31 Oktober 2026

> BERITA PIALA DUNIA

Berita sepak bola sajian Info Berita PIALA DUNIA, Tentang Tim, Pemain, dan Topik Hangat update yang sedang trending untuk para penggemar dunia sepak bola.

Idnews.top – Ajang Yamaha R3 BLU CRU Asia-Pacific 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit antarpembalap muda terbaik Asia-Pasifik. Seri ketiga yang berlangsung di Sirkuit Internasional Mandalika pada 17-19 Juli itu juga menyuguhkan cerita menarik dari sosok di luar dunia balap.

Perhatian publik tertuju kepada Ing Asavanund, pembalap asal Thailand yang memiliki karier ganda sebagai aktor. Kehadirannya menjadi warna tersendiri dalam kejuaraan yang menjadi bagian dari perayaan satu dekade Yamaha Sunday Race 2026.

Ing Asavanund bukan nama asing bagi penggemar serial televisi Thailand. Aktor kelahiran 9 Februari 2006 itu berada di bawah naungan agensi GMMTV dan mulai dikenal luas setelah membintangi serial My Sweetheart Jom yang tayang pada 2025.

Meski memiliki popularitas di industri hiburan, Ing datang ke Mandalika bukan sekadar untuk meramaikan persaingan. Ia menunjukkan bahwa kemampuannya di lintasan balap juga layak diperhitungkan saat menjalani sesi latihan bebas pertama.

Aktor Muda Thailand yang Serius Menekuni Dunia Balap

R3 BLU CRU Asia-Pacific Championship seri Mandalika diikuti 21 pembalap dari berbagai negara. Selain Indonesia sebagai tuan rumah, kejuaraan ini juga menghadirkan rider dari Australia, China, Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Selandia Baru.

Di antara deretan peserta tersebut, Ing Asavanund menjadi salah satu nama yang paling menyita perhatian. Latar belakangnya sebagai aktor profesional membuat kehadirannya mendapat sorotan, tetapi performanya di lintasan membuktikan bahwa ia bukan sekadar figur publik yang mencoba dunia balap.

Pada sesi Free Practice 1 yang digelar Jumat (17/7), Ing membukukan waktu terbaik 1 menit 55,274 detik. Catatan tersebut menempatkannya di posisi ke-10 dari total 21 pembalap yang mengikuti sesi latihan pembuka.

Hasil itu menjadi modal awal yang cukup menjanjikan bagi pembalap Thailand tersebut. Ing masih memiliki kesempatan memperbaiki posisinya saat mengikuti sesi kualifikasi pada Sabtu (18/7), sebelum bertarung pada balapan utama yang berlangsung Minggu (19/7).

Tantangan Berat Menanti Ing Asavanund di Mandalika

Persaingan Ing Asavanund dipastikan tidak akan mudah karena ia harus menghadapi tiga pembalap Yamaha Racing Indonesia yang memiliki kualitas mumpuni. Ketiganya adalah Sabian Fathul Ilmi, Reynaldi Junior, dan M. Abid Ashar Musyafa yang tampil pada seri Mandalika.

Sabian Fathul Ilmi datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah memenangi balapan seri kedua di The Bend Motorsport Park, Australia, pada awal Mei lalu. Pembalap berusia 14 tahun itu kini menempati peringkat keenam klasemen sementara dengan koleksi 35 poin dan bertekad kembali bersaing di barisan depan pada balapan kandangnya.

Sementara itu, Reynaldi Junior menjalani musim penting dalam perjalanan kariernya. Juara R15 Idemitsu Junior Pro Yamaha Sunday Race 2025 tersebut kini menimba pengalaman di Yamaha R3 BLU CRU Asia-Pacific Championship setelah sebelumnya naik kelas ke National Sport 250cc pada Kejuaraan Nasional Mandalika Racing Series musim 2026.

Di sisi lain, M. Abid Ashar Musyafa menjadi salah satu ancaman terbesar pada seri Mandalika. Pembalap muda Indonesia itu datang dengan modal sempurna setelah menyapu bersih kemenangan pada dua race seri pertama dan kedua kelas Junior Sport 250 U-18 Kejuaraan Nasional Mandalika Racing Series 2026..

Prancis dan Inggris akan berhadapan dalam perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2026, Minggu (19-7-2026) dini hari WIB. Kedua tim sama-sama gagal melaju ke final setelah tersingkir pada partai semifinal.

Les Bleus harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor 0-2, sedangkan The Three Lions kalah 1-2 dari juara bertahan Argentina di Atlanta.

Pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps, sebelumnya menyebut Spanyol sebagai tim favorit sebelum semifinal dimulai. Prediksi tersebut terbukti setelah La Roja memastikan tiket ke final berkat kemenangan 2-0 atas tim asuhannya.

Gol penalti Mikel Oyarzabal dan penyelesaian Pedro Porro membawa Spanyol melangkah ke partai puncak. Pada pertandingan itu, lini serang Prancis yang dipimpin Kylian Mbappe hanya mampu membukukan nilai expected goals sebesar 0,31.

