Persebaya Surabaya meraih kemenangan tipis 1-0 saat menghadapi PSMS Medan dalam laga kedua Grup B Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (29/7/2026) malam.
Satu-satunya gol kemenangan Persebaya Surabaya dicetak oleh Yuran Fernandes lewat tandukan yang khas pada menit ke-45. Diogo Ramalho menjadi pemberi assist.
PSMS Medan memberikan perlawanan yang sengit di sepanjang laga. Dalam beberapa kesempatan upaya para pemain Ayam Kinantan membuat lini belakang Persebaya Surabaya kelabakan.
Persebaya Surabaya pun mampu mempertahankan keunggulan 1-0 hingga wasit meniup peluit panjang tanda babak kedua berakhir. Kemenangan ini disambut meriah oleh Bonek yang memadati Stadion Gelora Bung Tomo malam ini.
Mulus ke Semifinal
Kemenangan yang diraih Persebaya Surabaya atas PSMS Medan membuat mereka melaju mulus ke semifinal Piala Presiden 2026. Bajul Ijo mantap menempati posisi teratas sementara Grup B dengan enam poin.
Posisi kedua klasemen sementara Grup B Piala Presiden 2026 ditempati oleh Port FC. Klub asal Thailand itu memiliki empat poin setelah menjalani dua laga.
Persebaya Surabaya dan Port FC akan bertemu pada laga terakhir Grup B Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya pada Sabtu (1/8/2026).
Idnews.top – Chelsea semakin dekat mendapatkan Jordan Henderson pada bursa transfer musim panas ini. Fabrizio Romano menyatakan bahwa The Blues telah mencapai kesepakatan pribadi dengan sang gelandang.
Henderson akan bergabung dengan status bebas transfer setelah sepakat mengakhiri kontraknya bersama Brentford. Gelandang berusia 36 tahun itu disebut akan menandatangani kontrak berdurasi dua tahun.
Romano juga mengungkapkan Henderson dijadwalkan meneken kontraknya pada pekan ini. Dengan begitu, mantan kapten Liverpool tersebut akan segera menjadi bagian dari skuad Chelsea.
Kehadiran Henderson menandai perubahan pendekatan Chelsea di bawah arahan Xabi Alonso. Klub kini mulai mengombinasikan pemain muda dengan sosok berpengalaman untuk memperkuat tim.
Xabi Alonso Ingin Tambah Pengalaman di Skuad
Henderson akan menjadi pemain senior kedua yang direkrut Chelsea setelah Danny Welbeck. Kombinasi keduanya diharapkan meningkatkan pengalaman sekaligus kepemimpinan di ruang ganti.
Xabi Alonso memang mendorong Chelsea untuk mendatangkan pemain yang sudah matang secara pengalaman. Sebelumnya, The Blues sempat mencoba merekrut Granit Xhaka, tetapi gagal mencapai kesepakatan.
Alonso menilai Henderson memiliki karakter pemimpin dan mental juara yang dibutuhkan tim. Pengalaman panjangnya sebagai kapten Liverpool menjadi salah satu alasan utama Chelsea mengejarnya.
Henderson Dinilai Bawa Nilai Tambah
Selama membela Liverpool, Henderson berhasil mengangkat trofi Premier League dan Liga Champions sebagai kapten tim. Rekam jejak tersebut diyakini dapat membantu perkembangan para pemain muda Chelsea.
Chelsea juga disebut masih melanjutkan pembicaraan untuk merekrut Danny Welbeck. Langkah itu memperlihatkan keinginan Alonso menciptakan keseimbangan antara energi pemain muda dan pengalaman para senior.
Meski sebagian suporter mempertanyakan kemampuan Henderson di level tertinggi saat ini, Chelsea tetap yakin dengan kualitasnya. Kepemimpinan, profesionalisme, dan mental pemenangnya dinilai akan memberi dampak positif, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Ada banyak perdebatan yang selalu muncul dalam dunia sepak bola. Siapa pemain terbaik sepanjang masa? Siapa yang paling layak memenangkan Ballon d’Or? Benarkah gol Geoff Hurst benar-benar melewati garis gawang?
Daftarnya nyaris tak ada habisnya, dan untuk sebagian besar pertanyaan tersebut, jawabannya tentu bisa berbeda-beda tergantung sudut pandang masing-masing orang.
Hal yang sama juga berlaku ketika membahas siapa tim terbaik dalam sejarah sepak bola. Selama bertahun-tahun, begitu banyak tim luar biasa yang tidak hanya mengukir warisan prestasi, tetapi dalam beberapa kasus juga memberikan dampak budaya yang melampaui dunia sepak bola.
Karena itulah, menyusun daftar tim-tim terbaik sepanjang masa bukanlah pekerjaan yang mudah.
Namun, berdasarkan riset yang dilakukan OLBG dan dikutip The Sun, Rabu (30/7/2026), para penggemar telah memberikan suara untuk menentukan tim-tim terbaik yang pernah tampil di lapangan hijau.
Hasil pemungutan suara tersebut kemudian menghasilkan daftar 10 tim terbaik sepanjang sejarah sepak bola, yang diurutkan berdasarkan jumlah suara yang diperoleh.
Real Madrid: 1984-1990
Antara 1984 hingga 1990, Real Madrid kembali menikmati salah satu era keemasan mereka yang dipimpin oleh kelompok legendaris “La Quinta del Buitre”, yang beranggotakan Emilio Butragueno, Michel, Miguel Pardeza, Manolo Sanchís, dan Rafael Martín Vazquez.
