
BolaIndonesia – Portugal memang berhasil mengamankan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Namun, perjalanan Seleção das Quinas sejauh ini justru memunculkan banyak pertanyaan. Tim asuhan Roberto Martinez dinilai belum mampu menampilkan permainan menyerang yang mengalir meski dihuni sederet pemain bintang seperti Bruno Fernandes, Bernardo Silva, Rafael Leao, Joao Felix, hingga Cristiano Ronaldo.
Dalam tiga pertandingan fase grup, Portugal hanya mampu meraih satu kemenangan meyakinkan saat menghancurkan Uzbekistan 5-0. Di dua laga lainnya, mereka ditahan imbang DR Kongo dan Kolombia. Hasil tersebut membuat Portugal finis sebagai runner-up Grup K sehingga harus menghadapi Kroasia di babak gugur.
Cristiano Ronaldo Jadi Sorotan Utama
Tak dapat dimungkiri, nama Cristiano Ronaldo masih menjadi magnet terbesar Portugal. Namun di balik status legenda hidup tersebut, muncul perdebatan besar mengenai dampaknya terhadap performa tim.
Sejumlah pengamat menilai Portugal justru kehilangan agresivitas ketika seluruh permainan dipusatkan kepada Ronaldo. Di usia 41 tahun, sang kapten tentu tak lagi memiliki mobilitas seperti satu dekade lalu. Intensitas pressing menurun, pergerakan tanpa bola berkurang, dan rekan-rekannya sering memilih mengirim bola ke arah Ronaldo dibanding mencari solusi yang lebih efektif.
Akibatnya, pola serangan Portugal menjadi mudah ditebak lawan. Banyak peluang berakhir sia-sia karena aliran bola terlalu bergantung kepada sang megabintang. Kritik serupa juga datang dari sejumlah mantan pemain dan analis yang menilai Portugal terlalu sibuk “mencari Ronaldo” dibanding memainkan sepak bola kolektif.
Efek Psikologis yang Sulit Dihindari
Bukan berarti Ronaldo tampil buruk di setiap pertandingan. Ia bahkan sempat membungkam kritik melalui dua gol saat Portugal membantai Uzbekistan. Namun, performa impresif itu belum cukup menghapus kesan bahwa Portugal masih terlalu bergantung kepada dirinya.
Keberadaan Ronaldo menciptakan tekanan psikologis tersendiri. Banyak pemain muda terlihat enggan mengambil keputusan sendiri ketika berada di sepertiga akhir lapangan. Alih-alih menembak atau menusuk ke kotak penalti, mereka lebih sering memilih mengalirkan bola kepada Ronaldo.
Padahal Portugal memiliki banyak pemain kreatif yang mampu menjadi pembeda. Bruno Fernandes terkenal dengan visi umpannya, Bernardo Silva piawai membuka ruang sempit, sementara Rafael Leao memiliki kecepatan luar biasa untuk menyerang dari sisi lapangan.
Roberto Martinez Dihadapkan pada Dilema Besar
Pelatih Roberto Martinez kini menghadapi tantangan yang tidak mudah. Di satu sisi, Ronaldo tetap menjadi ikon, pemimpin ruang ganti, sekaligus pencetak gol berpengalaman. Di sisi lain, Portugal membutuhkan permainan yang lebih cair agar mampu bersaing dengan negara-negara unggulan lainnya.
Mengurangi ketergantungan terhadap Ronaldo bukan berarti mengurangi perannya. Justru Martinez dituntut menemukan keseimbangan agar seluruh potensi lini depan Portugal dapat dimaksimalkan tanpa kehilangan ketajaman sang kapten.
Beberapa analis bahkan menilai fleksibilitas taktik akan menjadi kunci Portugal saat menghadapi Kroasia pada fase gugur nanti. Jika Portugal kembali bermain terlalu bergantung pada Ronaldo, lawan diperkirakan akan lebih mudah mematikan alur serangan mereka.
Bukan Salah Ronaldo Sepenuhnya
Menyalahkan Cristiano Ronaldo sepenuhnya tentu tidak adil. Ia tetap menjadi pencetak gol, pemimpin, sekaligus figur yang dihormati seluruh skuad Portugal.
Masalah sebenarnya terletak pada cara tim memainkan sepak bola. Ketika seluruh pemain merasa harus selalu mencari Ronaldo di setiap serangan, kreativitas tim otomatis berkurang. Portugal memiliki kualitas individu luar biasa, tetapi kualitas tersebut belum sepenuhnya terlihat karena permainan masih terlalu berpusat pada satu sosok.
Jika Roberto Martinez mampu membebaskan para pemain untuk lebih berani mengambil keputusan sendiri, Portugal berpotensi menjadi salah satu tim paling berbahaya di babak gugur.
Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Laga kontra Kroasia akan menjadi ujian terbesar Portugal di Piala Dunia 2026. Tim yang mampu menemukan keseimbangan antara pengalaman Cristiano Ronaldo dan kreativitas generasi baru akan memiliki peluang besar melangkah lebih jauh.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Ronaldo masih layak menjadi starter. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah Portugal mampu bermain sebagai sebuah tim, bukan sekadar tim yang terus mencari Cristiano Ronaldo di setiap serangan.
Jawaban atas pertanyaan itu kemungkinan akan menentukan seberapa jauh langkah Portugal dalam perburuan trofi Piala Dunia 2026.