Pada laga tersebut, Deschamps memecahkan rekor sebagai pelatih dengan jumlah pertandingan terbanyak di Piala Dunia. Meski begitu, pendekatan taktiknya menuai kritik, termasuk dari Mbappe seusai pertandingan.

Kini Deschamps berpeluang menutup kiprahnya bersama Prancis dengan medali perunggu. Les Bleus memburu medali perunggu ketiga dari empat penampilan di laga perebutan peringkat ketiga Piala Dunia, yang terakhir kali mereka jalani pada edisi 1986.

Prancis pernah mengalahkan Belgia 4-2 pada perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1986 dan menang 6-3 atas Jerman Barat pada edisi 1958. Sementara pada 1982, Les Bleus harus puas finis di posisi keempat setelah kalah dari Polandia.

Inggris Kembali Dihantui Kegagalan

Di kubu Inggris, Thomas Tuchel juga mendapat sorotan setelah The Three Lions gagal melaju ke final.

Inggris sempat unggul lebih dulu melalui Anthony Gordon saat menghadapi Argentina. Namun, Lionel Messi menyumbang dua assist yang membantu Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez membalikkan keadaan sekaligus mengantarkan Argentina ke final.

Kekalahan tersebut membuat Inggris kembali gagal menembus level tertinggi di Piala Dunia. The Three Lions kini tercatat selalu kalah dalam tujuh laga fase gugur Piala Dunia saat menghadapi tim yang berada di 10 besar peringkat dunia.

Inggris juga menjadi satu-satunya tim yang dua kali gagal lolos ke final Piala Dunia setelah sempat unggul lebih dulu pada semifinal di abad ke-21. Sebelumnya, situasi serupa terjadi ketika menghadapi Kroasia pada 2018.

Meski gagal mencapai final, Tuchel masih berpeluang membawa Inggris meraih pencapaian terbaik kedua dalam sejarah mereka di Piala Dunia.

Dalam dua kesempatan sebelumnya tampil pada perebutan peringkat ketiga, Inggris kalah 0-2 dari Belgia pada edisi 2018 dan 1-2 dari Italia pada 1990.

Namun, hasil positif atas Prancis tidak akan mudah diraih. Inggris hanya mampu memenangi satu dari sembilan pertemuan terakhir melawan Les Bleus. Terakhir kali kedua tim bertemu di Piala Dunia 2022, Inggris juga disingkirkan Prancis pada babak perempat final.

Prakiraan Susunan Pemain

Prancis (4-2-3-1): Maignan; Kounde, Konate, Lacroix, T. Hernandez; Kone, Zaire Emery; Cherki, Olise, Doue; Mbappe.

Pelatih: Didier Deschamps

Inggris (4-2-3-1): Pickford; Spence, Konsa, Guehi, O’Reilly; Rice, Anderson; Rogers, Bellingham, Gordon; Kane.

Pelatih: Thomas Tuchel

Prediksi Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina, Siapa yang Angkat Trofi Dunia?

BolaIndonesia – Panggung terbesar sepak bola dunia akhirnya menghadirkan laga yang sudah lama dinantikan. Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Spanyol dan Argentina pada 20 Juli 2026 di MetLife Stadium, New Jersey. Pertandingan ini bukan hanya menjadi perebutan trofi paling bergengsi, tetapi juga simbol pertemuan dua generasi yang berbeda.

Spanyol datang sebagai tim dengan permainan kolektif terbaik sepanjang turnamen. Sementara itu, Argentina kembali membuktikan mental juaranya dengan perjalanan yang penuh karakter hingga mencapai partai puncak. Final ini diprediksi berlangsung sangat ketat karena kedua tim memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Jadwal final pada 20 Juli 2026 juga telah dikonfirmasi oleh berbagai laporan menjelang laga puncak.

Spanyol Tampil Paling Meyakinkan Sepanjang Turnamen

La Roja menjadi salah satu tim paling konsisten di Piala Dunia 2026. Mereka menyingkirkan Austria, Portugal, Belgia hingga Prancis tanpa kehilangan identitas permainan.

Dominasi penguasaan bola, pressing tinggi, serta pergerakan cepat di lini depan membuat Spanyol menjadi tim yang paling sulit ditembus sepanjang fase gugur. Kehadiran pemain muda seperti Lamine Yamal memberi warna baru bagi permainan Spanyol, sementara para pemain senior mampu menjaga keseimbangan tim.

Pelatih Spanyol juga sukses membangun transisi yang sangat rapi dari bertahan ke menyerang. Tidak mengherankan jika banyak pengamat menjadikan La Roja sebagai favorit tipis menjelang partai final.

Argentina Masih Mengandalkan Mental Juara

Di sisi lain, Argentina kembali menunjukkan mengapa mereka selalu berbahaya di turnamen besar. Albiceleste tidak selalu tampil dominan, tetapi mereka memiliki kemampuan memenangkan pertandingan-pertandingan penting.

Keberhasilan menyingkirkan Inggris di semifinal memperlihatkan karakter luar biasa skuad asuhan Lionel Scaloni. Pengalaman para pemain senior dipadukan dengan energi pemain muda membuat Argentina tetap menjadi lawan yang sangat sulit dikalahkan.