Dikenal dengan gaya bermain menyerang yang atraktif, Real Madrid mendominasi sepak bola Spanyol pada periode tersebut. Di bawah arahan pelatih Luis Molowny dan Leo Beenhakker, Los Blancos berhasil meraih lima gelar La Liga secara beruntun (1985-1990), dua trofi Piala UEFA (1985 dan 1986), satu Copa del Rey (1989), serta tiga gelar Piala Super Spanyol.
Jauh sebelum era Galacticos, inilah skuad Real Madrid yang lebih dekat dengan akar tradisi klub. Meski tidak dihuni banyak bintang hasil transfer mahal, mereka tetap mampu menunjukkan kehebatan dan mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa.
Prestasi Real Madrid (1984-1990):
La Liga: 5 kali Copa del Rey: 1 kali Copa de la Liga: 1 kali Supercopa de Espana: 3 kali Piala UEFA/UEFA Europa League: 2 kali
Manchester United:1966-1968
Manchester United berhasil bangkit secara luar biasa dari tragedi Munich Air Disaster pada 1958 yang menghancurkan klub. Hanya berselang 10 tahun, Setan Merah mencatat sejarah sebagai klub Inggris pertama yang menjuarai Piala Champions Eropa (European Cup).
Di bawah arahan manajer legendaris Sir Matt Busby, yang juga selamat dari kecelakaan tersebut, Manchester United dibangun kembali dengan perpaduan pemain muda dan senior berpengalaman. Tim ini diperkuat sejumlah bintang seperti George Best, Bobby Charlton (penyintas tragedi Munich), Denis Law, dan Nobby Stiles.
Fakta Menarik: George Best, Denis Law, dan Bobby Charlton menjadi satu-satunya trio dalam sejarah sepak bola yang sama-sama memenangkan Ballon d’Or saat masih membela klub yang sama.
Keberhasilan menjuarai European Cup 1968 setelah mengalahkan Benfica di Wembley, markas sepak bola Inggris, menjadi puncak kisah kebangkitan MU dari tragedi menjadi kejayaan. Momen tersebut juga dianggap sebagai salah satu fondasi yang membentuk kebesaran klub berjuluk Setan Merah hingga saat ini.
Prestasi Manchester United (1966-1968)
Divisi Pertama Inggris (First Division): 1 kali FA Charity Shield: 1 kali European Cup (Liga Champions): 1 kali
Manchester City: 2022-2023
Musim 2022/2023 menjadi tonggak bersejarah bagi Manchester City setelah berhasil menjadi tim kedua dalam sejarah sepak bola Inggris yang meraih treble winners. Di bawah arahan Pep Guardiola, The Citizens tampil luar biasa dengan permainan taktis yang brilian dan konsistensi yang mengesankan sepanjang musim.
Manchester City sukses menyalip Arsenal dalam perburuan gelar Premier League, kemudian mengalahkan Manchester United dengan skor 2-1 di final Piala FA, sebelum menuntaskan musim impian dengan menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya lewat kemenangan 1-0 atas Inter Milan.
Di lini depan, Erling Haaland menjadi sosok paling menonjol setelah mencetak 52 gol di semua kompetisi, sekaligus membuktikan diri sebagai rekrutan terbaik musim itu. Ia mendapat dukungan penting dari Kevin De Bruyne dan Rodri, yang menjadi motor permainan Manchester City.
Keberhasilan meraih treble sekaligus mengakhiri penantian panjang City untuk mengangkat trofi Liga Champions. Pencapaian tersebut juga mengukuhkan Manchester City sebagai salah satu klub terbaik di dunia.
Prestasi Manchester City (2022/2023)
Premier League Piala FA (FA Cup) Liga Champions (Champions League)
Arsenal: 2003-2004
Musim 2003/2004 menjadi salah satu periode paling bersejarah dalam perjalanan Arsenal. Di bawah arahan Arsene Wenger, The Gunners menjuarai Premier League tanpa sekalipun menelan kekalahan, sehingga mendapat julukan legendaris “The Invincibles”.
Tim racikan Wenger dianggap sebagai simbol masuknya filosofi sepak bola modern Eropa ke Inggris. Bahkan, pelatih asal Prancis itu kerap disebut sebagai sosok yang mengubah budaya sepak bola Inggris, baik dari segi gaya bermain maupun pendekatan profesional terhadap tim.
Arsenal diperkuat sederet pemain bintang seperti Thierry Henry, yang menjadi top skor Premier League musim itu. Selain Henry, ada kapten Patrick Vieira, Dennis Bergkamp, Robert Pires, hingga Sol Campbell, yang menuai kontroversi setelah pindah dari Tottenham Hotspur. Kepindahan Campbell terbukti menjadi keputusan tepat karena ia menjadi bagian penting dari kesuksesan Arsenal.
Hingga kini, banyak pihak masih menganggap skuad The Invincibles sebagai salah satu, bahkan mungkin tim terbaik dalam sejarah Premier League. Namun, fakta bahwa mereka hanya meraih satu trofi selama rangkaian 49 pertandingan tak terkalahkan membuat posisi mereka dalam daftar tim terbaik sepanjang masa sedikit tertahan.
Prestasi Arsenal (2003/2004):
Premier League (Juara tanpa terkalahkan)
Spanyol: 2008-2012
Jika ingin melihat seperti apa dominasi di level sepak bola internasional, maka lihatlah Timnas Spanyol pada periode 2008 hingga 2012. Mengusung gaya bermain tiki-taka yang mulai dipopulerkan Pep Guardiola bersama Barcelona, La Roja tampil nyaris tak tersentuh ketika tim-tim lain kesulitan menghadapi permainan penguasaan bola mereka.
Spanyol berhasil menjuarai tiga turnamen besar secara beruntun, yakni Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012. Pencapaian tersebut membuat mereka menjadi satu-satunya tim nasional yang mampu mencatatkan prestasi seperti itu.
