26 Oktober 2026

#ACMILAN

Milan vs Lazio: Moreira Pahlawan, Estupinan Buruk

BolaIndonesia – AC Milan menunjukkan mental luar biasa saat menghadapi Lazio pada pekan keempat Serie A 2026/27. Sempat tertinggal dua gol di babak pertama, Rossoneri mampu bangkit dan mengakhiri pertandingan dengan skor 2-2 di Stadion Olimpico, Sabtu (12/9/2026).

Pahlawan utama Milan kali ini adalah Diego Moreira. Masuk sebagai pemain pengganti, Moreira mencetak dua gol dalam waktu hanya sekitar dua menit untuk menghidupkan kembali peluang Milan meraih poin.

Di sisi lain, performa Pervis Estupinan menjadi salah satu sorotan negatif. Bek sayap asal Ekuador tersebut kesulitan mengantisipasi serangan Lazio dan terlibat dalam situasi yang berujung pada gol pembuka tuan rumah.

Babak Pertama Jadi Mimpi Buruk Milan

Lazio langsung bermain agresif sejak menit awal. Tekanan tersebut membuat Milan kesulitan mengembangkan permainan dan beberapa kali kehilangan kontrol di area pertahanan.

Pada menit ke-10, Matteo Cancellieri membawa Lazio unggul. Ia berhasil menyambar umpan silang Mattia Zaccagni setelah bergerak lebih cepat daripada Estupinan. Gol tersebut memperlihatkan masalah Milan dalam mengawal sisi pertahanan.

Milan sebenarnya masih memiliki beberapa peluang untuk merespons. Namun, penyelesaian akhir dan koordinasi lini depan belum berjalan maksimal. Lazio justru mampu menjaga keunggulan hingga turun minum.

Estupinan Jadi Salah Satu Pemain Terburuk

Pervis Estupinan menjalani pertandingan yang cukup sulit. Sebagai pemain yang ditempatkan di sisi kiri, ia tidak hanya kesulitan membantu serangan, tetapi juga terlihat bermasalah ketika harus bertahan.

Dalam proses gol pertama Lazio, Cancellieri mampu bergerak lebih cepat di depannya. Situasi tersebut membuat Estupinan mendapatkan sorotan besar setelah pertandingan.

Sejumlah penilaian media Milan bahkan memberikan nilai rendah kepada sang bek. Kritik terutama muncul karena kontribusinya dianggap belum cukup untuk membantu Milan mengontrol sisi kiri permainan.

Meski begitu, performa buruk tersebut tidak berarti seluruh lini belakang Milan bermain buruk. Mike Maignan justru menjadi salah satu pemain penting karena beberapa penyelamatannya membuat Milan tetap memiliki peluang untuk bangkit.

Moreira Mengubah Jalannya Pertandingan

Perubahan besar terjadi setelah Ruben Amorim melakukan pergantian pemain. Diego Moreira mendapatkan kesempatan tampil dan langsung memberikan energi baru untuk lini serang Milan.

Moreira kemudian mencetak dua gol dalam waktu sekitar dua menit. Gol pertama lahir setelah umpan Christian Pulisic berhasil dimanfaatkan dengan baik. Setelah itu, Moreira kembali menemukan ruang dan mencetak gol keduanya untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Brace tersebut membuat Moreira menjadi pemain paling menentukan dalam comeback Milan. Masuk dari bangku cadangan, ia justru mampu memberikan dampak yang tidak terlihat dari para pemain Milan yang tampil sejak menit pertama.

Rapor Pemain AC Milan

Mike Maignan – 7,5

Maignan tampil penting di bawah mistar. Beberapa penyelamatan yang dibuatnya menjaga Milan agar tidak semakin tertinggal pada babak pertama.

Mario Gila – 6,5

Gila menunjukkan determinasi dan menjadi salah satu pemain yang cukup konsisten ketika Milan berada dalam tekanan.

Koni De Winter – 5

De Winter tidak tampil meyakinkan. Ia beberapa kali terlihat kurang solid dalam menjaga pertahanan dan ikut disorot dalam proses gol kedua Lazio.

Strahinja Pavlovic – 6

Pavlovic mengalami kesulitan pada babak pertama, tetapi permainannya meningkat setelah jeda. Ia juga beberapa kali mencoba membantu serangan.

