
BolaIndonesia – Timnas Inggris gagal mengamankan kemenangan saat menghadapi Ghana pada laga kedua Grup L Piala Dunia 2026. Bermain di Boston Stadium, Selasa (23/6/2026) waktu setempat, skuad asuhan Thomas Tuchel harus puas bermain imbang tanpa gol 0-0 setelah menemui tembok kokoh pertahanan Black Stars. Meski hasil akhir tidak sesuai harapan, Jude Bellingham tetap menjadi salah satu pemain paling menonjol sepanjang pertandingan.
Gelandang Real Madrid tersebut kembali memperlihatkan kualitasnya sebagai motor permainan Inggris. Pergerakan tanpa bola, visi mengalirkan umpan, hingga kemampuannya menjaga tempo membuat lini tengah The Three Lions tetap mendominasi sepanjang laga.
Mendominasi Lini Tengah Sejak Menit Awal
Sejak peluit pertama dibunyikan, Inggris langsung mengambil alih kendali permainan. Statistik menunjukkan mereka menguasai hampir 79 persen penguasaan bola serta melepaskan 19 tembakan sepanjang pertandingan. Sayangnya, dominasi tersebut gagal dikonversi menjadi gol berkat disiplin pertahanan Ghana yang tampil luar biasa.
Di tengah kebuntuan tersebut, Jude Bellingham menjadi pemain yang paling sering membangun serangan dari lini kedua. Ia beberapa kali membuka ruang bagi Harry Kane, Anthony Gordon, maupun Noni Madueke melalui umpan-umpan progresif yang memecah lini pertahanan Ghana.
Meski tidak mencetak gol ataupun assist seperti saat menghadapi Kroasia, kontribusi Bellingham tetap terasa dalam hampir seluruh fase permainan Inggris.
Ghana Bermain Sangat Disiplin
Ghana tampil dengan pendekatan berbeda dibanding laga sebelumnya. Pelatih Carlos Queiroz menerapkan blok pertahanan rendah yang membuat Inggris kesulitan menemukan ruang di area kotak penalti.
Setiap kali Bellingham menerima bola di area tengah, dua hingga tiga pemain Ghana langsung menutup ruang geraknya. Strategi tersebut terbukti efektif membatasi kreativitas Inggris di sepertiga akhir lapangan.
Walaupun demikian, Bellingham masih mampu beberapa kali melakukan penetrasi yang memaksa lini belakang Ghana bekerja ekstra keras hingga peluit panjang dibunyikan.
Mentalitas Pemimpin Kembali Terlihat
Selain kontribusi teknis, Bellingham kembali memperlihatkan karakter kepemimpinannya. Ia terus memberi instruksi kepada rekan-rekannya dan berusaha menjaga intensitas permainan ketika Inggris mulai frustrasi menghadapi rapatnya pertahanan lawan.
Emosi sempat memuncak menjelang turun minum ketika terjadi ketegangan antara Bellingham dan kubu Ghana. Namun insiden tersebut tidak memengaruhi performanya di babak kedua hingga akhirnya digantikan setelah Tuchel melakukan sejumlah perubahan taktik.
Layak Menjadi Man of the Match?
Meski ada penilaian media yang memilih bek Inggris Marc Guehi sebagai pemain terbaik pertandingan, banyak pengamat dan pendukung menilai Jude Bellingham tetap menjadi sosok yang paling berpengaruh dalam permainan Inggris karena konsistensinya mengendalikan lini tengah. Bahkan diskusi di kalangan suporter menunjukkan tidak ada pemain yang benar-benar tampil dominan pada laga yang berakhir tanpa gol tersebut.
Jika melihat keseluruhan kontribusi sepanjang turnamen, Bellingham memang masih menjadi figur sentral dalam permainan Inggris. Setelah tampil gemilang saat mengalahkan Kroasia, ia kembali menunjukkan kualitas sebagai gelandang modern yang mampu menyerang sekaligus bertahan.
Fokus ke Laga Penentuan
Hasil imbang ini membuat persaingan Grup L masih terbuka. Inggris tetap berada dalam posisi yang baik untuk lolos ke babak 16 besar, tetapi mereka wajib meraih hasil positif saat menghadapi Panama pada pertandingan terakhir grup.
Thomas Tuchel dipastikan berharap Jude Bellingham kembali menjadi pembeda di laga tersebut. Dengan kreativitas, stamina, dan mental juara yang dimilikinya, gelandang berusia 22 tahun itu masih menjadi senjata utama The Three Lions dalam perburuan gelar Piala Dunia 2026.