Kekuatan utama Spanyol terletak di lini tengah yang dipenuhi pemain kelas dunia. Mereka memiliki banyak pilihan, mulai dari Xavi, Andrés Iniesta, Cesc Fàbregas, Sergio Busquets, hingga Xabi Alonso. Sementara di lini belakang, hadir nama-nama seperti Sergio Ramos, Gerard Piqué, dan Carles Puyol, yang menjadikan pertahanan La Roja sangat sulit ditembus lawan.
Generasi Spanyol saat ini, yang diperkuat pemain seperti Rodri dan Lamine Yamal, juga mulai menorehkan prestasi setelah menjuarai Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Jika mampu memenangkan satu turnamen besar lagi, mereka berpeluang menyamai warisan luar biasa yang ditinggalkan generasi emas 2008-2012.
Prestasi Spanyol (2008-2012)
Juara Piala Eropa (UEFA Euro): 2 kali (2008 dan 2012) Juara Piala Dunia FIFA: 1 kali (2010)
Real Madrid: 1955-1960
Jika ada satu tim yang benar-benar mendefinisikan dominasi sepak bola Eropa pada era awal kompetisi antarklub, maka jawabannya adalah Real Madrid periode 1955 hingga 1960. Los Blancos mencatat sejarah dengan menjuarai lima edisi pertama European Cup (kini Liga Champions) secara beruntun, sebuah rekor yang hingga kini belum mampu disamai klub mana pun.
Dipimpin legenda Alfredo Di Stéfano, Real Madrid diperkuat sederet pemain hebat seperti Ferenc Puskás, Paco Gento, Raymond Kopa, dan kemudian José Santamaría. Mereka dikenal memainkan sepak bola menyerang yang atraktif, cepat, dan penuh kreativitas.
Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final European Cup 1960, ketika Real Madrid membantai Eintracht Frankfurt dengan skor 7-3. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan terbaik dalam sejarah sepak bola.
Era keemasan ini menjadikan Real Madrid sebagai simbol sepak bola Eropa sekaligus meletakkan fondasi bagi status mereka sebagai salah satu klub terbesar dan paling sukses di dunia.
Prestasi Real Madrid (1955-1960)
La Liga: 3 gelar European Cup (Liga Champions): 5 gelar Piala Interkontinental: 1 gelar
Liverpool: 1975-1984
Pada periode 1975 hingga 1984, Liverpool membangun salah satu dinasti paling dominan dalam sejarah sepak bola. Di bawah arahan Bob Paisley, yang kemudian diteruskan Joe Fagan, The Reds menguasai seni meraih kemenangan dengan cara yang tenang, konsisten, dan efektif, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.
Selama kurun waktu tersebut, Liverpool sukses meraih tujuh gelar Divisi Pertama Inggris (First Division), tiga trofi European Cup (1977, 1978, dan 1981), satu Piala UEFA (1976), serta empat gelar Piala Liga Inggris (League Cup) secara beruntun.
Skuad Liverpool saat itu dipenuhi para pemain legendaris. Ada Kenny Dalglish dengan kecerdasan bermainnya, Graeme Souness yang tangguh di lini tengah, Kevin Keegan dengan semangat juangnya, Ian Rush sebagai mesin gol, serta duet Alan Hansen dan Ray Clemence yang menjadi pilar kokoh di lini pertahanan.
Liverpool pada era tersebut tidak sekadar mengoleksi trofi. Mereka menjadi simbol dominasi dan menetapkan standar kesuksesan yang hanya mampu disamai oleh sedikit klub hingga saat ini.
Prestasi Liverpool (1975-1984)
Divisi Pertama Inggris (First Division): 7 gelar European Cup (Liga Champions): 3 gelar Piala UEFA: 1 gelar Piala Liga Inggris (League Cup): 4 gelar Piala FA: 5 gelar Piala Super Eropa (UEFA Super Cup): 1 gelar
Brazil 1970
Jika ada satu tim nasional yang layak disebut sebagai yang terbaik sepanjang masa, maka Brasil 1970 adalah jawabannya. Tim inilah yang benar-benar menggambarkan keindahan sepak bola.
Pada era ketika siaran pertandingan internasional belum semudah sekarang diakses, Brasil memukau dunia lewat permainan menyerang yang atraktif, teknik individu kelas tinggi, dan aksi-aksi yang tak terlupakan di Piala Dunia 1970 di Meksiko.
Brasil menyapu bersih enam pertandingan yang mereka jalani untuk meraih gelar Piala Dunia ketiga dalam sejarah. Pada laga final, Selecao tampil dominan dan menghancurkan Italia dengan skor 4-1.
Skuad Brasil saat itu dipenuhi pemain-pemain legendaris. Pele, Jairzinho, Tostao, Rivelino, dan Carlos Alberto membentuk lini serang yang begitu cair, kreatif, dan sulit dihentikan. Pergerakan mereka yang dinamis serta kemampuan teknik luar biasa membuat setiap lawan kewalahan.
Pelé juga mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali. Sementara itu, gol Carlos Alberto di partai final hingga kini masih dikenang sebagai salah satu gol terbaik dan paling ikonis dalam sejarah sepak bola.
Banyak pihak menilai Brasil 1970 sebagai representasi sempurna dari “jogo bonito” atau sepak bola indah, sekaligus tim nasional terbaik yang pernah menghiasi panggung dunia.
Prestasi Brasil (1970):
Juara Piala Dunia FIFA: 1 gelar (1970)
Barcelona: 2008-2012
Di bawah arahan Pep Guardiola, Barcelona melahirkan gaya bermain tiki-taka yang memadukan pressing tanpa henti, umpan-umpan pendek, dan penguasaan posisi yang luar biasa. Permainan mereka bukan sekadar mendominasi lawan, tetapi juga merevolusi sepak bola modern hingga menjadi standar yang masih dijadikan acuan sampai sekarang.