Pervis Estupinan – 4

Estupinan menjadi salah satu pemain dengan performa terburuk. Ia kesulitan menjaga sisi kiri dan gagal mencegah Cancellieri mencetak gol pembuka Lazio.

Luka Modric – 6,5

Modric tetap memberikan pengalaman dan kualitas dalam distribusi bola. Namun, pengaruhnya pada babak pertama belum cukup untuk mengubah dominasi Lazio.

Adrien Rabiot – 6,5

Rabiot bekerja keras di lini tengah. Ia juga terlibat dalam proses gol kedua Moreira melalui umpan yang membuka ruang bagi sang pemain.

Christian Pulisic – 7

Kembali tampil sebagai pemain pengganti, Pulisic langsung memberikan kontribusi penting. Umpannya membantu Moreira mencetak gol pertama Milan.

Diego Moreira – 9

Moreira adalah pahlawan Milan. Dua gol dalam waktu singkat membuatnya menjadi pemain paling menentukan dalam pertandingan. Kehadirannya mengubah momentum sekaligus menyelamatkan Rossoneri dari kekalahan.

Kesimpulan

Hasil imbang 2-2 melawan Lazio menunjukkan bahwa Milan memiliki karakter untuk bangkit dari situasi sulit. Setelah tertinggal dua gol pada babak pertama, Rossoneri mampu mengubah permainan dan membawa pulang satu poin.

Diego Moreira jelas menjadi bintang utama berkat dua golnya. Sementara itu, Pervis Estupinan perlu segera memperbaiki performa jika ingin kembali mendapatkan kepercayaan penuh di sisi kiri pertahanan.

Dengan hasil tersebut, Milan mengoleksi delapan poin dari empat pertandingan dan berada di posisi kelima, sedangkan Lazio naik ke puncak klasemen dengan 10 poin.

Pertandingan ini sekaligus memperlihatkan satu hal penting: kedalaman skuad bisa menjadi senjata Milan musim ini. Ketika pemain utama kesulitan memberikan dampak, pemain dari bangku cadangan seperti Moreira mampu menjadi pembeda.

Juventus 1-1 Milan: Gatti Cetak Gol Telat

BolaIndonesia – Hasil Juventus vs AC Milan pada pekan ketiga Serie A 2026/2027 berakhir dramatis. Bermain di Allianz Stadium, Senin (7/9/2026) dini hari WIB, kedua tim harus puas berbagi poin setelah pertandingan berakhir dengan skor 1-1.

AC Milan sebenarnya berada di ambang kemenangan setelah Alphadjo Cisse membawa Rossoneri unggul pada babak kedua. Namun, Juventus menunjukkan mental pantang menyerah. Federico Gatti mencetak gol pada masa injury time dan menyelamatkan Bianconeri dari kekalahan.

Hasil imbang ini membuat Juventus dan AC Milan sama-sama mengoleksi tujuh poin dari tiga pertandingan. Milan berada di atas Juventus dalam klasemen berkat keunggulan produktivitas gol.

Babak Pertama Juventus vs AC Milan Berlangsung Ketat

Juventus tampil lebih agresif sejak pertandingan dimulai. Francisco Conceicao menjadi salah satu pemain yang paling aktif mengancam pertahanan AC Milan.

Peluang emas Juventus hadir ketika Conceicao mendapatkan ruang di dalam kotak penalti. Namun, penyelesaian akhirnya belum mampu menaklukkan Mike Maignan. Kiper AC Milan tersebut tampil sigap untuk menjaga gawangnya tetap aman.

Maignan kembali menunjukkan kualitasnya ketika menggagalkan usaha Conceicao melalui tembakan dari sisi kanan. Juventus terus menekan, tetapi pertahanan Milan mampu bertahan dengan disiplin.

Hingga babak pertama berakhir, skor masih 0-0. Juventus memiliki sejumlah peluang lebih baik, sedangkan AC Milan belum mampu mencatatkan tembakan tepat sasaran.

Francisco Conceicao Hampir Bawa Juventus Unggul

Memasuki babak kedua, Juventus tetap berusaha mengambil kendali permainan. Pada menit ke-55, Conceicao kembali mendapatkan peluang setelah Juventus berhasil merebut bola di lini tengah.

Tembakannya mengarah ke tiang jauh, tetapi bola justru membentur tiang gawang. Momen tersebut menjadi salah satu peluang terbaik Juventus untuk membuka keunggulan.