Selain itu, kreativitas lini tengah serta efektivitas serangan balik menjadi senjata utama Argentina sepanjang turnamen. Tim Tango juga terbukti mampu bangkit ketika berada di bawah tekanan, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam pertandingan sebesar final Piala Dunia.

Duel Lini Tengah Akan Menentukan Hasil Akhir

Pertarungan sebenarnya diperkirakan terjadi di sektor tengah lapangan. Spanyol akan berusaha mengontrol tempo pertandingan melalui penguasaan bola, sedangkan Argentina kemungkinan memilih bermain lebih sabar sambil menunggu celah untuk melakukan serangan cepat.

Jika Spanyol berhasil memutus distribusi bola Argentina sejak awal, peluang mereka untuk mendominasi pertandingan akan semakin besar. Namun apabila Argentina mampu keluar dari tekanan dan memanfaatkan ruang kosong di belakang garis pertahanan Spanyol, pertandingan bisa berubah dalam sekejap.

Selain aspek taktik, faktor pengalaman juga diprediksi memainkan peranan penting. Final Piala Dunia sering kali ditentukan oleh kesalahan kecil maupun momen individual dari pemain bintang.

Adu Strategi Dua Pelatih

Laga ini juga menjadi pertarungan kecerdasan di pinggir lapangan. Kedua pelatih dikenal piawai membaca jalannya pertandingan dan tidak ragu melakukan perubahan taktik ketika situasi berubah.

Spanyol kemungkinan tetap menggunakan pendekatan menyerang sejak menit pertama untuk menguasai permainan. Sebaliknya, Argentina diperkirakan lebih fleksibel dengan kombinasi pertahanan rapat dan serangan balik cepat.

Pergantian pemain pada babak kedua bisa menjadi faktor penentu. Kedalaman skuad kedua negara relatif seimbang sehingga duel diprediksi berlangsung hingga menit-menit akhir.

Prediksi Skor Final Piala Dunia 2026

Di atas kertas, Spanyol memiliki permainan yang lebih stabil selama turnamen. Namun Argentina mempunyai pengalaman, mental juara, dan kemampuan mencetak gol pada momen-momen penting.

Laga diperkirakan berlangsung terbuka dengan kedua tim saling menciptakan peluang. Spanyol mungkin akan lebih banyak menguasai bola, sedangkan Argentina mengandalkan efektivitas penyelesaian akhir.

Prediksi skor: Spanyol 2-1 Argentina.

Meski demikian, final seperti ini sangat sulit diprediksi. Satu kesalahan kecil, kartu merah, atau momen magis dari pemain bintang bisa mengubah jalannya pertandingan secara drastis.

Yang pasti, dunia sepak bola akan menyaksikan salah satu final paling menarik dalam sejarah Piala Dunia. Pertemuan antara kekuatan kolektif Spanyol melawan mental juara Argentina menjanjikan duel penuh drama yang layak dinantikan hingga peluit panjang berbunyi.

Timnas Spanyol akan bertemu Argentina di partai final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey, AS, Senin (20-7-2026) mulai pukul 02.00 WIB.

Tim berjuluk La Furia Roja menatap partai final kedua di Piala Dunia, setelah memenangkan Piala Dunia edisi 2010 di Afrika Selatan.

Spanyol dalam tren memukau selama Piala Dunia 2026. Mereka selalu menang sejak ditahan imbang tim debutan, Tanjung Verde, di fase grup.

Rodri dkk. menghajar Arab Saudi (4-0), Uruguay (1-0), Austria (3-0), Portugal (1-0), Belgia (2-1), dan Prancis (2-0) sebelum bertemu Argentina di final.

Tak hanya itu, Spanyol cuma kemasukan satu gol di Piala Dunia kali ini, saat dijebol pemain Belgia, Charles De Ketelaere di perempat final.

Serangkaian hasil dan performa menawan tersebut menjadikan tim Matador juga diunggulkan untuk bisa mengalahkan Argentina di partai puncak.

Berikut tiga alasan utama Spanyol pantas menjadi penantang serius Argentina dalam perebutan trofi Piala Dunia 2026.

Kolektivitas Tim

Tidak ada pemain Spanyol yang menyedot perhatian penggemar dan media sebesar Lamine Yamal. Pemain berusia 19 tahun ini punya andil mengantarkan Spanyol ke final Piala Dunia 2026.

Namun, pengaruhnya tidak sedominan peran Lionel Messi bagi Argentina, Harry Kane dan Jude Bellingham bagi Inggris, Erling Haaland bagi Norwegia, ataupun trio Prancis, yakni Kylian Mbappe, Michael Olise, dan Ousmane Dembele.

“Kami bertanding melawan salah satu tim nasional terbaik, tapi mereka harus menghadapi tim yang sesungguhnya. Kami adalah sebuah tim,” ujar Luis de la Fuente, pelatih Timnas Spanyol usai laga di semifinal.

Spanyol berhasil melaju ke final, meski Yamal hanya mencatatkan satu gol dan satu assist.

