23 Oktober 2026

#Infantino

FIFA Didesak Larang Gianni Infantino Maju Lagi

BolaIndonesia – Masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA kembali menjadi sorotan. Organisasi hak asasi manusia FairSquare mendesak FIFA untuk melarang Infantino mencalonkan diri dalam pemilihan presiden FIFA 2027. Mereka menilai masa jabatan Infantino sudah memenuhi batas maksimal yang ditetapkan dalam statuta FIFA.

Desakan tersebut muncul ketika sepak bola dunia tengah menghadapi perdebatan besar mengenai tata kelola FIFA. Infantino sebelumnya telah memastikan dirinya akan kembali maju dalam pemilihan presiden FIFA 2027. Ia menyampaikan niat tersebut dalam Kongres FIFA di Vancouver pada Mei 2026.

FairSquare Soroti Batas Masa Jabatan Infantino

FairSquare mengajukan keberatan kepada Komite Tata Kelola, Audit, dan Kepatuhan FIFA. Organisasi tersebut mempertanyakan keputusan FIFA pada 2022 yang tidak menghitung periode pertama Infantino sebagai masa jabatan penuh.

Infantino pertama kali menjadi Presiden FIFA pada 2016 setelah Sepp Blatter meninggalkan posisinya. Ia kemudian terpilih kembali pada 2019 dan 2023. Berdasarkan interpretasi FIFA, periode 2016–2019 hanya dianggap sebagai penyelesaian masa jabatan sebelumnya sehingga tidak masuk dalam hitungan batas tiga periode.

Namun, FairSquare menilai interpretasi tersebut berpotensi membuka jalan bagi masa jabatan keempat. Mereka meminta FIFA meninjau kembali keputusan tersebut agar aturan batas masa jabatan tetap memiliki makna.

Infantino Tetap Siap Bertarung pada 2027

Terlepas dari tekanan tersebut, Gianni Infantino masih berencana maju dalam pemilihan FIFA 2027. FIFA sendiri sebelumnya mengonfirmasi bahwa sang presiden akan mencalonkan diri kembali.

Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret 2027 di Rabat, Maroko. Jika kembali terpilih, Infantino berpeluang memimpin FIFA hingga 2031.

Situasi ini membuat pemilihan FIFA 2027 semakin menarik. Persoalan bukan hanya mengenai siapa yang akan memimpin organisasi sepak bola terbesar di dunia, tetapi juga mengenai bagaimana aturan dan mekanisme pengawasan FIFA diterapkan.

Tekanan Politik di FIFA Semakin Besar

Desakan FairSquare datang di tengah meningkatnya kritik terhadap kepemimpinan Infantino. UEFA, AFC, dan CONCACAF sebelumnya menyampaikan kekhawatiran mengenai arah kepemimpinan FIFA. Beberapa federasi nasional juga mulai menarik dukungan mereka terhadap Infantino.

Federasi Sepak Bola Skotlandia bahkan secara terbuka menyatakan tidak lagi mendukung pencalonan Infantino. Mereka menyoroti masalah transparansi dan perlunya reformasi tata kelola di tubuh FIFA.

Kritik semakin menguat setelah rencana kontroversial FIFA terkait investasi swasta dalam sektor komersial organisasi tersebut mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Proposal itu kemudian menjadi salah satu pemicu konflik internal dan ketegangan dengan sejumlah konfederasi.

Dukungan untuk Infantino Belum Hilang

Meski mendapat tekanan dari sejumlah pihak, posisi Infantino belum sepenuhnya terancam. Ia masih memperoleh dukungan kuat dari sejumlah konfederasi dan asosiasi anggota FIFA.

Laporan sebelumnya bahkan menyebut lebih dari 200 anggota FIFA telah memberikan dukungan terhadap pencalonannya untuk periode berikutnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertarungan politik menuju Kongres FIFA 2027 masih sangat terbuka.

Dengan 211 asosiasi anggota FIFA yang memiliki hak suara, dukungan lintas konfederasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan hasil pemilihan. Karena itu, kritik dari UEFA dan sejumlah organisasi belum otomatis membuat pencalonan Infantino gagal.

Pemilihan Presiden FIFA 2027 Jadi Sorotan

Perselisihan mengenai masa jabatan Gianni Infantino kini menjadi salah satu isu terbesar menjelang pemilihan Presiden FIFA. FairSquare meminta aturan batas masa jabatan ditegakkan secara konsisten, sementara kubu Infantino tetap berpegang pada interpretasi FIFA sebelumnya.

Perdebatan tersebut dipastikan akan terus berkembang menjelang batas waktu pencalonan. Jika Infantino tetap maju, pemilihan 2027 berpotensi menjadi salah satu kontestasi paling sengit dalam sejarah FIFA.

Bagi sepak bola dunia, persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang menduduki kursi Presiden FIFA. Isu yang lebih besar menyangkut transparansi, pembatasan kekuasaan, akuntabilitas, dan masa depan tata kelola organisasi sepak bola dunia.

Untuk saat ini, Gianni Infantino masih berstatus kandidat yang berniat maju pada 2027. Namun, desakan agar FIFA melarangnya kembali mencalonkan diri membuat perjalanan menuju pemilihan presiden semakin panas.