AC Milan yang lebih banyak bertahan justru mampu memberikan kejutan melalui serangan balik. Strategi tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Alphadjo Cisse Bawa AC Milan Unggul

AC Milan berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-68. Alphadjo Cisse mencetak gol setelah menerima umpan dari Samuel Chukwueze.

Chukwueze bergerak cepat dari sisi kanan sebelum mengirimkan bola kepada Cisse. Pemain muda Milan tersebut kemudian melakukan kontrol dan melepaskan tembakan rendah yang menembus pertahanan Juventus.

Gol tersebut menjadi pukulan bagi Juventus karena Rossoneri berhasil mencetak gol melalui salah satu peluang berbahaya mereka.

Dengan waktu pertandingan yang semakin menipis, Juventus langsung meningkatkan tekanan. AC Milan berusaha mempertahankan keunggulan dengan memperkuat lini pertahanan.

Federico Gatti Jadi Pahlawan Juventus

Drama terjadi pada menit ke-92.

Juventus mendapatkan kesempatan dari situasi bola mati. Teun Koopmeiners mengirimkan umpan silang akurat ke area kotak penalti. Federico Gatti yang baru masuk sebagai pemain pengganti berhasil memenangkan duel udara.

Bek Juventus tersebut melompat tinggi dan menyundul bola ke arah gawang. Bola sempat mengenai bagian bawah mistar sebelum akhirnya melewati garis gawang.

Gol! Juventus menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Gol tersebut sekaligus membuyarkan kemenangan AC Milan yang sudah berada di depan mata. Gatti hanya membutuhkan beberapa menit setelah masuk lapangan untuk memberikan kontribusi besar bagi Juventus.

Juventus Selamat dari Kekalahan, Milan Gagal Menang

Peluit panjang akhirnya berbunyi dengan skor Juventus 1-1 AC Milan. Rossoneri harus menerima hasil imbang setelah sempat unggul hingga penghujung pertandingan.

Dari sisi permainan, Juventus sebenarnya tampil lebih agresif dan menciptakan lebih banyak peluang. Data pertandingan menunjukkan Juventus melepaskan 14 tembakan, dengan lima di antaranya tepat sasaran, sedangkan Milan hanya mencatatkan tiga tembakan dan satu tepat sasaran.

Namun, penampilan Mike Maignan membuat AC Milan tetap mampu bertahan hingga menit-menit terakhir. Kiper asal Prancis tersebut menjadi salah satu pemain penting yang membuat Juventus kesulitan mencetak gol.

Gatti dan Cisse Jadi Penentu

Dua pemain menjadi sorotan utama dalam hasil Juventus vs AC Milan kali ini. Alphadjo Cisse memberikan keunggulan untuk AC Milan, sedangkan Federico Gatti menjadi penyelamat Juventus.

Bagi Cisse, gol tersebut menunjukkan keberanian pemain muda Milan dalam menghadapi pertandingan besar. Sementara bagi Gatti, gol injury time semakin memperlihatkan kontribusinya ketika Juventus membutuhkan solusi.

Secara keseluruhan, hasil Juventus 1-1 AC Milan terasa adil jika melihat jalannya pertandingan. Juventus menunjukkan dominasi peluang, sedangkan Milan mampu bermain efektif dan hampir membawa pulang tiga poin.

Hasil ini membuat kedua tim sama-sama mengoleksi tujuh poin dari tiga laga Serie A. Juventus selanjutnya perlu memperbaiki efektivitas di depan gawang, sementara AC Milan harus belajar mempertahankan keunggulan hingga pertandingan benar-benar berakhir.

BolaIndonesia – Adrien Rabiot langsung memberikan jawaban di atas lapangan setelah kembali memperkuat AC Milan pada awal musim 2026/2027. Gelandang asal Prancis tersebut tampil sebagai pemain pengganti saat menghadapi Torino dan menjadi salah satu aktor penting dalam kemenangan 2-1 Rossoneri.

Masuk pada menit ke-56 menggantikan Ruben Loftus-Cheek, Rabiot hanya membutuhkan beberapa menit untuk memberikan pengaruh besar. Ia mencatatkan satu assist untuk gol Alphadjo Cissè sebelum kemudian mencetak gol kedua Milan hanya dua menit berselang.

Penampilan tersebut menjadi sinyal positif bagi pelatih baru Milan, Ruben Amorim. Sang gelandang juga mengakui bahwa dirinya mulai memahami keinginan Amorim terkait perannya dalam sistem permainan baru Rossoneri.