Sosok kunci dalam perjalanan menuju final ini justru ada pada Mikel Oyarzabal. Eksekusi penaltinya yang sukses saat melawan Prancis menjadi gol kelimanya di Piala Dunia 2026.

Padahal, penyerang Real Sociedad itu mungkin tidak akan masuk daftar sepuluh besar penyerang paling terkenal di dunia.

Begitu pula dengan Mikel Merino, supersub andalan tim Matador yang mencetak gol penentu kemenangan di menit-menit akhir saat melawan Portugal dan Belgia.

“Kami semua bekerja demi tujuan yang sama, bukan sekadar ambisi individu. Saya belum pernah merasakan kebersamaan dalam kelompok yang begitu luar biasa, baik di dalam maupun di luar lapangan. Selama 47 hari bersama, kami tidak mengalami satu masalah pun,” ungkap de la Fuente.

Punya Pertahanan Kukuh

Hingga jelang laga final Piala Dunia 2026, Spanyol sejauh ini baru kebobolan satu gol.

Hasil imbang 0-0 pada laga pembuka melawan Tanjung Verde sempat menuai cemoohan. Namun, semua kini telah mengakui bahwa sang juara Eropa tersebut sedang menjalani turnamen dengan performa pertahanan yang luar biasa.

Hanya Belgia, di babak perempat final, yang berhasil memberikan tekanan kepada lini pertahanan Spanyol dalam beberapa kesempatan dan menjadi satu-satunya tim yang mampu mencetak gol ke gawang mereka.

Kiper Unai Simon mencatatkan rekor Piala Dunia dengan torehan 649 menit tanpa kebobolan, melampaui rekor milik Walter Zenga yang telah bertahan selama 36 tahun dengan selisih yang cukup jauh.

Selain kehebatan kper Athletic Bilbao itu, di depannya juga ada peran Rodri sebagai jenderal lini tengah, dan Pau Cubarsi yang baru berusia 19 tahun, yang tidak membiarkan lawan menciptakan peluang di daerahnya.

Aura Juara Pelatih

Sejak mengambil alih jabatan pelatih pada Januari 2023, Luis de la Fuente telah memimpin 48 pertandingan internasional. Ia hanya menelan tiga kekalahan dan tidak satu pun terjadi di turnamen besar.

Sejak kekalahan 0–2 dari Skotlandia di kualifikasi Euro pada Maret 2023, Spanyol hanya kalah di final Nations League melawan Portugal musim panas tahun lalu, itu pun melalui adu penalti.

Dalam permainan terbuka, sang juara Eropa tetap tak terkalahkan selama lebih dari tiga tahun di bawah asuhan de la Fuente.

“Saya terus dibuat kagum oleh kemampuan tim ini. Kami terus berkembang, dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, dari satu kompetisi ke kompetisi berikutnya,” ujar de la Fuente.

“Ini bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah soal komitmen, bakat, pengorbanan, dan keinginan untuk menjadi versi diri kami yang lebih baik lagi,” imbuhnya.

De la Fuente berperan besar dalam menanamkan pola pikir di timnya. Ia telah bekerja untuk Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) selama 13 tahun dan sebelumnya melatih banyak pemain timNAS saat ini di level usia muda. Ia menanamkan nilai-nilainya kepada mereka sejak mereka masih remaja.

Bersama Rodri dan Merino, misalnya, ia memenangkan Euro U-19 pada tahun 2015. Empat tahun kemudian, Oyarzabal dan Dani Olmo masuk susunan pemain utama saat tim U-21 Spanyol menjuarai kompetisi Eropa.

Penyerang Manchester City, Erling Haaland, kembali menjadi sorotan di Amerika Serikat setelah tampil impresif bersama Timnas Norwegia di Piala Dunia 2026.

Popularitas bomber berusia 23 tahun itu semakin meningkat usai sebuah video viral memperlihatkan seorang remaja perempuan di Amerika yang memiliki kemiripan wajah dengan Haaland.

Momen unik tersebut membuat nama sang striker semakin dikenal oleh publik Negeri Paman Sam.

Meningkatnya pamor Haaland di Amerika pun memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan dirinya mengikuti jejak sejumlah bintang Eropa yang memilih melanjutkan karier di Major League Soccer (MLS).

Haaland Belum Memikirkan Hijrah ke MLS

Meski terus dikaitkan dengan kompetisi di Amerika Serikat (AS), Erling Haaland menegaskan bahwa dirinya belum pernah mempertimbangkan untuk bermain di MLS dalam waktu dekat.

Dalam wawancara yang dikutip talkSPORT, striker asal Norwegia itu mengaku memang beberapa kali mengunjungi Amerika untuk berlibur maupun menjalani tur pramusim. Namun, ia belum memiliki rencana meninggalkan sepak bola Eropa.

“Saya tidak pernah memikirkan itu. Saya baru dua kali ke sana,” kata Haaland.

Pernyataan tersebut sekaligus meredam spekulasi yang berkembang setelah popularitasnya terus meningkat di Amerika.

Masih Ingin Bersinar Bersama Manchester City

Erling Haaland menegaskan fokus utamanya saat ini adalah terus bermain di level tertinggi bersama Manchester City.