Karena itulah, cukup mengejutkan ketika tim ini hanya menempati peringkat kedua dalam daftar tim sepak bola terbaik sepanjang masa berdasarkan hasil pemungutan suara.
Pada periode tersebut, Los Cules sukses meraih tiga gelar La Liga, dua trofi Liga Champions (2009 dan 2011), dua Copa del Rey, serta dua gelar Piala Dunia Antarklub FIFA.
Kesuksesan Barcelona dibangun di atas fondasi generasi emas. Lionel Messi tampil dalam performa terbaik sepanjang kariernya, didukung oleh duet maestro lini tengah Xavi dan Andrés Iniesta, serta sederet pemain kelas dunia lainnya.
Salah satu penampilan paling ikonis mereka terjadi pada final Liga Champions 2011, ketika Barcelona mengalahkan Manchester United. Laga tersebut hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penampilan tim paling sempurna dalam sejarah sepak bola sekaligus menjadi puncak kejayaan skuad legendaris racikan Guardiola.
Prestasi Barcelona (2008-2012)
La Liga: 3 gelar Copa del Rey: 2 gelar Supercopa de España: 3 gelar Liga Champions: 2 gelar Piala Super UEFA: 2 gela rPiala Dunia Antarklub FIFA: 2 gelar
Manchester United: 1998-1999
Treble yang diraih Manchester City pada 2022/2023 memang luar biasa. Namun, banyak yang menilai pencapaian Manchester United pada musim 1998/1999 lebih istimewa karena mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil meraih prestasi tersebut dan harus melewati tantangan yang jauh lebih berat.
Meski Setan Merah sudah menjadi kekuatan dominan di Inggris sepanjang dekade 1990-an, persaingan di kasta tertinggi sepak bola Inggris saat itu dinilai lebih sengit dibanding ketika Manchester City menjuarai treble pada 2023. Selain itu, kualitas kompetisi Eropa juga jauh lebih kompetitif.
Pada masa itu, Premier League belum menjadi liga terkuat di dunia seperti sekarang. La Liga, Serie A, dan Bundesliga justru dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi.
Perjalanan Manchester United menuju gelar Liga Champions 1998/1999 juga penuh rintangan. Tim asuhan Sir Alex Ferguson harus bersaing dengan Barcelona di fase grup, kemudian menyingkirkan Inter Milan dan Juventus di babak gugur, sebelum menghadapi Bayern Munchen, yang juga menjadi lawan mereka di fase grup, pada laga final.
Final melawan Bayern menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah sepak bola. Manchester United membalikkan keadaan lewat dua gol pada injury time untuk menang 2-1 dan memastikan gelar Liga Champions sekaligus menyempurnakan raihan treble.
Mental pantang menyerah dan kemampuan bangkit di saat-saat krusial membuat tim Manchester United musim 1998/1999 dikenang sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa. Bahkan, berdasarkan hasil pemungutan suara para penggemar, skuad tersebut dinobatkan sebagai tim sepak bola terbaik sepanjang sejarah.
Prestasi Manchester United (1998/1999)
Premier League Piala FA (FA Cup) Liga Champions (European Cup)
IDnews. top – Real Madrid Bungkam Leganes 4-1, Tim Racikan Mourinho Kian Menjanjikan
Real Madrid kembali menunjukkan performa impresif dalam rangkaian laga pramusim. Los Blancos mengatasi perlawanan Leganes dengan skor 4-1 di Stadion Alfredo Di Stefano, Rabu (29/7/2026) dini hari WIB.
Hasil tersebut memperpanjang tren positif skuad besutan Jose Mourinho. Sebelumnya, mereka juga berhasil mengalahkan Alcorcon dengan skor tipis 1-0.
Bukan hanya hasil akhir yang menjadi sorotan, tetapi juga perkembangan permainan Madrid. Intensitas pressing, transisi cepat, dan organisasi tim mulai terlihat semakin matang di bawah arahan Mourinho.
Empat gol Madrid dicetak Federico Valverde, Gonzalo Garcia, Franco Mastantuono, serta satu gol bunuh diri Ruben Pulido Penas. Kemenangan ini menjadi modal berharga sebelum memasuki kompetisi resmi musim 2026/2027.
Sejak awal pertandingan, Real Madrid langsung mengambil kendali permainan. Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan Mourinho membuat lini tengah Madrid mampu menguasai tempo pertandingan.
Gol pembuka hadir pada menit ke-22 melalui Federico Valverde. Gelandang asal Uruguay itu menuntaskan umpan terobosan Arda Guler dengan sepakan terarah yang gagal dihentikan kiper Leganes.
Madrid kemudian menggandakan keunggulan lima menit berselang lewat Gonzalo Garcia yang menyambut umpan silang Trent Alexander-Arnold. Leganes belum menyerah dan mampu memperkecil skor menjadi 2-1 pada menit ke-36 melalui sepakan keras Naim Garcia yang lebih dulu membentur tiang gawang.
Babak Kedua: Mastantuono Tambah Gol, Madrid Menutup Laga dengan Kemenangan Meyakinkan
Selepas turun minum, Real Madrid tetap tampil dominan dan terus menekan pertahanan lawan. Leganes kesulitan keluar dari tekanan sehingga lebih banyak bertahan di area sendiri.
Gol ketiga akhirnya tercipta pada menit ke-58. Franco Mastantuono berada di posisi yang tepat untuk menyambar bola liar hasil tembakan Trent Alexander-Arnold dan mengubah skor menjadi 3-1.
