markas Torino. Setelah pertandingan berjalan tanpa gol cukup lama, Amorim memasukkan Rabiot untuk mengubah dinamika permainan.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Pada menit ke-64, Rabiot menerima bola dan memberikan umpan kepada Cissè. Pemain muda Milan itu kemudian melepaskan tembakan yang membawa Rossoneri unggul 1-0.
Tidak berhenti di sana, Rabiot kembali menjadi pusat perhatian dua menit kemudian. Umpan silang Samuel Chukwueze menemukan pergerakannya di tiang jauh. Rabiot menyelesaikan peluang tersebut dengan kaki kiri untuk membawa Milan unggul 2-0.
Torino memang sempat memperkecil ketertinggalan melalui Che Adams pada menit ke-90+3. Namun, Milan mampu mempertahankan keunggulan dan membawa pulang tiga poin dari Turin.
Rabiot Pahami Ide Permainan Amorim
Usai pertandingan, Rabiot menunjukkan kesiapannya menjalani proyek baru bersama Amorim. Ia mengaku sudah memahami gagasan yang ingin diterapkan sang pelatih di Milan.
“Saya senang bisa kembali, melihat ide-ide pelatih, dan berbicara dengan sang bos,” ujar Rabiot seusai pertandingan seperti dikutip dari laporan Football Italia.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena Amorim memang memiliki rencana khusus untuk memaksimalkan kemampuan Rabiot.
Pelatih asal Portugal itu menggunakan sistem 3-4-2-1 di Milan. Dalam skema tersebut, Rabiot berpotensi dimainkan lebih maju sebagai gelandang serang atau trequartista, bukan hanya sebagai gelandang tengah.
Peran tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar asing bagi Rabiot. Ketika memperkuat Marseille di bawah Roberto De Zerbi, ia pernah dimainkan sebagai pemain nomor 10. Dalam 22 pertandingan sebagai starter pada posisi tersebut, Rabiot mencatatkan delapan gol dan lima assist.
Peran Baru Bisa Jadi Senjata Milan
Penggunaan Rabiot sebagai pemain yang lebih ofensif memberikan dimensi tambahan bagi permainan AC Milan. Kemampuan fisik, pengalaman, pergerakan tanpa bola, serta kualitas umpan membuatnya bisa menjadi penghubung antara lini tengah dan lini depan.
Ketika menghadapi Torino, karakter tersebut langsung terlihat. Rabiot tidak membutuhkan waktu lama untuk masuk ke dalam permainan. Ia mampu menciptakan peluang, memberikan assist, kemudian muncul di kotak penalti untuk mencetak gol.
Catatan statistik AC Milan juga menunjukkan bahwa Rabiot telah empat kali mencetak gol sekaligus memberikan assist dalam satu pertandingan Serie A. Menariknya, seluruh catatan tersebut terjadi dalam pertandingan tandang, termasuk saat menghadapi Torino, Bologna, Monza, dan Sassuolo.
Awal Positif Era Amorim
Kemenangan atas Torino menjadi awal yang sangat positif bagi era Ruben Amorim di Serie A. Milan bukan hanya mendapatkan tiga poin, tetapi juga menemukan salah satu pemain penting dalam sistem baru mereka.
Rabiot menjadi contoh bagaimana perubahan posisi dapat memberikan keuntungan bagi sebuah tim. Jika mampu mempertahankan performa seperti saat melawan Torino, sang gelandang berpeluang menjadi bagian penting dari rencana jangka panjang Amorim.
Bagi Rabiot sendiri, penampilan tersebut menjadi jawaban terbaik atas berbagai pembicaraan mengenai masa depannya di Milan. Ia kini memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya dapat menjadi pemain penting dalam proyek baru Rossoneri.
Dengan satu assist dan satu gol hanya dalam waktu singkat setelah masuk lapangan, Rabiot telah menunjukkan bahwa ia memahami apa yang diinginkan Amorim. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi dan membuktikan bahwa performa tersebut bukan sekadar penampilan sesaat.
AC Milan kini memiliki alasan kuat untuk berharap. Kombinasi antara sistem 3-4-2-1 Amorim dan fleksibilitas Rabiot dapat menjadi salah satu senjata utama Rossoneri dalam persaingan Serie A musim 2026/2027.