Menurutnya, usia yang masih 23 tahun membuatnya merasa belum saatnya memikirkan kompetisi seperti MLS, yang selama ini sering menjadi tujuan para pemain Eropa pada penghujung karier mereka.

“Saya masih muda. Banyak pemain pindah ke MLS untuk bermain di sana, tetapi saya bermain untuk Manchester City. Saya baru saja berada di sini,” ujar Haaland.

Ucapan itu memperlihatkan komitmennya untuk terus berkembang bersama klub Premier League tersebut.

Kontrak Panjang Bikin Masa Depan Haaland Tetap di Eropa

Peluang Haaland pindah ke Amerika Serikat dalam waktu dekat memang terlihat kecil. Selain masih berada di usia emas sebagai pesepak bola, ia juga masih terikat kontrak jangka panjang bersama Manchester City.

Meski tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti bermain di MLS, Haaland saat ini memilih memusatkan perhatian untuk meraih prestasi bersama The Citizens.

Dengan perkembangan pesat sepak bola di Amerika Serikat, MLS memang berpotensi menjadi destinasi menarik bagi para pemain top dunia di masa depan.

Namun, untuk saat ini, Haaland menegaskan bahwa seluruh fokusnya masih tertuju pada kariernya bersama Manchester City di kompetisi Eropa.

Manchester United kembali merampungkan perekrutan pemain pada pekan ini. Setelah mengamankan tiga wajah baru, Setan Merah juga menyelesaikan transfer lain yang tidak banyak mendapat sorotan, seperti dilaporkan Manchester Evening News.

MU sempat membutuhkan waktu hampir satu bulan sejak dibukanya bursa transfer musim panas untuk menuntaskan transfer pertama. Namun, dalam sepekan terakhir, sejumlah kesepakatan berhasil diselesaikan secara beruntun.

Sebelumnya, Setan Merah hampir mendapatkan gelandang Atalanta, Ederson. Meski sudah mencapai kesepakatan biaya transfer dengan klub Serie A tersebut, proses kepindahannya batal terlaksana karena muncul kekhawatiran terkait hasil tes medis sang pemain.

Setelah itu, MU langsung mengalihkan fokus ke target lain di lini tengah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Casemiro setelah kontraknya berakhir, sekaligus menyusul cedera lutut serius yang dialami Manuel Ugarte saat membela Uruguay di Piala Dunia 2026.

Transfer Keempat

Pada akhir pekan lalu, MU berhasil merekrut Andrey Santos dan Youri Tielemans yang sama-sama memiliki pengalaman bermain di Premier League.

Nilai transfer keduanya mencapai total 85 juta paun, angka yang sama dengan biaya yang dikeluarkan Tottenham Hotspur untuk merekrut Mateus Fernandes dari West Ham United.

Selain itu, MU mengamankan jasa kiper Karl Darlow dengan status bebas transfer.

Di balik perekrutan untuk tim utama, MU juga menyelesaikan transfer gelandang asal Kolombia, Cristian Orozco.

Menurut Manchester Evening News dilansir Give Me Sport, kesepakatan itu resmi dituntaskan pada Senin (13-7-2026) waktu setempat, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-18.

Orozco Resmi Gabung

Jurnalis transfer, Fabrizio Romano, sebelumnya mengungkapkan pada Oktober lalu bahwa MU telah menyepakati biaya transfer senilai satu juta dolar AS dengan Fortaleza untuk memboyong Orozco mulai musim panas 2026.

Kepindahan itu baru dapat diwujudkan setelah sang pemain genap berusia 18 tahun.

Orozco akan bergabung bersama skuad akademi Manchester United di Carrington. Ia juga berpeluang tampil dalam laga uji coba melawan TSV 1860 Munich dan FC Nurnberg di Jerman.

MU disebut akan memberikan waktu bagi Orozco untuk beradaptasi, termasuk mengikuti pelajaran bahasa Inggris.

Meski demikian, ia sudah mengenal beberapa pemain akademi setelah sempat berada di Carrington pada Desember lalu.

Bidik Tiga Pemain Lagi

Laporan Samuel Luckhurst menyebut MU belum berhenti bergerak di bursa transfer, meski telah merampungkan empat perekrutan pekan ini.

MU masih ingin mendatangkan seorang gelandang tengah menyusul cedera Ugarte. Sejumlah nama yang belakangan dikaitkan dengan Setan Merah, antara lain Manu Kone dari AS Roma, Eduardo Camavinga dari Real Madrid, serta Alex Scott dari Bournemouth.

Selain itu, MU ingin merekrut penyerang sayap kiri apabila Marcus Rashford meninggalkan Old Trafford. Nama Crysencio Summerville menjadi satu di antara yang paling sering disebut dalam beberapa pekan terakhir.

Sebelumnya, Give Me Sport melaporkan MU telah membuka pembicaraan antarklub dengan West Ham United terkait kemungkinan transfer pemain Timnas Belanda tersebut.

MU juga masih mengincar tambahan seorang penyerang. Langkah itu disebut berpotensi dipercepat apabila Joshua Zirkzee meninggalkan Old Trafford.