Keunggulan Madrid semakin besar hanya dua menit kemudian setelah Ruben Pulido Penas melakukan gol bunuh diri. Mourinho memanfaatkan sisa pertandingan untuk memainkan beberapa pemain muda, sementara Los Blancos sukses mempertahankan keunggulan 4-1 hingga peluit panjang dibunyikan.
BOLADONESIA – Kapten timnas Prancis, Kylian Mbappe meminta maaf kepada fans Les Bleus karena gagal menjadi juara Piala Dunia 2026. Mbappe bangga menjadi topskorer, namun kurang puas karena gagal menjadi juara.
Prancis menyelesaikan Piala Dunia 2026 dengan finis di posisi keempat setelah kalah dari Inggris di perebutan tempat ketiga.
Namun, Mbappe berhasil meraih Golden Boot dengan mencetak 10 gol, dan juga menjadi topskorer sepanjang masa Piala Dunia dengan 22 gol.
“Saya menyandang gelar pencetak gol terbanyak dengan bangga, tetapi akan jauh lebih baik jika saya juga membawa piala,” kata Mbappe seperti dilansir IDNEWS dari Goal.
“Mungkin kami berutang akhir yang lebih baik kepada Anda. Tetapi kami tidak selalu memilih akhir cerita, kami memilih apa yang kami berikan ke dalamnya, dan kami telah memberikan segalanya. Kami bangga akan hal itu.”
Kylian Mbappe: Ini Tak akan Pernah Saya Lupakan
Mbappe juga tidak melupakan rekan-rekan setimnya, memberikan penghormatan tulus kepada mereka yang membantunya mencapai statistik luar biasa ini
“Terima kasih kepada rekan-rekan setim saya. Tanpa kerja keras mereka, lari mereka, umpan mereka, tanpa semangat tim yang membawa kami dari pertandingan pertama hingga terakhir, saya tidak akan pernah bisa mencetak begitu banyak gol. Gelar ini sama besarnya milik tim seperti halnya milik saya,” ucap Mbappe.
“Sejak kecil, saya bermimpi bermain di Piala Dunia, setidaknya sekali. Saya bermain di tiga Piala Dunia, memenangkan satu, dan tahun ini, saya mendapat kehormatan bermain di dalamnya sebagai kapten. Saya tidak akan pernah melupakannya.”
BolaIndonesia – Persija Jakarta menghadapi ujian besar saat berjumpa Port FC pada laga kedua Grup B Piala Presiden 2026. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, menjadi kesempatan penting bagi Macan Kemayoran untuk menjaga peluang lolos ke babak semifinal setelah hasil kurang memuaskan pada laga pembuka.
Sorotan utama tertuju kepada pelatih Shin Tae-yong. Juru taktik asal Korea Selatan tersebut datang dengan ekspektasi tinggi sejak dipercaya menangani Persija. Meski demikian, ia menyadari proses membangun tim tidak bisa dilakukan secara instan. Turnamen pramusim seperti Piala Presiden menjadi momentum untuk membentuk karakter permainan sekaligus menemukan komposisi terbaik sebelum kompetisi resmi dimulai.
Menghadapi Port FC yang berstatus juara bertahan bukanlah tugas mudah. Klub asal Thailand itu datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah meraih kemenangan pada pertandingan pertama dan kini memimpin klasemen sementara Grup B.
Shin Tae-yong Siapkan Strategi Baru
Shin Tae-yong mengakui kondisi Persija belum mencapai performa ideal. Ia menyebut kesiapan tim masih berada di kisaran 50 hingga 60 persen karena proses adaptasi pemain terhadap sistem permainan baru masih terus berlangsung. Meski demikian, pelatih berusia 55 tahun itu memastikan timnya tetap memburu kemenangan.
Pelatih yang pernah membawa Timnas Indonesia meraih berbagai pencapaian tersebut juga mengisyaratkan akan memberi kesempatan lebih banyak kepada sejumlah pemain muda. Langkah itu dilakukan bukan hanya untuk rotasi, tetapi juga sebagai bagian dari proses regenerasi dan evaluasi skuad.
Dalam sesi latihan terakhir, Shin Tae-yong terlihat fokus mengasah organisasi pertahanan dan transisi menyerang. Ia memahami Port FC memiliki kualitas dalam memanfaatkan ruang kosong serta serangan balik cepat sehingga Persija harus tampil disiplin sepanjang pertandingan.
Port FC Datang dengan Modal Positif
Di sisi lain, Port FC tetap menjadi salah satu tim paling berbahaya di turnamen ini. Status sebagai juara bertahan membuat mereka memiliki mental bertanding yang kuat. Kemenangan pada laga pertama semakin meningkatkan kepercayaan diri wakil Thailand tersebut.
Port FC dikenal mengandalkan permainan cepat dari kedua sisi lapangan dengan kombinasi umpan pendek yang efektif. Pola permainan itu terbukti mampu merepotkan lawan-lawannya dalam beberapa musim terakhir.
Bagi Persija, menghentikan kreativitas lini tengah Port FC menjadi pekerjaan rumah terbesar. Apabila mampu memutus aliran bola sejak awal, peluang untuk mengimbangi permainan lawan tentu akan semakin terbuka.
Momentum Menentukan Nasib Persija
Laga ini dapat menjadi titik balik bagi Persija Jakarta. Kekalahan akan membuat langkah mereka menuju semifinal semakin berat, sedangkan kemenangan akan membuka kembali peluang bersaing memperebutkan tiket lolos dari Grup B.
Selain hasil akhir, penampilan kolektif tim juga menjadi perhatian utama. Publik ingin melihat bagaimana filosofi permainan Shin Tae-yong mulai terlihat di atas lapangan. Kecepatan transisi, pressing agresif, serta disiplin bertahan menjadi ciri khas yang perlahan ingin diterapkan kepada skuad Macan Kemayoran.