Rabiot Langsung Beri Dampak

AC Milan mengawali Serie A 2026/2027 dengan kemenangan penting di markas Torino. Setelah pertandingan berjalan tanpa gol cukup lama, Amorim memasukkan Rabiot untuk mengubah dinamika permainan.

Keputusan tersebut terbukti tepat. Pada menit ke-64, Rabiot menerima bola dan memberikan umpan kepada Cissè. Pemain muda Milan itu kemudian melepaskan tembakan yang membawa Rossoneri unggul 1-0.

Tidak berhenti di sana, Rabiot kembali menjadi pusat perhatian dua menit kemudian. Umpan silang Samuel Chukwueze menemukan pergerakannya di tiang jauh. Rabiot menyelesaikan peluang tersebut dengan kaki kiri untuk membawa Milan unggul 2-0.

Torino memang sempat memperkecil ketertinggalan melalui Che Adams pada menit ke-90+3. Namun, Milan mampu mempertahankan keunggulan dan membawa pulang tiga poin dari Turin.

Rabiot Pahami Ide Permainan Amorim

Usai pertandingan, Rabiot menunjukkan kesiapannya menjalani proyek baru bersama Amorim. Ia mengaku sudah memahami gagasan yang ingin diterapkan sang pelatih di Milan.

“Saya senang bisa kembali, melihat ide-ide pelatih, dan berbicara dengan sang bos,” ujar Rabiot seusai pertandingan seperti dikutip dari laporan Football Italia.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena Amorim memang memiliki rencana khusus untuk memaksimalkan kemampuan Rabiot.

Pelatih asal Portugal itu menggunakan sistem 3-4-2-1 di Milan. Dalam skema tersebut, Rabiot berpotensi dimainkan lebih maju sebagai gelandang serang atau trequartista, bukan hanya sebagai gelandang tengah.

Peran tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar asing bagi Rabiot. Ketika memperkuat Marseille di bawah Roberto De Zerbi, ia pernah dimainkan sebagai pemain nomor 10. Dalam 22 pertandingan sebagai starter pada posisi tersebut, Rabiot mencatatkan delapan gol dan lima assist.

Peran Baru Bisa Jadi Senjata Milan

Penggunaan Rabiot sebagai pemain yang lebih ofensif memberikan dimensi tambahan bagi permainan AC Milan. Kemampuan fisik, pengalaman, pergerakan tanpa bola, serta kualitas umpan membuatnya bisa menjadi penghubung antara lini tengah dan lini depan.

Ketika menghadapi Torino, karakter tersebut langsung terlihat. Rabiot tidak membutuhkan waktu lama untuk masuk ke dalam permainan. Ia mampu menciptakan peluang, memberikan assist, kemudian muncul di kotak penalti untuk mencetak gol.

Catatan statistik AC Milan juga menunjukkan bahwa Rabiot telah empat kali mencetak gol sekaligus memberikan assist dalam satu pertandingan Serie A. Menariknya, seluruh catatan tersebut terjadi dalam pertandingan tandang, termasuk saat menghadapi Torino, Bologna, Monza, dan Sassuolo.

Awal Positif Era Amorim

Kemenangan atas Torino menjadi awal yang sangat positif bagi era Ruben Amorim di Serie A. Milan bukan hanya mendapatkan tiga poin, tetapi juga menemukan salah satu pemain penting dalam sistem baru mereka.

Rabiot menjadi contoh bagaimana perubahan posisi dapat memberikan keuntungan bagi sebuah tim. Jika mampu mempertahankan performa seperti saat melawan Torino, sang gelandang berpeluang menjadi bagian penting dari rencana jangka panjang Amorim.

Bagi Rabiot sendiri, penampilan tersebut menjadi jawaban terbaik atas berbagai pembicaraan mengenai masa depannya di Milan. Ia kini memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya dapat menjadi pemain penting dalam proyek baru Rossoneri.

Dengan satu assist dan satu gol hanya dalam waktu singkat setelah masuk lapangan, Rabiot telah menunjukkan bahwa ia memahami apa yang diinginkan Amorim. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi dan membuktikan bahwa performa tersebut bukan sekadar penampilan sesaat.

AC Milan kini memiliki alasan kuat untuk berharap. Kombinasi antara sistem 3-4-2-1 Amorim dan fleksibilitas Rabiot dapat menjadi salah satu senjata utama Rossoneri dalam persaingan Serie A musim 2026/2027.