Terungkap! Pelatih Mesir Jelaskan Arti Tanda ‘X’ dan Insiden dengan Lionel Messi

BolaIndonesia – Atmosfer panas mewarnai duel babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir. Meski The Pharaohs harus mengakhiri perjalanan setelah kalah tipis 2-3 dari sang juara bertahan, sorotan justru tertuju pada insiden yang melibatkan pelatih Mesir dengan kapten Argentina, Lionel Messi.

Beberapa saat setelah peluit panjang dibunyikan, kamera televisi menangkap momen adu mulut antara keduanya. Rekaman tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan memunculkan berbagai spekulasi mengenai penyebab perselisihan tersebut.

Kini, pelatih Mesir akhirnya buka suara. Ia menjelaskan makna dari gestur berbentuk huruf “X” yang sempat ia tunjukkan ke arah lapangan, sekaligus memberikan klarifikasi mengenai perdebatan singkat dengan Messi.

Tanda ‘X’ Bukan Sindiran untuk Lionel Messi

Dalam konferensi pers sehari setelah pertandingan, pelatih Mesir menegaskan bahwa gestur “X” sama sekali bukan ditujukan untuk mengejek Lionel Messi ataupun Argentina.

Menurutnya, tanda tersebut merupakan kode internal yang biasa digunakan staf pelatih Mesir untuk menginstruksikan perubahan sistem permainan ketika tim kehilangan penguasaan bola.

“Saya melihat banyak orang salah mengartikan gestur itu. Itu bukan pesan kepada Messi ataupun Argentina. Tanda ‘X’ adalah kode kami untuk mengubah bentuk pertahanan dan menghentikan ruang antarlini,” jelas sang pelatih.

Ia mengaku cukup terkejut ketika gestur tersebut kemudian menjadi bahan perdebatan di media sosial. Banyak pihak mengira dirinya sedang memberikan sindiran kepada Messi setelah beberapa keputusan wasit dianggap merugikan Mesir.

Padahal, menurutnya, kode tersebut telah digunakan sejak fase grup dan menjadi bagian dari komunikasi nonverbal antara staf pelatih dengan para pemain.

Mengapa Adu Mulut dengan Lionel Messi Terjadi?

Pelatih Mesir juga mengungkap penyebab adu argumen yang sempat terjadi dengan Lionel Messi seusai pertandingan.

Ia mengatakan situasi berlangsung dalam tensi yang sangat tinggi. Kedua tim baru saja menjalani pertandingan yang melelahkan dan penuh tekanan.

“Saya menghampiri area teknis sambil berbicara kepada ofisial. Messi mungkin mengira saya sedang mengomentari sesuatu tentang dirinya. Kami saling bertukar kata selama beberapa detik, tetapi semuanya selesai dengan cepat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tidak ada penghinaan ataupun tindakan yang melewati batas sportivitas.

Bahkan beberapa menit setelah suasana mereda, kedua pihak kembali berjabat tangan sebelum meninggalkan lapangan.

Lionel Messi Tetap Menunjukkan Jiwa Kepemimpinan

Di sisi lain, Lionel Messi kembali menjadi sosok penting bagi Argentina dalam pertandingan tersebut.

Kapten Albiceleste tampil sebagai motor serangan sekaligus memberikan ketenangan ketika Mesir beberapa kali mampu menyamakan kedudukan.

Selepas laga, Messi memilih tidak memperpanjang polemik yang berkembang.

Ia hanya mengatakan bahwa pertandingan sebesar babak gugur Piala Dunia memang selalu dipenuhi emosi dan ketegangan.

Bagi Messi, hal terpenting adalah kedua tim tetap menghormati satu sama lain setelah pertandingan berakhir.

Sikap tersebut mendapat banyak apresiasi karena dinilai menunjukkan kedewasaan seorang pemimpin di tengah tekanan kompetisi terbesar sepak bola dunia.

Mesir Tetap Pulang dengan Kepala Tegak

Walaupun tersingkir di babak 16 besar, performa Mesir sepanjang Piala Dunia 2026 mendapat banyak pujian.

Mereka mampu lolos dari fase grup yang berat sebelum memberikan perlawanan sengit kepada Argentina hingga menit-menit akhir.

Pelatih Mesir mengaku bangga terhadap perjuangan para pemainnya.

Menurutnya, pengalaman menghadapi tim sekelas Argentina akan menjadi modal penting bagi regenerasi sepak bola Mesir dalam beberapa tahun mendatang.

“Kami memang kalah, tetapi kami menunjukkan karakter. Saya ingin publik mengingat perjuangan para pemain, bukan kontroversi setelah pertandingan,” katanya.

Fokus Argentina Beralih ke Babak Berikutnya

Sementara itu, Argentina berhasil mengamankan tiket ke perempat final dan menjaga peluang mempertahankan gelar Piala Dunia.

Pelatih Mesir pun menutup pembahasan mengenai insiden dengan Lionel Messi. Ia menegaskan tidak ada masalah pribadi di antara mereka dan berharap isu tersebut tidak terus dibesar-besarkan.