Para pendukung Persija tentu berharap tim kesayangannya mampu menunjukkan respons positif setelah kekalahan pada pertandingan sebelumnya. Dukungan moral dari Jakmania juga diyakini menjadi motivasi tambahan bagi para pemain.
Misi Lebih Besar dari Sekadar Tiga Poin
Bagi Shin Tae-yong, duel melawan Port FC bukan hanya soal meraih kemenangan. Pertandingan ini juga menjadi ajang untuk mengukur perkembangan skuad yang sedang dibangun menuju musim kompetisi mendatang.
Jika Persija mampu tampil lebih solid, efektif dalam menyerang, dan disiplin menjaga pertahanan, maka hasil positif bukan sesuatu yang mustahil diraih. Sebaliknya, apabila masih melakukan kesalahan mendasar, Port FC memiliki kualitas untuk menghukum setiap celah yang muncul.
Karena itu, laga Port FC versus Persija diprediksi menjadi salah satu pertandingan paling menarik di fase grup Piala Presiden 2026. Bukan hanya mempertaruhkan tiga poin, tetapi juga menjadi pembuktian awal bahwa proyek besar Shin Tae-yong bersama Macan Kemayoran mulai bergerak ke arah yang diharapkan.
Kabar Besar! Manchester City Kunci Masa Depan Josko Gvardiol hingga 2031
BolaIndonesia – Manchester City kembali mengamankan salah satu aset terpenting mereka. Bek asal Kroasia, Josko Gvardiol, resmi menandatangani kontrak baru yang akan membuatnya bertahan di Etihad Stadium hingga Juni 2031. Keputusan ini sekaligus menjadi bukti kepercayaan penuh klub terhadap sang pemain yang terus berkembang menjadi salah satu bek terbaik di dunia.
Perpanjangan kontrak ini menjadi kabar menggembirakan bagi para pendukung The Citizens. Di tengah berbagai spekulasi mengenai masa depan sejumlah pemain inti, Manchester City justru mengambil langkah cepat untuk memastikan Gvardiol tetap menjadi bagian penting dari proyek jangka panjang klub.
Manchester City Kunci Masa Depan Lini Belakang
Sejak didatangkan dari RB Leipzig dengan nilai transfer fantastis pada musim panas 2023, Josko Gvardiol terus menunjukkan perkembangan signifikan. Meski sempat membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan intensitas Premier League dan filosofi permainan Pep Guardiola, bek berusia 24 tahun itu kini menjelma sebagai pemain yang hampir tak tergantikan.
Kemampuannya bermain sebagai bek tengah maupun bek kiri membuat Gvardiol menjadi senjata serbaguna bagi Manchester City. Selain kuat dalam duel udara, ia juga dikenal memiliki kemampuan membawa bola keluar dari lini belakang, distribusi umpan yang akurat, serta kecerdasan membaca permainan.
Dalam dua musim terakhir, Gvardiol menjadi salah satu pemain dengan menit bermain terbanyak di skuad City. Konsistensinya membuat manajemen klub tak ragu menawarkan kontrak baru berdurasi panjang hingga 2031.
Langkah ini dinilai sebagai investasi penting mengingat usianya yang masih relatif muda dan potensinya yang terus berkembang.
Gvardiol: Manchester City Adalah Rumah Saya
Usai menandatangani kontrak baru, Gvardiol mengaku sangat bahagia bisa melanjutkan kariernya bersama juara Premier League tersebut.
Ia menyebut Manchester City sebagai tempat terbaik untuk berkembang di bawah arahan Pep Guardiola.
“Saya sangat senang memperpanjang kontrak. Sejak hari pertama saya datang, semua orang di klub membuat saya merasa seperti di rumah sendiri. Saya ingin terus memenangkan trofi dan berkembang bersama tim ini.”
Bek tim nasional Kroasia itu juga menegaskan bahwa ambisinya belum selesai. Ia ingin membantu City terus mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa dalam beberapa musim ke depan.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan positif dari para penggemar yang menilai Gvardiol merupakan fondasi penting bagi masa depan klub.
Guardiola Puas Pertahankan Bek Andalannya
Pelatih Pep Guardiola dikabarkan menjadi sosok yang paling mendorong manajemen untuk segera mengamankan masa depan Gvardiol.
Pep sejak lama memuji kecerdasan taktik pemain Kroasia tersebut. Menurutnya, Gvardiol memiliki karakter yang sangat sesuai dengan gaya bermain Manchester City.
Tak hanya piawai bertahan, Gvardiol juga mampu membangun serangan dari belakang, sesuatu yang menjadi syarat utama bagi bek dalam sistem permainan Guardiola.
Musim lalu, kontribusinya juga semakin lengkap setelah beberapa kali mencetak gol penting dari situasi bola mati maupun open play.
Performa tersebut membuatnya masuk dalam jajaran bek paling produktif di Premier League.
Fondasi Era Baru Manchester City
Perpanjangan kontrak Gvardiol juga menandai dimulainya regenerasi skuad Manchester City.
Dalam beberapa tahun ke depan, sejumlah pemain senior diperkirakan akan memasuki fase akhir karier mereka. Oleh karena itu, mempertahankan pemain-pemain muda berkualitas menjadi prioritas utama klub.
Selain Gvardiol, City juga terus membangun tim di sekitar pemain-pemain muda seperti Phil Foden, Rico Lewis, Oscar Bobb, dan beberapa talenta lainnya.
Dengan kontrak hingga 2031, Gvardiol diproyeksikan menjadi pemimpin lini belakang Manchester City dalam jangka panjang.