Davide Bartesaghi Tinggalkan AC Milan

BolaIndonesia – AC Milan dikabarkan akan segera melepas salah satu bek mudanya, Davide Bartesaghi, pada bursa transfer musim panas 2026. Pemain berusia 20 tahun itu disebut tinggal selangkah lagi meninggalkan San Siro untuk memulai petualangan baru di kompetisi Inggris.

Menurut laporan dari sejumlah media Italia, proses negosiasi dengan klub peminat sudah memasuki tahap akhir. Meski belum ada pengumuman resmi dari pihak Rossoneri, sinyal perpisahan Bartesaghi semakin kuat setelah namanya tidak masuk dalam rencana utama pelatih untuk musim depan.

Bek kiri jebolan akademi Milan tersebut memang kesulitan mendapatkan menit bermain reguler di tim senior. Persaingan ketat di sektor pertahanan membuat peluangnya tampil sebagai starter sangat terbatas.

Klub Inggris Mulai Bergerak Cepat

Beberapa klub Championship dan tim papan bawah Premier League dikabarkan memantau situasi Bartesaghi sejak akhir musim lalu. Salah satu klub yang paling serius disebut telah mengajukan proposal peminjaman dengan opsi pembelian permanen.

Bagi Bartesaghi, pindah ke Inggris dianggap sebagai langkah ideal untuk mempercepat perkembangan kariernya. Gaya bermain sepak bola Inggris yang cepat dan fisik diyakini cocok dengan karakter permainannya yang agresif serta aktif membantu serangan dari sisi kiri.

Sumber internal Milan menyebutkan bahwa manajemen tidak ingin menghambat perkembangan sang pemain. Karena itu, opsi melepas Bartesaghi dengan status pinjaman lebih diprioritaskan dibanding mempertahankannya sebagai pelapis di bangku cadangan.

Sulit Menembus Tim Utama Rossoneri

Musim lalu Bartesaghi hanya tampil dalam beberapa pertandingan bersama tim senior AC Milan. Sebagian besar waktunya dihabiskan bersama tim Milan Futuro dan skuad Primavera.

Padahal, ia sempat digadang-gadang sebagai salah satu bek kiri muda terbaik yang dimiliki akademi Rossoneri. Kemampuannya dalam membaca permainan, melakukan overlap, dan mengirim umpan silang akurat membuatnya menarik perhatian sejak usia muda.

Namun, kehadiran pemain-pemain senior dengan pengalaman lebih matang membuat jalannya menuju tim utama tersendat. Milan kini juga dikabarkan sedang mencari tambahan bek kiri baru, sehingga peluang Bartesaghi semakin menipis.

Paolo Maldini Pernah Memuji Potensinya

Menariknya, Bartesaghi pernah mendapat pujian langsung dari legenda AC Milan, Paolo Maldini. Sang ikon klub menilai Bartesaghi memiliki kualitas teknik dan mentalitas yang baik untuk berkembang di level tertinggi.

Meski demikian, situasi sepak bola modern membuat banyak pemain muda harus mencari kesempatan bermain di tempat lain terlebih dahulu sebelum kembali bersaing di klub besar. Milan tampaknya mengambil pendekatan yang sama terhadap Bartesaghi.

Jika transfer ini benar-benar terwujud, Rossoneri kemungkinan akan menyertakan klausul buy-back atau persentase penjualan kembali untuk menjaga kendali atas masa depan sang pemain.

Pengumuman Resmi Tinggal Menunggu Waktu

Dengan negosiasi yang disebut berjalan positif, pengumuman resmi diperkirakan bisa dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Bartesaghi pun berpotensi menjadi pemain Italia terbaru yang mencoba peruntungan di sepak bola Inggris pada musim 2026/2027.

Kepindahan ini mungkin bukan transfer besar dari sisi nilai, tetapi tetap menarik untuk diikuti. Banyak pengamat menilai Bartesaghi memiliki potensi berkembang pesat jika mendapatkan jam bermain yang konsisten.

Bagi AC Milan, keputusan melepas sang bek muda juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang klub dalam mengelola talenta akademi. Sementara bagi Davide Bartesaghi, ini bisa menjadi awal dari babak baru kariernya di negeri Ratu Elizabeth—dan mungkin jalan untuk kembali ke San Siro sebagai pemain yang lebih matang di masa depan.