27 Oktober 2026

Gianni Infantino

BOLADONESIA – UEFA melontarkan kritik keras terhadap FIFA terkait rencana penjualan hak komersial Piala Dunia senilai 17,5 miliar euro. Bahkan, sejumlah negara Eropa disebut mempertimbangkan boikot Piala Dunia apabila Presiden FIFA Gianni Infantino tetap memaksakan proposal tersebut.

Ketegangan antara dua organisasi sepak bola terbesar dunia itu meningkat setelah muncul laporan bahwa FIFA ingin menjual sebagian kepentingan komersial Piala Dunia kepada investor eksternal. Langkah tersebut diyakini akan menghasilkan keuntungan besar bagi FIFA dari kesuksesan Piala Dunia 2026.

Menurut laporan yang beredar, FIFA juga memberikan tenggat waktu hingga 19 September kepada seluruh federasi anggota untuk mendukung proposal tersebut. Sebagai imbalan, federasi yang menyetujui rencana itu akan menerima bonus sekitar 35 juta euro, sedangkan yang menolak hanya mendapatkan sekitar 9 juta euro.

“Hari ini kami mengetahui adanya tenggat waktu yang diberikan FIFA kepada federasi untuk mendukung proposal mereka, jika tidak maka tawaran kompensasi satu kali akan dicabut. Itu sudah menjelaskan segalanya tentang rencana ini,” tulis UEFA dalam pernyataan resminya.

UEFA Sebut FIFA Hanya Menguntungkan Diri Sendiri

UEFA juga mengonfirmasi akan menggelar pertemuan darurat pekan ini untuk membahas langkah lanjutan terkait proposal FIFA tersebut. Organisasi yang dipimpin Aleksander Ceferin itu mengklaim penolakan terhadap rencana FIFA terus bertambah.

Menurut UEFA, hasil diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan sepak bola menunjukkan bahwa semakin banyak pihak yang tidak setuju dengan gagasan tersebut.

“Setelah berdiskusi dengan banyak pemangku kepentingan dalam sepak bola, UEFA mengetahui bahwa ada penolakan yang signifikan dan terus berkembang terhadap skema FIFA.”

“FIFA tidak bisa terus menggunakan olahraga ini untuk memperkaya diri mereka sendiri dan teman-teman mereka. Kami bisa mengembangkan sepak bola dengan cara yang benar. Sudah waktunya memprioritaskan federasi, klub, liga, pemain, dan para suporter,” tegas UEFA

BOLADOENSIA – Presiden FIFA, sepertinya mendapat tempat di hati Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Buktinya, dia baru-baru ini didorong untuk menjadi Sekjen PBB. Kabar tersebut diungkap seorang sumber yang dekat dengan Gedung Putih kepada The New York Post.

Trump melihat Infantino sebagai sosok yang tepat untuk maju menghadapi kandidat lain pada pemilihan Sekjen PBB yang baru pada Januari 2027. Sekjen saat ini, Antonio Guterres dari Portugal, akan berhenti pada Desember mendatang. Adapun kandidat yang mencul sejauh ini adalah mantan Presiden Cile, Michelle Bachelet, dan Dirjen IAEA, Rafael Grossi dari Argentina.

“Trump meyakini bahwa Infantino adalah sosok yang dihormati semua orang di seluruh dunia dan dikenal memiliki kemampuan istimewa untuk menyatukan orang-orang,” urai sumber yang tak disebutkan namanya soal ide pencalonan Gianni Infantino sebagai Sekjen PBB seperti dikutip IDNEWS.TOP dari The New York Post.

Dilansir media AS tersebut, Infantino dimajukan sebagai langkah strategis Trump. AS jelas-jelas resisten terhadap pencalonan Bechelet sebagai eks Presiden Cile. Sementara itu, Grossi akan teradang veto Inggris karena masalah Falklands yang kini mencuat lagi gara-gara banner yang dibentangkan para pemain Argentina setelah mengalahkan Inggris di semifinal Piala Dunia lalu.