Kabar Baik bagi Fans The Citizens
Bagi para pendukung Manchester City, kepastian bertahannya Gvardiol menjadi sinyal bahwa klub masih memiliki ambisi besar untuk terus bersaing di level tertinggi.
Bek Kroasia itu telah membuktikan dirinya sebagai salah satu transfer terbaik Manchester City dalam beberapa musim terakhir. Performa konsisten, fleksibilitas posisi, serta mental juaranya membuatnya menjadi pemain yang sangat berharga.
Dengan kontrak baru hingga 2031, Manchester City tidak hanya mempertahankan salah satu bek terbaik dunia, tetapi juga memastikan fondasi pertahanan mereka tetap kokoh untuk menghadapi persaingan Premier League dan Liga Champions dalam beberapa tahun mendatang.
Apabila Gvardiol mampu mempertahankan performanya seperti saat ini, bukan tidak mungkin ia akan dikenang sebagai salah satu bek terbaik dalam sejarah Manchester City sekaligus menjadi simbol era baru kesuksesan The Citizens.
Idnews.top – Barcelona tetap mencatat hasil positif saat bermain tanpa Frenkie de Jong pada era Hansi Flick. Namun, catatan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan pengaruh besar sang gelandang terhadap permainan tim.
Barcelona meraih 25 kemenangan, satu hasil imbang, dan enam kekalahan dari 32 pertandingan tanpa De Jong. Statistik itu terlihat impresif, tetapi standar yang dimiliki klub asal Catalunya tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kebanyakan tim.
Keberhasilan Barcelona tidak hanya diukur dari jumlah kemenangan yang diraih sepanjang musim. Konsistensi permainan, kontrol pertandingan, dan kemampuan bersaing memperebutkan setiap gelar juga menjadi tolok ukur utama.
Situasi tersebut membuat absennya De Jong tetap menjadi perhatian menjelang musim 2026/27. Hansi Flick kini harus mencari solusi terbaik hingga kapten tim itu pulih dari cedera.
Statistik Belum Menggambarkan Kondisi Sebenarnya
Persentase kemenangan sekitar 78 persen memang menunjukkan performa yang baik. Namun, angka itu tetap berada di bawah level yang ingin dipertahankan Barcelona saat tampil dengan kekuatan terbaik.
Pengaruh De Jong tidak hanya terlihat melalui statistik pertandingan. Gelandang asal Belanda itu mampu menerima bola di bawah tekanan, melewati pressing lawan, dan mengatur tempo permainan dengan konsisten.
Kemampuan tersebut membuat proses membangun serangan berjalan lebih lancar. Tanpa dirinya, Barcelona sering kehilangan ritme dan transisi permainan menjadi kurang efektif.
Peran De Jong Lebih dari Sekadar Gelandang
Sebagai kapten, De Jong juga menghadirkan kepemimpinan yang sulit diukur melalui data. Pengalaman dan ketenangannya sering membantu Barcelona mengendalikan pertandingan ketika berada dalam tekanan.
Pramusim kali ini kembali memperlihatkan pentingnya peran tersebut. Flick mencoba beberapa alternatif di lini tengah, tetapi belum ada pemain yang benar-benar mampu memberikan pengaruh serupa.
Tommy Marques maupun Brian Farinas memiliki kesempatan untuk membuktikan kualitasnya. Namun, menggantikan salah satu gelandang paling komplet di dunia tetap menjadi tantangan besar.
Bernal dan Gavi Berebut Kesempatan
Absennya De Jong membuka peluang bagi Marc Bernal dan Gavi untuk tampil lebih sering. Keduanya memiliki kualitas yang dapat membantu Barcelona menjaga keseimbangan di lini tengah.
Gavi memiliki pengalaman lebih banyak bersama tim utama. Namun, Bernal dinilai lebih alami bermain sebagai gelandang bertahan sehingga berpeluang unggul dalam persaingan.
Barcelona memang mampu tetap meraih kemenangan tanpa De Jong berdasarkan catatan pertandingan. Namun, performa terbaik tim asuhan Flick hingga saat ini masih sangat bergantung pada kehadiran sang kapten di lapangan.
Garudayaksa FC masih terus memburu pemain baru guna persiapan mengarungi Super League 2026/2027.
Jelang bergulirnya kasta teratas Indonesia yang rencananya akan dimulai pada pekan pertama September mendatang, tim berjuluk Spirit of Garuda sudah mendaratkan sejumlah amunisi anyar.
Pemain top berlabel Timnas Indonesia seperti Wahyu Prasetyo, Daffa Fasya, Alfharezzi Buffon, Septian David Maulana, Alfriyanto Nico, dan Septian Bagaskara kini menjadi bagian skuad andalan Garudayaksa FC.
Tim yang bermarkas di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat juga sukses mengamankan tanda tangan pemain kaya pengalaman Muhammad Sihran serta Theo Fillo Numberi.
Pemain Asing
Di tataran pemain asing, sejauh ini mereka berhasil mengangkut Najeeb Yakubu (bek/Niger) dan Dominik Holec (kiper/Republik Ceko).
Garudayaksa FC memang masih membutuhkan suntikan pemain asing guna memenuhi kuota seperti yang ditetapkan I.League selaku regulator kompetisi Super League.
Seperti diketahui, berdasarkan regulasi setiap klub Super League wajib diperkuat 11 pemain asing dengan aturan sembilan masuk daftar pemain (DSP) dan tujuh di antaranya harus bermain di lapangan.
Media Officer Garudayaksa FC, Yudianto Nugroho, mengatakan pihaknya masih terus menunggu kedatangan pemain asing.
“Sampai saat ini, baru dua pemain asing yang baru datang,” kata Yudianto Nugroho.