“Messi adalah pemain luar biasa. Kami sama-sama ingin menang sehingga emosi muncul sesaat. Setelah itu semua selesai. Saya menghormatinya sebagai legenda sepak bola,” tutupnya.

Dengan klarifikasi tersebut, polemik mengenai tanda “X” dan adu mulut dengan Lionel Messi tampaknya mulai menemukan titik terang. Kini perhatian publik kembali tertuju pada persaingan di lapangan, sementara Argentina melanjutkan langkah menuju perebutan gelar Piala Dunia 2026 dan Mesir pulang dengan kebanggaan atas perjuangan yang telah mereka tunjukkan.

Idnews.top – Polemik yang muncul setelah laga Argentina melawan Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026 akhirnya mendapat penjelasan langsung dari Hossam Hassan. Pelatih Mesir itu mengungkap makna di balik gestur ‘X’ yang sempat memicu berbagai spekulasi usai pertandingan.

Momen tersebut terjadi pada menit ke-98 ketika Hassan menyilangkan kedua tangannya ke arah wasit Francois Letexier. Isyarat itu menjadi sorotan karena dalam beberapa kesempatan sebelumnya, gestur ‘X’ identik dengan laporan dugaan tindakan rasis di lapangan.

Situasi pertandingan memang berlangsung dalam tensi tinggi. Mesir yang sempat unggul 2-0 harus menerima kenyataan tersingkir setelah Argentina membalikkan keadaan dan menang 3-2 melalui gol Cristiano Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez dalam rentang 13 menit.

Kontroversi keputusan wasit turut memperkeruh suasana. Mesir memprotes pembatalan gol Mostafa Ziko serta menilai terjadi pelanggaran terhadap Mohamed Salah dalam proses gol kemenangan yang dicetak Enzo Fernandez pada menit ke-93.

Hossam Hassan Tegaskan Gestur ‘X’ Bukan Terkait Isu Rasisme

Lebih dari sepekan setelah pertandingan berakhir, Hossam Hassan akhirnya memberikan klarifikasi mengenai aksi yang dilakukannya di pinggir lapangan. Ia menegaskan bahwa gestur tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan dugaan tindakan rasis.

Menurut Hassan, isyarat itu merupakan bentuk protes terhadap kepemimpinan wasit yang dinilainya merugikan Mesir. Ia merasa beberapa keputusan penting sepanjang pertandingan tidak berpihak kepada timnya.

Ketegangan di bangku cadangan Mesir memang sempat meningkat setelah serangkaian keputusan kontroversial. Bahkan, tayangan pertandingan memperlihatkan saudara kembar Hossam Hassan yang juga menjadi asistennya, Ibrahim Hassan, sempat menurunkan tangan sang pelatih setelah gestur tersebut dilakukan.

“Isyarat itu bukan rasis. Saya memberi tahu , ‘Anda tidak adil’. datang kepada saya dan berkata, ‘Mengapa? Mengapa? Mengapa?’ Dan saya tidak tahu apa lagi,” ucap Hossam Hassan pada The Sun.

Hossam Hassan Ungkap Momen Adu Argumen dengan Lionel Messi

Selain menjelaskan maksud gestur tersebut, Hossam Hassan juga mengungkap adanya interaksi langsung dengan Lionel Messi seusai insiden itu. Menurutnya, kapten Argentina menghampiri dirinya dan mempertanyakan alasan di balik protes yang dilakukan kepada wasit.

Meski sempat terjadi adu argumen singkat, pelatih berusia 59 tahun itu mengaku memilih tidak memperpanjang perdebatan. Ia tetap menaruh rasa hormat kepada Messi sebagai salah satu pesepak bola terbaik dalam sejarah.

“Itu adalah salah satu dari sedikit momen ketika Messi terlibat adu mulut selama pertandingan. Dan dia akhirnya menangis karena sedang mengalami masa sulit secara emosional,” kata Hossam Hassan.

“Kami adalah tim yang sangat tangguh dan kami menempatkan mereka dalam posisi yang sulit. Saya mencoba untuk tidak menanggapinya dan menghindari gesekan verbal di antara kami, sebagai bentuk penghormatan terhadap kariernya,” tegasnya.

Inggris vs Argentina 1-2: Messi Jadi Pembeda, Albiceleste Tantang Spanyol di Final Piala Dunia 2026

BolaIndonesia – Timnas Argentina memastikan langkah ke final Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Inggris dengan skor dramatis 2-1 pada laga semifinal yang berlangsung di Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB. Albiceleste menunjukkan mental juara dengan membalikkan keadaan lewat dua gol pada menit-menit akhir pertandingan.

Kemenangan ini membuat Argentina akan berhadapan dengan Spanyol di partai puncak Piala Dunia 2026. Sebaliknya, Inggris harus mengubur mimpi mengakhiri puasa gelar dunia dan akan menghadapi Prancis dalam perebutan tempat ketiga. Hasil tersebut sekaligus memastikan final impian antara dua raksasa sepak bola dunia, Spanyol kontra Argentina.