Dilema Gianni Infantino

Ide Donald Trump memajukan Gianni Infantino dinilai brilian oleh paolo Zampolli, pengusaha sekaligus diplomat yang menjabat utusan khusus Presiden AS itu dalam urusan kemitraan global. Dia menyebut hanya Trump yang bisa tiba-tiba memiliki gagasan cemerlang seperti itu.

“Infantino akan bekerja dengan baik dan disukai semua orang. Ada beberapa kesamaan antara peran Presiden FIFA dan Sekjen PBB. Di PBB, Anda harus berurusan dengan 193 negara anggota. Di FIFA, ada lebih dari 200 anggota dan catatan luar biasa Gianni menunjukkan bahwa dia tahu cara mengatur semuanya,” ucap Zampolli.

Ide Trump tersebut dipastikan membawa Infantino dalam sebuah dilema. Di satu sisi, dia masih ingin terus menjadi Presiden FIFA. Dia berencana maju lagi untuk pemilihan pada Maret 2027. Jika sukses, dia akan menjalani periode kepemimpinan untuk yang keempat kalinya. Di sisi lain, karena kedekatannya, dia akan rikuh untuk menampik tawaran Trump maju dalam pencalonan Sekjen PBB yang baru.

Masalahnya kemudian, ada perbedaan sangat mencolok antara gaji Presiden FIFA dan Sekjen PBB. Sebagai pemimpin tertinggi di FIFA, Infantino mendapatkan 6 juta dollar AS per tahun. Angka itu sangat jauh dari gaji Sekjen PBB yang hanya sekitar 418.000 dollar AS. Menilik fakta itu, tentu saja kembali menjadi Presiden FIFA lebih menggiurkan bagi Infantino.

BOLADONESIA – Gianni Infantino, Presiden FIFA, terus mendapatkan tekanan. Terbaru, dia diminta mundur oleh Presiden LaLiga, Javier Tebas, karena dinilai sudah mengambil langkah-langkah kontroversial, terutama selama gelaran Piala Dunia 2026, yang justru merusak sepak bola itu sendiri.

Beberapa hal yang menjadi sorotan Tebas adalah adanya hydration break yang membuat sepak bola seperti basket yang memiliki 4 quarter, jeda babak pada final yang diperpanjang demi menggelar acara hiburan, penangguhan sanksi kartu merah Folarin Balogun, dan rencana penambahan peserta Piala Dunia menjadi 64 tim.

“Menurut saya, iya, saya pikir waktunya sudah habis,” kata Javier Tebas saat ditanya soal apakah Gianni Infantino harus mundur seperti dikutip IDNEWS.TOP dari La Gazzetta dello Sport. “FIFA mengatur segalanya sesuka hati, untuk kepentingan mereka sendiri. Ketika ingin 27 menit jeda laga, jadilah. Hydrations break adalah kebohongan. Di LaLiga, itu hanya dilakukan jika cuaca benar-benar panas.”

Dia menambahkan, “Penangguhan sanksi pemain AS benar-benar serius. Mereka beruntung karena Belgia menang atas AS. Jika tidak, kasus ini bisa saja membuat Infantino kehilangan jabatannya. Karena Belgia menang, mereka bisa mengubur masalah ini. Namun, ini semua hanyalah puncak gunung es.”

Sulit Jatuhkan Gianni Infantino

Berbagai hal negatif yang mewarnai Piala Dunia 2026, plus rencana penambahan peserta jadi 64 tim pada edisi berikutnya menambah muak Javier Tebas. Dia meminta Gianni Infantino untuk menghentikan semua kegilaan itu dan mundur. Pasalnya, dia tahu betul tak mungkin sang Presiden FIFA tumbang lewat pemilihan.