Tak Mau Berspekulasi
Yudianto Nugroho belum bisa memastikan kapan pemain asing yang ditunggu tiba di Indonesia. “Kami masih menunggu,” ujar Yudianto Nugroho.
Terkait pemain lokal baru yang juga akan direkrut, Yudianto Nugroho tak mau berspekulasi. “Kalau pemain lokal belum ada info lagi,” kata Yudianto Nugroho.
Musim lalu, di bawah asuhan Widodo C. Putro, Garudayaksa FC tampil sebagai juara Grup A Pegadaian Championship 2025/2026.
Status mentereng tersebut membuat Garudayaksa FC naik kasta ke Super League. Bermain di kasta teratas pastinya tak mudah, terlebih bagi tim promosi.
Soalnya, Andik Vermansah dan kawan-kawan harus bersaing dengan tim-tim mapan sekaliber Borneo FC, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Persib Bandung.
Rodri Jalani Operasi Punggung di Tengah Rumor Transfer ke Real Madrid
BolaIndonesia – Gelandang andalan Manchester City, Rodri, menjalani operasi punggung di tengah derasnya rumor yang mengaitkan dirinya dengan Real Madrid. Kabar tersebut langsung menyita perhatian publik sepak bola Eropa karena muncul saat bursa transfer musim panas masih berlangsung dan Los Blancos disebut sedang mencari tambahan kekuatan di lini tengah.
Rodri selama beberapa musim terakhir dikenal sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia. Kemampuannya mengatur tempo permainan, memutus serangan lawan, hingga membangun serangan dari lini kedua membuatnya menjadi sosok yang sangat penting bagi Manchester City.
Namun, perhatian kini bukan hanya tertuju pada masa depannya, melainkan juga kondisi fisiknya. Operasi yang dijalani pemain asal Spanyol itu menjadi fokus utama klub dan tim medis demi memastikan ia bisa kembali ke lapangan dalam kondisi terbaik.
Operasi Dilakukan Demi Mengatasi Masalah Jangka Panjang
Keputusan menjalani operasi diambil setelah Rodri mengalami gangguan pada bagian punggung yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Langkah tersebut dinilai sebagai solusi terbaik agar masalah yang dialaminya tidak terus mengganggu performanya dalam jangka panjang.
Meski operasi membuatnya harus menjalani masa pemulihan, banyak pihak menilai keputusan tersebut merupakan investasi penting bagi karier sang gelandang. Dengan usia yang masih berada di puncak performa, Rodri diharapkan dapat kembali bermain tanpa dibayangi cedera yang berulang.
Manchester City sendiri diperkirakan akan memberikan seluruh dukungan kepada pemain berusia 30 tahun itu selama proses rehabilitasi. Klub tidak ingin terburu-buru memaksanya kembali bermain sebelum benar-benar pulih.
Rumor Real Madrid Terus Menghangat
Di sisi lain, nama Rodri masih terus dikaitkan dengan Real Madrid. Klub raksasa Spanyol tersebut memang disebut-sebut sedang mencari sosok gelandang berpengalaman yang mampu menjadi pengatur permainan sekaligus pemimpin di lapangan.
Rodri dinilai memiliki karakter yang sesuai dengan filosofi permainan Real Madrid. Selain memiliki kualitas bertahan yang sangat baik, ia juga mampu menjaga keseimbangan tim ketika menghadapi tekanan dari lawan.
Meski demikian, belum ada indikasi bahwa proses operasi yang dijalani Rodri berkaitan dengan masa depannya di bursa transfer. Fokus utama sang pemain saat ini diyakini adalah menyelesaikan proses pemulihan sebelum kembali memikirkan masa depannya.
Manchester City Tetap Memberikan Dukungan Penuh
Manchester City diyakini masih menganggap Rodri sebagai bagian penting dalam proyek jangka panjang klub. Kehilangannya selama beberapa pertandingan tentu akan menjadi tantangan bagi pelatih untuk menjaga keseimbangan permainan tim.
Dalam beberapa musim terakhir, pengaruh Rodri begitu besar terhadap performa The Citizens. Statistik menunjukkan Manchester City kerap tampil lebih dominan ketika sang gelandang berada di lapangan. Kemampuan membaca permainan dan mendistribusikan bola membuatnya sulit digantikan oleh pemain lain.
Karena itu, proses pemulihan Rodri menjadi salah satu perhatian utama klub. Tim medis akan memantau perkembangan kondisinya secara bertahap agar ia dapat kembali tampil pada level terbaik.
Masa Depan Rodri Masih Menjadi Tanda Tanya
Rumor kepindahan ke Real Madrid diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Apalagi, Rodri merupakan pemain asal Spanyol yang telah membuktikan kualitasnya di level klub maupun tim nasional.
Namun, sebelum membahas kemungkinan transfer, prioritas terbesar Rodri saat ini adalah memulihkan kondisi fisiknya. Operasi yang baru dijalani menjadi langkah awal untuk memastikan ia dapat kembali bermain secara maksimal tanpa gangguan cedera.
Jika proses rehabilitasi berjalan sesuai rencana, Rodri berpeluang kembali memperkuat Manchester City dalam kondisi yang lebih prima. Sementara itu, isu mengenai Real Madrid kemungkinan baru akan menemukan titik terang setelah sang gelandang benar-benar pulih dan kembali merumput.
Yang jelas, kombinasi antara kabar operasi dan rumor transfer membuat nama Rodri menjadi salah satu topik paling hangat pada bursa transfer musim panas. Para penggemar kini tinggal menunggu apakah ia akan tetap menjadi jantung permainan Manchester City atau justru memulai babak baru bersama Real Madrid setelah pulih dari cedera.