Inggris Sempat Menguasai Situasi Lewat Anthony Gordon

Sejak peluit pertama dibunyikan, pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi. Inggris tampil disiplin dengan organisasi permainan yang rapi sehingga mampu meredam kreativitas Lionel Messi dan rekan-rekannya sepanjang babak pertama.

Setelah skor tetap 0-0 hingga turun minum, Inggris akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-55. Anthony Gordon sukses memanfaatkan peluang di dalam kotak penalti untuk membawa The Three Lions unggul 1-0.

Gol tersebut membuat kepercayaan diri pasukan Thomas Tuchel meningkat. Inggris bahkan beberapa kali mengancam lewat serangan balik cepat yang dipimpin Jude Bellingham dan Harry Kane. Namun sejumlah peluang gagal dikonversi menjadi gol kedua yang sangat dibutuhkan.

Messi Jadi Pembeda Saat Argentina Meningkatkan Tekanan

Dalam posisi tertinggal, Argentina mulai meningkatkan intensitas serangan. Lionel Messi mengambil peran lebih besar dengan bergerak lebih bebas dari sisi kanan, menciptakan ruang bagi lini depan Albiceleste.

Tekanan tanpa henti akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-85. Enzo Fernandez melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang gagal dihentikan kiper Inggris. Gol spektakuler tersebut membuat skor berubah menjadi 1-1 sekaligus membakar semangat Argentina untuk terus menyerang.

Momentum pertandingan pun berubah total. Inggris yang sebelumnya tampil percaya diri mulai kehilangan kendali permainan akibat terus ditekan oleh lini tengah Argentina.

Lautaro Martinez Jadi Pahlawan di Masa Injury Time

Ketika laga tampak akan berlanjut ke babak tambahan waktu, Argentina justru memberikan pukulan telak.

Memasuki masa injury time, Lionel Messi kembali menunjukkan kualitasnya sebagai pemain penentu. Umpan silang akurat yang dilepaskannya berhasil disambut sundulan Lautaro Martinez yang masuk sebagai pemain pengganti. Bola meluncur deras ke gawang Inggris dan membawa Argentina berbalik unggul 2-1.

Gol tersebut langsung memicu selebrasi besar para pemain Argentina, sementara kubu Inggris terlihat terpukul karena kemenangan yang sudah berada di depan mata akhirnya sirna dalam hitungan menit. Argentina pun mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang dibunyikan dan memastikan tiket menuju final.

Final Besar Menanti: Spanyol vs Argentina

Keberhasilan ini membawa Argentina melaju ke final Piala Dunia untuk kedua edisi secara beruntun. Sang juara bertahan kini hanya tinggal selangkah lagi untuk mempertahankan mahkota dunia.

Di sisi lain, Spanyol sudah lebih dahulu mengamankan tempat di final usai mengalahkan Prancis 2-0. Duel antara Spanyol dan Argentina diprediksi menjadi salah satu final paling menarik dalam sejarah Piala Dunia modern.

Pertemuan tersebut juga akan mempertemukan dua generasi berbeda. Argentina masih mengandalkan pengalaman Lionel Messi yang terus tampil menentukan, sementara Spanyol datang dengan skuad muda bertalenta yang dipimpin Lamine Yamal.

Dengan performa impresif kedua tim sepanjang turnamen, final Piala Dunia 2026 dipastikan menghadirkan duel penuh kualitas, strategi, dan gengsi. Apakah Argentina mampu mempertahankan gelarnya, atau justru Spanyol yang akan mengangkat trofi dunia untuk kedua kalinya? Jawabannya akan ditentukan pada partai final akhir pekan nanti.

Timnas Argentina punya kans besar mempertahankan gelarnya di Piala Dunia 2026. Tim Tango tinggal selangkah lagi menuju gelar kedua setelah memastikan lolos ke partai final.

Lionel Messi dan kawan-kawan mengunci tiket ke partai puncak setelah menundukkan Inggris dengan skor 2-1 pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB.

Argentina tertinggal lebih dulu pada pertandingan itu. Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55.

Namun, setelah itu Argentina benar-benar mendominasi permainan. Mereka terus menggempur barisan pertahanan Inggris yang berujung dua gol balasan di pengujung babak kedua lewat Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Alhasil, kemenangan itu mengantarkan Inggris masuk geng elite.

Menurut catatan Squawka, Argentina kembali berhasil menembus final Piala Dunia secara beruntun.

La Albiceleste menjadi tim keenam dalam sejarah yang mampu mencapai final Piala Dunia berikutnya setelah berstatus sebagai juara bertahan.

Daftar Geng Elite

Berikut daftar juara bertahan yang sukses melaju ke final edisi selanjutnya:

Italia: Juara 1934, Juara 1938
Brasil: Juara 1958, Juara 1962
Argentina: Juara 1986, Runner-up 1990
Brasil: Juara 1994, Runner-up 1998
Prancis: Juara 2018, Runner-up 2022
Argentina: Juara 2022, Finalis 2026
Kini, Argentina berpeluang mengukir sejarah dengan mempertahankan gelar juara Piala Dunia jika mampu mengalahkan Spanyol pada partai final Piala Dunia 2026.