“Masalahnya, dia didukung sitem, federasi-federasi,” ucap Tebas setengah putus asa. “Tak ada kandidat oposisi karena tak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Inilah sistemnya, sisten yang sudah busuk dari akarnya. Dia tak seharusnya bertahan, tapi situasi saat ini berarti dia tak akan pergi.”

Dia menambahkan, “Dalam beberapa haris terakhir di AS, saya mendengar banyak orang yang menentang Infantino, tak setuju dengan apa yang dilakukannya. Mereka mengatakan itu, tapi tak melakukan apa pun. Saya tak tahu apa yang lebih buruk, sikap diam itu atau keterlibatan karena mereka yang tetap diam sepenuhnya tahu kerusakan yang dialami sepak bola.”

Masa jabatan Infantino akan segera berakhir. Namun, dia sudah menyatakan niat untuk kembali maju dan menjadi presiden untuk periode ke-4. Menurut rencana, pemilihan Presiden FIFA akan digelar di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027. Ditengarai, wacana menambah peserta Piala Dunia 2030 ditujukan untuk mengamankan suara dari banyak anggota FIFA, terutama dari Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.

BOLADOENSIA – Angin kencang terus menghantam Gianni Infantino. Terbaru, Presiden FIFA itu diadukan oleh lembaga pembela hak-hak asasi manusia (HAM), FairSquare, ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) atas pelanggaran salah satu aturan yang menuntut netralitas politik.

FairSquare sudah jengah dan muak dengan tindakan Infantino belakangan ini yang menunjukkan kedekatan dengan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Secara khusus, mereka mengungkap beberapa jejak yang menunjukkan ketundukan Infantino, juga FIFA, terhadap Trump. Bahkan, Infantino sempat menghadiri beberapa kampanye Presiden AS itu.

“Gianni Infantino telah berulang kali melanggar aturan IOC soal netralitas politik dengan menyatakan dukungan politik kepada Presiden AS Donald Trump. Ada setidaknya 5 pelanggaran terhadap prinsip itu,” urai pernyataan FairSquare seperti dikutip IDNEWS.TOP dari laman resminya.

Dalam laporannya, lembaga itu antara lain secara spesifik menyoroti penangguhan hukuman bagi Folarin Balogun, pemain AS, sehingga tetap bisa bermain pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 meskipun mendapat kartu merah pada laga sebelumnya. Kasus itu mengindikasikan ketundukan Infantino kepada Trump.

Kontroversi Gianni Infantino

Meskipun belakangan diketahui ada sosok lain di belakang putusan itu, Gianni Infantino tetap jadi sorotan karena statusnya sebagai Presiden FIFA. Dia tak mungkin tak mengetahui hal itu. Apalagi, Donald Trump sempat mengaku bertelepon dengan dia untuk membahas kartu merah yang didapatkan Folarin Baloguun.

Hal lain yang disoroti oleh FairSquare adalah promosi laman penggemar FIFA oleh Infantino yang diduga merupakan bagian dari kampanye pengumpulan data yang terkait dengan Trump. Ini lagi-lagi menunjukkan betapa intens kedekatan keduanya walaupun Infantino menyebut itu wajar karena AS adalah tuan rumah Piala Dunia 2026.

Jauh sebelumnya, FairSquare langsung melayangkan gugatan kepada Komite Etik FIFA begitu Infantino menganugerahkan Penghargaan Perdanaian FIFA kepada Trump pada Desember 2025. Langkah itu dipandang kontroversial dan kian tak sesuai ketika AS bersama Israel menyerang Iran pada Februari lalu.

Pekan lalu, Presiden IOC Kristy Coventry memang membuka kemungkinan komite etik memeriksa Infantino jika memang adu pengaduan resmi. Hal itu diungkapkan seiring kontroversi soal penangguhan hukuman kartu merah yang didapatkan Balogun. Kini, FairSquare sudah melayangkan aduan tersebut.