27 Oktober 2026

Donald Trump

BOLADOENSIA – Presiden FIFA, sepertinya mendapat tempat di hati Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Buktinya, dia baru-baru ini didorong untuk menjadi Sekjen PBB. Kabar tersebut diungkap seorang sumber yang dekat dengan Gedung Putih kepada The New York Post.

Trump melihat Infantino sebagai sosok yang tepat untuk maju menghadapi kandidat lain pada pemilihan Sekjen PBB yang baru pada Januari 2027. Sekjen saat ini, Antonio Guterres dari Portugal, akan berhenti pada Desember mendatang. Adapun kandidat yang mencul sejauh ini adalah mantan Presiden Cile, Michelle Bachelet, dan Dirjen IAEA, Rafael Grossi dari Argentina.

“Trump meyakini bahwa Infantino adalah sosok yang dihormati semua orang di seluruh dunia dan dikenal memiliki kemampuan istimewa untuk menyatukan orang-orang,” urai sumber yang tak disebutkan namanya soal ide pencalonan Gianni Infantino sebagai Sekjen PBB seperti dikutip IDNEWS.TOP dari The New York Post.

Dilansir media AS tersebut, Infantino dimajukan sebagai langkah strategis Trump. AS jelas-jelas resisten terhadap pencalonan Bechelet sebagai eks Presiden Cile. Sementara itu, Grossi akan teradang veto Inggris karena masalah Falklands yang kini mencuat lagi gara-gara banner yang dibentangkan para pemain Argentina setelah mengalahkan Inggris di semifinal Piala Dunia lalu.

Dilema Gianni Infantino

Ide Donald Trump memajukan Gianni Infantino dinilai brilian oleh paolo Zampolli, pengusaha sekaligus diplomat yang menjabat utusan khusus Presiden AS itu dalam urusan kemitraan global. Dia menyebut hanya Trump yang bisa tiba-tiba memiliki gagasan cemerlang seperti itu.

“Infantino akan bekerja dengan baik dan disukai semua orang. Ada beberapa kesamaan antara peran Presiden FIFA dan Sekjen PBB. Di PBB, Anda harus berurusan dengan 193 negara anggota. Di FIFA, ada lebih dari 200 anggota dan catatan luar biasa Gianni menunjukkan bahwa dia tahu cara mengatur semuanya,” ucap Zampolli.

Ide Trump tersebut dipastikan membawa Infantino dalam sebuah dilema. Di satu sisi, dia masih ingin terus menjadi Presiden FIFA. Dia berencana maju lagi untuk pemilihan pada Maret 2027. Jika sukses, dia akan menjalani periode kepemimpinan untuk yang keempat kalinya. Di sisi lain, karena kedekatannya, dia akan rikuh untuk menampik tawaran Trump maju dalam pencalonan Sekjen PBB yang baru.

Masalahnya kemudian, ada perbedaan sangat mencolok antara gaji Presiden FIFA dan Sekjen PBB. Sebagai pemimpin tertinggi di FIFA, Infantino mendapatkan 6 juta dollar AS per tahun. Angka itu sangat jauh dari gaji Sekjen PBB yang hanya sekitar 418.000 dollar AS. Menilik fakta itu, tentu saja kembali menjadi Presiden FIFA lebih menggiurkan bagi Infantino.

BOLADOENSIA – Angin kencang terus menghantam Gianni Infantino. Terbaru, Presiden FIFA itu diadukan oleh lembaga pembela hak-hak asasi manusia (HAM), FairSquare, ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) atas pelanggaran salah satu aturan yang menuntut netralitas politik.

FairSquare sudah jengah dan muak dengan tindakan Infantino belakangan ini yang menunjukkan kedekatan dengan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Secara khusus, mereka mengungkap beberapa jejak yang menunjukkan ketundukan Infantino, juga FIFA, terhadap Trump. Bahkan, Infantino sempat menghadiri beberapa kampanye Presiden AS itu.

“Gianni Infantino telah berulang kali melanggar aturan IOC soal netralitas politik dengan menyatakan dukungan politik kepada Presiden AS Donald Trump. Ada setidaknya 5 pelanggaran terhadap prinsip itu,” urai pernyataan FairSquare seperti dikutip IDNEWS.TOP dari laman resminya.

Dalam laporannya, lembaga itu antara lain secara spesifik menyoroti penangguhan hukuman bagi Folarin Balogun, pemain AS, sehingga tetap bisa bermain pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 meskipun mendapat kartu merah pada laga sebelumnya. Kasus itu mengindikasikan ketundukan Infantino kepada Trump.

Kontroversi Gianni Infantino

Meskipun belakangan diketahui ada sosok lain di belakang putusan itu, Gianni Infantino tetap jadi sorotan karena statusnya sebagai Presiden FIFA. Dia tak mungkin tak mengetahui hal itu. Apalagi, Donald Trump sempat mengaku bertelepon dengan dia untuk membahas kartu merah yang didapatkan Folarin Baloguun.

Hal lain yang disoroti oleh FairSquare adalah promosi laman penggemar FIFA oleh Infantino yang diduga merupakan bagian dari kampanye pengumpulan data yang terkait dengan Trump. Ini lagi-lagi menunjukkan betapa intens kedekatan keduanya walaupun Infantino menyebut itu wajar karena AS adalah tuan rumah Piala Dunia 2026.

Jauh sebelumnya, FairSquare langsung melayangkan gugatan kepada Komite Etik FIFA begitu Infantino menganugerahkan Penghargaan Perdanaian FIFA kepada Trump pada Desember 2025. Langkah itu dipandang kontroversial dan kian tak sesuai ketika AS bersama Israel menyerang Iran pada Februari lalu.

Pekan lalu, Presiden IOC Kristy Coventry memang membuka kemungkinan komite etik memeriksa Infantino jika memang adu pengaduan resmi. Hal itu diungkapkan seiring kontroversi soal penangguhan hukuman kartu merah yang didapatkan Balogun. Kini, FairSquare sudah melayangkan aduan tersebut.